Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Kenapa Aku Harus Berakhir di Sini...?—_—

Mereka akhirnya berjalan bersama, memulai perjalanan untuk menikmati malam natal yang harusnya menyenangkan.

Saat dua perempuan terlihat senang penuh senyuman ketika berjalan di depan, namun di belakang, Moiro justru terlihat datar dengan alis yang selalu mengerut, sedangkan Ryuji terlihat takut dengan wajah sedikit pucat.

Masih aja ni duo.

Mika dan Yuka di depan terlihat senang, sambil sesekali berbincang mengenai tempat yang akan mereka kunjungi.

Yuka tersenyum tipis, lalu mengusulkan sesuatu, "Gimana kalo nanti kita pergi makan yang hangat-hangat abis ini?"

"Wah, boleh tuh," balas Mika antusias, lalu menoleh ke belakang—diikuti Yuka—untuk bertanya pendapat yang lain, "Gimana menurut kalian?"

Saat menoleh, mereka melihat Moiro dan Ryuji saling dorong dan tahan sambil adu banteng.

Keduanya sontak menoleh bersamaan ke arah mereka saat tiba-tiba ditatap dan ditanya.

Mika menepuk jidatnya, merasa malu sendiri melihat kelakuan mereka berdua di tengah publik.

Yuka berjalan mendekat perlahan, melipat tangannya di dada, lalu berucap sambil menatap mereka dengan tajam, "Hentikan sikap kekanakan kalian itu."

"Maafkan kami," ucap keduanya serempak yang tiba-tiba duduk berlutut di jalan.

Yuka malah terkejut melihat kelakuan keduanya. Wajahnya memerah malu.

"K-Kenapa malah berlutut...?" bisiknya seketika panik dan terkejut, lalu menoleh sekeliling, "Berdiri dong...! Malu diliatin orang...!"

.........

Setelah berbagai drama yang gak jelas, mereka pun melanjutkan kesenangan di malam natal, seperti jalan-jalan menikmati pemandangan penuh hiasan natal untuk mengisi kegiatan.

Hingga tiba-tiba, Moiro tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal—senior kerjanya.

Nah loh! Hayuuuk...!

Seorang perempuan berambut cokelat pendek sedang tersenyum riang bersama beberapa orang lainnya, berada tepat tak jauh di depannya—dan mereka sedang berjalan saling mendekat.

Ekspresi Moiro seketika membeku, berubah kaku, "I-Itu... senior Taka— maksudku senior Genki! Kenapa dia ada di sini?!"

Jalan-jalan lah. Pake nanya.

"Bisa gawat kalo dia tiba-tiba nyapa aku...!" batinnya mulai panik, pelipisnya berkeringat di malam dingin itu, jiwanya bergetar dahsyat, "Identitasku bisa ketahuan... Gimana ini...?!"

"Aku ke toilet bentar!" seru Moiro tiba-tiba dan langsung menghilang ditelan uap.

Yang lain baru menoleh, dan tidak menemukan sosok lelaki rambut pink alami itu.

Mereka hanya merasakan hembusan angin samar mengarah ke jalan kecil di dekat mereka, dan melihat Ryuji yang celingak-celinguk ikut mencari sosok Moiro yang tiba-tiba hilang begitu saja.

Mika yang bingung seketika bertanya pelan, sambil menoleh-noleh, "Moiro? Dia ke mana barusan?"

Yuka ikut menatap sekeliling lalu menjawab, "Tadi aku dengernya, dia mau ke toilet."

Gadis berkacamata itu terkejut halus dan seketika menoleh pada Mika, "Eh bentar, aku baru sadar. Kamu manggil Asahi pake nama depannya ya?"

Mika tersentak halus, pipinya memerah. Ia sedikit menunduk lalu membalas pelan, "I-Iya... Kami udah saling manggil nama depan..."

"Aku dan Yuka juga begitu!" sahut Ryuji yang tiba-tiba merangkul Yuka.

Sok asik bet ni setan!

Yuka terkejut, wajahnya mengepul, hingga kacamatanya hampir copot, "R-Ryuji...! Kenapa kamu malah ngasih tau...?!"

Wajah Yuka sontak memerah, melihat Ryuji yang berada terlalu dekat dengannya.

Ryuji menoleh ke arah gadis di sampingnya, sedikit memiringkan kepalanya, "Kenapa enggak? Aku cuma ngasih tau kalo kita juga sama."

Yuka semakin memerah saat mata keduanya bertemu, hingga terdiam seribu bahasa. Uap halus muncul di atas ubun-ubunnya, padahal malam itu terasa dingin.

Mika yang melihat keduanya hanya tersenyum tipis, lalu menutup ringan bibirnya dengan jemari, "Begitu, ya? Ternyata Suzuki juga sama."

Kena balas bre!

Uap di atas kepala Yuka makin mengepul karen wajahnya yang main memanas. Ia menoleh cepat pada Mika lalu berusaha memberi penjelasan, "A-Aku lakuin ini karena terpaksa ya! Bukan berarti aku mau!"

Ryuji yang bingung kembali berucap, menatap pada Yuka, "Bukannya kau yang mau ikut aku manggil nama dep—"

"Sudahlah!" potong Yuka sambil menahan bibir Ryuji dengan telunjuknya. Kedua matanya dipejamkan rapat dengan wajah yang semerah tomat matang.

