Indonesia
NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Puja menatap suaminya lekat-lekat, lalu dengan suara yang masih terdengar serak ia teringat pada sosok orang tua mereka yang berada jauh di sana.

"Mas, apa kamu sudah menghubungi Abah di Kediri? Beliau pasti sangat cemas kalau mendengar kabar tentang kita," tanya Puja dengan nada khawatir, mengisyaratkan kekhawatiran jika pesantren di sana mendadak gempar mendengar musibah yang baru saja mereka lalui.

Mendengar pertanyaan itu, Jeffry perlahan menggelengkan kepalanya.

Ia mengusap rambut Puja penuh kelembutan, lalu tersenyum tipis untuk menenangkan hati istrinya.

"Biarkan Abah di Kediri, Dek," jawab Jeffry lembut.

"Beliau baru saja mulai tenang dengan kesehatannya di sana. Kalau kita kabari sekarang, Abah justru akan syok dan jatuh sakit karena khawatir setengah mati memikirkan kita dari jauh. Kejadian ini biar jadi urusan kita dan pihak berwajib saja."

Puja terdiam sejenak, meresapi setiap perkataan suaminya.

Ia tahu betul betapa sayangnya Abah pada mereka, dan ia tidak ingin membuat orang tua mereka menanggung beban psikologis yang berat di usia senjanya, apalagi mengingat kondisi Ningrum yang kini sudah ditangani oleh pihak yang tepat di rumah sakit jiwa.

Segaris senyuman tipis akhirnya terukir di bibir Puja yang pucat. Ia mengangguk lemah, setuju dengan keputusan suaminya.

"Iya, Mas. Aku setuju," lirih Puja tulus, lalu merapatkan genggaman tangannya pada jemari Jeffry, merasa aman karena kini suaminya berada tepat di sisinya.

Tak lama setelah percakapan tenang itu mereda, pintu ruang rawat inap terbuka perlahan.

Andy muncul bersama Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, and Dwi yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit. Wajah mereka tampak jauh lebih segar, meski sisa-sisa kecemasan dan kelegaan masih jelas terpancar di mata masing-masing.

"Assalamu'alaikum." sapa Dewi pelan sambil melangkah masuk, disusul oleh yang lainnya yang langsung mengerubungi ranjang Puja dengan senyuman hangat.

"Wa'alaikumussalam." jawab Puja dan Jeffry hampir bersamaan.

Puja berusaha tersenyum menyambut kehadiran para sahabat setianya yang sudah berjuang mendampinginya sejak pagi.

Belum sempat Andy membuka suara untuk menanyakan kondisi mereka, ponsel di dalam tas Dewi tiba-tiba berdering nyaring. Dewi dengan cepat merogoh ponselnya, melihat nama yang tertera di layar, lalu menatap ke arah Puja dengan mata berbinar.

"Eh, ini dari Norma! Dari tadi dia terus menelepon karena di Yogyakarta sinyalnya sempat susah dan cemas banget nggak dapat kabar," seru Dewi, lalu tanpa menunggu lama langsung menggeser tombol hijau dan menyalakan loudspeaker agar Puja bisa mendengar suaranya.

"Halo, Pu?! Ya Allah, Puja! Kamu nggak apa-apa, kan? Gimana keadaan Mas Jeffry? Aku baru bisa pegang HP dan dengar kabar simpang siur kalau kalian masuk rumah sakit karena diserang Ningrum! Sumpah, aku pengen langsung terbang balik ke sana sekarang juga!" suara Norma langsung menyerbu seisi ruangan, terdengar begitu panik, cemas, dan sarat akan kekhawatiran dari ujung sambungan telepon.

Mendengar suara sahabatnya yang meledak-ledak di seberang sana, tawa kecil yang sarat keharuan akhirnya lolos dari bibir Puja.

Ia menoleh ke arah Jeffry sebelum menjawab dengan suara yang perlahan mulai bertenaga.

"Norma, tenang, pelan-pelan," ucap Puja lembut, berusaha menenangkan sahabatnya yang ada di Yogyakarta.

