Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Udara di dalam limusin mewah itu bukan sekadar terasa berat—ia telah berubah menjadi timah cair yang menyesakkan, menekan setiap inci ruang hingga nyaris tak tersisa ruang untuk bernapas. Vano dan Eren terpaku di kursi depan, membeku sempurna, entahlah nasib Matteo dan Liu yang berada di kursi paling belakang samping jendela menghadap langsung ke dua saudara itu. Napas mereka tertahan seolah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram leher perlahan, mencegah setiap helaan napas keluar.
Dua sosok Penguasa itu masih bersitegang dalam diamnya—sebuah keheningan yang jauh lebih mengerikan daripada teriakan perang, lebih mencekam daripada benturan pedang di medan laga. Setiap detik yang berlalu bagaikan duri tajam yang menusuk perlahan ke dalam daging, dan Vano, dengan jantung yang berpacu liar di balik rusuknya, hanya bisa mencengkeram setir sekuat tenaga, berdoa dalam hati agar tangannya tak gemetar, menginginkan mobil ini tetap lurus di jalan.
Di bawah kemudi, benaknya terus berputar tanpa henti. Ia sedang mengantar para pemilik sah raksasa bisnis SGroup—tujuh Penguasa Pengguna Aura yang legendaris, yang namanya saja cukup untuk mengguncang tatanan dunia—termasuk Caesare, Penguasa Keempat, dan Rael, Penguasa Keenam, menuju gedung pencakar langit yang ia kelola di Singapura.
Dan tiba-tiba, satu pertanyaan menghantam benaknya, menghujam tajam: mungkinkah di gedung megah itu tersembunyi pula tujuh kamar brankas keramat, ruang-ruang suci yang menyimpan harta peninggalan turun-temurun sejak ratusan tahun silam? Ruangan yang luasnya setara apartemen mewah, yang dijaga aura abadi sehingga tak pernah tersentuh debu, tak dimakan zaman, selalu siap kapan pun para Penguasa menginjakkan kaki di sana.
Dengan hati yang berdebar kencang, nyaris melompat keluar dari dadanya, Vano memberanikan diri memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Sir… I am escorting you both to the company headquarters.
“Tuan… Saya sedang membawa Anda sekalian menuju pusat perusahaan,” ucapnya, suaranya bergetar halus, namun terdengar nyaring di tengah kesunyian yang mencekam, seolah terompet pertanda bahaya.
Upon arrival, do you have any specific requests? I shall arrange everything you need right away.
“Setelah sampai nanti, apakah ada sesuatu yang Anda berdua butuhkan? Saya akan langsung menyiapkan segala kebutuhan Anda.”
Jawaban tak kunjung datang. Detik berlalu menjadi hitungan yang terasa abadi, seolah waktu sendiri berhenti berjalan di dalam mobil itu. Hingga akhirnya suara Caesare terdengar—rendah, dingin, namun memancarkan wibawa yang menekan jiwa, seakan satu kata darinya mampu mengubah takdir siapa pun yang mendengarnya.
Just come with me wherever I go! Take my sister and me to the building that belongs to you.
“Ikut saja aku ke mana pun aku pergi! Antarkan aku dan adikku ke gedung milikmu,” tegasnya, tanpa celah untuk bantahan sekecil apa pun.
I only want to see the inheritance box belonging to my sister, Arbella, that is in your place. After that, we want to go rest.
“Aku hanya ingin melihat kotak warisan adikku, Arbella, yang ada di tempatmu. Setelah itu, kami ingin beristirahat.”
Yes, sir…!
“Baik, Tuan…!”
Di kursi penumpang depan, Eren nyaris tak berani bernapas. Tubuhnya kaku bagaikan batu yang telah berdiri ribuan tahun, matanya terpaku lurus ke depan, tak berani sekadar melirik ke kaca spion, takut tatapan mana pun dari belakang mampu membakarnya hidup-hidup.
Tekanan aura dingin yang memancar dari jok belakang merambat ke seluruh ruangan, membuat suhu jatuh drastis dan bulu kuduknya berdiri tegak. Ia refleks meremas ujung kemejanya hingga kain itu kusut tak berbentuk, berusaha meredam gemetar yang menjalar ke seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebuah tatapan penuh peringatan dilemparkannya ke arah Vano, tatapan yang berkata: jangan cari masalah.
Just follow what they want, don’t defy them.
“Ikuti saja maunya, jangan dibantah.”
Ia tahu betul: satu langkah keliru, satu kata yang salah, dan mereka berdua bisa lenyap tanpa jejak, seolah tak pernah ada di dunia ini.
Namun, sebelum Vano sempat merasa sedikit lega, suasana berubah seketika, seolah langit cerah tiba-tiba digulung badai dahsyat. Sosok lain di jok belakang—Rael, Penguasa Keenam yang sedari tadi membuang muka ke jendela—akhirnya bergerak perlahan. Ia mengembuskan napas panjang, helaan yang terdengar sinis namun sarat akan kelelahan mendalam, seolah memikul beban ratusan tahun kesepian dan penyesalan yang tak pernah berakhir.
Dan saat itu, aura dingin yang sempat tertahan tiba-tiba meledak, menyapu seluruh kabin hingga udara di dalamnya terasa membeku. Ia memutar kepalanya perlahan, menatap tajam ke arah punggung kursi Vano, lalu mengalihkan pandangan pada kakaknya dengan tatapan malas yang justru jauh lebih mengancam daripada amarah yang meledak-ledak.
Stop acting like this is all your territory, Brother.
“Berhenti mengatur seolah ini semua wilayah kekuasaanmu, Kak,” sahutnya, suara rendah namun bergema di udara, dilapisi energi gaib yang membuat udara bergetar halus, seolah bumi sendiri ikut bergetar mendengarnya.
The box of Arbella’s legacy in this building is my right to inspect first. Besides, if this place is as filthy as I imagine, I would rather destroy this entire building than rest inside it.
“Kotak warisan Arbella di gedung ini adalah hakku untuk memeriksanya terlebih dahulu. Lagipula, jika tempat ini sekotor yang kubayangkan, aku lebih memilih menghancurkan seluruh gedung ini daripada beristirahat di dalamnya.”
Kalimat itu diucapkan begitu tenang, begitu santai—bagaikan ia berbicara tentang debu di meja, bukan bangunan setinggi ratusan meter bernilai triliunan rupiah yang menjadi rumah bagi ribuan orang. Namun dampaknya menghantam dada Vano dan Eren bagai guntur di siang bolong.
Jantung mereka nyaris berhenti berdetak. Eren menggigit bibir bawahnya hingga memutih, menahan jeritan yang hampir lolos dari kerongkongannya. Nasib gedung raksasa, tempat ribuan orang bekerja, tempat mereka bernaung, kini dipertaruhkan begitu saja—sepele, seolah itu hanyalah butiran pasir di telapak tangan mereka yang mahakuasa.
^^^Bersambung...^^^
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