Indonesia
NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Sorak Sorai untuk Sang Pangeran!

Mentari perlahan menyingsing dari ufuk timur, memancarkan kehangatan yang memantul indah di atas megahnya arsitektur Istana Aureliania.

Sejak fajar menyingsing, para pelayan istana telah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Beberapa di antaranya bergotong-royong membantu Bernard membawakan barang-barang keperluan Pangeran Edward, menyusunnya dengan rapi di dalam bagasi kereta kuda yang telah terparkir di pelataran istana.

Bernard—yang sibuk mengawasi jalannya persiapan—menangkap pergerakan sosok Edward yang tengah melangkah turun menuruni tangga utama. Di belakang sang Pangeran, Raja Nolan dan Ratu Tiana menyusul langkah putranya, berniat melepas kepergian pangeran muda tersebut secara langsung.

Pelayan tua itu seketika membungkukkan tubuhnya penuh hormat.

“Selamat pagi, Yang Mulia Tuan Muda,” sapa Bernard hangat. “Kereta kuda Anda telah siap. Seluruh perlengkapan sekolah juga sudah saya susun dengan aman di dalam bagasi.”

“Terima kasih banyak, Bernard,” balas Edward sembari menyunggingkan senyum tipis.

Edward lalu berbalik, menatap lurus ke arah kedua orang tuanya.

“Ayahanda... Ibunda... Edward pamit pergi,” ucap sang Pangeran seraya menundukkan kepalanya khidmat.

“Mohon doakan putra kalian ini yang hendak pergi menuntut ilmu di tempat yang jauh.”

Raja Nolan melangkah maju, menepuk bahu Edward mantap. “Doa dan restu kami akan selalu menyertai setiap langkahmu, Nak.”

HIHAA—!

Kusir memacu tali kekang, membuat roda-roda kayu kereta kuda kerajaan meluncur perlahan meninggalkan pelataran istana. Lambaian tangan Edward dari balik jendela kereta kian mengecil dan menjauh di setiap detiknya.

***

Perjalanan menuju Akademi Lumina memakan waktu yang cukup panjang.

Lokasi akademi bergengsi itu sendiri terletak jauh di Benua Tengah—berada di dalam sebuah kota buatan raksasa yang dibangun tepat di tengah-tengah danau purba. Konon, danau raksasa tersebut dulunya merupakan bekas kaldera dari letusan gunung berapi dahsyat jutaan tahun silam. Seiring berjalannya waktu, kawah raksasa itu mendingin dan terisi oleh curahan air hujan hingga membentuk danau yang teramat megah.

Kota Republik Maginia.

Sebuah megacity berteknologi magitek yang menjadi pusat peradaban sihir serta sains pengetahuan modern. Kota ini telah disepakati sebagai wilayah netral oleh enam negara besar selepas usainya Perang Dunia 50 tahun yang lalu. Selama puluhan tahun, Maginia berdiri kokoh sebagai simbol perdamaian dunia sekaligus pionir revolusi teknologi.

Namun, untuk bisa mencapai kota megah tersebut, kereta kuda Edward harus terlebih dahulu melintasi perbatasan Kerajaan Aureliania menuju sebuah kota transit bernama Hillenberg.

Di Hillenberg itulah berdiri stasiun megah kereta melayang berteknologi pendorong kristal Mana—armada transportasi cepat yang akan membawa Edward meluncur langsung menuju jantung Kota Republik Maginia.

“Saya hanya bisa mengantarkan Anda sampai di sini, Tuan Muda...” ujar Bernard sesaat setelah mereka berdua turun di pelataran Stasiun Hillenberg.

Pelayan tua itu membungkuk pelan dengan raut penyesalan. “Saya sebenarnya sangat ingin ikut mendampingi Anda, tetapi peraturan akademi melarang keras setiap murid membawa pelayan pribadi. Jadi... mohon maafkan saya.”

“Tidak apa-apa, Bernard. Mau bagaimana lagi, bukan?” balas Edward santai.

Ia mulai memanggul tas ransel di punggungnya, lalu memegang erat gagang koper pakaian yang akan ditariknya.

“Kalau begitu, aku berangkat dulu. Tolong sampaikan salam hangatku pada Duke Vermont sekalian, ya? Tadi pagi aku sampai lupa berpamitan padanya.”

“Serahkan tugas itu pada saya, Tuan Muda,” jawab Bernard mantap.

Edward menyunggingkan senyum jahil, lalu menambahkan:

“Oh iya, kalau kalian di istana merindukanku... aku selalu bisa terbang pulang-pergi di akhir pekan. Jadi kurasa kita akan sangat sering bertemu lagi dalam waktu dekat, Bernard!”

Szzzzt—!

Raut wajah Bernard seketika membatu. Pelayan tua itu terbatuk pelan sembari menyunggingkan senyuman yang teramat dipaksakan:

“T-Tolong jangan lakukan hal nekat seperti itu, Tuan Muda...”

Edward terkekeh geli melambaikan tangan, lalu melangkah berlalu memasuki area stasiun. Bernard terus berdiri di tempatnya, memandangi sosok Tuan Mudanya yang perlahan-lahan menyatu dan menghilang di tengah lautan kerumunan calon penumpang.

Di dalam bangunan stasiun yang amat luas itu, binar mata Edward tak berhenti menunjukkan rasa kagum.

Arsitektur bangunannya berdiri teramat megah dengan atap kaca raksasa bertulang besi. Ratusan calon penumpang dari berbagai penjuru wilayah lalu-lalang membawa barang bawaan mereka. Dan tentunya... di atas rel khusus, terparkir deretan gerbong kereta panjang berpelindung baja yang tampak kokoh serta memikat mata.

