Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Wajah yang Paling Dipercaya

#

Tidak ada yang bicara selama tiga detik penuh.

Alessia yang pertama bergerak. Ia melangkah ke depan Rico dan mencengkeram kerah bajunya dengan tangan kanan yang masih berdarah.

"Ulangi," katanya.

"Mbak..."

"Ulangi kalimat terakhirmu."

"Ayah Mbak masih hidup." Rico tidak melawan. "Tapi dia tidak di ruang bawah tanah. Dia berdiri di samping Giovanni, dan dia tahu semuanya."

"Siapa yang kamu maksud dengan wajah yang paling kami percaya?"

"Saya tidak tahu wajahnya sekarang. Saya cuma pernah dengar Pak Hadi bilang begitu, sebelum mereka bawa dia pergi."

Bima maju satu langkah. "Pak Hadi bilang apa persisnya?"

"Dia bilang, 'Matteo tidak pernah mati. Dia cuma ganti rupa.'"

Wartini terduduk di peti kayu. Dimas langsung berlutut di depannya. "Bu? Ibu kenapa?"

"Bapakmu masih hidup," bisik Wartini. "Yang asli. Ibu dengar tadi."

"Iya, Bu. Aku juga dengar."

"Dua belas tahun Ibu mandiin..." Suaranya putus. "Ibu mandiin siapa waktu itu?"

Tidak ada yang bisa menjawab.

---

Alessia melepaskan Rico dan berjalan ke jendela kantor. Ia berdiri diam menatap pelabuhan yang mulai terang. Bahunya masih berdarah, tapi ia tidak peduli.

Bima menyusulnya. "Kamu dengar Rico bilang ayahmu hidup?"

"Aku dengar."

"Terus kenapa diam?"

"Karena aku sedang mengingat." Ia tidak menoleh. "Orang-orang yang duduk di samping Om Gio di meja makan. Pria yang wajahnya berubah. Yang tiba-tiba lebih kurus, lebih pendiam, lebih sering batuk."

"Siapa?"

"Dokter Surya. Dokter keluarga. Yang menyuntikku vitamin." Alessia menelan ludah. "Ia datang ke rumah dua minggu setelah ayahku dikabarkan mati. Ia bilang ia sakit, dan Nenek menyuruhnya tinggal."

"Dokter yang sama yang menghapus ingatanmu."

"Dan ingatanmu."

"Kamu pikir itu Matteo?"

"Aku pikir aku bodoh." Suaranya mengeras. "Aku pikir seseorang yang menyuntikku selama dua belas tahun, yang menatapku setiap musim panas, yang bilang aku anak baik... itu ayahku sendiri."

Bima tidak langsung menjawab. Ia berdiri di sampingnya, dekat, bahu mereka hampir bersentuhan.

"Kalau benar," katanya pelan, "dia nggak jahat sama kamu."

"Apa?"

"Dia menghapus ingatanmu supaya kamu nggak jadi target Giovanni. Kamu hidup karena kamu lupa."

"Jangan membelanya."

"Aku nggak membela. Aku cuma bilang kamu masih hidup."

Alessia menoleh. Matanya merah, tapi tidak ada air mata. "Kamu selalu mencari sisi baik orang."

"Dan kamu selalu mencari sisi terburuknya."

"Itu menyelamatkan nyawaku."

"Itu juga bikin kamu sendirian."

Mereka saling menatap. Wajah Alessia memerah, lalu ia membuang muka cepat-cepat. "Jangan sok tahu."

"Aku nggak sok tahu."

"Kamu bahkan tidak kenal aku."

"Kenal. Kamu nggak suka gelap, nggak suka bunyi sendok, dan kamu cemberut kalau teh kamu kurang manis."

"Itu..." Alessia kehilangan kata. "Itu tidak penting."

"Penting buat aku."

Keheningan jatuh. Wajah Alessia semakin merah, dan Bima baru sadar apa yang ia ucapkan. Ia batuk keras, memalingkan wajah ke arah lain.

