Indonesia
NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Kencan yang Digagalkan

Sabtu siang, Cornelia memesan ruang makan privat di sebuah restoran PIK Avenue.

Ia membawa Lia dengan alasan teh yang disukai Jessica sudah disiapkan dari rumah dan pelayanan keluarga harus terasa pribadi. Lia tahu alasan sebenarnya. Cornelia ingin menunjukkan tata rumah Wijaya yang rapi sekaligus melihat bagaimana Sebastian bersikap saat Lia berada di dekatnya.

Jessica datang tepat waktu bersama Om Salim. Ia mengenakan gaun krem sederhana, tidak berlebihan, dan menyapa semua orang dengan sopan.

“Tante Cornelia, terima kasih sudah mengundang.”

“Panggil Tante saja. Kita bukan orang asing.”

Sebastian berdiri untuk menyambut. “Selamat siang, Jessica.”

“Selamat siang, Sebas.”

Lia yang sedang menuang teh menahan tangan agar tidak goyah mendengar panggilan intim itu diucapkan begitu alami.

Jessica memperhatikannya sekilas. Pesan Vanessa jelas membuatnya tahu siapa Lia, tetapi ia tidak langsung menunjukkan sikap buruk.

“Tehnya wangi,” katanya.

“Lia yang menyiapkan campurannya,” jawab Cornelia. “Dia membantu rumah kami.”

“Terima kasih, Lia.”

“Sama-sama, Nona Jessica.”

Makan siang dimulai dengan percakapan aman tentang acara amal, perkembangan PIK, dan proyek keluarga Salim. Om Salim beberapa kali mengarahkan topik kepada kerja sama properti. Cornelia mengarahkannya lagi kepada kecocokan anak-anak mereka.

“Jessica suka desain interior,” katanya. “Sebas suka bangunan. Pasti banyak bahan bicara.”

Jessica tersenyum. “Saya hanya suka melihat. Sebas yang benar-benar paham teknis.”

“Pekerjaan saya lebih banyak biaya, izin, dan jadwal daripada gambar indah,” jawab Sebastian.

Ia sopan, tetapi tidak membuka pintu. Setiap pertanyaan dijawab secukupnya, tak ada pujian pribadi atau usaha mengenal lebih jauh.

Di bawah meja, Cornelia menyentuh lengan anaknya sekali sebagai teguran.

Sebastian mengambil cangkir. Jarinya mengetuk porselen tiga kali.

Lia yang berdiri di meja samping mendengar.

Saya di sini.

Ia menekan ujung kuku ke baki tiga kali, cukup pelan agar hanya Sebastian yang memahami.

Jessica melihat pertukaran kecil itu, meski belum tahu artinya.

“Sudah lama Lia bekerja di rumah Tante?” tanyanya.

“Belum terlalu lama,” jawab Cornelia. “Tapi Bryan sangat melekat. Kalau tidak ada Lia, susunya susah masuk.”

“Berarti pekerjaannya penting.”

Vanessa tidak hadir, tetapi pesannya membuat Jessica memperhatikan lebih teliti. Ia melihat liontin rantai tipis yang sebentar tampak di balik kerah Lia sebelum disembunyikan. Ia juga melihat Sebastian selalu tahu kapan teko Lia hampir kosong tanpa perlu menoleh langsung.

“Lia asal mana?”

“Singkawang, Nona.”

“Saya pernah ke sana saat festival. Kota yang hangat.”

Percakapan itu sopan, tetapi membuat Lia merasa sedang dinilai dari berbagai sisi. Bukan hanya sebagai pekerja, melainkan sebagai kemungkinan yang sudah diperingatkan Vanessa.

Cornelia menyela, “Jessica juga pintar mengelola yayasan keluarga. Kalau nanti punya rumah sendiri, Tante yakin semuanya rapi.”

Maksudnya jelas. Ini bukan sekadar makan siang, melainkan wawancara calon nyonya rumah di depan perempuan yang diam-diam telah dipilih Sebastian.

“Sebas,” kata Om Salim, “setelah makan ajak Jessica lihat toko buku atau galeri. Anak muda lebih enak bicara tanpa orang tua.”

“Maaf, Om. Saya harus ke kantor proyek Nara.”

Hendra tidak hadir, tetapi tekanannya seolah duduk di kursi kosong. Cornelia langsung berkata, “Rapat bisa ditunda satu jam.”

“Ada revisi keselamatan yang harus saya tanda tangani sebelum pekerjaan sore. Tidak bisa.”

Ia menunjukkan pesan dari tim teknik. Foto perancah dan catatan perhitungan beban sudah masuk, membuktikan alasan kerja bukan kebohongan untuk kabur.

“Kalau tanda tangan terlambat, pekerjaan dihentikan. Itu pilihan yang benar dibanding memaksa jadwal,” kata Jessica.

Om Salim tampak kurang senang. “Manajer lain bisa tanda tangan.”

