Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: REUNI DI BAWAH HUJAN KERIKIL
Kedatangan pria misterius berjaket kulit hitam itu seketika mengubah peta kekuatan di area parkir luar gedung konvensi yang sepi. Empat orang penghadang yang masih tersisa refleks mundur beberapa langkah. Formasi mereka yang semula agresif berubah menjadi lebih berhati-hati, seolah kehadiran sosok tersebut telah menghapus keyakinan mereka bahwa malam itu akan menjadi kemenangan mudah.
Pemimpin kelompok bermasker yang masih menggenggam pipa besi menatap tajam ke arahnya. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang berubah. Ia seperti mengenali gerakan dan siluet pria itu, tetapi belum mampu memastikan siapa sebenarnya orang yang berdiri beberapa meter di hadapannya.
Rangga memanfaatkan momen tersebut untuk menyentakkan lengannya. Cengkeraman dua orang yang sejak tadi menahannya akhirnya terlepas. Ia mundur beberapa langkah, kemudian segera mengambil posisi di dekat Ratna.
"Jangan terlalu dekat denganku," ujar Ratna tenang.
Rangga menoleh.
"Apa?"
"Aku tidak butuh dilindungi seperti orang yang tidak bisa berpikir."
Rangga hampir tersenyum mendengar kalimat itu. Bahkan dalam situasi seperti ini, Ratna masih mempertahankan sikap dinginnya.
Namun, sebelum Rangga sempat menjawab, pria berjaket kulit tersebut berbicara.
"Dua tahun lalu di Jakarta, lalu hari ini di tempat yang sama sekali berbeda."
Suaranya berat dan tenang.
"Kamu selalu muncul tepat saat jalanku bersinggungan dengan masalah."
Ia tidak menoleh kepada Rangga. Pandangannya tetap tertuju kepada kelompok bermasker di depannya.
Rangga mengusap sudut bibirnya yang terasa perih akibat benturan sebelumnya.
"Aku juga tidak berencana mengundang mereka ke sini."
Ia mengepalkan tangan.
"Tapi karena kamu sudah di sini, mari kita selesaikan ini dengan cepat."
Pria berjaket kulit itu hanya menggerakkan kepalanya sedikit.
Empat orang bermasker mulai bergerak.
Tidak ada lagi basa-basi.
Salah satu dari mereka maju terlebih dahulu sambil mengangkat balok kayu. Orang kedua bergerak dari sisi berlawanan dengan sebatang besi di tangan. Mereka mencoba menjepit pria berjaket kulit dari dua arah sekaligus.
Namun, pria itu tidak mundur.
Ketika balok kayu diayunkan, tubuhnya bergeser ke samping dengan gerakan pendek dan efisien. Kayu tersebut hanya menghantam udara kosong. Dalam satu gerakan lanjutan, ia memutar tubuh dan menghantam ulu hati lawannya menggunakan lutut.
Pria bermasker itu terbungkuk seketika.
Sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, pria berjaket kulit sudah berbalik menghadapi lawan kedua.
Besi panjang menyambar dari arah samping.
Ia menundukkan kepala.
Ujung besi lewat hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Tangannya kemudian mencengkeram pergelangan lawan dan menariknya menggunakan momentum tubuh pria tersebut sendiri. Tubuh besar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam aspal.
Rangga menyaksikan gerakan itu dengan mata menyipit.
Ia pernah melihatnya.
Dua tahun lalu.
Gerakan yang sama.
Cepat, terukur, tanpa gerakan yang tidak perlu.
Sementara itu, pemimpin kelompok bermasker langsung mengarahkan pipa besinya kepada Rangga.
Pukulan pertama datang begitu cepat.
Rangga memiringkan tubuh. Ujung pipa melintas di depan wajahnya. Ia segera masuk ke jarak dekat dan menghantam rahang lawannya dengan pukulan kanan.
Pria itu terhuyung.
Rangga tidak memberinya kesempatan untuk kembali mengambil jarak. Satu pukulan berikutnya menghantam sisi pelipisnya.
Tubuh lawan itu oleng dan hampir jatuh.
Namun, dari sisi kiri, seorang pria lain bergerak cepat.
Rangga sempat melihat kilatan benda logam di tangannya.
"Rangga!"
Suara Ratna terdengar tajam.
"Pisau! Saku belakang!"
Rangga langsung memutar tubuh.
Tangan lawan baru saja bergerak menuju bagian belakang celananya ketika Rangga lebih dahulu menangkap pergelangan tangannya.