"Alhamdulillah, aku sama Mas Jeffry sudah selamat. Operasinya lancar, dan kami berdua sekarang sudah dirawat di ruang yang sama."

Di ujung telepon sana, helaan napas lega yang begitu panjang terdengar jelas, disusul suara isak tangis tertahan dari Norma yang akhirnya bisa bernapas lega setelah berjam-jam dihantam rasa cemas ribuan kilometer jauhnya.

"Alhamdulillah. Ya Allah, alhamdulillah," lirih Norma di sana, suaranya bergetar hebat.

"Maaf banget ya, Pu, aku nggak bisa langsung ada di samping kalian."

"Sstt, nggak apa-apa, Norm. Doa kamu dari sana sudah lebih dari cukup buat kami," sahut Yuana tersenyum hangat, ikut mendekat ke arah ponsel Dewi.

Suasana di dalam ruang rawat itu mendadak terasa begitu hangat dan penuh rasa syukur.

Dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang tulus dan

suami yang mempertaruhkan nyawa demi melindunginya, Puja tahu badai paling mengerikan dalam hidup mereka benar-benar telah berlalu, menyisakan kekuatan baru untuk lembaran hidup mereka ke depan.

Kehangatan dan kelegaan yang sempat mengisi ruangan rawat itu tiba-tiba membeku dalam sekejap.

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat untuk menjenguk, memastikan kondisi Puja dan Jeffry berangsur membaik, serta bertukar kabar dengan Norma via telepon, Andy, Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, and Dwi bersiap untuk pamit undur diri agar suami-istri tersebut bisa beristirahat total.

"Puja, Jeffry, kami pamit pulang dulu ya. Nanti malam atau besok kami pasti kesini lagi buat jenguk kalian," pamit Dewi lembut sambil merapikan tasnya, disusul anggukan kepala dari teman-teman yang lain dan Andy.

"Iya, teman-teman. Terima kasih banyak ya sudah temani kami dari tadi." balas Puja tulus, sementara Jeffry mengangguk hormat kepada Andy dan rekan-rekan istrinya.

Namun, tepat saat Andy memegang gagang pintu untuk membukanya dari dalam, langkah mereka langsung terhenti kaku.

Pintu ruang rawat terbuka dengan kasar dari luar. Sesosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan penampilan yang tampak kusut.

Wajahnya pucat, matanya sembab, dan sorot matanya memancarkan kepanikan sekaligus sisa-sisa amarah yang menggebu-gebu.

Kehadiran sosok itu langsung membuat seisi ruangan menegang seketika.

Wanita itu nekat menyusul ke rumah sakit setelah mendengar kabar putrinya dilarikan ke rumah sakit jiwa.

Alih-alih merasa iba atau bersalah atas apa yang telah diperbuat Ningrum pada Puja, Ningsih justru melangkah masuk dengan dagu terangkat, membawa serta ego dan pembelaan membabi buta pada darah dagingnya.

Melihat kehadiran Ningsih, emosi Jeffry yang sedari tadi diredam demi ketenangan sang istri langsung tersulut kembali.

Tanpa memedulikan jarum infus yang baru saja dilepas atau rasa linu di sekujur tubuhnya, Jeffry bangkit berdiri dari sisi ranjang Puja dengan gerakan cepat. Ia menempatkan dirinya di depan ranjang, memasang badan untuk melindungi istrinya.

"Bi, mau apa lagi datang ke sini?" geram Jeffry dengan suara rendah namun sarat akan kemarahan yang tertahan, tatapannya menghujam tajam ke arah Ningsih.

"Bibi belum puas melihat istriku terluka parah hampir kehilangan nyawa karena ulah anak bibi?!"

Andy yang berada di dekat pintu langsung siaga, menatap Ningsih dengan tatapan memperingatkan agar tidak macam-macam.

Sementara Dewi dan yang lainnya kompak memasang wajah geram melihat keberanian wanita paruh baya itu datang tanpa rasa bersalah.

Mendengar bentakan Jeffry, Ningsih sama sekali tidak gentar.

