Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Laporan yang Datang Terlambat

Janji Laras dimulai di kantor polisi, bukan dengan menerobos kembali ke pondok.

Pada sore yang sama, ia datang bersama Wati dan Rina. Bu Endah telah menghubungi petugas perlindungan perempuan dan anak agar laporan tidak dianggap sengketa biasa antara tetangga.

Laras menyerahkan kronologi tertulis. Ia menjelaskan tanggal kunjungan pertama, tangisan yang didengar, kondisi anak pada kunjungan kedua, tali di kaki, gangguan penglihatan, dan perkataan tentang obat pahit. Foto pagar, kendaraan, serta luka yang terlihat tanpa pemeriksaan paksa dilampirkan.

"Apakah Ibu melihat langsung lelaki itu memukul anak?" tanya petugas.

"Tidak. Karena itu saya tidak menulis bahwa saya melihat pemukulan. Saya melihat bekas luka, ikatan, kondisi gizi buruk, dan respons takut. Anak mengatakan takut dipukul serta dulu bisa melihat sebelum diberi obat."

Petugas membaca ulang bagian tersebut. Wati menyerahkan rekaman ketika Karman mengaku anak angkat tetapi tidak dapat menyebut usia atau dokumen pengasuhan.

"Nama Karman belum ditemukan di data warga blok itu," tambah Rina. "Pemilik lahan lama mengatakan pondok disewakan melalui perantara."

Polisi menerima laporan dugaan penelantaran, kekerasan, dan pengasuhan anak tanpa dokumen. Dinas Sosial dihubungi untuk menyediakan pendamping dan tempat aman jika anak ditemukan.

Namun tim tidak bisa berangkat saat itu juga. Jalan ke wilayah tersebut rusak setelah badai, kendaraan perlindungan anak sedang menangani evakuasi lain, dan petugas perlu mengonfirmasi kewenangan lintas desa.

Laras meminta nomor registrasi laporan dan nama petugas penanggung jawab. Ia juga meminta tindakan sementara ditulis: pemantauan lokasi, larangan memberi tahu terlapor sebelum petugas tiba, serta kesiapan tempat aman bagi anak. Petugas sempat menganggap permintaan itu berlebihan, tetapi Bu Endah menegaskan bahwa semua pihak membutuhkan jejak keputusan bila terjadi perpindahan.

Pendamping Dinas Sosial menanyakan apakah anak memiliki kebutuhan khusus. Laras menjelaskan dugaan gangguan penglihatan, keterlambatan bicara akibat trauma atau isolasi, serta risiko dehidrasi. Ia tidak memberi diagnosis pasti. Tim menyiapkan makanan, pakaian, penutup mata yang tidak menekan, dan rujukan rumah sakit.

"Jangan langsung membanjiri dia dengan pertanyaan," pesan Laras. "Dia bereaksi lebih baik pada suara rendah dan pilihan sederhana. Sebut nama sebelum menyentuh."

Catatan itu dimasukkan ke rencana pendekatan. Setidaknya jika Icha ditemukan tanpa Laras, petugas tidak akan membuatnya semakin takut.

"Paling lambat besok pagi," kata petugas. "Kami juga meminta aparat desa memantau tanpa mendekati rumah."

Laras menahan keberatan. Ia memahami kebutuhan prosedur, tetapi bayangan Icha menggenggam permen tidak membiarkannya tenang.

"Tolong jangan menelepon orang yang tinggal di pondok," katanya. "Kalau dia tahu laporan dibuat, anak bisa dipindahkan."

Petugas setuju informasi dibatasi pada tim. Meski begitu, wilayah kecil memiliki banyak telinga. Seorang aparat desa menanyakan Karman kepada tetangga yang salah. Kabar bahwa polisi mencari seorang anak bergerak lebih cepat daripada kendaraan resmi.

Saat tim tiba keesokan paginya, pondok itu kosong.

Tetangga terdekat mengatakan motor pergi setelah tengah malam. Seorang lelaki lain datang membawa pikap tanpa lampu utama. Mereka memuat dua karung, satu peti, dan sesuatu yang dibungkus selimut. Tidak ada yang berani mendekat karena Karman pernah mengancam orang yang bertanya.

"Apakah terdengar suara anak?" tanya pendamping.

Seorang perempuan mengangguk ragu. "Ada batuk dari bak belakang. Saya kira anaknya sakit."

Kesaksian mereka dicatat terpisah. Polisi juga mengambil rekaman kamera toko di persimpangan. Gambar buram menunjukkan pikap menuju jalan timur pada pukul dua lewat tujuh belas menit, tetapi pelat belakang tertutup lumpur.

