PERANG TANPA PAHLAWAN
Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.
Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.
Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.
Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 — Rencana Ofensif Besar
Perencanaan untuk ofensif besar terhadap Ravharn mencapai tahap final setelah berbulan-bulan persiapan, melibatkan koordinasi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara seluruh front Valdren-Sylvaris.
"Target utama kita adalah merebut kembali Benteng Dravane," jelas Ardan dalam briefing final kepada seluruh komandan senior yang terlibat, menunjuk pada peta besar yang menunjukkan posisi strategis yang telah lama berada di bawah kendali Ravharn sejak awal perang. "Jika berhasil, ini akan memotong jalur pasokan utama mereka dan memaksa mundur yang signifikan di seluruh front selatan."
Rencana itu melibatkan serangan tiga arah yang kompleks—pasukan utama Valdren-Sylvaris menyerang langsung, sementara unit-unit kecil yang terlatih khusus, termasuk beberapa prajurit Beastkin yang kini secara resmi bergabung sebagai sekutu militer berkat aliansi yang telah mereka bangun, akan melakukan serangan mengejutkan dari sisi yang tidak terduga.
Kestra sendiri, pemimpin suku Beastkin yang pertama kali mereka temui, memimpin kontingen prajurit Beastkin yang bergabung dalam operasi ini, kehadirannya menjadi simbol nyata dari koalisi yang telah mereka bangun melampaui batas-batas kerajaan tunggal.
---
"Kehormatan bagi kita untuk akhirnya bertarung berdampingan, bukan hanya berbagi informasi," kata Kestra ketika mereka bertemu kembali untuk pertama kalinya sejak kunjungan Ardan ke wilayah Beastkin bertahun-tahun lalu.
"Kehormatan yang sama bagi kami," jawab Ardan tulus, mengenang perjalanan panjang yang telah membawa mereka dari pertemuan penuh kewaspadaan menjadi aliansi yang solid ini.
Malam sebelum ofensif dimulai, Ardan menghabiskan waktu dengan seluruh regu intinya yang tersisa—Tobin, Kael, Serena (yang kembali ke garis depan khusus untuk operasi penting ini), Ress, dan Wyn yang kini telah pulih sepenuhnya dan menjadi prajurit berpengalaman—mengulangi tradisi lama mereka berbagi harapan dan kekhawatiran sebelum pertempuran besar.
"Ini terasa seperti lingkaran yang kembali ke awal," kata Tobin, mengenang malam serupa sebelum Jembatan Aldenwood bertahun-tahun lalu. "Tapi kita jauh lebih kuat sekarang, lebih berpengalaman."
"Dan kita punya lebih banyak alasan untuk menang," tambah Serena, memikirkan seluruh perjalanan penyelidikan mereka yang kini bergantung pada stabilitas yang mungkin dibawa oleh kemenangan ini.
---
Fajar ofensif tiba dengan ketegangan yang telah menjadi familiar namun tidak pernah sepenuhnya hilang, ribuan prajurit dari berbagai bangsa bergerak serentak dalam koordinasi yang telah mereka latih dengan susah payah.
Pertempuran untuk Benteng Dravane berlangsung dengan intensitas yang menguji setiap aspek strategi yang telah mereka rencanakan, Ravharn mempertahankan posisi mereka dengan kegigihan yang menunjukkan betapa pentingnya benteng ini bagi operasi mereka secara keseluruhan.
Ardan, kini memimpin dari posisi yang memungkinkannya mengoordinasikan seluruh operasi sambil tetap cukup dekat dengan garis depan untuk memahami realitas pertempuran secara langsung, membuat keputusan taktis demi keputusan taktis yang akan menentukan hasil dari operasi besar ini.
Serangan mengejutkan dari pasukan Beastkin, dipimpin Kestra, terbukti menjadi elemen kunci yang mengubah keseimbangan pertempuran, menerobos pertahanan Ravharn dari arah yang sama sekali tidak mereka antisipasi.
---
Setelah dua hari pertempuran intens, Benteng Dravane akhirnya jatuh ke tangan koalisi Valdren-Sylvaris-Beastkin, kemenangan strategis signifikan yang akan mengubah dinamika perang di front selatan untuk waktu yang lama.
Namun seperti setiap kemenangan yang telah mereka raih sepanjang perjalanan panjang ini, kegembiraan atas keberhasilan itu dibayangi oleh kesadaran akan harga yang telah dibayar—korban dari ketiga pihak koalisi, nama-nama baru yang harus ditambahkan ke dalam ingatan kolektif mereka tentang pengorbanan yang terus berlanjut.
"Kita menang," kata Ardan pada malam setelah pertempuran, berdiri di tengah reruntuhan benteng yang kini menjadi milik mereka, "tapi kemenangan ini, seperti semua kemenangan sebelumnya, mengingatkan kita bahwa perang sesungguhnya—melawan mereka yang memanipulasi konflik ini dari bayangan—masih jauh dari selesai."
