Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETENANGAN YANG MENYESAT
Angin sepoi-sepoi beraroma wangi bunga lavender berembus lembut menyapu padang rumput hijau yang membentang luas. Di atas langit biru yang jernih tanpa setitik pun awan kelam, matahari memancarkan sinar hangat yang menyejukkan.
Memasuki wilayah luar Alam Suci Pusat, tidak ada lautan darah, tidak ada pilar petir yang membelah bumi, dan tidak ada barisan prajurit berzirah baja yang mengadang jalan.
Semuanya tampak begitu indah, tenang, dan damai.
Ryu Jin melangkah santai menyusuri jalan setapat berbatu di antara hamparan padang rumput.
Jubah cokelat pudarnya yang kusam terkibas pelan. Wajah kusam sang pendekar tetap dingin, datar, dan hampa—bagaikan batu ukir tua yang tak pernah tersentuh zaman. Tangan kanannya bertengger santai di gagang pedang besi berkarat di pinggangnya, sementara tangan kirinya mencengkeram aura kematian yang mengikat bahu Lian Xue.
Sepanjang perjalanan menembus perbatasan, Ryu Jin sama sekali tidak membuka mulutnya.
Ia membisu total. Tidak ada gumaman, tidak ada keluhan, bahkan napasnya pun ditarik dengan ritme yang teramat halus hingga hampir tak terdengar. Keheningan Ryu Jin yang ekstrem ini bukannya memberi rasa aman, melainkan justru menjadi teror psikologis yang kian berat bagi Lian Xue.
Lian Xue yang dipanggul di bahu Ryu Jin terus memperhatikan gerak-gerik sang pendekar.
Gadis itu menahan napasnya, sepasang matanya yang redup menyapu sekeliling padang rumput dengan kecurigaan yang memuncak. Penderitaan fisik dan batin yang dialaminya sepanjang perjalanan telah mengajari Lian Xue satu hal mutlak: keheningan Ryu Jin adalah pertanda bahwa sebuah pembantaian dahsyat sedang mengintai di balik bayangan.
Namun, tidak peduli seberapa tajam Lian Xue memutar otak dan inderanya, ia tidak menemukan satu pun celah jebakan di padang rumput ini.
Di balik perbukitan hijau, sebuah pemukiman indah bernuansa batu putih membentang anggun di tepi danau yang jernih—Kota Cermin Putih.
Ryu Jin melangkah memasuki gerbang kota yang terbuka lebar tanpa penjaga.
Di sepanjang jalan batu kota yang bersih, warga dan para praktisi lokal berlalu-lalang dengan senyuman hangat. Anak-anak kecil berlarian gembira, sementara para pedagang menjajakan buah-buahan dan herbal dengan suara yang ramah.
Anehnya, tidak ada satu pun warga atau praktisi di kota ini yang memancarkan hawa pembunuhan.
Mereka sama sekali tidak mengenali wajah Ryu Jin, tidak takut pada pedang berkarat di pinggangnya, dan tidak memperdulikan sosok gadis lemas yang dipanggulnya. Ketika Ryu Jin melintasi sebuah kedai kayu tebal di pinggir jalan, pemilik kedai tua berambut putih bahkan menyambutnya dengan bungkukan hormat dan senyuman tulus.
"Selamat datang, Musafir," panggil pemilik kedai tua itu ramah seraya menuangkan secangkir teh hangat ke atas meja kayu. "Perjalanan menembus Lembah Angin pastilah sangat melelahkan. Duduklah sejenak, teh ini gratis untuk para pengembara jauh."
Ryu Jin tidak membalas sapaan itu.
Namun, alih-alih melancarkan tebasan pedang atau menghancurkan kedai tersebut, Ryu Jin justru menarik sebuah kursi kayu, lalu duduk dengan tenang. Ia menyampirkan tubuh Lian Xue yang terikat segel di kursi sebelah, lalu mengulurkan tangannya menyambar cangkir teh hangat tersebut.