Pintu rumah terbuka. Kambing-kambing telah dilepas ke kandang tetangga. Bekas ban baru membelah lumpur dan menuju jalur pedalaman. Tali di dekat jerami dipotong. Tidak ada anak, motor, atau karung panjang.

Laras berdiri di tempat Icha duduk sehari sebelumnya. Bungkus permen tergeletak di bawah jerami, kusut karena diremas berkali-kali.

Ia mengambilnya memakai sarung tangan dan memasukkannya ke kantong bukti.

"Kami terlambat," katanya.

Wati menunduk. Petugas polisi memeriksa rumah, sedangkan pendamping Dinas Sosial mendokumentasikan tempat tidur tipis, mangkuk makan, dan obat tanpa label. Beberapa botol berbau daun pahit. Semuanya disita untuk diperiksa.

Di gudang belakang, Garang berhenti di dekat celah papan. Ia mengendus lalu menggaruk tanah. Wahyu mengangkat papan tersebut dan menemukan serpihan kulit berbulu, sepotong kertas, serta tali plastik hitam.

Laras tidak menyentuh kulit itu dengan tangan kosong. Polanya menyerupai bagian tubuh ajag, satwa yang perdagangannya dilarang. Ada bau bahan pengawet yang sama dengan karung Karman.

Pada potongan kertas hanya terbaca beberapa huruf nama tempat dan angka kilometer. Tinta luntur, tetapi awalan nama mengarah ke wilayah pedalaman.

"Dia bukan sekadar menyembunyikan anak," kata Wahyu. "Mungkin bagian dari jalur perdagangan satwa."

Polisi memperluas catatan dan menghubungi unit terkait. Nomor kendaraan yang difoto Wati diperiksa, tetapi pelatnya terdaftar atas motor lain. Nama Karman juga kemungkinan palsu.

Sidik jari dari botol dan pintu diambil, meski pondok telah disentuh banyak orang. Petugas desa menyebarkan ciri kendaraan hanya kepada pos terpilih. Dinas Sosial memasukkan Icha sebagai anak berisiko tinggi yang harus diamankan, bukan tersangka atau anak kabur. Status itu penting agar siapa pun yang menemukan tidak mengembalikannya kepada lelaki tanpa verifikasi.

Laras memandangi jalan tanah. Ia telah melakukan apa yang secara hukum benar, tetapi hasilnya tetap sebuah pondok kosong.

"Seharusnya aku menjaga tempat ini dari jauh," katanya.

Rina memegang lengannya. "Kamu tidak punya orang dan kewenangan. Kalau kamu bertahan, dia bisa menyerangmu atau menyandera anak. Kamu benar melapor. Yang salah orang yang membocorkan pertanyaan."

"Benar belum tentu cukup cepat."

"Karena itu sekarang kita perbaiki caranya, bukan menyalahkan dirimu."

Bu Endah meminta petugas membuat jalur komunikasi satu pintu. Laras memberikan salinan catatan bau, karung, tanah merah pada sepatu, serta arah kendaraan. Polisi mengingatkan mereka agar tidak mengejar sendiri, tetapi boleh meneruskan informasi yang ditemukan melalui jaringan peternak.

Pak Sutrisno mengirim pesan ke koperasi wilayah pedalaman tanpa menyebut anak. Ia hanya meminta laporan motor dengan ciri tertentu dan penawaran kulit satwa. Drh. Hutomo memeriksa apakah ada pasien anak tanpa identitas yang pernah dibawa ke puskesmas sekitar.

Pencarian itu lebih lambat daripada keinginan Laras, tetapi setidaknya tidak lagi bergantung pada satu kantor.

Sore hari, Laras kembali ke Puskeswan membawa salinan barang bukti. Ia meletakkan bungkus permen, foto kulit, dan potongan nama tempat di atas meja.

"Aku akan menemukanmu," bisiknya.

Ponsel Rina bergetar tanpa henti. Wajahnya berubah ketika membuka grup kompleks.

"Laras, jangan baca komentar dulu. Simpan semuanya sebagai bukti."

Sebuah foto Laras berdiri dekat seorang dokter hewan laki-laki di ruang periksa tersebar dengan potongan gambar yang membuat mereka tampak sendirian. Padahal pintu di luar bingkai terbuka dan Wati berada di sisi lain meja.

Judul yang dipasang di atasnya hanya satu pertanyaan:

Istri Mayor berselingkuh saat suaminya bertugas?

1
Nadia Zalfa
lanjut kak
aku
lanjutkan melangkah menuju kehancuran total van. aku mendukungmu!!! /Determined//Determined//Facepalm//Facepalm/
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!