Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Tatapan Beracun
Kata-kata Dimas bergema nyaring di ruang tamu mewah yang tinggi itu. Suasana pun seketika membeku. Senyum manis di wajah Clarissa lenyap dalam sekejap, berganti dengan kilatan tidak percaya dan rasa terkejut.
Matanya lalu beralih menatap Aisyah yang berdiri tenang memegang nampan perak, lalu kembali menatap Dimas yang berdiri pasang badan di samping istrinya.
"Dimas... kamu bercanda, kan?" kekeh Clarissa sumbang, sambil mengibas tangannya yang mengenakan gelang emas berhias berlian. "Wanita ini... istri kamu? Maksudmu, wanita yang dijodohkan Mami kamu dari kampung itu?"
"Nama saya Aisyah, Mbak Clarissa," potong Aisyah dengan suara yang begitu lembut, merdu, namun memancarkan ketegasan yang tak bergemuruh.
Aisyah kemudian melangkah mendekat tanpa sedikit pun rasa minder. Dengan gerakan yang sangat anggun dan teratur, ia menundukkan badan sedikit lalu meletakkan cangkir-cangkir porselen dan piring kue kering di atas meja kaca.
"Silakan diminum tehnya, Mbak Clarissa, Bu Rosma. Selamat menikmati," tambah Aisyah seraya mengukir senyuman tulus, dan memamerkan tata krama yang tinggi.
Bu Rosma yang duduk di sofa utama pun berdeham kaku. Wajahnya memerah antara rasa malu dan jengkel karena gertakannya tadi pagi seolah tak berguna.
"Clarissa, duduk dulu..." sapa Rosma menenangkan, dan mencoba mencairkan ketegangan. "Dimas, kamu tidak usah menaikkan nada bicara di depan tamu Mami!"
"Dimas cuma memperjelas posisi Aisyah di rumah ini, Mi," balas Dimas tegas. "Aisyah itu Nyonya muda di rumah ini. Jadi Dimas minta siapa pun yang datang ke rumah ini harus menghormati istri Dimas."
Clarissa mengepalkan jemarinya yang berkutek merah menyala. Hatinya panas bukan main. Sebagai putri pengusaha ternama yang sejak lama mengincar posisi sebagai menantu keluarga Wiraguna, ia merasa terhina melihat Dimas begitu membela wanita bersahaja yang dianggapnya jauh di bawah kelas sosial mereka.
"Oh... begitu ya," sindir Clarissa sinis, lalu menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Maaf ya, Tante Rosma. Soalnya pakaian dan gayanya tadi mirip sekali dengan asisten rumah tangga di rumah saya. Jadi saya salah kira."
Dimas hendak membalas ucapan pedas itu, namun jemari Aisyah dengan lembut menyentuh pergelangan tangan suaminya. Sentuhan sejuk itu seketika meredakan amarah Dimas yang hampir meledak.
"Tidak apa-apa, Mas," bisik Aisyah halus. Lalu ia menatap Clarissa dengan pandangan teduh. "Pakaian sederhana tidak mengurangi kehormatan seseorang, Mbak. Yang terpenting adalah kebersihan hati dan niat kita dalam melayani suami dan keluarga."
Clarissa tersentak kaku, lidahnya mendadak kelat dan tak sanggup membalas perkataan Aisyah yang begitu matang dan tenang.
______
Melihat situasi yang tidak menguntungkan posisinya, Clarissa berusaha mengubah taktik. Ia sengaja mengabaikan Aisyah dan mengalihkan perhatiannya sepenuhnya kepada Dimas dengan nada suara yang sengaja dimanjakan.
"Dimas, nanti malam ada pesta pembukaan galeri seni milik temanku di hotel bintang lima. Aku punya dua tiket VVIP," tutur Clarissa seraya merogoh tas mewahnya dan menggeser duduknya mendekati Dimas. "Tante Rosma pasti setuju kan kalau kamu temani aku pergi? Dulu kan kita selalu jalan bareng ke acara-acara seperti ini."
Rosma langsung menyambut umpan itu dengan cepat. "Ah iya, Dimas! Kamu ikut Clarissa saja. Kamu kan sudah lama tidak bersosialisasi dengan relasi bisnis kita. Lagipula, Aisyah pasti tidak terbiasa dengan acara-acara elite seperti itu."
Rencana Rosma dan Clarissa begitu transparan, yang mencoba menyisihkan Aisyah dan mengembalikan posisi Clarissa di samping Dimas.
Aisyah kini berdiri diam di tepi meja, lalu menundukkan pandangannya. Ada sedikit denyut nyeri di hatinya saat mendengar ucapan mertuanya, namun ia memilih untuk memercayakan sepenuhnya keputusan itu pada suaminya.
Dimas melirik Aisyah sejenak, dan melihat keheningan istrinya yang sarat akan kepasrahan. Hati Dimas berdesir hangat. Pria muda itu pun memantapkan posisinya, dan memegang jemari Aisyah di depan mata Clarissa dan ibunya secara terang-terangan.
"Maaf, Clarissa," jawab Dimas dingin dan lugas. "Malam ini aku ada janji dengan istriku. Kami mau menghabiskan waktu berdua di rumah."
"Tapi Dimas—" potong Clarissa tak percaya.
"Lagi pula," tambah Dimas seraya menatap Aisyah dengan binar cinta yang membara, "di mana pun aku berada, kalau istriku tidak ikut, aku tidak punya alasan untuk hadir. Tempat terbaikku sekarang adalah di samping Aisyah."
Wajah Clarissa seketika pucat pasi bagaikan dihantam pukulan telak. Ia menatap genggaman tangan Dimas dan Aisyah dengan rasa iri dan amarah yang membakar hati.
"Sialan!"
Bersambung...