Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak hormon pagi hari
Fajar di atas langit Jakarta Selatan baru saja menyingsing, memancarkan rona jingga keperakan yang menembus tirai tipis di ruang tidur utama penthouse.
Di dalam kamar yang hening itu, pendingin udara berembun lembut, menjaga temperatur ruangan tepat di angka dua puluh dua derajat Celsius, suhu presisi yang direkomendasikan Dokter Hendra agar Alina tidak mengalami akumulasi keringat atau penurunan tekanan darah secara mendadak.
Devan Dirgantara sudah terjaga sejak pukul empat subuh. Mengenakan kemeja katun putih berpotongan rapi dengan lengan yang tergulung rapi hingga ke siku, Devan tampak sibuk di meja kerja daruratnya yang didirikan hanya tiga meter dari tempat tidur.
Suara ketukan jemarinya pada papan ketik terdengar sangat halus, hampir tak bersuara, mengimbangi keheningan pagi.
Di layar monitor ganda berukuran besar di hadapannya, tertera dua panel utama: sisi kiri menampilkan grafik pergerakan saham dan laporan akuisisi anak perusahaan baru di Singapura, sementara sisi kanan menyajikan grafik digital berwarna hijau yang merekam irama napas, denyut jantung, dan saturasi oksigen Alina secara real-time yang ditransmisikan dari gelang pintar di pergelangan tangan istrinya.
Bagi Devan, kontrol adalah segalanya. Dunia bisnis yang keras telah menempanya menjadi sosok kalkulatif yang mampu memprediksi setiap pergerakan pasar.
Namun, dalam hitungan minggu terakhir, Devan menyadari bahwa ada satu variabel di dunia ini yang sepenuhnya berada di luar jangkauan rumus matematika maupun instruksi eksekutifnya: tubuh istrinya sendiri yang tengah mengandung.
Di atas tempat tidur king size yang dilapisi sprei sutra berkualitas tinggi, Alina mulai bergerak gelisah. Tubuhnya ditopang oleh lima bantal ergonomis berbentuk U yang sengaja dirancang untuk menjaga posisi panggul tetap sejajar. Kelopak matanya yang berbulu lentik perlahan terbuka. Rona kelelahan masih berbayang tipis di bawah matanya, menandakan kualitas tidurnya yang tidak pernah benar-benar nyenyak sejak usia kehamilannya menginjak minggu keduabelas.
Memasuki fase transisi dari trimester pertama menuju trimester kedua ini, perubahan fisik dan emosional Alina terakselerasi dengan kecepatan yang memusingkan. Rasa mual di pagi hari, morning sickness, yang tadinya dapat diprediksi jam kerjanya, kini bermutasi menjadi guncangan emosi tak berpola yang kerap meletus tanpa peringatan.
Alina mendudukkan dirinya perlahan, menarik napas dalam-dalam. Namun, baru saja kakinya yang terbalut kaus kaki katun lembut menyentuh karpet busa tebal di samping tempat tidur, aroma yang sangat samar terhirup oleh indra penciumannya.
Dahi Alina berkerut rapat. Matanya yang tadinya layu seketika membelalak lebar. Tatapannya menajam, tertuju lurus pada sosok Devan yang sedang membelakanginya di meja kerja.
"Mas Devan," panggil Alina. Suaranya tidak keras, tetapi nada bicaranya dingin dan sarat akan ancaman terselubung.
Devan seketika menghentikan ketukan jarinya di papan ketik. Dalam hitungan detik, tubuh tingginya sudah berbalik. Pria itu berdiri, menatap istrinya dengan kewaspadaan penuh yang biasa ia gunakan saat menghadapi krisis tingkat tinggi.
"Ada apa, Alina? Perutmu kram? Atau kamu merasa pusing saat mencoba berdiri?" Devan melangkah cepat menghampiri tempat tidur, meraih cangkir porselen berisi teh herbal hangat di atas nakas, berniat menyerahkannya kepada sang istri.
"Jangan mendekat!" seru Alina tiba-tiba, meregangkan tangan kanannya ke udara untuk menahan langkah Devan.
Devan membeku di tempat, satu kakinya menggantung di udara sebelum kembali menapak kaku. Cangkir teh di tangannya tertahan di udara. "Alina? Ada apa?"
"Kamu minum kopi," tuduh Alina, matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya gemetar hebat, seolah-olah Devan baru saja melakukan pelanggaran hukum berat.
Devan menatap istrinya bingung, lalu melirik ke arah meja kerjanya jauh di sudut ruangan, di mana sebuah cangkir kopi hitam tanpa gula milik Devan berdiri terisolasi di samping laptop. Jarak antara meja kerja dan tempat tidur setidaknya empat meter, dan Devan meminumnya lebih dari dua puluh menit yang lalu.
"Aku meminum kopi itu setengah jam yang lalu di dekat meja kerja, Alina. Aku bahkan belum mendekatimu sejak kamu bangun," Devan mencoba menjelaskan dengan nada suara serendah dan sehalus mungkin, menerapkan instruksi dari psikolog kehamilan yang disewanya pekan lalu.