“Nama saya yang tercatat sebagai penanggung jawab pemeriksaan hari ini,” jawab Sebastian. “Saya tidak akan memindahkan tanggung jawab hanya untuk menjaga kesan sebuah kencan.”

Jessica meletakkan garpu. “Tidak apa-apa, Tante. Pekerjaan keselamatan memang tidak seharusnya ditunda.”

Sikapnya membuat Lia semakin sulit membencinya.

“Saya bisa mengantar sampai lobi sebelum pergi,” tambah Sebastian.

“Tidak perlu,” jawab Jessica. “Saya masih mau menemani Tante melihat beberapa toko.”

Cornelia tersenyum lagi, tetapi jelas kecewa.

Saat hidangan penutup datang, Lia mendengar dua perempuan dari meja luar ruang privat bercakap dekat pintu yang terbuka.

“Itu anak Salim, ya? Katanya mau dijodohkan dengan Sebastian Wijaya.”

“Cocok. Keluarga besar sama keluarga besar.”

“Kalau jadi, pestanya pasti luar biasa.”

Kata-kata itu hanya omongan pengunjung, tetapi tetap membuat perut Lia terasa kosong.

Ia membayangkan foto Sebastian dan Jessica beredar di grup arisan sebelum malam. Orang-orang tidak butuh persetujuan keduanya untuk menulis cerita. Nama besar, pakaian pantas, dan satu meja makan sudah cukup dianggap bukti.

Sebaliknya, Lia dan Sebastian bisa berciuman di bawah langit yang sama, tetapi Lia tetap harus berdiri di samping meja sebagai pekerja.

Rasa tidak adil itu menyakitkan. Namun, ia juga ingat map kelas di bawah bantal. Posisi hari ini bukan posisi selamanya.

Ia menunduk, pura-pura memeriksa teko.

Sebastian melihat perubahan wajahnya. Ia tidak bisa menyentuh atau menenangkan di depan semua orang. Ketika Cornelia sibuk menunjukkan sesuatu di ponsel kepada Jessica, ia mengambil satu permen susu dari mangkuk restoran dan meletakkannya diam-diam di ujung baki Lia.

Lia menatap permen itu.

Sebastian mengetuk meja sekali, isyarat lama untuk makan.

Ia hampir tersenyum. Lia menyelipkan permen ke saku, menyimpan manis kecil itu untuk nanti.

Setelah makan, Sebastian berdiri. “Terima kasih untuk waktunya, Jessica. Saya ingin jelas supaya tidak ada salah paham. Saya hadir karena menghormati keluarga, tetapi saya tidak sedang mencari hubungan.”

Jessica menatapnya lurus. “Apakah ada seseorang?”

Cornelia segera berkata, “Sebas terlalu sibuk untuk siapa pun.”

Sebastian tidak mengiyakan. “Ada keputusan pribadi yang belum bisa saya jelaskan di meja ini. Tapi keputusan itu membuat saya tidak bisa menawarkan hubungan kepada kamu.”

Mata Jessica sempat bergeser kepada Lia, lalu kembali ke Sebastian.

“Cukup jelas,” katanya.

Cornelia menegang. Om Salim mengerutkan kening.

Jessica justru mengangguk. “Terima kasih sudah jujur.”

“Sebas, tidak perlu bicara sekeras itu,” kata Cornelia.

“Lebih baik jelas sekarang.”

Ia pamit, lalu berjalan keluar dari ruang privat. Lia tetap menata cangkir, tidak melihat kepergiannya sampai suara langkah menghilang.

Beberapa menit kemudian, Cornelia mengajak Jessica melihat butik. Lia membawa kotak teh dan tas belanja menuju portico mall untuk menunggu mobil.

Sebastian ternyata belum pergi. Ia berdiri dekat mobil Pak Kelik, menelepon tim proyek. Saat melihat Lia, ia mengakhiri panggilan.

“Permennya dimakan.”

“Nanti.”

“Sekarang kamu belum makan penutup.”

Lia membuka bungkus dan memasukkan permen ke mulut. “Puas?”

“Sedikit.”

“Sebas harus pergi.”

“Saya menunggu memastikan kamu baik-baik saja.”

Lia menahan diri agar tidak menyentuhnya. “Saya baik. Jessica juga baik. Jangan mempermalukan dia.”

“Saya tidak akan.”

“Dan jangan sengaja terlalu dingin. Jujur cukup.”

Sebastian mengangguk. “Baik.”

Suara sepatu mendekat dari pintu mall. Lia segera mundur dua langkah dan menundukkan kepala seperti pekerja.

Jessica muncul sendiri, rupanya kembali mengambil ponsel yang tertinggal di meja.

Ia melihat jarak Lia dan Sebastian, bungkus permen di tangan Lia, serta cara mata Sebastian tetap tertuju kepada perempuan itu.

“Jadi,” kata Jessica pelan, “kamu pembantu yang sangat disayangi itu?”

1
Rian Moontero
mpiiirrr👍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!