Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman yang Tak Pernah Kutunjukkan
Buku harian ini aku beli waktu kelas dua SMP, di toko buku dekat sekolah, sampulnya warna biru dongker dengan gambar bintang-bintang kecil yang sudah mulai pudar di beberapa bagian karena terlalu sering dipegang. Halaman-halaman awalnya penuh tulisan tentang hal-hal remeh, siapa yang berantem sama siapa di kelas, nilai ulangan matematika yang jelek, atau kekesalan kecil ke mama karena tidak diizinkan pergi ke mal sendirian. Tapi entah sejak kapan, isinya berubah jadi sesuatu yang lebih berat, lebih personal, dan sekarang aku menyimpannya di rak paling bawah lemari, di balik tumpukan buku pelajaran lama yang seharusnya sudah dibuang sejak dua tahun lalu tapi tidak pernah benar-benar aku buang, karena tumpukan itu fungsinya sekarang cuma satu: menyembunyikan buku ini dari siapa pun yang iseng membuka lemariku.
Bukan cuma dari Rendy. Dari siapa saja, termasuk mama, termasuk Sasa, termasuk diriku sendiri di waktu-waktu tertentu ketika aku merasa belum siap membaca ulang apa yang pernah kutulis.
Malam ini aku mengeluarkannya lagi, setelah hampir tiga minggu tidak aku sentuh, duduk bersila di lantai kamar dengan lampu meja jadi satu-satunya cahaya, jam menunjukkan sebelas lewat dua puluh, dan rumah sudah sepi karena mama sudah tidur sejak jam sepuluh. Di luar, suara jangkrik terdengar konsisten, ditingkahi sesekali suara motor lewat di jalan utama yang jaraknya cukup jauh untuk terdengar samar.
Aku membuka halaman kosong berikutnya, mengambil pulpen dari tempat pensil yang bentuknya kelinci, hadiah ulang tahun dari Rendy waktu SMP, dan menulis tanggal di pojok kanan atas seperti biasa.
14 Oktober
Liburan semester baru aja selesai dan aku masih belum tau harus mulai nulis dari mana. Ada terlalu banyak yang pengen aku tulis, dan aku takut kalau aku enggak nulis sekarang, semuanya bakal menguap begitu aja, dan aku bakal lupa detail-detail kecil yang sebenarnya penting.
Oke, coba dari awal.
Dua minggu liburan kemarin, aku sama Rendy hampir tiap hari ketemu. Bukan hal baru sih, dari dulu emang gitu. Tapi entah kenapa liburan kali ini beda. Mungkin karena kita berdua udah jadi mahasiswa sekarang, jadi rasanya kayak, oke, kita udah gede, tapi kok masih ngelakuin hal yang sama kayak waktu SD? Main ke rumah masing-masing, nonton bareng, jajan bareng, jalan sore bareng, atau sekadar duduk di teras rumahku sambil ngobrolin hal-hal enggak penting sampe lupa waktu.
Bukannya aku enggak suka. Aku suka banget malah. Cuma kadang aku mikir, orang lain seumuran kita udah pada sibuk pacaran, sibuk nge-date, sibuk bikin rencana masa depan sama orang yang mereka suka. Sementara aku masih di sini, ngelakuin hal yang sama kayak dulu, sama orang yang sama kayak dulu, cuma sekarang badannya lebih gede aja, dan mungkin sepatunya lebih mahal dikit.
Aku berhenti menulis sebentar, membaca ulang paragraf itu, tersenyum kecil sendiri karena kalimat terakhirnya terdengar konyol, lalu melanjutkan.
Ada satu hari waktu liburan itu, kita berdua duduk di teras rumahku sore-sore, enggak ngapa-ngapain, cuma minum es teh sama makan kerupuk sambil ngeliatin anak-anak kompleks main bola di jalan. Rendy tiba-tiba cerita soal manga yang lagi dia baca, panjang banget, sampe aku sendiri lupa alurnya di tengah-tengah tapi tetep dengerin karena aku suka liat dia semangat kayak gitu. Terus dia berhenti tiba-tiba, nanya, "kamu enggak bosen ya dengerin aku ngomongin ini terus?"
