Indonesia
NovelToon NovelToon
KKN DESA MATI

KKN DESA MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Author Melda

6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEASON 2. BAB 34 TANDA TANGAN DARAH

Angin malam menusuk sampai ke tulang begitu Maya mendorong pintu kosnya. Bau anyir dan kemenyan yang seharusnya sudah hilang sejak 40 hari lalu, justru makin pekat di dalam kamar.

Lampu neon berkedip. Tik... tik... tik...

Di lantai keramik, ada tiga garis panjang berwarna merah menghitam. Seperti diseret. Ujungnya berhenti tepat di bawah tempat tidurnya.

Jantung Maya berdegup kencang. Di atas bantalnya, tergeletak selembar kertas. Kertas cokelat tua. Rapuh. Bertuliskan aksara Jawa dengan tinta yang sudah menghitam.

Ia tidak berani menyentuh. Tangannya gemetar saat meraih HP. 20.59.

Grup KKN berdering.

Riko: May, lu udah di kos? Dari tadi ada suara orang jalan di atap kos lu.

Sinta: Iya May aku juga denger. Kayak suara perempuan nyeret kaki...

Bima: Gue di depan kos lu. Lampunya kedip-kedip.

Maya: Aku baru masuk. Ada kertas aneh di kamar.

Belum selesai diketik, listrik padam. Gelap gulita.

Brakkk!!!

Suara pintu kamar mandi dibanting dari dalam. Padahal Maya menguncinya sebelum berangkat kuliah.

“M-Maya?” Suara Bima dari luar. “Lu kenapa?”

“Tunggu!” teriak Maya.

Ia menyalakan senter HP. Cahaya kuning menyorot dinding kamar mandi. Dan di sana... tulisan darah.

"TIGA. KURANG DUA."

"DATANG KE POHON BERINGIN. JAM 12 MALAM."

"BAWA TANGAN KANANMU. UNTUK SEGEL."

Maya memuntahkan isi perutnya di kloset. Lututnya lemas.

Jam 23.17.

23.40 - DI KOS RIKO

Maya lari tanpa sendal. Mengetuk pintu kos Riko sampai tangannya sakit.

“Ko! Buka! Cepet Ko!”

Pintu terbuka. Riko pucat pasi. Di dalamnya, Sinta duduk di lantai sambil gemetar. Bima berdiri di pojok sambil merokok, tapi asapnya bergetar.

“Apaan sih May?!” Riko menarik Maya masuk.

Maya menunjukkan foto kertas dan dinding kamar mandinya. Sinta langsung menjerit kecil dan menutup mulut.

“Ya Allah...” bisik Sinta. “Itu kontrak darah May. Nenek aku cerita. Kalau desa nuntut, mereka kasih kertas. Yang tanda tangan... arwahnya nggak tenang.”

“Terus kita harus ke pohon beringin jam 12?” tanya Riko. “Gila. Itu jebakan.”

“Aku udah telpon Pak Lurah Karjo,” kata Maya. Suaranya pecah. “Beliau bilang... ini urusan kita. Urusan KKN kita. Beliau nggak bisa ikut campur lagi.”

Bima melempar puntung rokoknya. “Berarti bener. Bab 33 tadi. Hutang 3 nyawa.”

Keheningan. Hanya suara detak jam.

“Farhan udah satu,” kata Maya pelan. “Berarti kurang dua.”

Sinta menangis. “Aku nggak mau mati May...”

Jam menunjukkan 23.59.

00.00 - POHON BERINGIN DESA BAYUNGLENCIR

Mereka berempat kembali ke tempat itu. Tempat 40 hari lalu mereka meninggalkan jasad Farhan.

Kabut setebal kapas. Pohon beringin raksasa menjulang, akarnya seperti ular raksasa yang siap menerkam. Tanah di bawahnya masih hitam.

Angin mati.

Dari atas, terdengar suara. Creeet...

Sesosok turun. Melayang. Kain kafannya robek di perut. Wajahnya kosong. Hanya dua titik merah menyala di kegelapan.

Di tangannya, kertas yang sama. Tapi lebih besar. Di atasnya, ada satu tanda tangan. Merah.

FARHAN

Riko mundur. “Itu... itu tanda tangan Farhan. Gue kenal.”

