Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Surat Izin Kawin Tertunda, Asal-usul Arum Dipertanyakan
Keesokan harinya, surat permohonan itu kembali ke meja Yusuf dengan pita penanda kuning.
Bukan ditolak. Belum pula disetujui.
Di kolom pemeriksaan latar belakang tertulis dua catatan: akta perlu verifikasi dan hubungan perwalian Prasetyo perlu dipastikan.
Yusuf memanggil Bara ke ruang komandan. Arum ikut menunggu di kursi dekat pintu karena sebagian pertanyaan hanya bisa dijawab olehnya.
"Proses sementara ditunda," kata Yusuf. "Bukan karena status sosial atau perkara lama keluargamu. Data dasarnya belum cukup untuk ditandatangani komandan."
Arum memegang ujung map. "Apa akta saya palsu?"
"Belum ada alasan menyebut palsu. Salinannya tua dan pudar. Nomor registrasi ditemukan, tetapi nama ibumu berbeda satu huruf dalam indeks lama. Kita perlu dokumen asal."
"Kalau tidak ditemukan?"
"Ada jalur pencocokan lain: catatan kelahiran, data keluarga prajurit, arsip gugur, dan keterangan saksi. Tapi semuanya harus dibuat jelas sebelum izin dikeluarkan."
Bara bertanya, "Berapa lama penundaan?"
"Sampai berkas cukup. Iwan sudah meminta akses arsip pusat dan ASABRI."
Arum menunduk. Kegembiraan kemarin seolah kembali dibungkus kertas kusam yang selama ini mengunci hidupnya.
"Saya memang selalu membuat urusan jadi sulit."
Bara langsung menoleh. "Jangan ulangi kalimat itu."
"Tapi kalau calon istri orang lain, mungkin dokumennya lengkap."
"Aku tidak mengajukan permohonan untuk orang lain."
Yusuf menutup map. "Arum, prosedur ini bukan ujian apakah kamu pantas. Ini cara memastikan tak ada orang lagi yang bisa mengubah namamu sesuka hati. Penundaan terasa menyakitkan, tapi berkas yang benar akan melindungimu setelah menikah juga."
Arum menarik napas. "Apa yang perlu saya lakukan?"
"Ceritakan semua yang kamu ingat tentang orang tua, alamat lama, dan siapa yang mengurus setelah mereka meninggal. Jangan menebak. Kalau tidak tahu, katakan tidak tahu."
Ia duduk di meja samping bersama petugas perempuan. Arum menyebut nama lengkap ayahnya, Suryadi Wijaya, kebiasaan mengetuk pintu tiga kali, dan sebuah selendang dengan inisial. Tentang ibunya, ia hanya ingat nama depan, aroma minyak melati, dan sebuah foto.
"Kapan masuk rumah Prasetyo?"
"Umur sepuluh tahun. Setelah Ibu meninggal."
"Ada penetapan perwalian?"
"Saya tidak pernah melihat. Mereka bilang Ayah menitipkan saya."
"Apakah pernah diminta menandatangani dokumen?"
Arum berpikir lama. "Saat umur sekitar lima belas, Pak Hartono pernah menyuruh saya menulis nama beberapa kali di kertas kosong. Katanya untuk sekolah."
Ruangan mendadak sunyi.
Iwan yang baru masuk berhenti di pintu. "Kertas kosong?"
"Ada garis tanda tangan. Saya menulis Arum Wijaya."
"Berapa lembar?"
"Tiga atau empat. Saya tidak ingat."
Iwan mencatat tanpa menunjukkan kepanikan. "Informasi ini masuk pemeriksaan terpisah. Bukan berarti tanda tanganmu dipakai, tetapi kita perlu membandingkan dokumen santunan dan perwalian."
Bara menekan telapak ke meja. "Jadi bukan hanya tanda tangan Hartono yang mungkin dipalsukan."
"Belum ada kesimpulan," ujar Iwan. "Kita cari dokumennya dulu."
Arum terlihat semakin pucat. Bara ingin menggenggam tangannya, tetapi menunggu sampai petugas selesai dan meminta izin dengan tatapan. Arum yang meraih lebih dulu.
"Saya merasa bodoh," katanya.
"Kamu anak lima belas tahun yang disuruh orang dewasa dan perwira," jawab Iwan. "Tanggung jawab ada pada orang yang memakai kekuasaan itu, bukan pada anak yang percaya."
Setelah keterangan selesai, Yusuf menyerahkan kembali salinan permohonan kepada Bara. Stempel tertunda berada di pojok, bukan stempel gagal.