Aku bilang enggak. Dan itu jujur. Aku enggak pernah bosen. Yang bikin aku kadang capek bukan dengerin dia cerita, tapi nungguin dia sadar hal lain yang enggak pernah dia sadar-sadar.
Terus ada kejadian pas makan malem di rumahku, tanggal berapa itu aku lupa, pokoknya seminggu lalu, hari Kamis kalo enggak salah. Rendy makan malem di rumah kayak biasa, papa masak rendang karena katanya lagi pengen, dan suasananya santai banget, sampe mama iseng nanya, "kapan sih kalian jadian? Udah gede gini masa masih temenan doang."
Aku pengen tenggelem aja rasanya. Sendok di tanganku sampe berhenti di udara sebentar. Rendy juga keliatan panik, langsung ganti topik ngomongin tugas kuliah dengan kecepatan yang enggak natural, dan mama malah ketawa, bilang "ih baru ditanya gitu doang udah panik, kayak ketauan aja." Terus papa ikut nimbrung, sambil nambah nasi, bilang, "kalian ini emang jodoh dari kecil, tinggal nunggu sadar aja, biasanya yang kayak gini emang lambat prosesnya tapi paling awet."
Semua orang di meja makan ketawa. Aku juga ketawa, karena apalagi yang bisa aku lakuin selain ketawa. Tapi di dalem hati aku mikir, kalian enggak tau aja gimana rasanya jadi orang yang emang beneran nunggu itu, dan denger komentar kayak gitu justru bikin aku makin sadar berapa lama udah berlalu tanpa ada yang berubah.
Rendy sendiri, setelah makan malem itu, pas kita jalan pulang bareng ke rumahnya (iya, aku ikut nganterin, alesan simple biar bisa jalan sebentar lagi), dia enggak nyinggung soal komentar mama sama sekali. Kayak enggak pernah kejadian. Aku enggak tau apa itu artinya dia beneran enggak mikirin, atau dia mikirin tapi milih diem kayak biasanya.
Aku menggigit ujung pulpen, mempertimbangkan apakah harus melanjutkan ke bagian berikutnya. Setelah beberapa detik, aku memutuskan untuk lanjut, karena kalau bukan di sini, di halaman yang tidak akan pernah dibaca siapa pun, lalu di mana lagi aku bisa benar-benar jujur.
Terus yang paling bikin aku mikir sampe sekarang, festival kembang api tiga hari lalu.
Kita ke sana rame-rame, aku, Rendy, Sasa, sama beberapa temen lain dari kompleks yang emang tiap tahun selalu nonton bareng di lapangan besar deket balai warga. Udah jadi tradisi dari kita SD, sebenernya, cuma dulu ditemenin orang tua, sekarang udah berani sendiri.
Tapi entah gimana caranya, pas kembang apinya mulai, aku sama Rendy jadi berdiri agak misah dari yang lain, cuma berdua, di pinggir lapangan yang lebih sepi, deket pagar besi yang catnya udah mengelupas di beberapa bagian. Enggak direncanain. Cuma kejadian aja, mungkin karena kita sama-sama enggak suka keramaian yang terlalu padet, jadi otomatis geser ke pinggir tanpa ngomong.
Langitnya bagus banget malam itu. Kembang apinya warna-warni, ada yang bentuknya kayak bunga mekar, ada yang meledak jadi kayak hujan emas turun pelan-pelan, ada juga yang bunyinya keras banget sampe bikin beberapa anak kecil di dekat kita jerit kaget terus ketawa sendiri. Rendy diem aja natap ke atas, mulutnya sedikit terbuka kayak anak kecil yang takjub, dan aku natap dia lebih lama dari natap kembang apinya sendiri.
