Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Rukmini sudah berada di rumah kembali. Rasa menyesal dan nestapa kini menggerogoti jiwanya. Ia tak pernah menyangka harus kehilangan penglihatan matanya dengan cara yang tragis. Sebenarnya tidak buta total, Rukmini masih bisa melihat, namun segalanya tampak samar, kabur, dan tak berwujud.

Ketika Roni keluar rumah untuk bekerja, Hana tetap memperlakukan Rukmini dengan kasar. Bahkan jauh lebih tega dibanding saat mata ibu mertuanya itu masih sehat.

Rukmini duduk bersandar di kursi ruang tamu, matanya yang samar menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat. Dari luar, suara kendaraan berlalu lalang terdengar samar, tetapi pandangannya tetap terbungkus kabut tebal yang tak bisa ia tembus. Semula, dia berharap kebutaan ini hanya sementara. Namun kenyataannya, matanya hanya bisa menangkap bayangan samar tanpa detail. Dunia terasa makin asing, seperti kehidupannya yang perlahan mati.

Langkah kaki yang berat berderap memasuki ruang tamu. Wajah Hana tampak masam saat mendekati ibu mertuanya tanpa sedikit pun rasa simpati.

Rukmini bisa merasakan kehadiran menantunya itu. Langkah kaki Hana yang teredam di atas karpet sudah cukup untuk mengingatkan Rukmini betapa buruknya tabiat wanita yang dulu begitu di agungkannya sebagai menantu kaya. Dulu Hana berpura-pura baik dan manis, tetapi kini topeng itu telah lepas sepenuhnya.

"Ibu!" suara Hana terdengar sengit. "Kenapa Ibu malah duduk santai di sini?! Ayo cepat, bantu aku bersihkan rumah!"

Rukmini tak bisa melihat raut wajah Hana, namun nada suara itu penuh akan kebencian. Dengan napas berat, Rukmini mengangkat tangannya yang gemetar, meraba-raba udara mencoba mencari arah suara Hana.

"Hana..." suara Rukmini terdengar lirih dan pasrah. "Kenapa kau begitu kasar padaku? Aku tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Aku tidak bisa melakukan pekerjaan seperti dulu lagi."

Hana terkekeh sinis, mendekatkan wajahnya ke wajah Rukmini yang keriput dan kelesuan.

"Kau memang sudah tidak berguna lagi, Bu! Kau tidak bisa melihat, tidak bisa membantu, jadi jangan berharap aku akan memperlakukanmu dengan baik!" Ucap Hana tajam. Meskipun Kenyataannya, Hana memang tidak pernah menghormati Rukmini.

Air mata menetes deras dari pelupuk mata Rukmini yang terluka, menuruni pipinya yang makin tirus. Meski pandangannya kabur, dia tahu betul Hana sudah menganggapnya tak lebih dari sampah. Hati Rukmini hancur berkeping-keping.

"Benarkah? Kau tidak pernah tahu seberapa keras aku berusaha membantumu dulu, Hana. Aku tidak menyangka jika kau adalah wanita yang sangat kasar," ucap Rukmini dengan suara bergetar. "Aku benar-benar menyesal telah membantumu mendapatkan Roni."

Hana terdiam sejenak, lalu tertawa keras penuh penghinaan. "Ha! Jadi itu yang Ibu rasakan?! Ibu pikir aku butuh bantuan Ibu? Aku tidak pernah memintanya! Semuanya aku lakukan sendiri. Aku hanya menginginkan Roni. Dan sekarang, Ibu hanya beban buatku!"

Dengan kasar, Hana menghempaskan tangan Rukmini yang tadi meraba-raba. "Ibu seharusnya bersyukur masih diizinkan tinggal di sini!"

Rukmini hanya bisa menangis terisak, bibirnya bergetar menahan kepedihan yang tak tertahankan. Betapa tragis nasibnya, dikelilingi oleh menantu yang ia bela mati-matian, namun kini justru menginjak-injak dirinya.

Di tengah kegelapan matanya, terbayang sosok Nina. Seandainya dulu yang menjadi menantunya tetap Nina, mungkin hidupnya tidak akan sekelam dan sehina ini. Walaupun kebutaannya ini adalah akibat dari teror dendam Nina. Rukmini sadar betul ini adalah buah manis dari benih kezaliman yang ia tanam sendiri di masa lalu. Hana, menantu yang ia banggakan, kini memperlakukannya bagai sampah tak berguna.

