"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Malam Pertama
"Iya," jawab Nadhira.
Satu kata itu membuat Rayhan berhenti bernapas sesaat.
"Iya untuk mengubah perjanjiannya," kata Nadhira, memastikan tak ada ruang bagi asumsi. "Dan iya untuk mencoba menjadi suami istri sungguhan. Tapi kita tetap membaca semua perubahan."
"Tentu."
"Tidak ada keputusan rumah atau harta yang berubah malam ini hanya karena kita sedang emosional."
"Tidak ada."
Rayhan masih menggenggam tangannya, tetapi tidak menariknya mendekat.
"Dan sekarang?" tanyanya.
Jantung Nadhira memukul tulang rusuk. Ia tahu pertanyaan itu tidak hanya mengenai dokumen.
"Sekarang saya ingin kamu mencium saya."
Rayhan bergerak perlahan, memberi Nadhira waktu untuk mengubah jawaban. Tangan kirinya menyentuh sisi wajah Nadhira setelah ia mengangguk. Ibu jarinya berhenti dekat telinga, hangat dan sedikit kasar akibat pekerjaan kayu.
Ciuman pertama mereka tidak terburu-buru.
Bibir Rayhan menyentuhnya ringan, lalu menjauh sejengkal. Matanya mencari wajah Nadhira.
"Masih iya?"
Nadhira meraih kerah kausnya dan menariknya kembali.
Kali ini ciuman itu lebih dalam, tetapi tetap lembut. Semua percakapan tentang aturan, rasa takut, dan pilihan seperti berkumpul dalam satu gerakan yang tidak diambil paksa. Nadhira merasakan tangan Rayhan berhenti di pinggangnya, menunggu.
"Boleh," bisiknya.
Lengan itu merangkulnya.
Nadhira tidak pernah mengira pelukan bisa terasa begitu berbeda saat ia tidak sedang diselamatkan, ditenangkan, atau dijauhkan dari bahaya. Ia berada di sana karena memilih. Rayhan memeluk karena diizinkan, bukan karena tubuhnya dianggap bagian dari akad.
Ketika mereka berpisah untuk bernapas, dahi Rayhan menempel pada dahinya.
"Kalau kita berhenti sampai sini, tidak ada yang berubah dari jawaban saya," katanya. "Saya tetap suka kamu."
"Saya tahu."
"Kalau kamu ingin lanjut, kamu boleh berhenti kapan saja."
"Kamu juga."
Rayhan tersenyum tipis. "Saya juga."
Nadhira memandang pintu teras, lalu lorong menuju kamar. "Anak-anak?"
"Monitor suara aktif. Pintu kamar mereka terbuka sedikit. Mbak Wati ada di kamar staf bawah. Tapi kita periksa sendiri dulu."
Mereka naik bersama.
Di kamar anak, Arkan tidur di kasur bawah dengan foto Dini aman di rak. Alif berada di kasur lamanya malam itu, selimut turun sampai pinggang. Nadhira membetulkan selimut dan menyentuh kening keduanya. Tidak demam. Monitor terpasang dengan volume cukup terdengar, tanpa kamera di ruang privat.
Rayhan menunggu di pintu.
"Kamar siapa?" tanyanya setelah mereka kembali ke lorong.
Nadhira memandang pintu kamarnya sendiri, lalu pintu Rayhan. Selama berbulan-bulan, kamar terpisah menjadi tanda bahwa ia punya batas aman. Memilih kamar Rayhan malam ini tidak menghapus haknya kembali ke kamar sendiri besok.
"Kamarmu," katanya. "Karena saya ingin masuk, bukan karena kamu memindahkan barang saya."
Rayhan membuka pintu dan membiarkannya melangkah lebih dulu.
Kamar itu rapi, hampir terlalu rapi. Satu buku terbuka di meja samping, jam tangan diletakkan lurus, dan foto kecil Arkan berdiri dekat lampu. Tidak ada foto Dinda atau benda perempuan lain. Nadhira tersenyum pada dirinya sendiri karena masih sempat memperhatikan.
Rayhan menutup pintu tanpa menguncinya.
"Kenapa tidak dikunci?" tanya Nadhira.
"Supaya kamu tidak merasa terperangkap."
Nadhira berjalan kembali dan memutar kunci sendiri.
"Sekarang saya yang memilih."
Tatapan Rayhan menggelap, tetapi ia tetap diam sampai Nadhira mendekat.