Ia justru mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada, dan menunjuk ke arah Puja yang terbaring lemah di ranjang dengan jarum telunjuknya yang bergetar.

"Jangan menyalahkan anak saya terus, Jeffry!" seru Ningsih dengan nada tinggi yang mencelat emosi.

"Semua ini terjadi karena kesalahan istri kamu sendiri! Kalau saja Puja tidak datang merebut kamu dan tidak ikut campur urusan kami waktu itu, Ningrum tidak akan gelap mata sampai separah ini!"

Deg!

Pernyataan tidak tahu malu itu kontan membuat seisi ruangan terkesiap marah.

Suasana di dalam ruang rawat mendadak memanas, di ambang batas kesabaran Jeffry yang tinggal menunggu detik untuk meledak.

Kemarahan yang sedari tadi membakar dada Jeffry hampir saja meledak menanggapi ucapan tidak tahu malu dari Ningsih.

Namun, melihat Puja yang terbaring lemah di sampingnya mulai menunjukkan gestur cemas dan menarik pelan ujung bajunya, Jeffry menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosinya.

Ia tidak ingin kesehatan istrinya kembali drop karena meladeni orang yang sudah kehilangan akal sehat.

Dengan rahang mengeras dan tatapan penuh ketegasan dingin, Jeffry melangkah maju satu langkah, menatap lurus wanita paruh baya di hadapannya itu tanpa secercah rasa gentar.

"Sekarang lebih baik Bibi mengurus Ningrum di rumah sakit jiwa tempat dia seharusnya berada, bukan malah datang ke sini membuat keributan," ucap Jeffry dengan suara rendah namun tajam menghujam.

Tanpa membuang waktu, Jeffry merogoh saku celananya, mengambil dompet, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dengan nominal yang cukup besar.

Ia meletakkan uang tersebut di atas meja nakas kecil dekat pintu, tepat di hadapan Ningsih.

"Ini uang untuk Bibi. Gunakan untuk keperluan di sana," lanjut Jeffry dengan nada absolut yang tidak membantah.

"Setelah ini, tolong tinggalkan pondok serta keluarga besar kami untuk selamanya. Jangan pernah tunjukkan wajah Bibi atau anak Bibi di hadapan kami lagi."

Ningsih tertegun sejenak, menatap lembaran uang tunai di atas meja nakas dengan sorot mata yang berbinar penuh pamrih, disusul rasa gengsi yang masih menyisa di dadanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun penyesalan atau permohonan maaf atas teror keji yang dilakukan putrinya, tangan Ningsih dengan cepat menyambar uang tersebut dan memasukkannya ke dalam tas.

Merasa tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dan sadar bahwa posisinya sudah sepenuhnya terjepit oleh ketegasan Jeffry serta pengawalan Andy dan para sahabat Puja, Ningsih mendengus kesal.

Ia membuang muka, lalu memutar tubuhnya dengan kasar.

Brak!

Pintu ruang rawat kembali terbanting tertutup saat Ningsih melangkah pergi meninggalkan rumah sakit dengan terburu-buru, membawa serta rasa malu dan ego yang runtuh.

Sepeninggal Ningsih, suasana di dalam ruangan kembali diliputi kesunyian yang menenangkan.

Andy menghembuskan napas panjang, lalu menepuk pelan bahu Jeffry sebagai bentuk dukungan. Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, dan Dwi yang sempat tegang kini bisa bernapas lega.

Jeffry segera berbalik, kembali menghampiri ranjang Puja, lalu menggenggam erat jemari istrinya dengan senyuman hangat penuh ketulusan.

"Sudah, Dek. Semuanya sudah pergi. Tidak ada lagi yang akan mengganggu kita," bisik Jeffry lembut, mengecup kening Puja dengan penuh cinta.

Puja membalasnya dengan senyuman tulus, merasa beban berat yang menghimpit dadanya akhirnya benar-benar terangkat sempurna.

1
Sriza Juniarti
good job
Sriza Juniarti
sad😭
Sriza Juniarti
bagus...saya suka...berkarya terus kk
semangat slalu
my name is pho: Terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!