Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."

Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.

Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Suasana hangat matahari sore menerpa tubuh Zakia dan Daren yang sedang duduk di taman Rumah Sakit. Anak-anak tertawa gembira dan beberapa orang ada yang berlalu lalang sehingga menambah kesan hangat tempat tersebut.

Zakia tersenyum kecil melihat anak-anak yang berlarian walaupun mereka memakai alat yang membantu mereka untuk melanjutkan hidup. Raut wajah senang dicampuri dengan rasa haru yang mendalam, anak-anak yang aktif itu membuat Zakia bertambah semangat untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

Mata Zakia menelusuri seisi taman sampai ia berhenti di satu titik yang menarik perhatiannya, seseorang yang berdiri gagah dengan ponsel yang menempel di telinganya.

"Iya, kirim aja uangnyq." Kira-kira seperti itulah samar-samar percakapan Daren yang tak sengaja didengar oleh Zakia.

Zakia menyipitkan pandangannya, sedari tadi suaminya itu sangat sibuk dengan ponselnya, lalu berbicara tentang uang, sebenarnya anak ini bekerja seperti apa? Kenapa tidak terlihat sama sekali.

"Ya kali bang Daren ngepet," gumam Zakia. Kepala Zakia menerawang jauh, apa iya pria modelan seperti ini bisa ngepet? Tidak-tidak! Tak mungkin Daren seperti itu, Zakia menggelengkan kepalanya guna menghilangkan prasangka buruk.

"Iya, nanti di cek." Tak lama kemudian panggilan tersebut berakhir, menyadari Daren akan menghampirinya, Zakia langsung mengalihkan pandangannya menatap anak-anak yang masih bermain-main.

Suara deritan kursi pun terdengar saat Daren duduk di samping Zakia, mereka berdua diam, menikmati sore dengan isi kepala masing-masing. Daren dengan segala pikiran bagaimana cara Zakia bisa sembuh dan Zakia masih dengan isi kepala dari mana banyaknya uang Daren berasal.

"Tadi pas mau ke kamar mandi siapa yang bantu?"

Daren penasaran, Zakia sakit dan tidak mungkin Sinta yang menggendong wanita itu. Tubuh mereka bahkan besarnya hampir sama.

"Rega," jawab Zakia singkat. Daren mengangguk pelan, mereka kembali terdiam, arah matanya mengikuti kemana menoleh kepala Zakia.

Hati Daren seketika terhenyak, di depan sana ada anak yang memakai baju wisuda beserta dengan buket di tangannya, di sampingnya ada sang ibu yang ikut memakai baju bagus dan di tengah-tengah mereka ada sang pria tua yang sepertinya ayah anak itu tersenyum lebar.

Di depan mereka, sang fotografer sudah siap dengan kameranya untuk mengambil momen berharga tersebut, senyum lebar, tanpa beban walau salah satu kondisi orang penting di foto itu sedang tidak sehat.

Zakia menelan senyum pahit, ia menunduk meremas ujung bajunya. Di kehidupan yang hanya sekali ini, kenapa dia tidak merasakan hal berharga seperti itu.

Daren memandang punggung wanita itu, ia tahu apa yang dirasakan Zakia. Mimpi wanita itu terhenti, pasti ada rasa tidak terima di hati wanita itu. Dari sudut pandang Daren, bekerja sambil mengejar pendidikan itu bukan hal yang mudah, dia mengejar pendidikan saja sudah kalang kabut apalagi ini ditemani dengan bekerja, pasti rasanya pontang-panting, hebat sekali Zakia sudah bertaruh sampai sejauh ini.

Lama berfikir dan melamun, tiba-tiba saja Zakia memanggil namanya dan sudah menatap wajahnya penuh, pandangan wanita itu tidak lagi ke arah momen yang sakral itu.

"Bang Daren,"

"Hm?"

"Bang Daren, pasti dulu kayak gitu kan?" tanya Zakia sambil menunjuk kejadian tadi. Daren mengikuti arah tangan Zakia, ia menatap wanita itu kemudian mengangguk.

"Iya."

"Pasti itu momen yang berharga ya kan?"

