Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34 : Calon Istri yang Terlalu Menjiwai

Pembawa acara kemudian mempersilakan perwakilan dari tiga perusahaan terbaik untuk naik ke atas panggung. Gunawan berdiri lebih dulu, ia merapikan jasnya sebelum berjalan menuju panggung dengan langkah tenang.

Di belakangnya, perwakilan PT Global Logistic International dan Dimas dari Mahendra Group juga ikut naik.

Begitu mereka berada di atas panggung, para wartawan langsung bergerak mendekat. Kilatan kamera memenuhi ruangan.

"Pak Gunawan, lihat ke sini!"

"Pak Dimas, sebelah kanan!"

"Semua menghadap kamera!"

Ketiga perwakilan perusahaan berdiri berdampingan untuk sesi foto. Gunawan menerima penghargaan untuk PT Pratama Logistik Nusantara dengan senyum bangga. Setelah itu, ia menoleh kepada Dimas.

"Selamat, Pak Dimas. Mahendra Group berhasil meraih posisi kedua."

Dimas tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak Gunawan."

Namun senyum di wajahnya tidak terlihat tulus.

Tatapannya justru beralih kepada penghargaan yang berada di tangan Gunawan. "Selamat juga untuk Bapak," ucap Dimas.

Gunawan mengangguk. "Terima kasih."

Dimas terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, "Semoga tahun depan posisi pertama itu menjadi milik saya."

Gunawan menatapnya dan dalam hatinya tertawa geli. "Sombong sekali anak ini."

Gunawan tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan Dimas beberapa detik, lalu menepuk pundaknya secara perlahan. "Kalau begitu, bekerja keraslah."

Dimas mengerutkan kening.

Gunawan tersenyum tipis. "Karena untuk mendapatkan posisi pertama, bukan hanya ambisi yang dibutuhkankan. Yang lebih penting adalah kemampuan mempertahankannya," lanjut Gunawan tenang.

Beberapa wartawan yang berada di depan mereka masih sibuk mengambil foto sehingga tidak menyadari percakapan singkat itu.

Dimas akhirnya tersenyum kembali. "Tentu, Pak. Saya akan mengingatnya."

Gunawan kemudian berjalan turun dari panggung. Dari kejauhan, Adrian yang berdiri sebagai pengawal memperhatikan semuanya dengan saksama. Tatapannya tertuju kepada Dimas. Pria itu memang terlihat seperti pengusaha muda yang percaya diri. 

Namun dari cara bicaranya, Adrian bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Dimas bukan hanya ingin mempertahankan posisi Mahendra Group.

Dia ingin mengambil lebih banyak, bahkan mungkin...

menguasai perusahaan-perusahaan lain di sekitarnya. Nadira yang berdiri tidak jauh dari Adrian ikut memperhatikan Dimas.

Ia kemudian berbisik, "Menurutmu, dia mencurigakan?"

Adrian tetap menatap panggung. "Belum tahu."

"Menurutku dia terlalu percaya diri."

Adrian mengangguk pelan. "Justru itu yang harus kita perhatikan."

Di atas panggung, Dimas kembali menatap ke arah Gunawan. Kemudian pandangannya beralih kepada sosok pengawal yang berdiri di samping Gunawan.

Adrian. Entah mengapa, wajah pria itu terasa familiar baginya.

Dimas menyipitkan mata.

Sementara Adrian tetap berdiri tenang di tempatnya. Namun di balik kacamata hitamnya, tatapan Adrian semakin tajam.

Malam ini bukan hanya tentang penghargaan.

Ia mulai menyadari bahwa orang-orang yang selama ini menguasai Mahendra Group mungkin menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang mereka duga.

"Jangan terlalu sombong Dimas, cepat atau lambat Mahendra Group akan aku rebut darimu," batin Adrian.

Gunawan menepuk pundak Adrian, "Sebaiknya kita pulang, Om yakin kamu sudah tidak nyaman dengan mereka," bisik Gunawan.

Adrian hanya mengangguk serius, ia berjalan setelah Gunawan dan Nadira berjalan. Di balik kaca mata hitamnya Adrian masih memperhatikan Miranda dan juga Dimas yang terlihat bahagia dengan pencapaiannya. 

"Urusan kita belum selesai," batinnya.