"Maksudku buat kontrak."

"Ya, kontrak."

"Supaya aku tahu cara melindungi kamu."

"Itu masuk akal."

"Memang."

Di belakang mereka, Dimas berbisik keras pada ibunya. "Bu, mereka nggak sadar ya?"

"Diam," kata Wartini, walau bibirnya hampir tersenyum.

---

Rico mengambil pistolnya dan mengisi peluru dengan gerakan cepat. "Kita harus pergi. Dia sudah tahu kita di sini."

"Tunggu." Alessia berbalik. "Ilaria."

Ilaria masih duduk di lantai, menekan lengannya yang berdarah. "Aku di sini."

"Sebelum kamu mengkhianati kami, kamu pasti tahu sesuatu. Apa rencana Giovanni di aula?"

"Rapat besar pukul tujuh. Semua kepala cabang hadir." Ilaria meringis. "Dia akan mengumumkan Mbak sebagai pembunuh Dario. Lalu dia mengambil alih seluruh keluarga Vieri."

"Dengan bukti apa?"

"Pistol Mbak. Dan satu saksi."

"Siapa saksinya?"

Ilaria menunduk. "Nenek Carla."

Alessia menutup mata. Ia tidak terlihat terkejut. Hanya lelah.

"Tentu saja," katanya pelan.

"Tapi Mbak," Ilaria buru-buru menambahkan, "Nenek tidak mau. Aku dengar dia menolak semalam. Giovanni mengancamnya."

"Dengan apa?"

"Dengan Dimas."

Dimas tersentak. "Aku?"

"Giovanni tahu kamu anak Matteo. Kalau Nenek tidak bersaksi, kamu yang akan..." Ilaria tidak menyelesaikan kalimatnya.

Wartini memeluk Dimas lebih erat. Bima menatap adiknya, lalu Alessia.

"Jadi Carla bukan musuh," katanya.

"Atau dia aktris yang sangat baik." Alessia membuka mata. "Di garasi, dia berbohong soal bom. Dia juga menelepon Giovanni. Satu orang tidak bisa berada di dua sisi tanpa alasan."

"Mungkin alasannya Dimas."

"Mungkin."

"Kamu percaya dia?"

Alessia diam cukup lama. "Aku ingin percaya."

Itu pertama kalinya Bima mendengarnya mengatakan keinginan, bukan perhitungan.

---

Mereka keluar dari gudang lewat pintu samping. Rico memimpin, Alessia di belakangnya, lalu Bima menggandeng Wartini, dan Dimas di ujung. Pelabuhan sudah ramai. Truk-truk lewat, kuli mulai memanggul karung. Tidak ada yang memperhatikan lima orang berpakaian kotor dan berdarah.

Sebuah van putih tua menunggu di balik tumpukan kontainer. Rico membuka pintunya. "Punya saya. Belum ada yang tahu."

"Ke mana?" tanya Bima.

"Ke Jalan Kenanga. Rumah melati." Rico melirik Alessia. "Kalau Mbak benar soal alamatnya, di sana ada petunjuk."

"Tadi kamu bilang kamu tidak tahu alamat itu."

"Saya bohong. Saya tahu dari dua tahun lalu." Rico menyalakan mesin. "Tapi Mbak yang tahu bagaimana masuk ke dalam. Saya cuma pernah lihat dari luar."

Alessia naik ke kursi depan tanpa menjawab. Bima duduk di belakang bersama Wartini dan Dimas. Selama perjalanan, tidak ada yang bicara. Van melaju lewat jalan-jalan sempit, melewati pasar loak, belok ke gang buntu yang bau sampah dan melati.

Rico menghentikan mobil di depan rumah kecil bercat hijau muda. Pagarnya berkarat, tiang listrik miring di sampingnya. Satu pohon melati tumbuh liar di pojok halaman.

Alessia turun lebih dulu. Ia berdiri lama di depan pagar, tangannya gemetar saat menyentuh besi.