Mereka saling tarik.
Rangga menghantam bahunya, membuat pria tersebut kehilangan keseimbangan. Pisau lipat yang belum sempat digunakan jatuh ke permukaan aspal.
Ratna tetap berdiri di belakang pilar.
Matanya bergerak cepat mengamati situasi.
Ia tidak panik.
Tidak berteriak.
Tidak pula berusaha melarikan diri secara membabi buta.
Ia justru membaca pergerakan para penyerang seperti seseorang yang sedang menyusun sebuah persoalan rumit.
Namun, satu orang dari kelompok itu mulai menyadari bahwa keadaan telah berbalik.
Ia tidak lagi berusaha menyerang.
Ia berlari menuju minibus hitam yang terparkir di ujung selasar.
"Dia mau kabur!" seru Rangga.
Mesin minibus meraung.
Pria tersebut langsung menginjak pedal gas dan membanting kemudi.
Kendaraan itu melesat ke arah mereka.
Pria berjaket kulit segera berteriak.
"Awas! Menyingkir dari jalur lurus!"
Dalam sepersekian detik, ia menyambar lengan Rangga dan menariknya ke samping.
Rangga secara refleks meraih Ratna.
Ketiganya bergerak mencari perlindungan di antara kendaraan yang terparkir.
Minibus hitam itu melaju liar.
Ban belakangnya kehilangan traksi ketika kendaraan melakukan putaran tajam di atas permukaan parkir yang dipenuhi pasir dan batu-batu kecil.
Suara decitan ban memekakkan telinga.
Kemudian—
BRAKK!
Ratusan kerikil kecil terlontar ke udara.
Batu-batu itu menghantam dinding kaca gedung konvensi seperti hujan benda tajam. Beberapa panel kaca retak dan pecah, menimbulkan suara berderak panjang di tengah malam.
Rangga langsung menundukkan kepala.
Kedua lengannya melindungi Ratna dari arah datangnya kerikil.
Untuk sesaat, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bertahan.
Minibus itu kembali mendapatkan kendali.
Pintu gesernya terbuka.
Sisa anggota kelompok yang terluka segera dinaikkan ke dalam kendaraan.
Beberapa detik kemudian, mobil tersebut melesat meninggalkan area parkir.
Suara mesinnya perlahan menghilang ditelan jalan raya Jakarta.
Yang tersisa hanyalah bau karet terbakar, debu, pecahan kaca, dan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Rangga perlahan menurunkan kedua lengannya.
Ratna berdiri di hadapannya.
Gaun biru dongkernya terkena debu, tetapi wajahnya tetap tenang.
Tangannya segera bergerak memeriksa pergelangan kanan.
Gelang perak itu masih ada.
Rangga mengembuskan napas panjang.
Namun ketika ia mengangkat wajah untuk mencari pria berjaket kulit, sosok tersebut sudah tidak terlihat.
Gang gelap di samping gedung kembali kosong.
Sama seperti dua tahun lalu.
Datang tanpa diminta.
Menyelamatkan tanpa menjelaskan.
Lalu menghilang sebelum satu pertanyaan pun sempat mendapatkan jawaban.
Ratna menatap gang itu cukup lama.
Kemudian ia berkata pelan,
"Rangga..."
Rangga menoleh.
"Siapa sebenarnya pria itu?"
Angin malam berembus melewati area parkir yang porak-poranda.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Rangga tidak memiliki jawaban sedikit pun.
Rangga masih berdiri memandangi gang gelap tempat pria berjaket kulit itu menghilang.
Untuk beberapa detik, pikirannya seperti tertahan di antara dua masa.
Dua tahun lalu, ia pernah berada dalam situasi yang hampir sama. Saat itu ia belum memiliki bisnis besar, belum mengenal kerasnya persaingan di Borneo, bahkan belum memahami bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintainya.
Namun pria itu muncul.
Dan malam ini, ketika keadaan kembali berada di luar kendalinya, pria yang sama kembali muncul.
Ratna perlahan mendekat.
"Jangan bilang kamu akan mengejarnya."
Rangga menggeleng.
"Percuma."
"Kamu yakin?"
"Kalau dia memang ingin bicara denganku, dia tidak akan menghilang seperti itu."
Ratna menatap gang tersebut.
"Atau mungkin dia memang sengaja tidak ingin ditemukan."
Rangga tidak menjawab.
Beberapa petugas keamanan mulai berdatangan. Mereka memeriksa kondisi area parkir, pecahan kaca, serta kendaraan yang mengalami kerusakan. Dari kejauhan terdengar suara sirene yang semakin mendekat.