Cahaya sinar kembang api itu jatuh ke wajahnya, biru, merah, keemasan, gantian, dan untuk sesaat aku mikir, ini mungkin salah satu wajah paling tenang yang pernah aku liat dari dia, jauh dari ekspresi bingungnya kalo lagi mikirin plot anime atau ekspresi paniknya kalo lagi dikomentarin orang tua.
Terus entah dari mana keberanian itu dateng, mungkin karena suasananya, mungkin karena gelap jadi ekspresiku enggak terlalu keliatan jelas, aku nanya, "Ren, kalau misalnya aku tiba-tiba enggak ada di hidupmu, gimana perasaanmu?"
Aku sendiri kaget aku bisa nanya sekonyol itu. Suaraku bahkan agak gemetar dikit waktu ngomong, untung suara kembang api cukup keras buat nutupin itu. Tapi maksudku bukan konyol dalam artian pertanyaannya enggak penting. Maksudku, itu pertanyaan paling deket yang bisa aku tanya tanpa harus bener-bener bilang apa yang aku rasain. Semacam tes kecil, ngintip reaksi tanpa harus buka kartu sepenuhnya.
Dan Rendy... diem. Beneran diem, lebih lama dari biasanya, sampe aku ngerasa jantungku sendiri yang mukul lebih keras nungguin jawabannya, lebih keras dari suara kembang api yang meledak di atas kita. Aku bisa liat dari sudut mataku dia noleh ke arahku, ekspresinya berubah, dari takjub jadi sesuatu yang lebih serius, lebih dalem.
Terus pas dia mau ngomong sesuatu, mulutnya udah kebuka dikit, aku bisa liat dia narik napas kayak mau ngomong sesuatu yang panjang, tiba-tiba Sasa teriak dari jauh manggil kita berdua, katanya ada yang jual jagung bakar enak banget, harus buruan sebelum abis, suaranya keras banget sampe beberapa orang di sekitar kita noleh.
Momennya ilang gitu aja.
Rendy langsung noleh ke arah suara Sasa, ekspresinya balik lagi jadi biasa, dan dia bilang, "yuk, mumpung belum abis," terus jalan duluan ke arah Sasa, ninggalin aku berdiri sendirian sebentar sebelum akhirnya ikut jalan juga.
Aku enggak tau apa yang mau Rendy bilang. Mungkin sesuatu yang penting. Mungkin cuma bercanda kayak biasa, ngomongin analogi anime atau apa, semacam "kayak di anime kalo tokoh utamanya ilang terus dunia jadi enggak seimbang" atau apa gitu. Aku enggak akan pernah tau, karena begitu Sasa manggil, Rendy langsung jalan ke arah suara itu, dan momennya beneran ilang, enggak keulang lagi sepanjang malem, bahkan pas kita jalan pulang pun dia udah balik lagi jadi Rendy yang biasa, ngomongin jagung bakar yang katanya kurang manis dibanding yang dijual deket rumah.
Aku meletakkan pulpen sebentar, menatap dinding kamar, mencoba mengingat lebih detail ekspresi Rendy malam itu. Kaget? Bingung? Atau justru dia memang mau bilang sesuatu yang serius sebelum akhirnya lega karena diselamatkan oleh teriakan Sasa?
Aku tidak tahu, dan itulah yang paling menyebalkan dari semuanya.
Aku pengen nulis sesuatu yang lebih jujur sekarang, hal yang enggak pernah aku tulis, bahkan di halaman-halaman sebelumnya, meskipun buku ini isinya udah lumayan jujur dari awal.
Aku takut.
Bukan takut yang gimana-gimana. Takut yang lebih ke arah, aku udah nunggu ini dari lama banget, dan aku enggak tau sampe kapan aku sanggup nungguin.