"Aku ingat bunyinya," katanya pelan. "Pagar ini berderit kalau dibuka."

Ia mendorongnya. Berderit.

Bima berdiri di sampingnya. "Kamu baik-baik saja?"

"Tidak." Ia jujur. "Tapi aku harus masuk."

"Aku ikut."

"Kamu tidak perlu."

"Aku ikut." Bima menggenggam tangannya sekilas, lalu melepaskannya sebelum Alessia sempat protes. "Jangan bilang tanganmu harus bebas."

Alessia tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya bergetar.

---

Pintu rumah tidak terkunci. Di dalam, ruang tamu kecil berbau teh melati dan debu. Ada sofa tua, meja kayu, dan lemari kaca penuh foto. Alessia berjalan pelan ke arah lemari itu.

Semua foto menunjukkan anak perempuan yang sama. Umur sepuluh, dua belas, empat belas, enam belas. Rambut dikepang, senyum malu-malu. Di beberapa foto, seorang perempuan tua memeluknya. Di satu foto, seorang laki-laki berjas berdiri di belakang mereka, wajahnya setengah tertutup bayangan.

"Itu aku," bisik Alessia.

"Dan itu?" Bima menunjuk laki-laki di foto.

"Tidak terlihat."

"Foto yang lain."

Alessia membuka lemari dan menarik satu bingkai kecil dari belakang. Foto itu lebih tua, hitam putih. Dua anak laki-laki berdiri berdampingan di depan kapal. Satu berkacamata. Satu lagi lebih tinggi, tersenyum lebar.

Bima mengenali keduanya. Yang berkacamata adalah Giovanni muda. Yang tersenyum lebar...

"Hadi," katanya. "Ayahku."

"Mereka berteman sejak kecil." Alessia membalik bingkai itu. Di belakangnya ada tulisan tangan biru. *Giovanni dan Hadi, 1989. Tiga yang tersisa.*

"Tiga?" Bima mengerutkan dahi. "Ada dua orang di foto."

"Yang ketiga yang memotret."

"Siapa?"

Alessia membaca tulisan kecil di bawahnya, dan wajahnya berubah. Ia mengulurkan foto itu pada Bima tanpa bicara.

*Yang memotret: Matteo Vieri.*

"Tiga sahabat," bisik Bima. "Dari kecil."

"Dan satu dari mereka sudah menjual dua lainnya."

Dari dapur, terdengar bunyi pelan. Bukan langkah kaki. Seperti piring diletakkan di meja.

Rico langsung mengangkat pistol. Alessia mengisyaratkan diam, lalu berjalan pelan ke pintu dapur. Bima mengikuti di belakangnya, menahan napas.

Di dapur, di meja kayu kecil, ada semangkuk bubur hangat yang masih mengepul. Di sampingnya, secangkir teh. Dua sendok gula mengendap di dasarnya.

Dan di kursi, memunggungi mereka, duduk seorang perempuan tua berambut putih disanggul rendah. Tangannya yang berkeriput memegang cincin perak tipis berhuruf A.

"Duduklah, Lia," katanya tanpa menoleh. Suaranya bukan suara Carla. Suara yang lebih lembut, lebih tua, dan penuh kerinduan. "Sudah dua belas tahun Nenek menyiapkan sarapan ini untukmu."

Alessia berdiri kaku di ambang pintu. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

Perempuan tua itu perlahan memutar kursinya. Wajahnya persis wajah Carla Vieri, setiap kerut, setiap garis. Tapi matanya berbeda. Dan di lehernya, tergantung sebuah kalung dengan liontin lingkaran dan jangkar terbalik.

"Perkenalkan," katanya pada Bima sambil tersenyum. "Aku Clara. Kembaran Carla. Dan akulah pemilik sebenarnya cincin yang kalian bawa."

Ia meletakkan cincin itu di atas meja, lalu menatap Alessia dengan mata yang basah.

"Carla yang kamu kenal selama ini," katanya pelan, "bukan nenekmu."

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!