Makhluk itu memiringkan kepala 180 derajat. Krek. Suaranya seperti paku digesek kaca.

“Sa-tu. Lunas.”

Tiba-tiba Riko terangkat. Dua meter dari tanah. Lehernya dicekik sesuatu yang tak terlihat.

“RIKO!!!” Maya berlari.

Makhluk itu mengulurkan kertas ke Maya. “Du-a.”

“Enggak!” Maya berteriak.

“Kalau tidak... semua. Mati.” Suara itu menggema dari tanah, dari pohon, dari dalam kepala mereka.

Sinta tiba-tiba maju. “Pakai punyaku! Jangan Maya! Kamu ketuanya!”

Ia menggigit jempolnya sampai berdarah. Menekan kuat ke kertas.

Sreeet.

Sidik jari Sinta. Di bawah nama Farhan.

Makhluk itu mengangguk. Melepas Riko. Duk.

Riko jatuh terbatuk. “Hampir... hampir mati gue...”

Tapi makhluk itu belum selesai. Ia menunjuk Maya. “Ti-ga. Pemimpin.”

“Apa maksudnya?!” teriak Maya sambil menangis.

“Yang buka. Portal. Harus. Tutup.”

Tanah bergetar. Retakan muncul di bawah pohon. Dari dalamnya keluar asap hitam dan jeritan ratusan orang. Bau bangkai 40 tahun menyeruak.

Di tengah retakan, muncul kotak kayu kecil. Di atasnya mangkuk tanah liat berisi cairan hitam pekat.

“Isi. Dengan. Darahmu.”

Maya gemetar. “Kalau aku menolak?”

“Desa. Bangkit. Semua. Mati. Termasuk. Mbok Darmi.”

Nama Mbok Darmi membuat Bima mengepal. “Jangan bawa-bawa Mbok!”

Air mata Maya jatuh. Ia mengambil pecahan genteng. Men-sayat telapak tangan kanannya.

Aaaahhh!!!

Darah menetes. Pluk... pluk... pluk...

Cairan di mangkuk mendidih.

Tanah mengaum. Jeritan dari dalam retakan memekakkan telinga. Lalu... sunyi.

Retakan menutup. Dengan suara tulang patah.

Makhluk itu membungkuk. Kertasnya terbakar jadi abu.

“Selesai. Untuk. Sekarang.”

Lalu hilang.

00.35 - KOS

Mereka diam. Riko masih memegangi lehernya. Tangan Maya diperban dengan kerudung Sinta.

“Jadi... udah?” tanya Sinta lirih.

Maya menggeleng. “Dia bilang ‘untuk sekarang’.”

HP Maya bergetar. Nomor tak dikenal.

[+62xxx]: "Terima kasih sudah bayar 2 nyawa. Hutang 1 lagi. Aku tunggu di rumah Pak Lurah Karjo. Jam 3 pagi. Bawa kepalamu. -D"

Bima merebut HP. “D? Darmi?!”

Maya menatap keluar jendela. Di kejauhan, rumah Pak Lurah Karjo menyala lampu kuning. Berkedip tiga kali.

“Besok,” bisik Maya. “Kita ke sana. Sekaligus cari tau tentang Mbok Darmi.”

Di kaca jendela, terpantul bayangan kelima. Memakai baju KKN. Tersenyum.

Wajahnya... Farhan.

Tapi matanya kosong. Hitam. Dan dari mulutnya keluar darah hitam yang menetes ke lantai.

"Te... teman-teman..." bisik bayangan itu. Suaranya persis Farhan. "Jam 3. Ayo. Kita. Pulang. Ke. Desa."

Lalu bayangan itu menghilang. Bersama dengan suara tawa perempuan yang

Lalu bayangan itu menghilang. Bersama dengan suara tawa perempuan yang sangat jauh.

Tawa itu melengking. Tinggi. Serak. Seperti seseorang yang dicekik tapi masih berusaha tertawa.

“Hahahaha... hahahaha...”

Suara itu berputar di dalam kamar. Dari pojok, dari atas langit-langit, dari bawah kolong tempat tidur.

Sinta langsung menjerit dan memeluk Maya erat. “Itu suara siapa May?!”