Kestra, berdiri di sampingnya, mengangguk setuju. "Tapi setiap kemenangan seperti ini membawa kita lebih dekat pada hari ketika kebenaran sepenuhnya terungkap, dan keadilan sejati bisa ditegakkan bagi semua yang telah menderita karena keserakahan tersembunyi mereka."
---
Kemenangan di Benteng Dravane membawa periode stabilitas yang telah lama dinantikan, front selatan mengalami ketenangan relatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun, memberi ruang bagi seluruh koalisi untuk mengalihkan lebih banyak perhatian pada penyelidikan terhadap Majelis Abu dan sosok misterius Arsitek.
Ardan memanfaatkan periode ini untuk kembali membagi waktu antara garis depan dan ibu kota dengan lebih seimbang, peran barunya sebagai Mayor memberinya fleksibilitas yang lebih besar untuk mendelegasikan tanggung jawab sehari-hari kepada Tobin dan perwira-perwira terpercaya lainnya.
"Penelitian tentang Thornwood membuahkan hasil," lapor Serena dalam salah satu kunjungan Ardan ke ibu kota, menunjukkan temuan terbaru yang telah mereka kumpulkan. "Kami menemukan catatan tentang sebuah akademi filosofis tersembunyi yang pernah dipimpinnya, berlokasi di sebuah pulau terpencil di lepas pantai timur, yang telah lama dianggap tidak berpenghuni."
Penemuan itu membuka kemungkinan jalur investigasi baru yang menjanjikan, meski juga membawa tantangan logistik yang signifikan—perjalanan ke pulau terpencil membutuhkan perencanaan dan sumber daya yang berbeda dari misi-misi darat yang telah mereka lakukan sebelumnya.
---
Namun di tengah kemajuan yang menjanjikan ini, stabilitas yang mereka nikmati terbukti lebih rapuh dari yang mereka kira. Kabar mengejutkan datang dari Dravak—Thordin Besijantung, sekutu berharga yang telah membantu mereka mengidentifikasi Oreheart, ditemukan tewas dalam kecelakaan tambang yang dicurigai sebagai sabotase.
"Mereka menargetkan sekutu kita satu per satu," kata Roderic dengan kekhawatiran mendalam, menerima kabar itu dengan berat hati. "Pertama Hendrick, lalu upaya terhadap Hallister, dan sekarang Thordin."
Kematian Thordin memicu ketegangan baru dalam hubungan mereka dengan Dravak, beberapa pihak di kalangan dwarf mulai mempertanyakan keterlibatan kerajaan mereka dalam urusan yang telah merenggut nyawa salah satu tetua paling dihormati mereka.
"Kita perlu memastikan kematiannya tidak merusak aliansi yang telah kita bangun," kata Ardan, menyadari pentingnya menjaga koalisi yang telah mereka bentuk dengan susah payah meski menghadapi serangan balik yang semakin agresif dari Majelis Abu.
---
Melalui komunikasi diplomatik yang hati-hati, dibantu Elowen yang terus menjadi penghubung penting dengan berbagai kerajaan non-manusia, mereka berhasil meyakinkan sebagian besar pemimpin Dravak bahwa kematian Thordin justru mengonfirmasi kebenaran dari apa yang telah mereka perjuangkan bersama, bukan alasan untuk mundur.
"Thordin percaya pada keadilan yang kita cari," kata seorang penerus yang ia tunjuk sebelum kematiannya, dalam pertemuan yang diadakan untuk memperbarui komitmen aliansi mereka. "Kematiannya seharusnya menjadi alasan lebih untuk melanjutkan, bukan untuk mundur dalam ketakutan."
Dengan aliansi Dravak yang berhasil dipertahankan meski rapuh, fokus mereka kembali pada rencana untuk menyelidiki akademi tersembunyi Thornwood, langkah selanjutnya dalam perjalanan panjang mereka menuju identitas sesungguhnya dari Arsitek.
---
Malam sebelum keberangkatan tim ekspedisi menuju pulau terpencil yang diduga menjadi lokasi akademi Thornwood, Ardan berkumpul dengan regu intinya untuk terakhir kalinya sebelum perjalanan yang akan membawa mereka ke wilayah yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya.
"Berapa banyak lagi yang harus kita korbankan," renung Tobin, kelelahan dari perjalanan panjang penuh kehilangan mulai terlihat jelas di wajahnya, "sebelum kita akhirnya menemukan akhir dari semua ini?"
"Aku tidak tahu," jawab Ardan jujur, menyadari beratnya pertanyaan itu setelah sekian tahun perjalanan yang telah merenggut begitu banyak nama yang mereka cintai. "Tapi aku tahu berhenti sekarang akan membuat setiap pengorbanan itu—Halric, Pell, Davo, Corin, Bryn, Hendrick, Thordin—menjadi sia-sia. Kita harus melanjutkan, untuk mereka, dan untuk semua yang masih bisa kita selamatkan ke depan."
Kael, yang telah tumbuh jauh dari pemuda ceria penuh canda yang pertama kali mereka temui di Karhold, menambahkan dengan ketenangan yang mencerminkan kedewasaan yang telah ia kembangkan sepanjang perjalanan ini. "Maka kita lanjutkan. Bersama, seperti selalu."