Lian Xue membelalakkan matanya dalam kejutan luar biasa!
"Ryu Jin..." bisik Lian Xue sangat pelan dengan suara gemetaran di dekat telinga Ryu Jin. "Kau... kau mau meminum teh itu?! Kota ini pasti penuh dengan Ilusi Jiwa atau Racun Pembalik Pusat Energi! Ini jebakan musuh!"
Lian Xue segera mengaktifkan sisa Energi Murni Darah Suci di dalam pembuluh darahnya, secara diam-diam memeriksa aliran energi di udara, pada cangkir teh, hingga pada tubuh pemilik kedai tua tersebut.
Hasilnya... nihil!
Teh itu benar-benar teh herbal biasa tanpa kandungan racun sedikit pun. Udara di sekeliling kota bersih mutlak, dan pemilik kedai tua itu memang hanya seorang manusia biasa dengan basis kultivasi rendah tanpa niat jahat sama sekali.
Semuanya terasa teramat murni, wajar, dan nyata!
Ryu Jin menyeruput teh hangat itu perlahan. Wajah kusamnya tetap tanpa ekspresi. Ia mengabaikan setiap peringatan dan kecurigaan Lian Xue seolah-olah jeritan gadis itu tak lebih dari bisikan angin kosong. Ryu Jin menikmati tehnya dalam keheningan yang membisu, menatap datar ke arah air Danau Cermin Putih yang tenang di hadapan mereka.
Ketidakpastian dan alur yang teramat santai ini membuat benak Lian Xue kian gila oleh ketakutan yang tak masuk akal.
Malam perlahan-lahan jatuh menyelimuti Kota Cermin Putih.
Bulan separuh memancarkan pendar cahaya perak yang memantul sempurna di atas permukaan danau. Suasana kota menjadi sangat hening, hanya dihiasi oleh deru jangkrik dan tiupan angin malam yang dingin.
Ryu Jin masih duduk mematung di kursi kedai kayu. Tangan kanannya bertengger santai di atas meja, sementara Lian Xue terkulai lemas di sampingnya, matanya terus terjaga penuh kecemasan.
TAP. TAP.
Langkah kaki ringan terdengar melangkah mendekati kedai kayu dari arah jalan batu.
Seorang wanita muda bergaun merah muda—salah satu warga lokal yang tadi siang terlihat ramah menyapa tetangganya—melangkah mendekati meja tempat Ryu Jin duduk. Wajah wanita itu cantik, mengukir senyuman hangat yang teramat manis.
Namun, tepat saat wanita itu berhenti tiga langkah di hadapan Ryu Jin...
SSSTTT!
Pupil mata wanita muda itu mendadak memutih polos! Senyuman hangat di wajahnya berubah menjadi kaku, kaku bagaikan senyuman pada topeng kayu!
Tidak hanya wanita muda itu! Di sepanjang jalan batu Kota Cermin Putih, puluhan warga, pedagang, dan anak-anak yang semula tidur di dalam rumah... keluar melangkah secara bersamaan! Mata mereka semua telah memutih polos, mengukir senyuman kaku yang persis sama, berdiri mematung mengepung kedai kayu tersebut!
Lian Xue menahan napasnya dalam horor yang meremukkan seluruh jantungnya!
Gadis itu akhirnya menyadari kebenaran mengerikan di balik kota ini!
Kota Cermin Putih bukanlah jebakan ilusi, bukan pula kota berdinding racun. Kota ini adalah Wadah Boneka Daging skala raksasa! Seluruh penduduk lokal yang tampak ramah dan hidup normal sejak tadi siang... ternyata tidak memiliki jiwa sejati! Jiwa mereka telah lama dikuras habis dan digantikan oleh jaring-jaring Kesadaran Kolektif yang dikendalikan oleh satu sosok tunggal dari jarak jauh!
Seluruh warga kota yang ramah ini adalah mata, telinga, dan mulut tunggal dari penguasa Alam Suci Pusat!
"Luar biasa..."