Kalau aku hitung dari kapan aku mulai sadar perasaan ini, kayaknya dari SMP kelas tiga. Waktu itu Rendy lagi demam banget sama anime Stellar Requiem, cerita ke aku tiap hari soal karakternya, soal ceritanya, soal kenapa dia relate banget sama tokoh utamanya yang introvert dan susah nunjukin perasaan tapi diam-diam peduli banget sama orang di sekitarnya. Aku dengerin, bukan karena aku ngerti animenya (jujur waktu itu aku bahkan enggak tau bedanya anime sama kartun biasa), tapi karena aku suka liat Rendy semangat kayak gitu. Dia jarang banget seantusias itu soal apa pun, biasanya dia lebih banyak diem atau jawab seperlunya.
Terus aku mulai belajar jahit, diem-diem, modal jarum sama benang dari kotak jahit mama, sama tutorial YouTube yang aku tonton berulang-ulang sampe hafal di luar kepala, biar bisa bikin kostum karakter itu. Butuh waktu berbulan-bulan, aku salah potong pola berkali-kali, sekali malah salah potong sampe kainnya enggak bisa dipake lagi dan aku harus beli kain baru pake uang tabungan, jariku ketusuk jarum entah berapa kali sampe ada bekas kecil di jari telunjuk kiriku yang masih ada sampe sekarang kalo diperhatiin baik-baik, tapi aku terusin, karena aku pikir, kalau aku bisa masuk ke dunia yang dia suka, mungkin dia bakal liat aku beda. Bukan cuma temen kecil yang kebetulan tinggal deket rumahnya, tapi orang yang beneran ngerti dunianya.
Kostum itu selesai, sekitar tiga bulan pengerjaan total kalo dihitung dari awal potong pola sampe jahitan terakhir. Aku simpen di kotak, enggak pernah aku tunjukin, karena aku takut dia mikir aku aneh, atau lebih parah lagi, mikir aku maksa-maksain sesuatu yang enggak natural, kayak aku cuma cari perhatian doang.
Sampe akhirnya bulan lalu dia nemuin kotak itu sendiri, enggak sengaja, waktu nyari charger di bawah ranjangku. Aku panik banget waktu itu, keluar dari kamar mandi masih pake handuk di kepala terus liat dia lagi meriksa kotak itu, rasanya kayak mau pingsan. Tapi anehnya, dia enggak ngetawain. Dia malah bilang itu keren, bilang effort-nya enggak main-main, bahkan sampe merhatiin detail bros yang katanya cuma keliatan di episode sembilan.
Aku seneng banget waktu itu, seneng sampe susah tidur malemnya, mikirin ulang setiap kata yang dia ucapin. Tapi sekaligus juga jadi mikir, kalau dia bisa segitu apresiatifnya sama kostum itu, kenapa dia enggak bisa liat hal yang lebih gede yang udah aku coba tunjukin bertahun-tahun, bukan lewat kostum, tapi lewat cara aku selalu ada, selalu nyempetin waktu, selalu inget hal-hal kecil soal dia yang bahkan dia sendiri kadang lupa.
Aku berhenti menulis, menghapus air mata yang entah sejak kapan mulai jatuh, tanpa aku sadari sepenuhnya kapan mulainya. Aku menyeka pipi dengan lengan baju, meninggalkan bekas basah kecil di kain piyama, lalu melanjutkan, karena kalau berhenti sekarang, aku tidak yakin akan cukup berani untuk melanjutkan besok atau kapan pun.
Orang-orang di sekitar kita udah lama nyadar. Sasa, mama, papa, bahkan Pak Udin yang jual es teh di gang, semua udah bilang hal-hal kayak "kalian tuh emang jodoh" atau "awet banget dari kecil sampe sekarang." Semua orang liat itu dari luar, dan buat mereka mungkin itu lucu, atau manis, atau sesuatu yang bisa dikomentarin santai sambil ketawa, kayak nonton drama yang tokohnya lambat banget nyadar tapi seru diliatin dari luar.
