Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Ibu Tiri / Ruang Ajaib
Popularitas:32k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.

Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.

"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.

"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.

Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEBAKAN

Liam melirik istrinya sekilas, lalu mendengus pelan.

"Bawel," gerutu Liam singkat, meski dia tidak bisa menahan senyuman tipis di balik wajah datarnya.

"Aku pergi dulu," ucap Liam berlalu pergi dari sana.

"Hem," jawab Aleta bergumam pelan.

"Aku sangat yakin, wanita tidak tahu malu itu pasti akan menggatal ke suamiku nanti, cih!" batin Aleta berdecih kesal.

Di luar Liam dan Seno menunggangi kuda hitam mereka membelah malam menuju kediaman Duke Daniel.

Setibanya di sana, suasana kediaman Duke Daniel tampak megah namun terkesan sunyi dan mencurigakan.

Seorang pelayan pribadi menyambut kedatangan Liam di pintu depan, lalu mengantarkannya langsung menuju sebuah ruang tamu pribadi yang hangat dan agak terpencil.

"Silakan masuk, Jendral Liam, Tuan Duke sudah menunggu di dalam," ucap pelayan itu membungkuk hormat, lalu membuka pintu kayu berukir emas di hadapan mereka.

Liam melangkah masuk dengan langkah mantap dan tanpa rasa takut sedikit pun, sementara Seno berjaga siaga di luar pintu utama.

Di dalam ruangan yang temaram itu, Duke Daniel sudah duduk menunggu di sofa mewah, namun yang mengejutkan, di sudut ruangan yang sama, Serra tampak berdiri dengan senyuman manis yang disembunyikan di balik kipas lipatnya.

"Selamat datang, Jendral Liam Volis yang terhormat," sapa Duke Daniel ramah, meski senyuman di wajah tua itu tampak penuh kepalsuan.

Liam menghentikan langkahnya, menatap kedua orang ayah dan anak itu dengan tatapan dinginnya.

"Langsung saja ke intinya, Duke Daniel, saya tidak punya banyak waktu luang untuk basa-basi dengan kalian," jawab Liam datar, menolak duduk dan memilih melipat kedua tangannya di dada.

Duke Daniel tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa tersinggung atas sikap dingin dan tidak sopan yang ditunjukkan oleh sang jendral di hadapannya.

Pria paruh baya berbadan gempal itu mengusap cincin di jarinya pelan, lalu menunjuk ke arah sofa empuk di depannya.

"Silakan duduk dulu, Jendral, jangan terburu-buru begitu, malam masih panjang dan ada banyak hal menarik yang bisa kita bicarakan di sini," ucap Duke Daniel dengan nada sok ramah.

Liam sama sekali tidak bergeming dari tempatnya, tatapan matanya semakin menajam mengamati setiap gerak-gerik mencurigakan di dalam ruangan tersebut.

"Aku bilang, langsung ke intinya saja, Duke. Jangan buang-buang waktuku dengan basa-basi busuk kalian," jawab Liam datar, suaranya yang berat menggema tegas di seluruh ruangan.

Di sudut ruangan, Serra perlahan melangkah maju mendekati meja tengah sambil menyunggingkan senyuman penuh arti.

"Jendral Liam ini benar-benar tidak sabaran, ya," ucap Serra dengan nada manja yang sengaja dilembutkan.

"Ayahku hanya ingin membahas masa depan militer wilayah kita, tapi sepertinya Anda lebih memilih buru-buru pulang untuk menemui wanita kampungan itu, ya?" sindir Serra tajam.

Liam melirik Serra sekilas dari sudut matanya, lalu mendengus kasar dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi.

"Jaga mulutmu, Lady Serra, istriku jauh lebih berharga daripada seluruh isi kediaman kalian yang penuh tipu muslihat ini," jawab Liam marah, sukses membuat senyuman di wajah Serra langsung luntur seketika.

Wajah Duke Daniel berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang mendadak menegang.

"Ehem!"

"Sudahlah, Serra, mundur ke belakang," perintah Duke Daniel pada putrinya, lalu kembali menatap Liam dengan tatapan menilai.

"Baiklah, Jendral, kalau Anda memang tidak suka basa-basi, mari kita bicara soal segelas anggur penyambutan ini," kata Duke Daniel sambil mendorong sebuah piala perak berisi cairan merah pekat ke tengah meja.

Liam melirik anggur itu, lalu mencium samar aroma obat yang sengaja dicampurkan ke dalamnya.

Seketika sudut bibir Liam terangkat membentuk senyuman miring yang dingin dan mematikan.

"Wah, rupanya sambutan kalian malam ini diisi dengan menu minuman yang cukup bagus" sindir Liam tenang, sama sekali tidak menunjukkan rasa panik.

Serra yang tadinya cemberut mendadak kembali tersenyum lebar, mengira targetnya sudah terpancing perangkap.

"Minumlah, Jendral, itu anggur khusus yang diimpor langsung dari kerajaan seberang untuk menyambut tamu agung seperti Anda," bujuk Serra dengan mata berbinar penuh harap.

Liam mendengus geli, melangkah maju perlahan lalu meraih piala perak tersebut.

