Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:757.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Jena mengikuti Budi dan Bu Hana ke dapur. Begitu memasuki ruangan itu, langkahnya otomatis melambat. Matanya menyapu setiap sudut.

Dapur itu kecil, jauh berbeda dengan dapur di rumahnya. Hanya ada sebuah meja dapur sederhana, kompor dua tungku, beberapa lemari kayu, dan kulkas putih yang diletakkan di pojok ruangan.

Namun semuanya bersih dan tertata. Tidak ada peralatan yang menumpuk sembarangan. Botol-botol bumbu tersusun rapi di rak, begitu pun dengan piring dan peralatan masak lainnya.

"Jena," panggil Bu Hana sambil membuka salah satu lemari. "Kamu bisa masak?"

Jena langsung menggeleng. "Enggak, Bu."

Budi yang ada di sampingnya menahan tawa. "Bohong, Bu. Jena pinter banget masak, bahkan dulu katanya ikut master chef."

Jena menoleh pada Budi, mendelik kesal.

Bu Hana justru tertawa kecil. "Tak apa, nanti belajar. Tidak ada yang langsung pintar. Dulu Ibu juga belajar."

Jena mengangguk.

Bu Hana membuka kulkas, mengeluarkan bahan makanan yang akan mereka masak.

"Jena suka makan apa?"

"Saya...suka daging."

Bu Hana yang hendak mengambil ayam, langsung terhenti. Ia menoleh. "Ibu lagi gak ada stok daging."

"Enggak Bu, gak apa." Jena menggeleng cepat. "Saya... makan apapun kok."

"Yakin?" Budi menatap Jena, menahan senyum. Entah kenapa, bawaannya pengen senyum mulu melihat Jena yang nervous ketemu ibunya, apalagi diajak masak seperti ini. Ia seperti melihat Jena versi lain, yang justru membuatnya makin jatuh cinta.

"Yakinlah!" Jena melotot.

Bu Hana diam-diam tersenyum melihat tingkah Budi dan Jena. Ia bisa melihat cara Budi menatap Jena, putranya itu benar-benar sedang jatuh cinta. Tapi...ia tak melihat itu di mata Jena. Tapi sudahlah, mungkin Jena sedang tak mau menunjukkan. Jika memang tak mencintai Budi, tak mungkin Jena mau dilamar besok.

"Jena suka ikan gak?" tanya Bu Hana.

"Suka, Bu."

"Kalau gitu, nyari menu yang gampang, kita goreng ikan aja ya." Bu Hana mengeluarkannya ikan kembung dari dalam kulkas. Sudah dibersihkan sebelumnya, hanya tinggal cuci ulang dan marinasi saja. Ia juga mengeluarkan tempe dan tahu.

Budi bantu mencuci ikan, Bu Hana mengambil talenan, meletakkan di atas meja.

"Jena, bisa bantu potong tahu tempenya?"

Jena langsung mengangguk.

Bu Hana memberi contoh satu potongan, lalu meminta Jena melanjutkan.

Jena menganggap, tugas itu terlalu mudah. Tak sampai lima menit, tugas pertama itu sudah ia selesaikan dengan sempurna.

Bu Hana lalu memarinasi ikan, tempe dan tahu sebelum nanti di goreng. Ia menyiapkan bahan untuk sambal, juga mengeluarkan beberapa butir telur.

"Jena bisa dadar telur?" tanyanya.

Jena tersenyum kecut. Dadar telur terdengar mudah, ia juga sering memakannya, tapi belum pernah sekalipun melakukan itu. Tapi...rasanya malu untuk bilang tak bisa.

"Bisa, Bu."

Budi mengernyit, sedikit ragu dengan jawaban Jena.

"Ya udah, kalau gitu, Jena yang dadar telur ya." Ia menyiapkan wadah dan sendok untuk mengocok telur, menyerahkan pada Jena. "Ibu mau siapin sambal. Bud, kamu masak nasi."

Tanpa di suruh dua kali, Budi langsung mengambil beras untuk dicuci. Melihat Jena hanya bengong, ia mendekatinya.

"Gak akan selesai kalau cuma dilihatin. Yang iya telurnya gak mateng-mateng, malah jadi ayam," Budi cekikikan. "Sini aku ajarin." Budi mengambil satu telur, memecahkan cangkang, lalu memasukkan ke dalam mangkuk. "Lakukan kayak aku tadi."

Jena melihatnya gampang, tapi pas nyoba, ternyata tidak semudah itu. Ia ketuk cangkang telur beberapa kali, tapi belum pecah juga.

"Agak kuat dikit."

Plug

Budi menahan tawa.

Jena nyengir, telur itu jatuh sekalian cangkangnya ke dalam mangkuk. "Kata kamu yang kuat." Ia menyalahkan Budi.

"Kuat dikit, bukan pakai tenaga dalam juga." Budi akhirnya mengambil alih tugas Jena, memecahkan semua telur, lalu mengocoknya lepas. Ia menambahkan daun bawang, juga bawang merah dan putih iris yang sudah disiapkan ibunya. "Bisa gak cara dadarnya?"

Jena menggeleng.

Budi mengambil wajah, memanaskan minyak, lalu menggoreng telurnya.

"Wangi banget, Bud."

"Bau ku?"

"Telurnya!" Jena mendelik.

Bu Hana ganti memasak nasi, takut kalau di tunda-tunda, nanti malah gak mateng.

Setelah telur matang, Budi menambahkan minyak. Ia mau menggoreng ikan dan tempe tahu.

