Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Keputusan
Alena menutup buku, menatap cincin di jarinya. “Apakah aku harus memilih…” bisiknya pada kegelapan, “antara dunia yang dulu… atau pria yang sekarang?”
Keesokan harinya, langit di atas Istana Bulan Emas terlihat lebih gelap dari biasanya. Kabut abadi bergolak hebat, seolah sedang menahan sesuatu yang ingin pecah.
Raka berdiri di pelataran istana, siap berangkat ke jembatan pembatas waktu. Kael dan beberapa pengawal sudah menunggu dengan kuda. Luka-luka Raka belum pulih sepenuhnya, tapi dia tetap bersikeras pergi sendiri.
“Aku ikut,” kata Alena tegas, muncul dari balik pintu dengan jubah gelap sudah terpasang.
Raka menoleh, langsung mengerutkan dahi. “Tidak. Tinggal di istana. Kondisi di sana berbahaya.”
Alena tidak bergeming. “Aku sudah terlalu sering ditinggal. Kali ini aku ikut. Atau aku akan menyusul sendirian.”
Raka menatapnya lama. Melihat tekad di mata Alena, dia akhirnya menghela napas berat. “Baik. Tapi jangan jauh-jauh dariku.”
Perjalanan menuju jembatan terasa sunyi dan tegang. Semakin dekat, semakin jelas kerusakan yang terjadi. Saat mereka tiba, pemandangan di depan mata membuat Alena membeku.
Jembatan kristal yang biasanya berkilau keperakan kini retak di mana-mana. Beberapa bagian sudah ambruk, menyisakan lubang gelap yang menghisap kabut. Di sekitarnya, tubuh beberapa prajurit tergeletak—sebagian terluka parah, sebagian lagi tidak lagi bergerak. Darah mereka bercampur dengan debu kristal yang beterbangan.
Komandan perbatasan segera menghampiri, wajahnya pucat. “Yang Mulia… retakan semakin cepat melebar sejak dini hari. Kami sudah kehilangan tujuh orang hanya untuk menahan bayangan yang mencoba keluar.”
Raka turun dari kuda, wajahnya mengeras. Dia melangkah mendekati tepi jembatan yang paling parah, menatap lubang gelap di bawahnya.
Alena berdiri di belakangnya, napasnya memburu. Matanya tidak bisa lepas dari mayat-mayat prajurit dan retakan yang terus berdenyut seolah hidup. Cincin di jarinya panas membara, seolah berteriak. Di dalam kepalanya, kalimat dari buku kuno itu kembali terdengar jelas.
Darah suci dari yang terpilih… menutup jembatan selamanya… tidak ada jalan kembali.
Alena menelan ludah. Tangannya gemetar. Dia menatap punggung Raka yang tegang, lalu ke arah prajurit yang masih bertahan dengan wajah kelelahan, lalu ke retakan yang semakin besar.
Jika dibiarkan… lebih banyak orang akan mati. Raka akan terus bertarung sampai habis. Dunia di kedua sisi bisa hancur.
Dia sudah memutuskan. Tanpa banyak bicara, Alena melangkah cepat ke samping salah satu pengawal. Sebelum pria itu sempat bereaksi, dia menarik pedang dari sarungnya dengan gerakan tegas.
“Alena—!” teriak Raka, baru menyadari saat melihat kilatan bilah pedang.
Terlambat. Alena mengayunkan pedang itu ke lengannya sendiri. Goresan panjang terbuka di lengan bawahnya. Darah merah segar langsung mengalir deras, menetes ke permukaan kristal jembatan yang retak. Tetes demi tetes jatuh tepat di atas garis retakan.
Raka berlari menghampirinya, mata melebar penuh karena panik. “Alena! Apa yang kau lakukan?!”
Dia menangkap pergelangan tangan Alena, mencoba menahan pendarahan dengan tangannya sendiri. Tapi darah sudah lebih dulu menyentuh jembatan.
Di detik itu juga, seluruh permukaan kristal bergetar hebat. Cahaya keperakan menyembur dari retakan, menyebar seperti aliran air yang berbalik arah. Kabut di sekitar jembatan berputar liar. Suara dengungan rendah memenuhi udara, seolah sesuatu yang sangat besar sedang terbangun… atau tertutup.
Alena terhuyung, wajahnya pucat, tapi matanya tetap menatap Raka. Bibirnya bergetar saat berbicara. “Aku… tidak bisa membiarkan lebih banyak orang mati… dan aku tidak bisa membiarkan kau terus bertarung sendirian…”
Raka memegang wajahnya dengan tangan berlumuran darah, suaranya pecah. “Tolol! Aku bilang jangan—!”
