"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Jena mengikuti Budi dan Bu Hana ke dapur. Begitu memasuki ruangan itu, langkahnya otomatis melambat. Matanya menyapu setiap sudut.
Dapur itu kecil, jauh berbeda dengan dapur di rumahnya. Hanya ada sebuah meja dapur sederhana, kompor dua tungku, beberapa lemari kayu, dan kulkas putih yang diletakkan di pojok ruangan.
Namun semuanya bersih dan tertata. Tidak ada peralatan yang menumpuk sembarangan. Botol-botol bumbu tersusun rapi di rak, begitu pun dengan piring dan peralatan masak lainnya.
"Jena," panggil Bu Hana sambil membuka salah satu lemari. "Kamu bisa masak?"
Jena langsung menggeleng. "Enggak, Bu."
Budi yang ada di sampingnya menahan tawa. "Bohong, Bu. Jena pinter banget masak, bahkan dulu katanya ikut master chef."
Jena menoleh pada Budi, mendelik kesal.
Bu Hana justru tertawa kecil. "Tak apa, nanti belajar. Tidak ada yang langsung pintar. Dulu Ibu juga belajar."
Jena mengangguk.
Bu Hana membuka kulkas, mengeluarkan bahan makanan yang akan mereka masak.
"Jena suka makan apa?"
"Saya...suka daging."
Bu Hana yang hendak mengambil ayam, langsung terhenti. Ia menoleh. "Ibu lagi gak ada stok daging."
"Enggak Bu, gak apa." Jena menggeleng cepat. "Saya... makan apapun kok."
"Yakin?" Budi menatap Jena, menahan senyum. Entah kenapa, bawaannya pengen senyum mulu melihat Jena yang nervous ketemu ibunya, apalagi diajak masak seperti ini. Ia seperti melihat Jena versi lain, yang justru membuatnya makin jatuh cinta.
"Yakinlah!" Jena melotot.
Bu Hana diam-diam tersenyum melihat tingkah Budi dan Jena. Ia bisa melihat cara Budi menatap Jena, putranya itu benar-benar sedang jatuh cinta. Tapi...ia tak melihat itu di mata Jena. Tapi sudahlah, mungkin Jena sedang tak mau menunjukkan. Jika memang tak mencintai Budi, tak mungkin Jena mau dilamar besok.
"Jena suka ikan gak?" tanya Bu Hana.
"Suka, Bu."
"Kalau gitu, nyari menu yang gampang, kita goreng ikan aja ya." Bu Hana mengeluarkannya ikan kembung dari dalam kulkas. Sudah dibersihkan sebelumnya, hanya tinggal cuci ulang dan marinasi saja. Ia juga mengeluarkan tempe dan tahu.
Budi bantu mencuci ikan, Bu Hana mengambil talenan, meletakkan di atas meja.
"Jena, bisa bantu potong tahu tempenya?"
Jena langsung mengangguk.
Bu Hana memberi contoh satu potongan, lalu meminta Jena melanjutkan.
Jena menganggap, tugas itu terlalu mudah. Tak sampai lima menit, tugas pertama itu sudah ia selesaikan dengan sempurna.
Bu Hana lalu memarinasi ikan, tempe dan tahu sebelum nanti di goreng. Ia menyiapkan bahan untuk sambal, juga mengeluarkan beberapa butir telur.
"Jena bisa dadar telur?" tanyanya.
Jena tersenyum kecut. Dadar telur terdengar mudah, ia juga sering memakannya, tapi belum pernah sekalipun melakukan itu. Tapi...rasanya malu untuk bilang tak bisa.
"Bisa, Bu."
Budi mengernyit, sedikit ragu dengan jawaban Jena.
"Ya udah, kalau gitu, Jena yang dadar telur ya." Ia menyiapkan wadah dan sendok untuk mengocok telur, menyerahkan pada Jena. "Ibu mau siapin sambal. Bud, kamu masak nasi."
Tanpa di suruh dua kali, Budi langsung mengambil beras untuk dicuci. Melihat Jena hanya bengong, ia mendekatinya.
"Gak akan selesai kalau cuma dilihatin. Yang iya telurnya gak mateng-mateng, malah jadi ayam," Budi cekikikan. "Sini aku ajarin." Budi mengambil satu telur, memecahkan cangkang, lalu memasukkan ke dalam mangkuk. "Lakukan kayak aku tadi."
Jena melihatnya gampang, tapi pas nyoba, ternyata tidak semudah itu. Ia ketuk cangkang telur beberapa kali, tapi belum pecah juga.
"Agak kuat dikit."
Plug
Budi menahan tawa.
Jena nyengir, telur itu jatuh sekalian cangkangnya ke dalam mangkuk. "Kata kamu yang kuat." Ia menyalahkan Budi.
"Kuat dikit, bukan pakai tenaga dalam juga." Budi akhirnya mengambil alih tugas Jena, memecahkan semua telur, lalu mengocoknya lepas. Ia menambahkan daun bawang, juga bawang merah dan putih iris yang sudah disiapkan ibunya. "Bisa gak cara dadarnya?"
Jena menggeleng.
Budi mengambil wajah, memanaskan minyak, lalu menggoreng telurnya.
"Wangi banget, Bud."
"Bau ku?"
"Telurnya!" Jena mendelik.
Bu Hana ganti memasak nasi, takut kalau di tunda-tunda, nanti malah gak mateng.
Setelah telur matang, Budi menambahkan minyak. Ia mau menggoreng ikan dan tempe tahu.
Setelah minyaknya panas, Budi meminta Jena untuk memasukkan ikan ke dalam wajan.
Srengg
"Awww!" Jena menjerit saat minyaknya meletup. Ia reflek mundur, lalu memeluk Budi, membenamkan wajah di dadanya.
"Jen, Jena." Tubuh Budi seketika kaku. "Jena."
"Bud, kamu ngerjain aku ya. Minyaknya meletup."
"Jena lepasin!"
"Hah!" Jena mengangkat wajah, menatap Budi.
"Malu sama Ibu."
Jena yang sadar sedang memeluk Budi, buru-buru melepas. Ia menoleh, melirik Bu Hana yang ternyata menatap ke arahnya dan Budi. Wajahnya seketika memerah.
Budi menahan tawa, lalu melanjutkan pekerjaan Jena. "Meletup dikit, gak apa-apa. Bu, kayaknya bikin tumis labu siam enak deh. Lagi pengen. Ada gak di kulkas?"
"Ada kayaknya. Jena, bisa minta tolong ambilin labu siam di kulkas?"
Jena terdiam. "Labu..."
"Labu siam," sahut Budi.
"Iya." Berjalan menuju kulkas, lalu membukanya.
Bu Hana sibuk menyiapkan bumbu tumis, tidak menyadari Jena cuma bengong di depa kulkas.
Budi yang menggoreng ikan, terus memperhatikan Jena.
Jena memandangi isi kulkas beberapa saat. Tangannya bergerak menyentuh beberapa bahan masakan disana.
Wortel. Tomat. Cabai, ia tahu. Tapi labu siam? Apaan itu? Ia bahkan baru mendengar istilah itu hari ini.
"Belum ketemu?" tanya Budi.
"Aku..."
"Ibu simpan di laci bagian bawah, Jen."
"Oh..." Jena langsung membungkuk, membuka laci kulkas bagian paling bawah. Sialnya di dalam sana ada berbagai macam sayuran, ia jadi bingung.
"Yang warna hijau itu, Jen." Budi memberi klue, takut Jena tak tahu.
Hampir semua disana warna hijau, mana dia tahu yang dimaksud Budi.