Suara wanita muda bergaun merah muda itu mendadak berubah. Suaranya tidak lagi nyaring, melainkan bergaung rendah, tebal, dan berlapis-lapis—suara dari sesosok entitas tua yang memantul serentak dari tenggorokan puluhan warga di sekeliling kedai!
Puluhan boneka manusia itu berbicara secara bersamaan dengan bibir yang bergerak kaku:
"Kau sanggup menembus Lembah Angin Kelabu dan membunuh Utusanku tanpa goresan sedikit pun... Kelinci Percobaan Nomor Nol."
Suara berlapis itu bergema dingin di bawah pendar cahaya bulan perak.
"Sekte Dewa Langit Merah dan orang-orang idiot di luar sana menganggapmu sebagai monster pembantai. Namun, di mataku... kau hanyalah sebuah karya seni yang akhirnya matang sempurna."
Lian Xue gemetaran hebat di kursinya. Aura tekanan spiritual yang terhubung melalui puluhan boneka daging ini tidak memancarkan hawa pembunuhan yang kasar, melainkan keberadaan yang teramat luas, dingin, dan menguasai seluruh Hukum Jiwa di wilayah ini—pancaran keberadaan Leluhur Agung Alam Suci Pusat!
Leluhur Agung tidak mengirim pasukan untuk bertarung. Ia menggunakan seluruh isi kota untuk menyapa Ryu Jin!
"Teh di kota ini rasanya cukup enak, bukan?" lanjut suara berlapis dari mulut puluhan boneka daging tersebut, mengukir senyuman kaku yang memuakkan. "Aku telah menunggumu selama belasan tahun, Ryu Jin. Datanglah ke Istana Melayang di balik pilar awan barat. Di sana, aku telah menyiapkan jawaban atas asal-usul Pedang Tulang Hitam di dalam dadamu."
Puluhan boneka manusia itu membungkuk hormat secara serentak ke arah Ryu Jin, lalu berdiri mematung tak bergerak—kembali menjadi jasad berdaging yang hampa tanpa nyawa.
Keheningan malam kembali menguasai Kota Cermin Putih.
Lian Xue menatap puluhan jasad mematung di sekeliling mereka dengan napas tersengal-sengal. Air mata dingin menetes di pipinya.
Ia menyadari betapa mengerikannya tingkat permainan di Alam Suci Pusat. Penguasa tempat ini tidak bertarung dengan menumpahkan darah secara terburu-buru, melainkan memanipulasi seluruh kehidupan dan jiwa bagaikan catur di atas papan kayu.
Lian Xue melirik ke arah Ryu Jin.
Ia berharap melihat kejutan, kemarahan, atau setidaknya tebasan pedang frustrasi dari sang pendekar atas perlakuan manipulatif tersebut.
Namun, Ryu Jin tetap berdiri di atas ketenangannya yang dingin.
Wajah kusamnya tidak sedikit pun bergetar. Ia menaruh cangkir tehnya yang telah kosong ke atas meja kayu dengan ketukan pelan.
TAK.
Ryu Jin bangkit berdiri secara tenang. Tangan kirinya mengayun santai, menyambar bahu Lian Xue dan menyampirkan tubuh gadis yang lemas itu kembali ke bahunya bagaikan barang bawaan tanpa beban.
Ryu Jin tidak membuang sepatah kata pun untuk menanggapi pesan berlapis sang Leluhur Agung. Ia tidak tertawa gila, tidak pula mengumpat.
Ia memutar tubuhnya, melangkah keluar dari kedai kayu yang sunyi, meninggalkan Kota Cermin Putih yang membisu di bawah naungan cahaya bulan.
Pandangan mata merah darah Ryu Jin terpaku lurus ke arah barat—ke balik pilar awan raksasa tempat Istana Melayang milik Leluhur Agung berdiri kokoh.
Pertemuan antara iblis terlarang yang telah memecahkan segelnya dan sang penguasa jiwa yang mengendalikan wilayah ini kini hanya terpisah oleh lautan awan!