^^^>Ilustrasi dari AI.^^^

Ryuji tampak terkejut melihatnya, matanya membelalak tak percaya dan sontak berseru dalam hati, "Apa-apaan ekspresinya ini? Imutnya!"

Sepakat!

Meski saat itu wajahnya tidak memerah sama sekali, namun melihat keimutannya membuat cara pandang terhadap Yuka mulai berubah.

.........

Setelah beberapa lama, Moiro masih belum kembali.

Mungkin nyasar lagi.

Saat itu, Mika mulai cemas. Ia meremas ponselnya sendiri sambil menatap pesan yang ia kirim, lalu bergumam pelan, "Duh... Moiro kok belum kembali ya...?"

Pesan itu bahkan tidak dibaca oleh Moiro, dan itu menambah rasa cemas pada hatinya Mika.

Yuka juga mulai khawatir. Ia menatap gelang jam yang sudah menunjukkan pukul 19:32, dan hampir setengah jam lelaki itu belum jga kembali.

"Harusnya ke toilet gak selama ini, kan?" ucap Yuka pelan sambil menoleh pada Mika.

Ryuji yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba mengangkat tangan. Wajahnya tampak santai.

"Biar aku yang nyari dia," ucap Ryuji dengan santainya, ekspresinya tak menunjukkan kekhawatiran sama sekali seolah itu hal yang biasa, "Kalian bisa nunggu di sini."

Hal biasa matamu, baru kejadian itu weh!

Mika dan Yuka menoleh bersamaan, cukup terkejut dengan keputusan Ryuji.

"Eh? Kamu yakin?" tanya Mika, matanya mulai bersinar karena merasa ada harapan.

"Entah," balas Ryuji sedikit nyengir.

Oon!

"Aku lupa kalo dia itu Yamaguchi..." batin Mika mendatar, seketika hilang kepercayaan.

Gak bisa dipercaya. Setan emang.

Yuka kembali menatap jam tangannya, lalu menatap ke arah Ryuji, "Mungkin kamu harus cari dia. Asahi udah hampir setengah jam gak balik-balik."

Lelaki itu masih diam sambil mengupil, terlihat malas meladeni.

"Joroknya!" seru Yuka yang melihat itu.

Ryuji kemudian menghela napasnya, lalu menjawab dengan malas sambil bertolak pinggang, "Terserah dah. Aku sebenernya males nyariin dia."

Mika mendatar dalam hatinya, "Terus kenapa tadi mau nyariin?"

Ryuji pun menujuk dirinya sendiri dengan telunjuk, wajahnya tampak datar sedikit kesal, "Kalian ingat? Dia itu sering mukulin aku."

"Itu karena salahmu sendiri!" seru keduanya berbarengan, merasa capek dengan alasan yang diberikannya.

Ryuji diam sejenak. Wajahnya terlihat bodoh, "Apa iya?"

"Sudahlah!" seru Mika tak tahan lagi, makin kesal, "Mending cariin aja sebelum dia kenapa-kenapa..."

Ryuji kembali mengupil singkat, wajahnya tersenyum jahil.

Tangannya turun sedikit, dan senyumannya melebar, "Kayak khawatir banget sama Moiro. Kau pasti sayang banget sama dia ya?"

Mika tersentak hebat, wajahnya memerah padam, "I-Itu...!"

"Ryuji...!" seru Yuka menegurnya, menatap dengan tajam.

Ryuji sedikit bergidik karenanya, lalu segera berpaling setelah menurunkan tangannya lurus ke bawah.

"Ya udah," balasnya lalu segera berjalan ke jalan kecil yang mengarah pada toilet umum terdekat, "Aku cariin."

"I-Ingat, kamu jangan sampe ilang juga!" seru Yuka mengingatkan, pipinya memerah samar saat itu.

"Iya, iya! Aku pergi dulu!" balasnya tanpa menoleh, sambil terus mempercepat langkahnya.

...***...

Sementara itu, di salah satu bilik toilet, Moiro duduk di atas toilet duduk yang ditutup sambil membungkuk.

Lah, beneran di toilet ternyata.

Di sana, wajahnya tampak lelah seperti sudah menyerah pada kehidupan, hampir seperti orang kekurangan makan.

"Padahal aku cuma mau menghindari senior..." bisiknya samar, terlalu lirih, "Tapi aku malah kekunci dalam sini..."

Kenapa bisa kekunci etdah?!

Sebelumnya, Moiro memilih toilet umum yang jarang didatangi orang untuk bersembunyi. Namun, karena mekanisme aneh kunci toiletnya, ia terkunci dari luar.

Moiro mulai membayangkan kalau dirinya akan jadi arwah gentayangan seperti Hanako-san—setan toilet Jepang—versi lanang di toilet umum. Dan saat membayangkan kata “setan” di benaknya, ia merasa sebal dan jijik karena menjadi setan lebih dulu daripada teman setannya.

"Apa aku bakal mati...? Di dalam toilet?" bisiknya pelan, lalu mendongak dan berteriak sekencang-kencangnya, "MENGENASKAN BANGET KALO KEK GINIII!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!