Seumur hidupnya, baru kali ini Edward melangkahkan kaki ke tempat modern seperti ini. Selama ini ia tak pernah bepergian jauh kecuali jika ada urusan diplomatik resmi—yang mana selalu ia tempuh menggunakan kereta kuda kerajaan atau cukup dengan terbang melintasi angkasa.

Dengan koper di tangannya, Edward melangkah mendekati seorang pria berseragam rapi yang tampak sibuk mengatur jalurnya jalur penumpang.

“Permisi, Pak,” sapa Edward ramah.

“Untuk kereta yang melaju ke arah Kota Republik Maginia... berada di peron sebelah mana, ya?”

Petugas stasiun itu menoleh. “Oh, kereta ke Maginia ada di sebelah—Y-YANG MULIA P-PANGERAN EDWARD?!”

Pria berseragam itu mendadak tersentak kaget bukan kepalang!

Seruan lantangnya yang refleks melengking seketika membuat seluruh riuk-pikuk aktivitas di stasiun megah itu terhenti total.

Tanpa ragu sedikit pun, petugas itu langsung bertumpu pada satu lututnya, menundukkan kepala memberikan penghormatan tertinggi.

“Hormat dan salam sejahtera bagi Anda, Yang Mulia Pangeran Edward!”

Edward yang tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu mendadak panik setengah mati. Ia dengan cepat melambaikan tangan, berusaha menyuruh pria itu berdiri.

“T-Tolong, angkat kepalamu! Jangan berlutut seperti ini!” panggil Edward canggung.

“Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, Yang Mulia,” ujar lelaki itu dengan suara bergetar emosional.

“Namun ini adalah bentuk penghormatan dan rasa terima kasih saya yang paling dalam! Berkat aksi luar biasa Anda, keluarga saya yang berada di ibu kota Nivalis berhasil selamat dari bencana itu... Saya sangat berterima kasih dan berutang nyawa pada Anda!”

“I-iya, baiklah... Tapi tolong angkat kepalamu dulu, Pak!”

Keributan kecil itu berhembus cepat. Tak hanya si petugas stasiun, puluhan penumpang yang mendengar seruan nama sang Pangeran seketika ikut melangkah mendekat.

Tap! Tap! Tap!

Satu per satu dari mereka—mulai dari pedagang, prajurit transit, hingga rakyat biasa—serta-merta ikut bertumpu pada satu lutut mereka, mengelilingi Edward dengan raut wajah penuh haru dan rasa hormat!

Edward makin panik sekaligus bingung, tidak tahu harus berbuat apa di tengah lautan manusia yang menunduk padanya.

“Yang Mulia... Terima kasih! Berkat Anda, keluarga kecil saya di Nivalis juga selamat!” seru seorang ibu yang mendekap erat anaknya.

“Saat mendengar berita penyerangan monster Amorfos itu, saya pikir... saya tidak akan pernah bisa melihat senyuman keluarga saya lagi. Namun saat kabar datang bahwa seluruh warga selamat berkat pahlawan Aureliania... kami teramat bersyukur!”

“Begitu pula dengan kami, Yang Mulia Pangeran!” timpal seorang pria paruh baya dari sudut lain.

“Anda tidak hanya menyelamatkan keluarga kami, tetapi juga menyelamatkan seluruh negeri Nivalis serta menyelamatkan Ratu kami tercinta, Yang Mulia Ratu Elizabeth! Anda adalah pahlawan kami yang sejati, Yang Mulia!”

Edward membisu membatu di tempatnya.

Bibirnya terkunci rapat, tak mampu menyusun satu kata pun untuk membalas gemuruh pujian di sekelilingnya.

Seumur hidupnya... baru kali ini ia disanjung dan dipuji begitu tingginya oleh rakyat biasa. Baru kali ini ia diperlakukan dengan penuh penghormatan dan kasih sayang murni oleh banyak orang yang bahkan tak mengenalnya secara pribadi.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah perasaan hangat mekar perlahan—sebuah rasa bahagia murni yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Hidup Yang Mulia Pangeran Edward!” seru seseorang di tengah kerumunan dengan suara melengking penuh kebanggaan.

““HIDUP—!!””

Seketika itu juga, ratusan orang di dalam stasiun menyambut seruan tersebut dengan gemuruh suara yang menggelegar!

“Hidup Sang Pahlawan Nivalis!” seru pria itu sekali lagi.

““HIDUP—!!””

Sorak-sorai yang membahana itu seakan memproklamirkan sebuah kenyataan baru kepada seluruh pelosok benua.

Bahwa mulai detik ini... sosok Edward tak akan lagi dipandang sebagai anak terbuang yang terkutuk tanpa keberadaan Mana.

Melainkan sebagai Sang Pahlawan, sosok kebanggaan yang telah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan ribuan jiwa dari cengkeraman kematian!

“Hidup Yang Mulia Pangeran Edward!!”

““HIDUP—!!””

Pekikan kebahagiaan dan rasa hormat itu terus menggema tanpa henti di setiap sudut stasiun megah Hillenberg.

HOOOOONK—!!

Seolah tak mau ketinggalan, lenguhan suara klakson nyaring dari kereta pendorong kristal Mana mendadak bergema keras—seakan ikut melantunkan nada penghormatan tertinggi bagi kepulangan dan keberangkatan Sang Pangeran Kerajaan Aureliania.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!