Bima langsung menyalakan lampu senter HP. Cahaya putih menyapu seluruh ruangan. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya mereka berempat dan udara dingin yang menusuk tulang.

Riko masih duduk di lantai. Napasnya memburu. “Gue... gue sumpah ngeliat dia. Farhan. Dia senyum ke gue.”

Tangannya menunjuk ke arah jendela. Di kaca itu sekarang sudah tidak ada bayangan. Hanya pantulan wajah mereka yang pucat pasi.

Jam di dinding berdetak. Tik... tak... tik... tak...

03.01.

Hening. Yang terdengar hanya suara napas mereka dan suara tawa itu yang semakin menjauh. Seperti ditarik masuk ke dalam tanah.

Maya menelan ludah. Telapak tangannya yang diperban terasa panas. Darah di dalamnya seperti berdenyut.

“Dia nyuruh kita ke desa. Jam 3.” Suaranya bergetar.

“Gila lu May,” kata Bima. Ia bersandar ke pintu. “Jam segini? Lewat kuburan? Lewat hutan? Itu bunuh diri namanya.”

“Kalau kita gak pergi, siapa yang jadi tumbal selanjutnya?” Maya menatap mereka satu-satu. “Pak Lurah Karjo udah bilang ini urusan kita. Mbok Darmi yang SMS. Berarti semua ini ada hubungannya sama dia.”

Sinta menggeleng. Air matanya jatuh. “Aku takut May. Dari tadi aku ngerasa ada yang ngawasin dari luar jendela. Kayak ada mata yang ngintip.”

Riko berdiri. Kakinya masih goyah. “Gue setuju sama Maya. Mending kita hadepin sekarang. Daripada nunggu di sini terus disiksa satu-satu.”

Ia menatap bekas cekikan di lehernya di pantulan kaca. Merah kehitaman. “Gue udah hampir mati tadi. Gue gak mau ngerasain lagi.”

Bima mengusap wajahnya kasar. “Anjing. Yaudah. Gue ikut. Tapi kita bawa senter, golok, sama air doa. Gue gak mau mati konyol.”

Maya mengangguk. Ia berjalan ke meja, mengambil tas selempangnya. Di dalamnya ada sajadah kecil, Al-Quran saku, dan botol air mineral.

Tangannya masih sakit setiap kali digerakkan. Tapi ia memaksakan diri.

“Jam 03.15,” kata Maya. “Kita jalan sekarang. Biar sampai sana pas jam 3.”

Mereka berempat keluar dari kos. Jalanan sepi. Hanya ada lampu jalan yang kuning dan anjing yang menggonggong dari kejauhan. Kabut mulai turun. Tipis. Tapi cukup untuk membuat jarak pandang hanya 3 meter.

Sepanjang jalan tidak ada yang bicara. Hanya suara langkah kaki mereka di aspal dan suara jangkrik.

Setiap kali mereka melewati pohon besar, Bima akan menyorotkan senter. Takut ada yang duduk di atasnya.

Setiap kali ada suara gesekan daun, Sinta akan langsung memeluk lengan Maya.

“May,” bisik Sinta. “Kamu inget gak, dulu Mbok Darmi pernah bilang apa? Waktu kita pertama kali datang ke desa.”

Maya mengernyit. Berusaha mengingat. “Dia bilang... ‘Anak-anak, jangan lewat pohon beringin setelah magrib. Dan jangan pernah utang budi sama desa ini’.”

“Utang budi,” gumam Riko. “Berarti ini karena KKN kita. Karena kita ganggu desa itu.”

Bima mendengus. “Ganggu apaan? Kita cuma mau bantu mereka.”

“Menurut kita,” sahut Maya pelan. “Tapi menurut mereka... kita yang buka portal.”

Mereka terdiam lagi.

Pukul 02.50. Mereka sudah sampai di pertigaan. Ke kiri jalan menuju kota. Ke kanan jalan setapak menuju Desa Bayunglencir. Jalan tanah, berlumpur, dan gelap gulita.

Di ujung jalan itu, terlihat gapura desa. Reot. Dan di atas gapura itu... ada sesosok duduk.

Tubuhnya kecil. Rambutnya panjang menutupi wajah. Memakai kebaya cokelat.

Mbok Darmi.