Setelah minyaknya panas, Budi meminta Jena untuk memasukkan ikan ke dalam wajan.

Srengg

"Awww!" Jena menjerit saat minyaknya meletup. Ia reflek mundur, lalu memeluk Budi, membenamkan wajah di dadanya.

"Jen, Jena." Tubuh Budi seketika kaku. "Jena."

"Bud, kamu ngerjain aku ya. Minyaknya meletup."

"Jena lepasin!"

"Hah!" Jena mengangkat wajah, menatap Budi.

"Malu sama Ibu."

Jena yang sadar sedang memeluk Budi, buru-buru melepas. Ia menoleh, melirik Bu Hana yang ternyata menatap ke arahnya dan Budi. Wajahnya seketika memerah.

Budi menahan tawa, lalu melanjutkan pekerjaan Jena. "Meletup dikit, gak apa-apa. Bu, kayaknya bikin tumis labu siam enak deh. Lagi pengen. Ada gak di kulkas?"

"Ada kayaknya. Jena, bisa minta tolong ambilin labu siam di kulkas?"

Jena terdiam. "Labu..."

"Labu siam," sahut Budi.

"Iya." Berjalan menuju kulkas, lalu membukanya.

Bu Hana sibuk menyiapkan bumbu tumis, tidak menyadari Jena cuma bengong di depa kulkas.

Budi yang menggoreng ikan, terus memperhatikan Jena.

Jena memandangi isi kulkas beberapa saat. Tangannya bergerak menyentuh beberapa bahan masakan disana.

Wortel. Tomat. Cabai, ia tahu. Tapi labu siam? Apaan itu? Ia bahkan baru mendengar istilah itu hari ini.

"Belum ketemu?" tanya Budi.

"Aku..."

"Ibu simpan di laci bagian bawah, Jen."

"Oh..." Jena langsung membungkuk, membuka laci kulkas bagian paling bawah. Sialnya di dalam sana ada berbagai macam sayuran, ia jadi bingung.

"Yang warna hijau itu, Jen." Budi memberi klue, takut Jena tak tahu.

Hampir semua disana warna hijau, mana dia tahu yang dimaksud Budi.

1
Sugiharti Rusli
apalagi dia sudah bercerai dari mama Asri, paling yang akan terganggu si Jena kan si Naura punya perasaan lain sama Budi
Sugiharti Rusli
meski bukan putri kandungnya, tapi Naura dirawat sejak lahir oleh Andika
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya kalo si Juwita akhirnya berumur pendek sèpertinya Andika akan mengajak tinggal bersamanya lagi
Sugiharti Rusli
ternyata si Naura masih memiliki kakek-nenek dari pihak ibunya, jadi dia ga sendirian juga yah
Sugiharti Rusli
memang sih sebuŕuk apapun si Juwita bagi orang lain, di mata anak" nya mereka tetap sayang padanya,,,
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Kasihan juga Juwi...mungkin Naura ikut dgn Andika
Eli Rahma
HIV
Opi Sofiyanti
kupikir pancreas tuh cm buat cowok.. 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
karma bagi pelakor 😡😡😡
ntar Naura ikut Andika jangan sampai Dia juga jadi pelakor dalam Rumah Tangga Jena😡😡😡
Agus Tina
Aku kok nggak kas8han sama Juwita, ayo Andika saidara2 Juwita yg sudah kau tolong masukan mereka ke perusahaan sama sekalintidak mau menolong Juwita, itu karma buat Juwita. Tp mauku buat mereka melakukan kesalahan thor habis itu airih Jena pecat mereka
🌷Vnyjkb🌷
over alkohol pas LC tu,
🌷Vnyjkb🌷
susuknya lompat🤭😜😜
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Kar Genjreng
kebanyakan diet makan kurma kali ya jadinya sakitnya gitu,,,,, saudaranya pada ga mau dekat lagi karena Juwita sudah hidupnya tidak seperti dulu,,,,ketika hidupnya bergelimang. mirip semut ngerubungi seperti gula,,, begitu sudah tak berdaya dan kismin. pada menjauh takut ketularan miskin,,,,maka jangan terlalu
bangga karena bnyak saudara. atau teman kala senang kala susah menjauh 🤔😮
ryuka
kasian ga kasian diihh tapi mungkin ini karmu juwita
Asih Rahmadhani Bohara
kasian banget sbnrnya sama Jena.. padahal udh jelas2 Naura bukan anaknya. msh aja peduli sampai skrg.. udh d khianati juwita berkali2.. msih aja ada rasa iba.. udh cocok banget bu asri mnta cerai
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
yaa pasti karena selama ini juwita sombong dan tak perduli sama keluarga nya. makanya saat juwita sakit, mereka ganti tak perduli dengan keadaan juwita. sekarang baru tahu kan? gimana rasanya di abaikan juwita...
Shee_👚
ini yang dulu muntah² di pikir juwita hamil lagi
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
gimana nih! kasihan enggak nih? 🤭 mau kasihan tapi ingat kelakuan kamu juwita. tapi kalau enggak kasihan kok kebangetaannn bangett 😆 yaa sudahlah, setidaknya kini kamu sudah mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan di masalalu juwita. sebelum terjadi sesuatu sama kamu, ada baik nya kamu minta maaf sama bu asri dan jena. supaya langkah mu tak berat lagi juwita..
Azizah az: aku banget ini 😂🤭🤭
total 3 replies
Asih Rahmadhani Bohara
segitunya sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!