Daren diam sebentar, "iya memang momen berharga, lo juga nanti bakal kayak gitu," kata Daren. Senyum lebar penuh penasaran yang tadinya menjadi pemandangan Daren itu tiba-tiba saja hilang bagai air laut yang akan surut, pelan-pelan tapi terasa.

"Gue?" tanya Zakia sambil menunjuk dirinya sendiri.

Daren mengangguk mantap, "iya ... elo," jawab Daren.

Daren mengusap bahu Zakia, ia mendukung penuh niat wanita ini jika ingin kembali mengejar pendidikan seperti dulu, Daren bukan tipikal suami yang ingin istrinya menurut dibawah perintahnya, dia lebih suka dengan wanita yang ingin berkembang, punya tujuan hidup dan ada hal-hal yang ingin dicapai, Daren tidak akan menahan tapi dia akan menemani.

"Gue ga yakin," ucap Zakia.

Bukankah Zakia dulunya sebelum menikah dia sudah berpikir bahwa pernikahan tidak akan memberikan kebebasan untuk dirinya, satu lagi! Dengan kondisi seperti ini dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk kembali membiayai kuliahnya seperti dulu!

"Zakia, gue denger sedikit cerita tentang elo dari Rega, gue ga masalah kalau lo mau lanjutin pendidikan lo yang sempat tertunda itu, gue ga bakalan ngikat lo dalam segi apapun asalkan itu untuk kebaikan, lo mau kuliah lagi? Silahkan, itu pendidikan lo dan itu hak lo, gue ga ada niat buat nahan itu semua sekalipun gue adalah suami lo," kata Daren mantap.

Zakia memalingkan wajahnya, rasa gugup menjalar ke hatinya dan bahkan lebih parah dari yang kemarin-kemarin

Mereka tidak berdekatan, tidak bersentuhan tapi semua kalimat yang ke luar dari bibir Daren membuat hati Zakia terenyuh. Dulu, ketika ingin menikah pikiran Zakia sangat buruk tentang dunia pernikahan, tapi ternyata apa yang didapatkan Zakia tidak sesuai dengan pemikirannya yang kemarin.

Zakia beruntung mendapatkan Daren, bukankah benar begitu?

"Dengan kondisi gue kayak gini, gue gimana mau kuliah?" ucap Zakia lemah.

"Bisa, katanya lo kuliah online kan?" Zakia mengangguk.

"Gapapa, itu berarti lo ga harus ke kampus, lo bisa ngerjain semua tugas kuliah itu di rumah kita nanti," kata Daren.

Mendengar dari ucapan yang dikatakan Daren, pria ini benar-benar mendukung penuh keinginan Zakia untuk kembali meraih mimpinya. Sekarang, hanya tinggal Zakia yang berpikir, iya berpikir dari mana biaya yang akan didapatkannya untuk kembali melanjutkan pendidikannya.

'Masih cukup banget ini untuk ngebiayain kuliah dia,' batin Daren.

Zakia tidak tahu, kalau Daren membuka ponselnya dan memastikan isi salah satu rekeningnya bisa cukup untuk membantu biaya pendidikan Zakia sampai nanti wanita itu lulus dan merasakan wisuda.

*****

"Kakak kamu di sana gimana ya Ga? Duh mama khawatir banget, takut kalau sakit dia semakin parah."

Kegelisahan Sinta tak kunjung hilang walau ia sudah sampai rumah dan bahkan sudah mendengar sendiri bagaimana kabar putrinya beberapa menit yang lalu.

Bahkan bakso panas yang terletak di atas meja dengan asap mengepul tak kunjung membuat selera makan Sinta bisa naik. Ia memang lapar, tapi karena terlalu memikirkan anaknya rasa lapar itu lama-lama hilang karena ditelan oleh rasa khawatir.

"Aman itu Ma, kan ada bang Daren yang jagain. Mama tenang aja, kak Zakia bentar lagi pulang ke rumahnya kok, dia pasti bakal sembuh," kata Rega menenangkan.

Sinta menghela nafas gusar, satu suapan bakso ia masukkan ke dalam mulutnya. Ada benarnya juga apa kata Rega, ada Daren yang siap siaga menjaga anaknya, mudah-mudahan kebaikan akan selalu berpihak pada ke dua pasangan yang baru menikah itu.

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!