Tapi enggak ada satu pun dari mereka yang tau gimana rasanya jadi orang yang beneran ngerasain itu, dan harus denger komentar-komentar itu tanpa bisa bilang, "iya, emang bener, dan aku capek nunggu," karena kalo aku bilang gitu, semua orang bakal nanya lebih jauh, dan aku enggak tau harus jawab apa selain kebenaran yang belum siap aku bagi ke siapa pun selain kertas ini.
Rendy sendiri... aku enggak tau dia sadar apa enggak. Kadang aku pikir dia beneran enggak sadar, karena dia emang tipe yang lebih sibuk mikirin plot anime daripada mikirin perasaan orang di sekitarnya, itu bukan hal jelek, itu emang dia apa adanya. Tapi kadang aku juga mikir, mungkin dia sadar, cuma dia enggak mau ambil risiko ngerusak apa yang udah kita punya sekarang, karena kita berdua tau, kalo salah satu dari kita ngomong dan ternyata enggak nyambung, semuanya bisa berubah, dan enggak akan pernah bisa balik kayak dulu lagi.
Aku enggak tau mana yang lebih nyakitin. Dia beneran enggak sadar, atau dia sadar tapi milih diem.
Aku berhenti menulis lagi, kali ini lebih lama, menatap ke jendela kamar yang menampilkan langit malam tanpa bintang, karena awan sedang tebal-tebalnya malam itu, mungkin akan hujan besok. Aku bisa mendengar kipas angin di sudut kamar berputar dengan ritme yang sama sejak tadi, satu-satunya suara selain goresan pulpen di kertas.
Aku memikirkan berapa lama lagi aku sanggup melakukan ini. Berapa lama lagi aku bisa terus memberi sinyal-sinyal kecil, bertanya pertanyaan yang setengah serius setengah bercanda, berharap dia menangkap maksudnya, tanpa pernah benar-benar mengatakan yang sebenarnya karena takut kalau ternyata dia tidak merasakan hal yang sama, semuanya akan berubah dan tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi.
Aku mengambil pulpen lagi, menulis satu paragraf terakhir sebelum menutup buku itu malam itu.
Aku enggak tau harus nulis apa lagi. Aku cuma pengen nulis ini di suatu tempat, biar setidaknya ada yang tau, meskipun yang tau cuma kertas ini, dan mungkin itu emang cukup buat sekarang.
Aku suka Rendy. Udah dari lama banget, dari SMP kelas tiga, mungkin malah lebih lama dari itu kalo aku jujur sama diri sendiri. Dan aku capek nungguin dia sadar sendiri.
Tapi aku juga enggak tau harus ngomong gimana, atau kapan, atau apakah aku emang harus ngomong sama sekali. Ada bagian dari aku yang masih pengen percaya, kalo aku terus di sini, terus sabar, suatu hari dia bakal ngeh sendiri, kayak yang semua orang bilang.
Mungkin aku cuma harus terus nunggu. Mungkin suatu hari dia bakal sadar sendiri, mungkin bahkan enggak butuh waktu lama.
Atau mungkin enggak, dan aku bakal terus di titik yang sama ini sampe entah kapan.
Aku enggak tau mana yang lebih aku takutin: dia enggak pernah sadar, atau aku keburu capek duluan sebelum dia sempet sadar.
Aku menutup buku harian itu, menyelipkannya kembali ke balik tumpukan buku pelajaran lama di rak paling bawah lemari, memastikan posisinya sama seperti sebelumnya biar enggak keliatan habis dipindah, mematikan lampu meja, dan berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Aku tidak langsung tidur.
Ponselku menyala di meja samping ranjang, dan aku meraihnya, membuka chat dengan Rendy, seperti kebiasaan setiap malam antara jam delapan dan sembilan, meski sekarang sudah lewat jam sebelas dan kami belum sempat chat malam ini karena aku terlalu sibuk menulis diary.
