Mendadak menikah dengan sang majikan membuat Bunga serasa bagaikan sedang bermimpi.
Pria yang secara diam-diam di cintai oleh Bunga, kini telah menjadi suami nya secara sah.
Mampukah Bunga menebarkan cinta, dan membuat sang suami juga membalas tebaran cintanya? Atau justru Bunga harus mundur saat cinta yang ia tebar tidak mendapatkan balasan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Bara." Panggil Bunga, namun Bara tak kunjung bangun, masih betah tidur dan menyelimuti seluruh badannya.
"Bara ayo bangun. Ini sudah pagi, nanti kau bisa telat." Kata Bunga sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Bara.
Saat selimut telah terbuka., Namun Bara tak kunjung juga membuka matanya hingga membuat Bunga naik ke atas tempat tidur.
"Ayo bangun Bara." Ucap Bunga sambil menepuk pipi Bara dengan lembut.
"Panas?" Kata Bunga dan langsung menempelkan telapak tangannya di atas jidat Bara, dan lalu menempelkan telapak tangannya di kening nya.
"Astagfirullah, Bara kamu sakit." Ucap Bunga sambil turun dari tempat tidur dan mengambil alat cek pengukur suhu tubuh.
Di letakkan alat itu kedalam mulut Bara. Lalu beberapa menit kemudian.
"Bara aku akan membawamu ke rumah sakit." Kata Bunga setelah melihat suhu tubuh Bara.
"Tidak usah." Ucap Bara dengan lemah nya.
"Tapi Bara. Suhu tubuhmu sangat tinggi."
"Aku hanya butuh istirahat. Jadi tidak usah membawaku ke rumah sakit." Kata Bara dengan mata yang masih terpejam.
Kemudian Bunga langsung mengambil ponselanya dan menghubungi Raka, agar Raka segerah datang dan membujuk Bara agar mau di bawa ke rumah sakit. Namun Raka berkata tidak usah, lebih baik dokter pribadi tuan saja yang datang untuk memeriksa.
"Hebat sekali orang kaya. Dokter yang datang mengobati." Gumam Bunga setelah panggilan nya dengan Raka terputus.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Tuan hanya butuh istirahat. Dan jangan lupa tebus obat ini. Minum sesuai aturan yang sudah saya tulis, nyonya." Kata dokter setelah memeriksa tubuh Bara.
"Dokter yakin, Bara hanya butuh istirahat?" Tanya Bunga yang masih belum percaya,
Membuat Raka yang juga berada di sana tersenyum.
"Ia nyonya. Tuan hanya kelelahan saja. Dan butuh istirahat." Dokter kembali menyakinkan Bunga jika Bara hanya butuh istirahat.
"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu."
"Biar saya antar dok." Timpal Raka.
Kini di dalam kamar hanya tinggal Bunga dan juga Bara. Bunga naik ke atas tempat tidur dan langsung berbaring di samping Bara dan melingkarkan tanganya di pinggang Bara.
"Jangan sakit. Cepat sembuh biar ada yang menemaniku. Kalau kau sakit, aku juga akan ikut sakit." Ucap Bunga dengan air mata yang jatuh menetes.
"Aku baik baik saja. Tidak usah khawatir. Dan jangan menangis." Kata Bara.
"Janji padaku. Kau harus sembuh dan jangan pernah sakit lagi."
"Baiklah aku janji padamu."
Selama Bara sakit, Bunga terus mengurus Bara dengan telaten dengan sangat baik. Tidak pernah meninggalkan Bara, membuat Bara merasa sangat bahagia, karena perhatian yang ia dapat dari Bunga. Wanita yang sudah entah sejak kapan telah memasuki hatinya.
Wanita yang sangat biasa-biasa namun mampu membuat Bara jatuh cinta.
"Bara. Kau ingin makan buah? Biar aku kupaskan untuk mu."
Bara menganggukkan kepalanya.
"Aku senang jika aku sakit." Kata Bara yang membuat Bunga menaikkan satu alisnya.
"Maksud kamu?"
"Karena kamu selalu ada di samping ku."
"Oooh." Dengan santai nya Bunga berkata O dan terus mengupas kulit buah jeruk.
Bara langsung bangun dan duduk sambil bersandar di dasboar tempat tidur.
"Bunga aku sudah sembuh."
"Oyah?"
"Iya. Dan aku sudah bisa bekerja hari ini."
"Bara kau itu masih sakit. Jadi tidak usah sok bilang sembuh, nanti yang ada sakit mu tambah parah." Omel Bunga membuat Bara tersenyum dan berfikiran untuk menjahili Bunga.
"Kau pasti khawatir kan?"
"Kalau iya emang kenapa?"
"Ngak papa."
"Ya udah, ini buah nya kamu makan. Dan ngak usah sok masuk bekerja hari ini."
"Siap nyonya."
melainkan gratis.. tis..👍