Indonesia
NovelToon NovelToon
DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: R. AL

Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.

Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.

Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."

Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.

Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PELUKAN TANPA SELANG

Perjuangan belum selesai. Ini baru Bab 32. Masih ada belasan bab lagi sampai mereka bisa pulang. Tapi untuk malam ini, aku bisa tidur lagi tanpa mimpi buruk keguguran. Karena dua-duanya sudah lahir. Sudah selamat.

Itu kalimat terakhir Bab 32 kemarin. Malam itu aku janji besok pagi akan kembali ke NICU. Akan gendong satu lagi. Akan sentuh kaki kecil itu lagi. Akan bisik lagi. Sampai hari dimana aku bisa peluk dua-duanya bareng tanpa selang, tanpa mesin, tanpa inkubator. Hari dimana aku bisa bawa pulang dua-duanya.

Dan besok paginya itu adalah hari ini. Bab 33.

Pagi di NICU tidak pernah pagi biasa. Lampu selalu terang. Suara mesin selalu bunyi. Bau alkohol dan susu selalu campur. Tidak ada jendela yang bisa lihat matahari, tapi semua Ibu di sini tahu kapan pagi, karena jam gendong kangguru.

Suster masuk dengan senyum yang beda. Senyum yang kemarin tidak ada. Senyum lega.

"Bu Sinta, hari ini ada kabar baik. Dua-duanya boleh digendong bareng."

Dua-duanya. Bareng. Bukan satu-satu lagi seperti kemarin yang harus rebutan siapa duluan.

Arga yang tidur di sofa dengan foto di dadanya langsung bangun. Luna yang tidur di sofa sebelah juga langsung bangun.

Aku, Sinta, di tengah ranjang, perut masih kosong, masih perih menang, tapi hati penuh.

Kami bertiga masuk ke ruang kangguru. Dua inkubator sudah dibuka. Dua bayi kecil di dalam. Arga Jr dan Kelvin Jr. Dua-duanya masih pakai selang kecil di hidung, tapi selangnya sudah lebih kecil dari kemarin. Dua-duanya sudah tidak pakai topi oksigen besar. Hanya selang tipis.

Dokter datang. Dokter yang kemarin bilang dua-duanya stabil. Dokter bilang hari ini ada kemajuan. Dua-duanya sudah bisa atur suhu tubuh sendiri tanpa inkubator panas terus. Dua-duanya sudah bisa minum lebih banyak. Dua-duanya pejuang.

Dokter bilang, kalau sampai sore nanti suhu tetap stabil, dan minum tetap kuat, besok salah satu boleh pulang. Salah satu.

Lagi. Siapa yang boleh pulang duluan. Pertanyaan yang dari Bab 32 belum selesai.

Arga mau bilang Arga Jr lagi. Luna mau bilang Kelvin Jr lagi. Tapi aku angkat tangan.

"Jangan rebutan lagi," kataku pelan. "Biar dokter yang putuskan. Bukan kita. Biar yang paling siap yang pulang duluan. Karena pulang duluan bukan soal hadiah, bukan soal warisan yang dibagi dua kemarin. Pulang duluan itu soal siapa yang paling siap berjuang di luar tanpa mesin."

Semua setuju. Bahkan Opa dan Oma yang baru datang dengan tas berisi baju bayi kembar yang sama persis, juga setuju.

Oma bawa dua baju. Satu warna biru langit, satu warna putih. Dua-duanya ada bordir nama. Tapi nama lengkap belum ada. Selama ini hanya Arga Jr dan Kelvin Jr. Nama panggilan.

Oma bilang, "Oma sudah siapkan nama lengkap. Kalau Arga Jr pulang duluan, Oma kasih nama lengkap Arga sesuai nama keluarga Opa. Kalau Kelvin Jr pulang duluan, Oma kasih nama lengkap Kelvin sesuai nama mendiang Papanya, biar namanya hidup terus. Tapi kalau dua-duanya pulang bareng, Oma kasih dua nama lengkap sekaligus. Adil, seperti warisan kemarin yang dibagi dua."

Aku peluk Oma. Oma nangis. Aku juga nangis. Karena akhirnya, setelah berbulan-bulan berantem soal siapa ayah yang lebih berhak, siapa bayi yang lebih kuat, siapa yang dapat warisan, sekarang semua adil. Semua dibagi dua. Semua dicintai dua.

Siang itu, aku gendong dua-duanya bareng untuk pertama kalinya.

Satu di dada kiri, satu di dada kanan. Arga Jr di dada Arga, Kelvin Jr di dada aku. Luna di tengah, pegang foto polaroid biar tetap ada dokumentasi rahim petarung.