Mereka berciuman lagi di dekat pintu. Rayhan menyentuh punggung, rambut, dan wajahnya seolah sedang mempelajari sesuatu yang tidak ingin ia rusak. Setiap kali napas Nadhira berubah, ia berhenti cukup lama untuk memastikan.
"Mas Ray."
"Ya?"
"Jangan tanya setiap dua detik. Saya akan bilang kalau ingin berhenti."
"Saya sedang belajar."
"Belajar sambil mencium saya."
Ia menurut.
Lampu samping ranjang tetap menyala redup. Tidak ada tubuh sempurna atau adegan yang harus membuktikan keberanian. Ada dua orang dewasa dengan luka lama, tangan yang kadang gemetar, dan tawa kecil saat Rayhan hampir menjatuhkan bantal karena terlalu berhati-hati.
Sebelum kedekatan mereka melangkah lebih jauh, Rayhan bertanya sekali lagi tanpa bahasa samar. Nadhira menjawab jelas. Mereka juga bicara singkat tentang kemungkinan kehamilan dan sepakat tidak akan memperlakukannya sebagai kewajiban atau bencana. Keputusan malam ini milik keduanya, termasuk akibat yang mungkin datang.
Rayhan memastikan jawaban Nadhira bukan karena takut hubungan mereka kembali dingin jika menolak. Nadhira memastikan Rayhan juga tidak merasa harus membuktikan pernikahan mereka nyata melalui tubuh.
"Kalau malam ini hanya berakhir dengan kita tidur, saya tetap mengubah perjanjiannya," kata Rayhan.
"Kalau besok saya ingin kembali ke kamar saya?"
"Saya tidak akan menganggapnya penolakan."
"Kalau saya ingin tinggal?"
"Saya akan senang."
Mereka membicarakan perlindungan dan pilihan reproduksi secara terbuka, bukan membiarkan kehamilan terjadi karena salah satu diam. Nadhira mengatakan ia siap menerima kemungkinan anak, tetapi tidak ingin nilainya sebagai istri diukur dari hamil atau tidak. Rayhan menjawab bahwa dua anak yang sedang tidur di kamar sebelah sudah membuat mereka keluarga. Anak lain, bila kelak hadir, akan disambut sebagai anggota, bukan bukti cinta.
Baru setelah jawaban itu, Nadhira menariknya mendekat lagi.
Setelah itu, pintu kamar tetap tertutup.
Cerita malam mereka berhenti pada cahaya yang dipadamkan, jemari yang saling mencari, dan nama yang dipanggil tanpa rasa takut.
Pagi datang melalui tirai abu-abu.
Nadhira terbangun dengan kepala di dada Rayhan. Selimut menutup mereka dengan rapi. Di meja samping ada air minum dan pakaiannya yang dilipat, bukan dilempar ke lantai.
Ia bergerak sedikit. Lengan Rayhan mengencang, lalu segera longgar ketika ia sadar.
"Pagi," katanya dengan suara berat.
"Pagi."
Mereka saling menatap, lalu Nadhira mulai tertawa tanpa alasan. Rayhan tampak bingung.
"Kenapa?"
"Kamu masih terlihat seperti CEO bahkan baru bangun."
"Itu hinaan?"
"Pengamatan."
Rayhan membalik tubuh sedikit dan mengecup keningnya. Kali ini gerakannya terasa akrab, bukan mengejutkan.
"Menyesal?" tanyanya.
Nadhira tidak menjawab dengan bercanda. "Tidak. Kamu?"
"Tidak."
"Saya mungkin tetap memakai kamar saya untuk belajar atau saat butuh sendiri."
"Kuncinya tetap milikmu."
"Dan barang saya tidak pindah semuanya hari ini."
"Tidak ada yang menyentuh tanpa kamu minta."
Nadhira menyandarkan kepala kembali beberapa detik. Mereka tidak mengubah kamar menjadi lambang wajib. Malam pertama tidak menghapus kebutuhan akan pintu, waktu sendiri, atau batas. Justru karena semua itu tetap ada, ia bisa menikmati kehangatan Rayhan tanpa merasa terperangkap.
Ketukan kecil terdengar dari pintu.
"Mama?" suara Alif memanggil. "Mama hilang."
Nadhira langsung duduk. "Mama di sini. Tunggu sebentar."
"Di kamar Papa?"
Keheningan di dalam kamar membuat Rayhan menutup mata.
"Iya," jawab Nadhira. "Mama ganti baju dulu."
"Kenapa?"