Tapi getaran di jembatan semakin kuat. Cahaya keperakan naik tinggi, membentuk dinding tipis yang perlahan menutup lubang-lubang retakan. Bayangan hitam yang sempat mencoba muncul dari sisi lain berteriak tanpa suara, lalu tersedot kembali ke kegelapan. Jembatan… mulai menutup.
Darah Alena terus menetes. Setiap tetesan yang menyentuh kristal membuat jembatan bergetar semakin hebat. Cahaya keperakan menyembur liar dari retakan, membentuk garis-garis tipis yang merambat cepat seperti urat nadi menyala. Kabut di sekitar mereka berputar membentuk pusaran, menarik debu dan pecahan kristal ke udara.
Raka memegang lengan Alena dengan kedua tangan, mencoba menekan luka itu agar berhenti mengalir. Darah tetap merembes di sela jari-jarinya.
“Berhenti… tolong hentikan ini,” suaranya serak, hampir putus. “Alena, dengarkan aku! Aku tidak meminta kau melakukan ini!”
Alena terhuyung, lututnya melemas. Wajahnya semakin pucat. Dia masih berdiri hanya karena Raka menopangnya. “Aku… sudah baca di buku kuno itu,” bisiknya lemah. “Ini satu-satunya cara… menutupnya selamanya. Kalau tidak… kau yang akan habis, Raka. Semua orang di sini… akan habis.”
Getaran tiba-tiba berubah menjadi hentakan keras. Sebagian lantai jembatan retak lebih lebar. Beberapa prajurit berteriak dan mundur. Kael berlari mendekat, wajah tegang.
“Yang Mulia! Energi segel tidak stabil! Jika terus seperti ini, jembatan bisa pecah total sebelum tertutup!”
Raka tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada Alena. Dia bisa merasakan tubuh gadis itu semakin dingin di pelukannya. Tiba-tiba dari dalam retakan yang belum tertutup, sebuah bayangan hitam muncul lagi—lebih besar dan lebih padat dari sebelumnya. Suara desisan tajam terdengar, seolah sesuatu di sisi lain menolak ditutup. Bayangan itu meregang, mencoba meraih keluar, tepat ke arah Alena yang sedang meneteskan darah.
“Lindungi dia!” teriak Raka.
Kael dan dua pengawal langsung mengayunkan pedang, memotong tendrilan bayangan yang hampir menyentuh Alena. Bayangan itu menjerit tanpa suara, lalu tertarik kembali ke dalam, tapi retakan di sekitarnya semakin liar.
Alena mengerang pelan. Luka di lengannya tidak hanya mengeluarkan darah—cahaya keperakan samar mulai mengalir keluar bersama darahnya, seolah jembatan menghisap lebih dari sekadar cairan merah itu.
“Sakit…” gumamnya, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. “Rasanya… seperti ada yang menarik sesuatu dari dalam diriku…”
Raka semakin panik. Dia mencoba mengangkat tubuh Alena untuk menjauhkannya dari permukaan jembatan, tapi setiap kali darahnya terangkat, cahaya di retakan berkedip hebat dan getaran berubah menjadi guncangan yang hampir menjatuhkan mereka semua.
“Jangan pindahkan dia dulu, Yang Mulia!” seru Kael. “Darahnya sudah terikat dengan segel! Jika diputus paksa, bisa meledak!”
Raka menggemeretakkan gigi. Tangannya bergetar menahan Alena. “Berapa lama lagi?!”
“Tidak tahu!” jawab Kael, suara hampir tenggelam oleh dengungan energi. “Prosesnya tidak terkendali!”
Di bawah mereka, lubang gelap di jembatan mulai menyempit. Tapi semakin menyempit, semakin kuat tarikan yang dirasakan Alena. Tubuhnya kejang kecil. Cincin di jarinya menyala terang, seolah berusaha menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya.
Alena mengangkat tangan yang bebas, menyentuh pipi Raka yang basah oleh keringat dan darah. “Jika… jembatan ini tertutup…” suaranya sudah sangat lemah, “aku… tidak bisa kembali ke dunia manusia lagi… Tapi… tidak apa-apa… Asalkan kau selamat…”
Raka menatapnya dengan mata merah. “Jangan bilang seperti itu. Aku tidak menerima ini. Aku tidak menerima kau mengorbankan dirimu!”