Ia menoleh pelan ke arah mereka. Dan tersenyum. Giginya hitam semua.

“Akhirnya datang juga... anak-anak KKN...”

Suara itu sama persis dengan suara di telepon tadi. Serak. Dari sumur tua.

“Jam 3. Tepat.”

Lalu Mbok Darmi berdiri dan berjalan masuk ke dalam desa. Tanpa menoleh lagi.

Maya mengepalkan tangan yang terluka. “Masuk.”

Langkah mereka ragu. Tapi tetap maju.

Karena mereka tau, kalau berhenti sekarang... yang mati berikutnya adalah salah satu dari mereka.

Tapi ini bukan gapura desa.

Ini PINTU BESI RUSUN TUA BLOK C LANTAI 13.

Kreeettt...

Pintu itu terbuka sendiri. Di dalamnya gelap gulita. Bau apek, pesing, dan bau bangkai yang sudah 10 tahun bercampur jadi satu.

Di ujung lorong, ada lampu bohlam kuning. Berkedip.

Tik... tik... tik...

Dan di bawah lampu itu, duduk sesosok.

Tubuhnya kecil. Rambutnya panjang menutupi wajah. Memakai daster cokelat lusuh.

Mbok Darmi.

Ia menoleh pelan ke arah mereka. Dan tersenyum. Giginya hitam semua. Ada bercak darah di sela-sela giginya.

“Akhirnya datang juga... anak-anak KKN...”

Suara itu sama persis dengan suara di telepon tadi. Serak. Seperti keluar dari pipa paralon tua.

“Jam 3. Tepat.”

Lalu Mbok Darmi berdiri dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Tanpa menoleh lagi. Langkahnya menyeret. Ting... ting... ting...

Maya mengepalkan tangan yang terluka. Perbannya sudah basah darah lagi.

“Masuk.”

Langkah mereka ragu. Tapi tetap maju.

Lantai 13 rusun ini kosong. Tidak ada penghuni. Dindingnya penuh coretan: "TIGA. KURANG SATU" "JANGAN PERCAYA DARMI"

Di tengah ruangan ada satu meja kayu tua. Di atasnya mangkuk tanah liat. Isinya cairan hitam yang menggelembung.

Di kursi sebelah meja, duduk Pak Lurah Karjo. Kepalanya miring 45 derajat. Lehernya patah. Tapi matanya masih terbuka menatap ke atas.

Bima langsung muntah. “Ya Allah...”

Riko menarik Maya ke belakang. “May, ini jebakan.”

Sinta menangis. “Kita pulang aja May... aku takut...”

Mbok Darmi berbalik. “Terlambat.”

Ia menunjuk ke arah jendela. Di luar, Kota Jakarta terlihat dari ketinggian. Tapi semua lampu kota padam. Gelap. Hanya Rusun Blok C ini yang menyala lampunya.

“Portal sudah terbuka di kota ini,” kata Mbok Darmi. “40 tahun lalu di desa. Sekarang di sini. Karena kalian.”

“Karena kami apanya?!” bentak Bima.

“Kalian yang buka dengan KKN itu. Kalian yang harus tutup. Dengan 3 nyawa.”

HP Maya bergetar lagi. Pesan masuk.

[+62xxx]: "PILIH. SIAPA YANG MATI. 5 MENIT."

Jam di dinding menunjukkan 03.01.

Tiba-tiba semua pintu di lantai 13 terbanting. Brakk! Brakk! Brakk!

Dari balik pintu, keluar suara langkah kaki. Banyak. Seret... seret...

Arwah. Ratusan arwah penghuni rusun yang mati 10 tahun lalu. Wajah mereka hancur. Sebagian tidak punya mata. Semua berjalan ke arah mereka.

“Farhan mana?!” teriak Maya. “Dia bilang akan nolong kita!”

Seolah mendengar namanya, lampu berkedip.

Dan di pojok ruangan, muncul bayangan. Memakai rompi KKN biru.

Farhan.

Tapi tubuhnya tembus pandang. Dari dadanya ada lubang besar.

“Aku... aku terlambat,” bisik Farhan. “Aku udah jadi penunggu. Aku gak bisa sentuh benda.”

Mbok Darmi tertawa. “Lihat! Bahkan penunggu pun tidak bisa nolong kalian!”