"Karena kita mau sarapan."
"Pintunya dikunci."
"Alif tunggu di kursi lorong."
"Sama Arkan."
"Iya, sama Arkan."
Langkah kaki kecil menjauh. Nadhira menatap Rayhan.
"Besok seluruh kompleks tahu."
"Alif tidak punya akses ke grup WhatsApp."
"Dia punya Bu Wulan."
Rayhan akhirnya tertawa.
Saat mereka turun, Alif/Arkan sudah duduk di meja. Alif menatap pakaian Nadhira, lalu Rayhan, kemudian pintu tangga.
"Papa tidur sama Mama," katanya puas.
"Mama dan Papa bangun dari kamar yang sama," koreksi Nadhira.
"Sama."
Arkan menyuapkan roti sambil mengangguk. "Sama."
Mbak Wati meletakkan teko teh dengan mata mengarah ke meja, sangat profesional kecuali senyum tipis yang gagal disembunyikan.
Rayhan duduk di seberang Nadhira dan hampir tidak berhenti memandangnya. Ketika Nadhira mengambil selai, ia melihat. Ketika ia menyelipkan rambut ke balik telinga, ia masih melihat.
"Mas Ray, makan."
"Saya makan."
"Kamu memegang sendok kosong."
Alif ikut memeriksa. "Papa kenapa lihat Mama terus?"
Rayhan akhirnya menunduk ke mangkuk. "Papa sedang berpikir."
"Mama cantik," kata Arkan pelan.
Nadhira menahan senyum. "Terima kasih, Sayang."
Alif menatap keduanya lagi. "Nanti tidur sama lagi?"
"Nanti Mama dan Papa yang memutuskan," jawab Nadhira. "Alif tidak perlu mengatur kamar orang dewasa."
"Tapi Alif boleh tidur keluarga?"
"Boleh minta. Jawabannya bisa iya atau tidak."
Arkan mengangkat tangan kecil. "Minta sekarang."
Rayhan mengambil sendok yang akhirnya berisi bubur. "Kita baru bangun."
"Nanti malam," kata Alif.
Nadhira dan Rayhan saling pandang. Tawa mereka keluar bersamaan, membuat kedua anak ikut tertawa meski permintaannya belum dikabulkan.
Menjelang pukul sembilan, Bu Wulan dan Bu Mega datang mengembalikan wadah arisan. Mereka menemukan Nadhira di teras bersama anak-anak, sedangkan Rayhan sedang memasang roda baru pada sepeda keseimbangan.
Bu Wulan melihat Nadhira sekali, lalu melirik Rayhan yang mengangkat kepala setiap kali Nadhira bicara.
"Udara pagi bagus sekali ya, Bu Mega," katanya.
"Bagus. Ada yang kelihatan lebih cerah juga."
Nadhira pura-pura memeriksa tali helm Alif. "Wadahnya bisa ditaruh di meja."
Bu Mega menyikut Bu Wulan sebelum godaannya melewati batas. Mereka beralih membicarakan jadwal kerja bakti dan keadaan Kartika. Nadhira hanya mengatakan Kartika sedang mendapatkan bantuan yang dipilihnya sendiri, tanpa membuka rincian.
Setelah tetangga pergi, Nadhira berdiri terlalu cepat dari kursi rendah.
Pandangan berkunang sesaat.
Tangannya meraih sandaran. Rayhan sudah berada di sampingnya sebelum ia jatuh.
"Pusing?"
"Cuma berdiri terlalu cepat. Saya belum banyak sarapan."
Rayhan membuatnya duduk, memberi air, dan menunggu sampai warna di wajahnya kembali. Ia tidak menyebut kehamilan atau membuat kesimpulan dari satu gejala pagi setelah malam pertama.
Mbak Wati membawa roti dan buah. Nadhira menghabiskannya sambil duduk. Setelah sepuluh menit, ia berdiri perlahan dan tidak lagi berkunang.
"Kalau terulang, kita periksa," kata Rayhan.
"Kalau terulang," setuju Nadhira. "Bukan sekarang karena satu kali berdiri terlalu cepat."
Mereka mencatat waktunya tanpa menakut-nakuti anak. Pusing sesaat itu lebih masuk akal berkaitan dengan kurang makan, kurang tidur, atau perubahan posisi. Kehamilan yang mungkin terjadi dari malam tersebut belum dapat menimbulkan gejala langsung keesokan pagi.
Nadhira mengabaikannya setelah rasa ringan itu hilang.