Ratna kembali memperhatikan gelang di pergelangan tangannya.
"Yang membuatku lebih penasaran bukan hanya pria itu."
Rangga menoleh.
"Para penyerang?"
Ratna mengangguk.
"Mereka tahu namamu. Mereka tahu tentang Borneo. Dan mereka memilih menyerang tepat setelah kamu menerima surat itu."
Rangga memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Aku juga memikirkan hal yang sama."
"Berarti mereka sudah mengawasimu."
"Sepertinya begitu."
Ratna terdiam.
Ia kemudian mengangkat pergelangan tangannya sedikit, membiarkan cahaya lampu parkir mengenai gelang perak tersebut.
"Dan kemungkinan besar mereka juga mengincar ini."
Rangga menatap gelang itu.
"Sejak awal aku sudah merasa begitu."
"Kenapa?"
"Karena surat itu tidak pernah menyebut namamu."
Ratna mengerutkan kening.
"Tapi?"
"Tapi surat itu membawaku ke tempat kamu berada."
Ratna terdiam cukup lama.
Kalimat tersebut sederhana, tetapi memiliki arti yang tidak kecil.
Mereka sama-sama menyadari bahwa pertemuan di galeri tadi bukan lagi sekadar percakapan antara dua orang yang memiliki ketertarikan terhadap simbol kuno.
Ada sesuatu yang telah mempertemukan mereka.
Namun Rangga tidak ingin terburu-buru menyimpulkan.
Ia telah belajar dari pengalaman bahwa tidak semua hal harus dijawab pada malam yang sama.
"Untuk malam ini, kita pulang dulu," katanya.
Ratna mengangguk.
"Kamu masih mau menghadiri pertemuan bisnis setelah ini?"
Rangga melihat kondisi tuksedonya yang sudah penuh debu.
Ia tersenyum tipis.
"Sepertinya tidak."
Untuk pertama kalinya sejak penyerangan dimulai, Ratna tersenyum kecil.
"Bagus. Setidaknya kamu masih punya akal sehat."
Rangga tertawa pelan.
Mereka kemudian berjalan menuju mobil.
Namun sebelum membuka pintu, Rangga kembali menoleh ke belakang.
Gang itu masih kosong.
Tidak ada siapa pun.
Tetapi entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak menerima surat berlambang Arkais, Rangga merasa bahwa perjalanan hidupnya telah memasuki sebuah fase yang tidak lagi bisa ia hadapi sendirian.
Ratna berdiri di sampingnya.
Gelang perak masih melingkar di pergelangan tangannya.
Dan di kejauhan, suara sirene semakin mendekat.
Rangga akhirnya masuk ke dalam mobil.
Ratna menyusul.
Kendaraan perlahan meninggalkan area parkir yang porak-poranda tersebut.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa malam itu bukan hanya meninggalkan luka dan pecahan kaca.
Malam itu juga telah mempertemukan kembali tiga garis kehidupan yang selama bertahun-tahun berjalan sendiri-sendiri.
Dan ketika mobil Rangga menghilang di balik tikungan jalan Jakarta, bayangan pria berjaket kulit masih tertinggal dalam ingatan mereka—sebagai satu-satunya sosok yang datang ketika semua jalan keluar hampir tertutup.
Perjalanan menuju kantor berlangsung dalam keheningan.
Lampu-lampu Jakarta bergerak seperti garis cahaya di balik kaca mobil. Rangga duduk di kursi belakang dengan tubuh bersandar, sementara pikirannya masih tertinggal di area parkir gedung konvensi.
Ratna duduk di sampingnya.
Untuk beberapa menit, tidak ada percakapan.
Sampai akhirnya Ratna memecah keheningan.
"Pria itu pernah menyelamatkanmu dua tahun lalu?"
Rangga mengangguk.
"Ya."
"Dan kamu tidak pernah tahu siapa dia?"
"Tidak pernah."
"Dia pernah mengatakan sesuatu?"
Rangga menatap keluar jendela.
"Dia hanya bilang agar aku fokus pada urusanku."
Ratna terdiam.
"Dan kamu menurutinya?"
"Selama dua tahun."
"Berarti sekarang?"
Rangga menoleh kepadanya.
"Sekarang urusanku sudah berubah."
Ratna menatap Rangga beberapa saat. Tidak ada lagi ekspresi jutek seperti ketika mereka pertama kali bertemu di galeri. Ada keseriusan yang jauh lebih dalam di matanya.