"Tapi baunya sampai ke sini!" jerit Alina pelan. Air mata pertama menetas melintasi pipinya yang halus. "Aroma kopi itu menempel di udara! Itu bau yang sangat jahat, Mas Devan! Kamu tahu aku sedang mual kalau mencium bau kopi, tapi kamu sengaja meminumnya di dalam kamar ini karena kamu tidak mau keluar dari kamar! Kamu lebih mementingkan rasa kantukmu daripada kenyamanan napas anakmu sendiri!"
Devan terpaku. Pria yang memimpin puluhan ribu karyawan di bawah naungan Dirgantara Group itu mendadak merasa seperti terdakwa di ruang sidang tanpa pembela. Rasa panik yang tak rasional mulai merayapi dadanya. Ia tidak takut pada kemarahan Alina, tetapi ia sangat takut jika fluktuasi emosi yang tajam ini memicu lonjakan tekanan darah atau kontraksi prematur pada rahim istrinya.
"Baik, maafkan aku," kata Devan cepat tanpa berdebat. Dengan gerakan tangkas namun tetap tenang, Devan berjalan mundur ke arah meja kerja, meraih cangkir kopinya, lalu membuka pintu penghubung ke area lorong luar. Ia melempar cangkir itu ke arah pengawal yang berjaga di luar pintu. "Buang ini. Bersihkan seluruh sisa aroma kopi di dapur luar. Jangan pernah membawa kafein dalam bentuk apa pun memasuki lantai ini lagi."
Setelah memastikan pintu luar terkunci kembali, Devan berjalan menuju panel kontrol pendingin udara di dinding. Ia menekan tombol pemurni udara (air purifier) tingkat maksimum. Suara dengungan halus dari mesin filtrasi HEPA berteknologi tinggi langsung pudar di udara, menyedot seluruh molekul udara dan menggantinya dengan oksigen murni tak berbau.
"Sudah, Sayang. Kopinya sudah dibuang, udaranya sudah dibersihkan," Devan kembali mendekati tempat tidur, berlutut di samping Alina. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata di pipi istrinya, namun Alina mengelak dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kamu tidak tulus membuangnya," gumam Alina serak, sesenggukan. Tangannya meremas sprei sutra di pangkuannya
. "Kamu membuangnya hanya karena aku marah, bukan karena kamu benar-benar peduli. Kamu menganggapku wanita hamil yang merepotkan dan suka mengatur, kan?"
"Alina, demi Tuhan, tidak pernah sekalipun pikiran seperti itu melintas di kepalaku," bisik Devan, menyusupkan jemarinya yang hangat ke jemari Alina yang dingin, menguncinya erat tanpa memberi celah bagi sang istri untuk menarik diri.
Devan menatap lurus ke dalam mata Alina yang sembab, menyalurkan ketulusan murni yang tak terbantahkan. "Segala hal yang aku lakukan, dari bangun tidur hingga aku memejamkan mata, hanya berpusat padamu dan anak kita. Jika aroma kopi itu mengganggumu, maka kopi tidak akan pernah ada lagi di dalam hidupku."
Alina menatap wajah suaminya. Rahang kaku Devan yang biasanya memancarkan kekuasaan tanpa ampun kini terlihat dipenuhi kecemasan yang transparan.
Kerapuhan Devan yang selalu muncul setiap kali Alina menangis perlahan-lahan meluluhkan amarah spontan yang tadi membakar dadanya.
Namun, sebelum Alina sempat membalas ucapan manis suaminya, gejolak di dalam perutnya mendadak berputar hebat. Rasa mual yang pekat memuncak dari dasar lambungnya menuju tenggorokan.
"Ugh—" Alina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, wajahnya seketika pucat pasi.
Devan yang sudah sangat terlatih menghadapi refleks ini langsung bertindak cepat. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Devan menyelipkan lengan kirinya di bawah lutut Alina dan lengan kanannya di belakang punggung istrinya, menggendong wanita itu secara bridal style dalam satu gerakan mulus. Ia melangkah lebar menuju kamar mandi utama, mengabaikan fakta bahwa Alina belum sempat mengenakan sepatu datar bersensornya.
Devan mendudukkan Alina dengan lembut di depan kloset porselen yang sudah disterilkan secara berkala. Pria itu menyingsingkan kemeja mewahnya sendiri, tanpa ragu berlutut di lantai kamar mandi yang dingin, memegangi dahi Alina dengan telapak tangan kirinya dan memijat tengkuk istrinya dengan jari-jarinya yang hangat.
"Keluarkan, Sayang. Aku di sini," bisik Devan lembut di dekat telinga Alina, tak terganggu sedikit pun oleh suara rasa mual atau kondisi istrinya yang berantakan.
Alina memuntahkan cairan asam lambung yang belum terisi makanan sama sekali. Setiap kali tubuhnya bergetar akibat dorongan mual, tangan Devan yang kokoh menyangga tubuhnya, memberikan pijakan fisik yang sangat stabil agar Alina tidak terjatuh atau merasa melayang