Rasanya... aneh. Perutku yang kemarin kosong dan perih, sekarang dada ku penuh. Penuh dua detak yang dulu ada di dalam, sekarang ada di luar, nempel di kulit.

Arga Jr yang lebih besar, nangisnya kencang, seperti kemarin. Kelvin Jr yang lebih kecil, nangisnya pelan, tapi lama, seperti pejuang yang tidak mau menyerah.

Aku bisik ke dua-duanya, "Mama di sini. Mama tidak kemana-mana. Rahim petarung sudah selesai tugasnya, sekarang giliran pelukan petarung."

Luna bisik ke Kelvin Jr, "Tante di sini, sayang. Papa kamu di surga pasti bangga lihat kamu sekuat ini."

Arga bisik ke Arga Jr, "Papa di sini, jagoan. Papa janji tidak akan jadi musuh siapa-siapa lagi. Papa jadi Papa saja."

Sore, dokter datang lagi. Cek suhu. Cek minum. Cek napas.

Dokter senyum lagi. Senyum yang lebih lebar dari pagi.

Dokter bilang, satu sudah siap pulang besok pagi. Satu lagi masih harus tinggal beberapa hari lagi untuk pantau minum.

Siapa? Semua tahan napas.

Dokter lihat ke arah inkubator yang lebih besar. Arga Jr. Dia yang lebih besar, yang nangis kencang, yang suhu tubuhnya paling stabil hari ini, yang minumnya paling banyak.

Arga Jr boleh pulang besok pagi.

Arga langsung nangis. Nangis kencang seperti anaknya. Luna peluk Arga. Oma peluk aku. Aku peluk Kelvin Jr yang masih harus tinggal.

Tidak ada yang iri. Karena kemarin warisan sudah dibagi dua. Jadi pulang duluan bukan soal menang warisan lagi. Pulang duluan soal siap.

Luna bilang, "Tidak apa-apa Kelvin Jr masih di sini. Tante temenin. Tante jagain sampai kamu siap pulang juga. Seperti janji tante ke Papa kamu."

Aku cium kening Kelvin Jr yang masih ada selang tipis. "Kamu pejuang Mama yang ketuban pecah duluan tapi tetap hidup. Kamu pasti nyusul kakak kamu pulang. Mama tunggu."

Malam harinya, aku kembali ke kamar. Perutku kosong. Tidak ada tendangan lagi. Tapi dada ku masih hangat bekas gendong dua-duanya bareng tadi siang. Pelukan tanpa selang besar, hanya selang tipis, tapi itu sudah pelukan paling lengkap selama berbulan-bulan.

Arga tidur di sofa dengan baju biru langit yang Oma bawa, baju untuk Arga Jr yang besok boleh pulang. Luna tidur di sofa sebelah dengan baju putih yang Oma bawa, baju untuk Kelvin Jr yang masih harus tinggal. Dan aku, di tengah ranjang, memegang dua foto polaroid itu, tapi sekarang fotonya sudah tidak di dalam inkubator, tapi di dada kami bareng.

Dua detak yang dulu ada di dalam, sekarang ada di luar, satu siap pulang, satu masih berjuang di inkubator.

Perjuangan belum selesai. Ini baru Bab 33. Masih ada belasan bab lagi sampai dua-duanya bisa pulang bareng dan tidur di satu ranjang tanpa mesin.

Tapi untuk malam ini, aku bisa tidur lagi tanpa mimpi buruk keguguran. Karena satu sudah siap pulang. Satu lagi masih berjuang, tapi stabil. Karena warisan sudah adil. Karena nama lengkap sudah siap. Karena Opa Oma bangga dua-duanya cucu Opa.

Rahim petarung tidak kalah. Pelukan petarung juga tidak kalah.

Dan besok pagi, aku akan bawa pulang Arga Jr. Pertama kalinya gendong bayi tanpa suster di sebelah, tanpa mesin di sebelah. Hanya aku, Arga, dan Arga Jr. Sementara Luna dan Oma akan tetap di NICU, temenin Kelvin Jr yang pejuang ketuban pecah duluan.

Dua ayah. Dua bayi. Satu rahim petarung yang sudah berhasil. Dan satu keluarga yang akhirnya belajar, pulang duluan bukan soal menang, tapi soal siap. Dan cinta tidak perlu rebutan, karena bisa dibagi dua, adil, seperti warisan kemarin.

..........

1
Renjana
lanjutkan terus kak😊
mampir juga di karyaku yah😊
Aina Senja
keren kk😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!