Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTUKARAN PELAJAR (2)

Beberapa minggu berikutnya menjadi salah satu masa paling bahagia dalam hubungan mereka. Mereka tetap sibuk.Namun sekarang ada sesuatu yang dulu tidak mereka punya. Kemungkinan bertemu. Sabtu sore di cafe. Jalan kaki setelah kelas. Makan malam sederhana.

Naya mengerjakan tugas sekolah sementara Nara membaca materi kuliah. Kadang mereka hampir tidak bicara selama satu jam. Namun hanya dengan berada di meja yang sama, semuanya terasa cukup. Seperti yang dulu sering mereka lakukan di perpustakaan sekolah.

Suatu hari Naya berkata, “Lucu.”

“Apa?”

“Dulu kita video call tiga puluh menit saja sudah senang.”

Nara melihat laptopnya. “Sekarang kamu duduk dua jam di depan aku dan kita hanya bicara tiga kalimat.”

“Bosan?”

“Enggak.”

“Terus kenapa?” Naya tersenyum.

Nara menatapnya. “Karena kamu ada.”

Naya langsung kembali melihat bukunya. Namun pipinya sedikit memerah. Salah satu ekspresi yang disukai Nara.

***

Namun jarak yang mengecil membawa tantangan yang berbeda. Jika dulu masalah mereka adalah tidak bisa melihat kehidupan satu sama lain, sekarang mereka justru mulai melihatnya terlalu dekat.

Naya melihat betapa sibuknya Nara sebenarnya. Ia melihat hari-hari ketika Nara hanya tidur beberapa jam. Melihat tekanan kuliah. Melihat bagaimana Nara kadang menatap laptop terlalu lama sambil memijat pelipis.

Nara juga melihat sisi lain Naya. Naya ternyata cukup mudah merasa tertekan untuk menjaga nilainya karena merasa harus belajar lebih keras dibandingkan yang lain. Merasa bahwa secara akademis ia masih jauh dari harapan. Padahal tidak demikian, menjadi lima besar seangkatan dan menjaganya hingga sekarang serta memutuskan untuk mengikuti pertukaran pelajar saja menurut Nara adalah prestasi yang sangat luar biasa lompatannya dari seorang Naya.

Suatu malam di sebuah kedai kopi, Nara memperhatikan Naya yang terus menghapus tulisan di laptopnya.

“Sudah sejam.”

Naya tidak menoleh. “Hmm.”

“Naya.”

“Aku lagi ngerjain.”

“Kamu belum makan.”

“Nanti, bisa overthinking kalau nggak selesai sekarang.”

Nara menutup *l*aptop Naya.

“Eh, jangan ditutup dulu tanggung se-”

“Makan dulu.”

“Aku belum selesai.”

“Kamu dari siang belum makan.”

“Aku enggak lapar.”

“Nay…” Nara menatapnya. Naya akhirnya menyerah.

“Oke.”

Ia mengambil sandwich. Kemudian berkata, “Kak Nara sekarang kayak Papa.”

“Bagus.”

“Enggak bagus sama sekali.”

“Kalau kamu enggak bisa jaga diri, seseorang sepertiku harus cerewet.”

Naya tersenyum kecil. “Kak Nara dulu juga sering lupa makan.”

Nara berhenti. “Benar.”

“Nah.”

Mereka saling melihat. Kemudian tertawa. Mungkin seperti itulah hubungan mereka berubah. Dulu mereka hanya tahu versi terbaik satu sama lain. Sekarang mereka mulai belajar menyaksikan hari-hari buruk. Kelelahan. Kegagalan. Kebiasaan menyebalkan. Ketidaksempurnaan. Dan anehnya, mereka justru semakin merasa dekat.

***

Pada bulan ketiga program Naya, musim mulai berubah. Suatu malam mereka duduk di dekat kampus setelah makan. Naya menyandarkan kepalanya ke bahu Nara. Tidak ada percakapan beberapa saat. Kemudian Naya bertanya, “Apakah Kak Nara pernah menyesal?”

“Menyesal apa?”

“Pergi.”

Nara berpikir cukup lama. “Pernah.”

Naya sedikit menjauh.

“Serius?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Bulan pertama.” Nara menatap langit. “Semua terlalu cepat. Bahasa. Kuliah. Orang-orang. Aku sempat mikir mungkin aku tidak seharusnya ada di sini.”

