Vita Kavita dan Dimas Ahmadin merupakan sepasang suami istri yang sangat harmonis dan bahagia. Usia pernikahan mereka sudah hampir 10 tahun. Namun walaupun begitu, belum ada kehadiran malaikat kecil titipan tuhan pada mereka. Itu bukan berati karena ada masalah dengan mereka. Hingga suatu ketika, Ada suatu kejadian tepat di anniversary mereka, Suaminya tak kembali semalaman yang menyebabkan Vita menunggu semalaman di udara malam yang dingin itu. karena kejadian itu, Vita berfikir bahwa suaminya berselingkuh. namun kecurigaan itu Vita singkirkan karena di saat yang sama dia berhasil mengandung, mereka pun berbahagia. Bahkan sangat bahagia, namun di saat itulah dia mengetahui semua kebenaran bahwa suaminya memiliki istri lain bahkan mereka juga telah memiliki 2 orang putra di belakang Vita.
Apa yang di lakukan oleh Vita? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34. Rahasia Suamiku.
Para perawat masih sibuk mengatur dan memasang alat infus. Setelah mereka selesai, barulah kami berempat masuk ke dalam.
“Ya tuhan Dimas, nak mama di sini. Cepat sembuh ya kamu …” ucap mama menangis dengan menyeka rambut nya.
Aku tak enak pada mertua ku. Jadi ku diam saja dan duduk di sofa samping jendela.
“Vita … apa dimas kecelakaan? Atau apa penyebab nya? Tadi dokter berkata kalau Dimas terbentur? Terbentur apa?” tanya mama tiba-tiba.
“Emm, tante sebenarnya Dimas itu …” Ucap Mita akan mengatakan hal sebenarnya.
“Tidak ma, mas Dimas terbentur karena aku. Dia kurang ajar karena memaksa ku agar ikut bersama nya.”
“Haa? Maksud nya kamu dorong Dimas sampai dia kepala nya terbentur begitu? Tega sekali kamu Vitaa … Dimas sangat mencintai mu, dia hanya ingin kamu pulang, kamu kan masih istri nya,”
“Ma, beberapa kali aku katakan bahwa aku tak ingin tinggal di sana lagi. Tapi mas Dimas terus memaksa ku, aku juga nggak tau kalau mas Dimas akan terbentur seperti ini,”
“Vitaa.. Mama tau semua ini menyakitkan bagi kamu, tapi ini juga hak dimas untuk mengatur kamu. Kamu kan istri nya, apalagi kamu lagi mengandung anak kalian bukan? Pokok nya mama nggak mau tau kamu harus kembali ke rumah dan rawat suami kamu. Kamu harus bertanggungjawab,”
“Kenapa Vita ma? Toh ada istri muda nya itu. Kenapa nggak dia saja?”
“Vita! Dengar, mama berulang kali kasih tau kamu ya kalau amel itu mama nikah kan dengan dimas hanya untuk melahirkan pewaris keluarga ini. Soal hati vita, mama yakin 100 % dia selalu mencintai kamu. Pokoknya kamu harus rawat sampai sembuh bugar. Itu tugas kamu loh vita …” ucap mama tegas dan memaksa ku.
“Baiklah tapi aku punya syarat, Mas dimas dan aku akan pisah kamar sampai aku melahirkan. Setelah itu, aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan,”
Mertua ku mendengus dan menggelengkan kepala nya. “Astagaa.. Kamu masih mau cerai vita? Mama ingin kalian tidak bercerai, Mama hanya ingin Dimas terus hidup bahagia. Mama harap selama kamu hamil, kamu bisa menenangkan diri dan berfikir lebih jernih lagi untuk menerima semua ini dengan lapang dada. Kalau saja kamu dan dimas sudah punya anak di 5 tahun pertama kalian menikah, mama tidak akan menikah kan dimas lagi. Seharusnya kamu tau diri dan lebih lapang dada menerima semua ini. Mama hanya berbicara fakta bukan untuk menyakiti lebih dalam.” Ucap mama dengan tegas.
Memang apa salah ku ini, di 1 tahun aku menikah dengan mas dimas ku ingin sekali mempunyai anak. Bahkan di 3 tahun ku menikah, aku sempat stress karena tak kunjung hamil. Tapi aku bisa apa, tuhan belum memberiku anak walaupun segala cara telah aku tempuh tapi tetap saja gagal. Apa dengan menikahkan mas dimas tanpa sepengetahuan itu adalah hal yang tepat? Itu sangat menyakitkan. Apa melihat suami yang diam-diam berhubungan dengan wanita lain itu tidak menyakitkan ma? Kenapa mama begitu egois?
Ku lihat ponsel nya berdering, dia pun melangkah keluar dari kamar ini. “Sabar vita, sabar,” ucap lita mengusap punggung ku.
“Iya ta,” jawab ku singkat.