"Kalau begitu, jangan anggap kejadian malam ini sebagai serangan biasa."
Rangga mengangguk pelan.
"Aku tidak akan menganggapnya begitu."
Mobil terus melaju.
Namun sebelum mereka tiba di kantor, ponsel Rangga bergetar.
Sebuah pesan masuk dari salah satu staf keamanan gedung.
Rangga membukanya.
Ia membaca pesan itu dalam diam.
Ratna memperhatikan perubahan wajahnya.
"Ada apa?"
Rangga tidak langsung menjawab.
Ia menunjukkan layar ponselnya kepada Ratna.
Pesan itu hanya berisi laporan singkat mengenai kerusakan akibat penyerangan dan beberapa rekaman kamera keamanan yang sedang diamankan.
Tidak ada wajah penyerang yang terlihat jelas.
Tidak ada nomor kendaraan yang dapat dibaca.
Tidak ada petunjuk yang bisa langsung membawa mereka kepada siapa pun.
Ratna mengembalikan ponsel tersebut.
"Seperti yang kuduga."
"Apa?"
"Mereka datang untuk menguji."
Rangga mengerutkan kening.
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Karena kalau tujuan mereka hanya membunuhmu, situasinya mungkin akan berbeda."
Rangga terdiam.
Ratna melanjutkan,
"Mereka datang dalam kelompok, menunjukkan bahwa mereka tahu siapa yang mereka hadapi. Mereka juga mundur ketika keadaan berubah. Itu bukan tindakan orang yang kehilangan kendali."
Rangga menatap jalan di depan.
"Berarti mereka sedang mengukur kemampuan kita."
Ratna mengangguk.
"Dan mereka sudah mendapatkan jawabannya."
Keheningan kembali memenuhi mobil.
Rangga kemudian melihat gelang perak di pergelangan tangan Ratna.
"Mulai malam ini, jangan pernah melepas gelang itu."
Ratna menatapnya.
"Aku memang tidak pernah melepasnya."
"Bagus."
"Kenapa?"
Rangga mengembuskan napas.
"Karena aku merasa gelang itu bukan sekadar benda yang kebetulan kamu miliki."
Ratna tersenyum tipis.
"Kamu mulai terdengar seperti orang yang percaya takdir."
Rangga ikut tersenyum.
"Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menghitung keuntungan sampai lupa bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dihitung."
Ratna tidak menjawab.
Tatapannya kembali mengarah ke jalan.
Beberapa saat kemudian, mobil memasuki kawasan kantor pusat Rangga.
Lampu gedung masih menyala.
Beberapa staf keamanan langsung keluar ketika melihat kondisi mobil mereka.
Rangga turun lebih dahulu.
Ratna menyusul.
Mereka berjalan masuk tanpa banyak bicara.
Namun tepat sebelum pintu gedung tertutup di belakang mereka, Rangga berhenti sejenak.
Ia menoleh ke arah jalan.
Tidak ada siapa pun.
Hanya lampu kota dan kendaraan yang berlalu-lalang.
Tetapi di dalam dirinya, sebuah kesadaran baru telah tumbuh.
Kehidupan yang selama dua tahun ia bangun dengan susah payah ternyata tidak sepenuhnya bebas dari bayangan masa lalu.
Dan malam ini, bayangan itu telah kembali berdiri tepat di hadapannya.
Rangga menggenggam ponselnya erat.
Kemudian ia melangkah masuk bersama Ratna.
Di bawah langit Jakarta yang mulai diselimuti awan, simbol Arkais masih melingkar tenang di pergelangan tangan Ratna.
Tidak ada jawaban malam itu.
Tidak ada nama.
Tidak ada penjelasan.
Hanya satu pertemuan, satu penyerangan, dan seorang pria berjaket kulit yang kembali menghilang ke dalam kegelapan.
Malam ini bukanlah akhir dari pertemuan Rangga dengan bayang-bayang masa lalunya. Justru setelah darah, debu, dan hujan kerikil reda, sebuah jalan lama mulai kembali terbuka di hadapannya. Dan ketika Rangga akhirnya berani menapakkan kaki di jalan itu, ia akan segera menyadari bahwa keberhasilan yang selama ini ia bangun ternyata hanyalah pintu menuju perjalanan yang jauh lebih besar. Apa yang akan menunggunya setelah pintu itu terbuka? Kita tutup malam ini bersama sisa gema langkah sang pria berjaket kulit, dan biarkan takdir Arkais berbicara pada bab berikutnya.