"Ren, kamu masih bangun?"
Balasan datang cukup cepat, mengejutkanku sedikit, mengingat biasanya jam segini dia sudah setengah mengantuk.
"Masih. Lagi baca manga. Kenapa?"
"Enggak apa-apa. Cuma kepikiran mau nanya kabar."
"Aku baik. Kamu?"
Aku menatap layar itu cukup lama, jari-jariku melayang di atas keyboard, mempertimbangkan apakah malam ini aku akan cukup berani untuk menulis sesuatu yang lebih jujur, sesuatu yang lebih dekat dengan apa yang baru saja aku tulis di buku harian, yang masih hangat di ingatan karena baru selesai aku tulis lima menit lalu.
"Aku baik," ketikku akhirnya, kata yang jauh lebih aman dari yang sebenarnya ingin aku katakan. "Cuma kepikiran soal festival kembang api kemarin."
"Yang gimana?"
Aku menatap pertanyaan itu, dan untuk sesaat, aku merasa ini adalah kesempatan, celah kecil yang mungkin bisa aku manfaatkan untuk akhirnya bertanya apa yang hampir dia katakan malam itu, sebelum Sasa memanggil kami untuk jagung bakar. Jantungku mulai berdebar lebih cepat, sama kayak waktu di lapangan itu.
Tapi kemudian aku memikirkan lagi, tentang seberapa besar risikonya, tentang bagaimana kalau ternyata jawabannya tidak seperti yang aku harapkan, tentang bagaimana semua kenyamanan yang sudah kami bangun bertahun-tahun bisa berubah dalam satu percakapan singkat lewat chat tengah malam, tanpa ada kesempatan buat ngeliat ekspresi wajahnya langsung.
"Enggak apa-apa," ketikku akhirnya, mengubah arah, jariku mengetik lebih cepat dari yang aku niatkan seolah takut kalo kelamaan mikir aku bakal berubah pikiran dan beneran nanya yang sebenarnya. "Cuma kembang apinya bagus banget kemarin. Pengen liat lagi kapan-kapan."
"Iya, bagus banget. Yang bentuk bunga itu paling keren menurutku."
"Setuju. Yang keemasan itu juga bagus."
"Iya bener, itu paling lama juga durasinya."
Percakapan itu berlanjut ke topik yang lebih ringan, soal manga yang sedang dia baca, sesuatu tentang karakter yang baru muncul di chapter terbaru, soal rencana besok yang belum jelas mau ngapain, soal hal-hal biasa yang selalu kami bicarakan setiap malam, dan aku membiarkan momen tadi berlalu, celah kecil itu tertutup lagi seperti biasa, karena aku belum cukup berani, dan mungkin memang belum waktunya, atau mungkin aku cuma terus mencari alasan untuk menunda.
"Tidur ya, Ren. Udah malem."
"Kamu juga. Malem, Cahaya."
Aku meletakkan ponsel di meja samping, menatap langit-langit sekali lagi, dan memejamkan mata, meski butuh waktu lama sebelum benar-benar tertidur, pikiranku masih berputar di antara halaman diary yang baru saja aku tulis, kembang api yang meledak di langit malam itu, dan satu pertanyaan yang jawabannya mungkin tidak akan pernah aku ketahui, kecuali aku sendiri yang berani bertanya lagi, atau kecuali Rendy akhirnya sadar sendiri.
Aku tidak tahu yang mana yang akan terjadi lebih dulu.
Yang aku tahu, malam itu, adalah bahwa aku sudah menulis kejujuran yang paling dekat dengan yang pernah aku tulis, di halaman yang tidak akan pernah dibaca siapa pun kecuali diriku sendiri, dan entah kenapa itu terasa sedikit lebih ringan, meski masalahnya sendiri belum selesai sama sekali, dan mungkin enggak akan selesai dalam waktu dekat.