“Kenapa nggak biarkan aku saja yang ngaku, jadi kamu harus kembali ke rumah . maaf ya ..” ucap mita padaku.
“Nggak papa mita, ini juga karena aku.”
Beberapa saat kemudian, mertua ku kembali masuk dan berkata, “Mama akan pergi dulu, nanti malam mama kemari lagi.” ucap nya singkat.
“Iya,”
Mama pun pergi dari rumah sakit. Lalu lita menyusul pegi juga karena suami nya menyuruh nya untuk pulang.
"Vit, gue pulang duluan ya, nanti kalau suami gue udah pergi, gue sempetin ke sini lagi.”
“Iya ta, nggak papa kok. Makasih banget ya ta,”
“Sama-sama, Mit, gue tinggal dulu.”
“Iya hati-hati,”
Lita pun pergi juga dari rumah sakit ini, kini tinggal aku dengan Sahabatku saja yang dengan bosan menunggu, melihat perawat yang setiap 4 jam masuk dan memeriksa mas Dimas.
“Vitaa, Ku beli makanan dulu ya buat kamu. Boo pasti laper juga kan?” ucap Mita memegang perutku.
“Beli dimana?”
“Di kantin aja, nanti ku pilihin kesukaan kamu,”
“Ya sudah,”
“Ku tinggal dulu ya,”
“Iya”
Mita pun pergi ke kantin, tinggal lah aku saja sendiri di dalam sini. Ku rebahkan tubuhku lagi karena ku merasa nyeri di bagian ulu hati ku. Ku coba menonton televisi yang sejajar dengan sofa ini.
Tiba-tiba,
“Eggghhh, aduhh, sakitt ..” Gerang seseorang.
“Ku tengok ke arah ranjang mas dimas. Ku lihat dia sedang menyentuh kepala nya dengan merintih kesakitan. Sontak aku pun bangun dan mendekati nya.
“Maass …” panggilku lirih.
“Sakittt …” ucap nya dengan merintih kesakitan lagi.
“Bentar ya mas, ku panggil dokter dulu,”
Aku pun berbalik memanggil dokter yang berada di ruang tunggu depan bangsal sedang mengobrol.
“Dok, dokter …” panggil ku.
“Iya bu? Bagaimana?” jawab dokter.
“Itu suami saya sudah siuman ngeluh sakit,”
“Baik bu, ndra ayo .. Mari bu kita ke sana.”
“Ya ya mari dok,”
Kami pun berjalan ke kamar mas Dimas lagi, setelah di buka pintu nya. Mas dimas sudah terduduk di atas ranjang nya. Dia memegangi kepala nya dan menunduk.
“Pak dimas? Halo pak? Selamat sore, Permisi ya pak saya mau periksa anda dulu,”
Mas dimas di baringkan kembali, dia sudah siuman namun mata nya masih terpejam dan merintih kesakitan.
“Apa sakit sekali pak? Dimana titik yang sakit?” tanya dokter dengan memegang tangan mas ilham.
“Sakit di sini,” jawab mas dimas merintih lagi.
“Baik,” jawab dokter memeriksa lagi.
Aku pun duduk di kursi sembari dokter selesai mengobati mas dimas.
Sekitar 1 jam kemudian, dokter pun berbicara padaku. “Bu, pak dimas perlu penanganan kami lebih lanjut. jadi sepertinya pak dimas akan beberapa hari lagi di sini. Setidaknya setelah rasa sakitnya berkurang,” ucap dokter.
“Baik dok, tidak apa-apa. Dok, suami saya tidak hilang ingatan atau lebih parah kan dok?” ucap ku khawatir.
“Tidak bu, tadi hanya pendarahan saja, Setelah ini jangan biarkan lama-lama dulu berbaring ya bu,”
“Begitu, siap dok, akan saya ingat itu” Jawab ku.
“Baiklah, nanti setelah 7 jam saya akan kesini lagi ya bu, mohon pak ilham untuk mengisi tenaga nya dulu dengan makan lalu meminum obat yang sebentar lagi saya resep kan. Nanti di antar sama perawat,”
“Baik dokter,”
“Saya pergi dulu, permisi,”
“Silahkan dok,”
Setelah dokter pergi, mas dimas memanggil ku. “Sayang, Sayang … kamu di mana?” panggil nya dengan mata nya yang tertutup dan tangan nya yang merambah angin.
“Iya mas, di sini kok,” jawab ku saja tanpa mendekati nya.
“Mana? Sini sayang. Mas ingin lihat istri mas,” ucap nya lagi padaku.
Aku pun mendekat lalu ku duduk di pinggiran ranjang nya. Tangan nya yang merambah angin itu akhirnya menyenggol sedikit payudara ku.
“Apa sih mas?” ucap ku menutup nya dengan cardigan.
“Maaf sayang, mana tangan mu?”
“Inii … ada apa mas? mau minum?”
“Engga, sayang .. Peluk mas sebentar saja,”
~Bersambung~