****

Kita beralih ke lain tempat.

Di sudut tempat yang jauh dari desa Nina, hujan deras mengguyur malam dengan dingin yang menggigit.

Masih ingatkah kalian pada sosok Reksa? Laki-laki yang dulu pura-pura mengaku sebagai pacar Nina saat aksi penggerebekan, sosok yang memfitnah Nina hingga wanita malang itu dihujani cemoohan dan diasingkan dari desa. Kini, karma yang tertunda mulai berjalan menuju pintu rumahnya.

Rena, istri Reksa, terbangun di tengah malam karena dorongan mendesak ingin ke kamar kecil. Udara malam terasa amat membeku. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Rena menyibak selimut dan berjalan pelan menerobos remang lorong rumah menuju kamar mandi.

Wuuusshhh!

Suara gemericik hujan yang dihantam angin kencang membuat suasana malam terasa kian mencekam. Sesekali kilat menyambar membelah langit, menerangi lorong rumah secara mendadak. Rena berjalan mengusap tengkuknya yang mendadak merinding.

Saat jemarinya membuka pintu kamar mandi, rasa tidak nyaman membelenggu jiwanya. Ada perasaan aneh seolah-olah ada sepasang mata gaib yang mengawasinya dari dalam kegelapan.

Rena meraba-raba dinding, mencari saklar lampu.

Namun, Jantungnya berdegup kencang saat jemarinya tak sengaja menyentuh sesuatu yang sangat lengket dan basah di permukaan dinding.

"Aakkhh! Apa ini?!" jeritnya pelan. Rena langsung menarik tangannya kembali dengan jijik. Namun ketika kilat menyambar terang, ia melihat telapak tangannya bersih tak ada bekas benda aneh apa pun.

Rena mencoba mengabaikan hal itu karena rasa buang air kecilnya sudah tak tertahankan. Ia menyentuh saklar lampu. Namun, lampu kamar mandi hanya berkedip-kedip redup sesaat sebelum akhirnya mati total.

Karena tak tahan lagi, Rena terpaksa menyelesaikan hajatnya di dalam kamar mandi yang gelap gulita.

Setelah selesai, Rena bergegas keluar. Tepat saat melangkah ke luar kamar mandi, hembusan udara yang sangat dingin menerpa bagian belakang lehernya. Rena menoleh cepat ke belakang, namun hanya kegelapan yang menyapa.

Rena melangkah cepat kembali ke kamar. Namun, saat melewati meja makan, matanya menangkap siluet samar seseorang sedang duduk di sana.

Clobok... clobok... kecap... kecap...

Suara kecapan mulut pelan namun sangat jelas terdengar di tengah sunyi malam, seolah ada sosok yang sedang melahap makanan dengan begitu rakus.

Darah Rena serasa membeku. Tubuhnya kaku di tempat. Bayangan di meja makan itu tampak membungkuk, gerakannya pelan dan ritmis, terus mengunyah tanpa henti.

Rena berusaha menenangkan pikirannya, berpikir bahwa itu mungkin hanya ilusi bayangan akibat pancaran kilat di luar.

Namun, suara kecapan itu terdengar begitu nyata dan mengerikan.

Dengan langkah ragu, Rena mendekati meja makan. Ia mengira itu adalah Reksa, suaminya, yang terbangun karena lapar.

"Mas...?" panggil Rena pelan, berharap mendapat jawaban.

Seketika itu juga, suara kecapan itu berhenti total. Rena berdiri kaku beberapa detik, menanti sahutan. Namun sosok yang membungkuk itu tetap diam tak bergerak sedikit pun.

"Mas...?" panggil Rena sekali lagi dengan nada gemetar. Hanya deru hujan yang menjawabnya.

Rena melangkah lebih dekat, tinggal beberapa jengkal dari meja makan.

Sosok di depannya terasa sangat aneh.

JDAARRR!

Petir menyambar hebat di luar, menerangi ruang makan selama satu detik. Dalam kilatan cahaya terang itu, mata Rena membelalak lebar. Sosok yang duduk di meja makan itu bukanlah suaminya, melainkan sosok wanita berambut panjang acak-acakan dengan kulit gosong terkelupas, tengah memegang organ dalam yang berdarah, lalu perlahan menoleh menatap Rena dengan mata hitam legam dan seringai yang mengerikan.!

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!