Alih-alih meminumnya, Liam justru mengangkat gelas anggur itu tinggi-tinggi di depan wajah Duke Daniel dan Serra.

"Sayang sekali, aku tidak punya kebiasaan meminum sisa racun murahan dari tikus got," ucap Liam dingin.

Pyar

Gelas itu langsung dilempar begitu saja ke lantai marmer hingga hancur berkeping-keping, membuat cairan anggurnya menciprat ke ujung sepatu Duke Daniel.

Duke Daniel dan Serra terbelalak kaget secara bersamaan, wajah mereka langsung pucat pasi melihat rencana busuk mereka terbongkar dalam sekejap.

"K-kau...!" jerit Serra histeris, menunjuk ke arah Liam dengan jari yang gemetar ketakutan.

Duke Daniel langsung berdiri dari kursinya dengan napas tersengal-sengal, wajah tua pria itu mendadak pucat pasi melihat pecahan piala di lantai.

Sebelum Duke Daniel sempat membuka mulut untuk beralasan, Liam tiba-tiba merasakan sensasi panas yang tidak wajar mulai menjalar dengan cepat dari tenggorokan hingga ke sekujur aliran darahnya.

"Sial!"

Batin Liam menggeram tertahan, mengepalkan kedua tangannya sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Meskipun Liam berhasil menghindari meminan anggur itu, dia tidak menyadari bahwa beberapa saat sebelumnya dia sempat mencicipi sepotong kue kecil yang dihidangkan di atas meja kecil dekat pintu masuk saat pertama kali datang.

Serra yang tadinya sempat syok melihat gelas anggur nya dilempar kini kembali tersenyum licik, menyembunyikan seringai kemenangan di balik kipas lipatnya.

"Ada apa, Jendral? Wajahmu tampak pucat sekali, sepertinya udara di ruangan ini mulai terasa terlalu panas untukmu," sindir Serra dengan nada manis yang terdengar begitu menyebalkan.

Liam menatap tajam ke arah Serra, rahangnya mengeras hebat menahan gelombang panas yang mulai membakar kesadarannya.

Dia bukan pria bodoh, dia tahu persis dirinya telah dijebak lewat makanan ringan yang disajikan tadi.

"Kalian... benar-benar sekumpulan pengecut yang tidak punya harga diri!" geram Liam dengan suara berat yang menekan, mencengkeram tepi meja hingga berderit nyaring.

Duke Daniel yang melihat kondisi Liam mulai melemah berusaha memasang wajah sok tenang, meski keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

"Jendral Liam, tenanglah... Anda mungkin hanya kelelahan karena urusan istana, lebih baik Anda beristirahat di kamar tamu yang sudah kami sediakan bersama putriku..." bujuk Duke Daniel dengan nada pura-pura peduli.

Liam mendengus kasar, menolak mentah-mentah tawaran menjijikkan itu, dia mengerahkan seluruh sisa tenaga dan tekadnya untuk melawan pengaruh obat yang mulai mengaburkan pandangannya.

"Simpan saja omong kosong kalian! Aku tidak akan sudi menyentuh barang bekas murahan seperti putrimu!" bentak Liam tajam, menatap Serra dengan tatapan penuh jijik.

Wajah Serra langsung berubah merah padam mendengar hinaan dari pria pujaan hatinya.

1
Ita Xiaomi
Julian ntar dpt adik kecil yg imut dan menggemaskan 😁
Ita Xiaomi
😁😁😁istrinya.
Ita Xiaomi
Ayo Liam semangat cepat pulang ke rumah💪
Ita Xiaomi
Wah happy nih Julian klo diajak jalan-jalan ama ibu tersayang 😁
Ita Xiaomi
Seno pengen strawberry😁. Jendral berilah, kasihan Seno.
Ita Xiaomi
Bocil auto kepo🤣
Ita Xiaomi
Garel seandainya kamu tau klo istri Jendral Liam lebih menakutkan.
Tiara Bella
wow akhirnya bersatu jg Aleta sm liam /Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
miss blue 💙💙💙
hareudaaannnggg 🥵🥵🥵🤣🤣🤣
miss blue 💙💙💙
ooohh keponakan ternyata,, anak tiri?? apa dia nikahin istri kakaknya?? 🤔🤔🤔
Dewi Habibah
wadoh 😍
kaylla salsabella
yeeeeee akhirnya main kuda" an 🤣🤣🤭🤭🤭
kaylla salsabella
kapok udah di bilangin masih ngeyel datang
kaylla salsabella
weleh ... weleh.... mereka menggali kuburan nya sendiri🤣🤣🤭🤭
kaylla salsabella
tenang jendral saya tidak apa" 🤭🤭
kaylla salsabella
siapa takut🤣🤣🤣
Maria Lina
makasih bnyk"ya thor ud up nya😍😍😍😍😍😍😍
Nawi
yes akhirnya bersatu juga
semangat terus thor💪
kaylla salsabella
semoga hari mu menyenangkan aleta😍😍
Nawi
wah wah wah bapak nya mulai bergerak,yg tadi nya ank nya gk mempan sekarang ganti pola rupanya
jgn biar kan Liam hajar terus😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!