Ia mengambil mangkuk itu. “Minum. Salah satu dari kalian. Maka 400 arwah ini akan tenang.”

Maya maju. “Aku aja.”

“TIDAK!” Riko, Bima, Sinta serempak.

Maya menatap mereka. Air matanya jatuh. “Aku ketua. Aku yang tanggung jawab.”

Ia meraih mangkuk itu. Tangannya gemetar.

03.04.

Tepat saat bibir mangkuk mau menyentuh bibir Maya...

Brakkk!!!

Jendela pecah. Sesuatu masuk. Cepat.

Benda itu menabrak tangan Maya. Mangkuk itu terlempar. Pecah. Cairan hitam tumpah dan menguap dengan suara mendesis.

“JANGAN MINUM!!!”

Suara itu. Suara Farhan. Tapi kali ini dari belakang mereka.

Maya menoleh. Ada 2 Farhan. Satu di pojok. Satu di belakang.

Farhan yang di belakang memegang pecahan genteng. Tubuhnya nyata. Berdarah.

“Aku kabur dari alam sana,” kata Farhan yang nyata. Napasnya tersengal. “Buat nyelametin kalian.”

Mbok Darmi menjerit. Suaranya memecah kaca. “KALIAN SEMUA HARUS MATI!!!”

Lantai bergetar. Retakan muncul dari tengah ruangan. Dari dalamnya keluar asap hitam dan jeritan.

Farhan menarik tangan Maya. “Ke atap! Patahin antena rusun! Itu jantung portalnya!”

“Ta... tapi...”

“LARI SEKARANG!!!”

Mereka berempat langsung lari ke tangga darurat. Di belakang, Mbok Darmi dan ratusan arwah mengejar.

Tangga bergetar. Dinding berdarah.

Jam 03.05.

Di atas, di atap rusun. Ada antena besar berkarat. Mengeluarkan cahaya merah.

Maya mengangkat pecahan genteng. “Bismillah...”

1
Author Melda
gapapa kak :P next mampir pas bab serem yaa wkwk 👻
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
maaf ya gak mampir mampir
Author Melda
komen gais kalian pilih siapa👍
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
plis jangan datang itu namanya cari mati plis jangan
Author Melda: semoga aj yah kak do’a in 😥
total 3 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
what udah 40 hari masih pekat aja jujur janggal itu
Author Melda: YA AMPUN KAK 😭😭 Kepala pocong di cover?? Fix itu dia nitip iklan. Makanya bau kemenyan nya nyampe ke kakak. Tenang di Bab 39 nanti kepalanya udah gak ada... gantinya 146 kepala di lapangan 🥲 Berani lanjut gak??
total 5 replies
Tio Buki
Semangat ya thor👍👍👍👍👍🙏
Tio Buki: Yoi dek👍
total 4 replies
Tio Buki
Hadiah untukmu ya thor
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Masuk aja, jangan di berat berat kan
Tio Buki
Siapa takut😄
Tio Buki
Aku ngak ikut ya 😄😄😄
Tio Buki
Sprei gue nggak bisa datang 🤣
Tio Buki
Mampir thor🙏🙏🙏
Nandan Waluya
Mantap ceritanya kak 💪
Author Melda: heheh terimakasih kak sdh mampir👍
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sebelum baca BAB 6, aku coba jawab pertanyaan Kak Melda di akhir BAB ini...

Jawabannya adalah...

Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Di akhir BAB, aku bayangin begini:

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya membayangkan skenario spesial:

Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...

🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya pasti cuma berdiri aja sambil senderan tembok, menatap satu-satu semua temen KKN. Terus tersenyum aja lihat mereka begitu... hihihi...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya bangun dari rebahan, jalan deketin Selvi, dan bilang sama dia, "Gimana? Mau tukeran posisi ketua sama gue, gak?"
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo ada saya di dalam ceritanya, pasti saya udah rebahan santai... sambil bilang, "Nikmati aja dulu... hehehe..."
Author Melda: Nah kan 😈 Cocok jadi ketua penunggu sumur ini mah
"Nikmati aja dulu hehehe" - kata penunggu sumur ke mahasiswa KKN
Fix kakak aku jadiin bos terakhir ya 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!