Naya tidak pernah mendengar cerita itu.

“Kok Kak Nara tidak pernah bilang? Seorang Narain Shankara Naradipta gitu lho?”

“Ayolah Naya, aku bukan manusia super. Aku juga punya rasa takut.” Nara menghela napas panjang karena merasa tersindir.

“Takut apa?”

“Kalau aku cerita, semuanya jadi nyata.”

Naya memandangnya.

Nara melanjutkan,

“Dan aku juga takut kamu bilang pulang saja.”

“Aku enggak akan bilang begitu.”

“Aku tahu sekarang.”

Naya tersenyum. “Kalau sekarang?”

“Enggak nyesel.” Nara menggeleng.

“Karena Stanford?” Tanya Naya lagi.

Nara memandangnya. “Bukan cuma.”

Naya tahu arah jawabannya.

“Jangan gombal.”

“Aku belum ngomong.”

“Aku tahu.”

***

Waktu terus berjalan. Enam bulan yang tadinya terasa panjang perlahan mengecil. Lima bulan tersisa. Empat. Tiga. Dan tanpa disadari, Naya mulai melihat kalender lebih sering. Tanggal kepulangannya sudah tercantum. Ia belum ingin memikirkannya. Namun angka itu tetap ada. Suatu malam, Naya menatap tiket elektronik di ponselnya. San Francisco – Jakarta.

Nara duduk di sebelahnya. Ia juga melihat. Tidak ada yang bicara. Beberapa detik kemudian Naya mematikan layar ponselnya.

Nara mengangguk berusaha memahami kondisi saat ini. “Jangan sekarang pembahasannya jika membuat kita berdua overthinking dibuatnya.”

Mereka sudah pernah melewati sebuah perpisahan. Mereka tahu seperti apa rasanya. Namun kali ini akan terasa berbeda. Bukan lagi sebuah kemungkinan. Melainkan kehidupan kecil yang sudah mereka bangun selama beberapa bulan di California.

Akhir pekan bersama. Kopi. Perjalanan singkat. Belajar di meja yang sama. Berjalan di bawah langit yang sama. Semua itu akan kembali menjadi pesan. Foto. Video call dan tiga belas jam perbedaan waktu diantara mereka.

Naya menggenggam tangan Nara. “Aku benci kalender.”

“Aku juga.” Nara membalas genggamannya.

“Tapi kita pernah bisa.”

Nara menatapnya. “Pernah.”

“Berarti nanti bisa lagi.”

Nara tersenyum tipis. “Bisa.”

Namun di dalam hati, keduanya memahami satu hal. Mereka memang pernah berhasil menjalani jarak. Tetapi setelah merasakan bagaimana rasanya kembali dekat, berpisah untuk kedua kali mungkin justru akan jauh lebih sulit.

Malam itu mereka tidak membicarakan kepulangan. Tidak membicarakan bulan berikutnya. Tidak membicarakan LDR. Mereka hanya duduk berdampingan. Menikmati waktu yang masih mereka punya.

Karena mungkin Nara benar. Mereka tidak boleh menghabiskan bulan-bulan yang ada dengan takut kepada bulan setelahnya.

Di atas mereka, langit California terlihat gelap dan tenang. Langit yang dulu hanya bisa dikirim Nara melalui foto. Sekarang Naya melihatnya dengan mata sendiri. Dan untuk sementara waktu, dua orang yang selama berbulan-bulan hidup di dua zona waktu berbeda akhirnya berada di bawah langit yang sama.

Namun perjalanan mereka masih jauh dari selesai. Seolah waktu enggak memberikan napas bagi mereka. Karena ketika waktu kepulangan Naya semakin dekat, sebuah pertanyaan baru mulai muncul. Naya harus kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan kelas XI dan XII.

Nara masih memiliki beberapa tahun di Stanford. Dan untuk pertama kalinya, mereka harus memikirkan hubungan mereka bukan hanya sampai minggu depan atau bulan depan. Melainkan sampai setelah Naya lulus sekolah.

Tentang universitas. Tentang apakah Naya ingin mengikuti jejak Nara dan Reksa ke luar negeri untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tentang satu pertanyaan yang diam-diam mulai tumbuh di antara mereka, Apakah mereka ingin masa depan yang sama? Atau selama ini hanya kebetulan sedang berjalan ke arah yang sama?

***

1
Ayunda Permata
Fresh Idea and nice story
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!