Gunawan, Nadira, dan Adrian akhirnya keluar dari ballroom. Begitu sampai di area depan gedung, mereka kembali disambut sejumlah wartawan yang masih menunggu para tamu penting.

Beberapa wartawan langsung menghampiri Gunawan.

“Pak Gunawan, boleh minta waktunya sebentar?”

“Pak, bagaimana perasaan Bapak setelah PT. Pratama Logistik Nusantara berhasil menjadi perusahaan terbaik pertama malam ini?”

Gunawan tersenyum ramah. “Tentu saja saya sangat bersyukur. Penghargaan ini merupakan hasil kerja keras seluruh tim.”

Beberapa kamera kembali mengarah kepadanya. Namun salah seorang wartawan kemudian melirik Nadira yang berdiri di samping Gunawan. 

“Pak, boleh kami bertanya satu hal lagi?”

“Tentu.”

“Wanita yang datang bersama Bapak sejak tadi siapa? Apakah wanita ini bagian dari keluarga Bapak?”

Gunawan langsung tersenyum. Ia menoleh kepada Nadira, lalu menjawab dengan santai, “dia adalah calon istri saya.”

Nadira yang mendengar jawaban itu langsung menahan tawa.

Sementara beberapa wartawan tampak terkejut.

“Calon istri?”

“Benarkah, Pak?”

“Sudah berapa lama menjalin hubungan?”

Gunawan hanya tersenyum sambil menatap Nadira.

Nadira akhirnya ikut tersenyum. Ia berusaha mengingat perannya malam ini. “Iya,” jawabnya sambil sedikit mengangguk. “Saya calon istri Gunawan Prasetyo.”

Beberapa wartawan langsung mengarahkan kamera kepadanya. Nadira tertawa kecil karena merasa canggung. “Saya sangat bangga dengan pencapaian calon suami saya malam ini. Dia sudah bekerja keras untuk perusahaan.”

Gunawan tersenyum puas.

“Wah, romantis sekali,” ujar seorang wartawan.

Nadira hanya tertawa kecil.

Namun tidak jauh dari mereka, Adrian yang berdiri sebagai pengawal justru mendengus pelan. Tatapannya tertuju kepada Nadira.

Kenapa Nadira seperti menjiwai sekali menjadi istri Om Gunawan?

Adrian memasukkan kedua tangannya ke depan tubuh. Dia sampai bilang bangga segala. Ia menghela napas pelan. Padahal dia itu keponakan Om Gunawan.

Adrian kembali melirik Nadira yang masih tersenyum di hadapan para wartawan. Entah kenapa, perasaan kesal mulai muncul.

Astaga... kenapa aku kesal?

Adrian segera mengalihkan pandangan. Dia hanya menjalankan perannya. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali tertuju kepada Nadira. Wanita itu sedang berdiri begitu dekat dengan Gunawan. Adrian semakin tidak nyaman.

Nadira yang kebetulan menoleh ke arahnya melihat ekspresi Adrian yang tampak berbeda. 

Ia mengerutkan kening. Kenapa dia?

Setelah beberapa pertanyaan selesai, Gunawan akhirnya berpamitan kepada para wartawan.

“Baik, terima kasih semuanya. Kami harus segera pulang.” Gunawan kemudian berjalan menuju mobil.

Nadira mengikutinya, tetapi sebelum masuk ke dalam kendaraan, ia sempat mendekati Adrian. “Kamu kenapa?” tanyanya pelan.

Adrian menatapnya datar. “Kenapa apanya?”

“Dari tadi wajahmu kelihatan kesal.”

“Aku biasa saja.”

Nadira menyipitkan mata. “Benarkah?”

Adrian mengangguk. “Ya.”

Nadira tersenyum jahil. “Jangan-jangan kamu cemburu?”

Adrian langsung menoleh. “Cemburu?”

“Iya.”

“Nggak.” Jawabannya terlalu cepat.

Nadira langsung terkekeh. “Kalau begitu kenapa jawabnya cepat sekali?”

Adrian mendengus. “Sudah, masuk mobil.”

Nadira masih tersenyum sambil berjalan menuju mobil. Sementara Adrian mengikuti dari belakang.

Namun dalam hati, pria itu masih berusaha mencari jawaban atas perasaannya sendiri.

Kenapa aku benar-benar kesal melihat Nadira berpura-pura menjadi istri Om? Ia menghela napas.

Jangan-jangan... aku benar-benar mulai menyukainya?

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!