"Jangan menentukan tanggal akad dulu," pesannya. "Begitu identitas jelas dan komandan menyetujui, baru lanjut ke KUA."
"Kami tunggu," kata Bara.
Di koridor, Arum berhenti di depan jendela. Lapangan terlihat terang setelah hujan semalam, tetapi ia merasa seolah kembali berdiri di bawah awan.
"Mas Bara boleh berubah pikiran," katanya. "Saya tidak ingin karier Mas ikut terganggu karena dokumen saya."
Bara berdiri di sampingnya. "Aku tidak berubah pikiran ketika kamu demam, diculik, difitnah, atau ketika satu batalyon melihat namamu dibuka. Aku juga tidak berubah karena satu pita kuning."
"Tapi suratnya tertunda."
"Berarti kita memakai waktu itu untuk mengembalikan namamu."
"Kalau nama saya ternyata tidak sebaik yang Mas kira?"
"Namamu adalah apa yang kamu lakukan. Arsip hanya akan membuktikan siapa yang berusaha menyembunyikannya."
Arum menyandarkan kepala sekejap pada lengannya. Mereka belum mendapatkan izin, belum menentukan mahar, dan belum berdiri di depan penghulu. Namun, Bara tidak mencoba mencari jalan belakang atau meminta Yusuf mengabaikan catatan.
Ia memilih menunggu bersama Arum di depan pintu yang sama.
Malamnya, Bu Yanti datang membawa daftar persiapan lamaran yang sudah telanjur ia tulis. Ketika melihat wajah Arum, ia melipat kertas itu dan menyimpannya kembali.
"Ditunda bukan dibatalkan," katanya sambil mengiris tempe di dapur. "Jangan kubur pesta sebelum ada yang bilang gagal."
"Saya malu semua orang sudah memanggil calon Bu Mayor."
"Yang memanggil bukan petugas izin. Mereka cuma senang."
Arum membantu mencuci sayur. "Bagaimana kalau akta saya tidak ditemukan?"
Bu Yanti menghentikan pisau. "Kamu ada di depan saya. Kamu punya kenangan, foto ibu, selendang ayah, saksi sekolah, dan nomor akta. Kertas itu penting, tapi kertas bukan yang menciptakanmu. Tugas kita membuat catatan mengejar kenyataan."
Bara yang mendengar dari ruang tamu tidak ikut menyela. Ia sedang menyusun semua nama yang mungkin mengenal Suryadi: Bu Inah, guru lama Arum, satu bintara pensiunan di apel, serta petugas yang dulu mencatat keluarga gugur.
"Mas Bara belum istirahat?" tanya Arum.
"Setelah daftar selesai."
"Dokter bilang kakinya jangan terlalu lama duduk tegang."
"Baik. Lima menit lagi."
Bu Yanti menyikut Arum sambil tersenyum. "Belum jadi istri saja sudah bisa membuat Mayor menurut."
Arum memerah, tetapi rasa malu itu tidak lagi pahit. Ia membawa bantal kecil dan meletakkannya di bawah kaki Bara.
"Kita cari bersama," katanya.
"Ya."
"Tapi jangan sampai Mas Bara mengganggu pemeriksaan resmi."
Bara mengangkat daftar. "Ini nama saksi untuk diserahkan kepada Iwan, bukan untuk kuinterogasi sendiri."
Arum tersenyum. "Bagus."
Keesokan paginya, daftar itu masuk melalui berita serah terima. Iwan membagi pencarian menjadi tiga jalur: pencatatan sipil untuk akta kelahiran, arsip militer untuk status gugur Suryadi, dan berkas ASABRI untuk ahli waris. Tidak ada satu kesaksian pun dipakai sendirian.
Petugas pertama menemukan indeks lama dengan ejaan nama ibu yang berbeda satu huruf. Petugas kedua menemukan rujukan ke sebuah map operasi yang dipindahkan ke gudang arsip. Jalur ketiga menemukan nomor kepesertaan Suryadi yang cocok dengan tanggal lahir Arum.
Belum ada bukti lengkap, tetapi tiga garis itu mulai menuju titik yang sama.
Di ruang komandan, Iwan menulis perintah pencarian baru berdasarkan nomor akta dan kemungkinan lembar tanda tangan kosong. Yusuf menandatangani permintaan akses ruang arsip lama.
Pada map permohonan kawin, catatan terakhir tetap berbunyi: asal-usul calon istri perlu dipastikan lebih dulu.