Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: KABAR BAIK UNTUK TIGA MAHASISWA
Beberapa minggu setelah rapat pemilihan itu, perlahan lahan situasi mulai membaik. Bagian akademik fakultas, mungkin karena tekanan dari laporan laporan yang mulai bermunculan, akhirnya mengeluarkan kebijakan baru soal redistribusi beban bimbingan dosen, memastikan tidak ada lagi dosen yang menanggung jumlah mahasiswa bimbingan jauh melebihi standar ideal.
Riko, yang sempat terkatung katung karena Dr. Marlina kewalahan, akhirnya berhasil menyelesaikan revisi terakhirnya dan dijadwalkan sidang skripsi dalam waktu dekat. Dia mengirim pesan panjang lebar ke Bang Tua, penuh emoji semangat, mengabarkan kabar gembira itu, lengkap dengan janji akan mentraktir tidak cuma kopi tapi juga makan besar begitu dia resmi jadi sarjana.
"Traktir jangan lupa yang mahal ya, Riko, jangan cuma mi ayam gerobak, minimal steak lah, bapak kan udah bantu kau dari zaman kau masih pucat pasi tiap ketemu bapak," balas Bang Tua bercanda, yang disambut Riko dengan tawa emoji dan janji akan mentraktir di restoran steak paling mahal yang dia tahu, meski dengan catatan kecil, "asal ada promo ya, Pak, namanya juga mahasiswa".
Bang Tua tertawa membaca balasan itu, mengetik lagi dengan cepat, "yaudahlah, yang penting niatnya, mau di gerobak kaki lima juga bapak terima kok, asal bukan traktir air putih doang".
Dinda, yang sempat tertekan hebat oleh Prof. Bonar, akhirnya berhasil menyelesaikan sidang hasilnya dengan nilai memuaskan, bahkan penelitiannya sempat disebut sebut sebagai salah satu yang terbaik di angkatannya oleh beberapa dosen penguji lain yang lebih obyektif. Prof. Bonar sendiri, meski tetap dengan gaya bicaranya yang tegas, tidak lagi seagresif dulu, entah karena efek insiden di seminar sebelumnya, atau karena dia mulai berhati hati mengingat posisi Dr. Yosia yang semakin diawasi ketat.
Beberapa mahasiswa lain bahkan sempat berkomentar di belakang, membandingkan gaya Prof. Bonar yang sekarang dengan yang dulu, "kok Prof. Bonar sekarang lebih kalem ya, jangan jangan abis ketemu paranormal", candaan yang tentu saja tidak mereka sadari betapa dekatnya dengan kebenaran, meski paranormal yang dimaksud sebenarnya adalah seorang dosen matematika biasa yang kebetulan punya kekuatan yang tidak pernah mereka duga.
Farel, yang paling banyak melalui drama dan air mata sepanjang cerita ini, akhirnya berhasil menyelesaikan skripsinya dengan cara yang benar benar jujur, tanpa bantuan jasa joki mana pun. Dia bahkan sempat mengajukan bantuan dana darurat mahasiswa yang informasinya dia dapatkan dari Bang Tua, meski prosesnya memang tidak sesederhana yang diharapkan, tapi setidaknya sedikit meringankan beban finansialnya menjelang sidang.
Uang DP yang sempat hangus akibat pembatalan jasa joki itu, meski memang tidak bisa kembali, dianggap Farel sebagai pelajaran berharga yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya, sesuatu yang bahkan dia akui sendiri ke Bang Tua, "mahal kali harga pelajarannya, Pak, tapi worth it lah, daripada saya kena masalah plagiarisme beneran".
Suatu sore, ketiga mahasiswa itu, Riko, Dinda, dan Farel, sengaja mengumpulkan diri untuk mentraktir Bang Tua di sebuah rumah makan sederhana dekat kampus, semacam ucapan terima kasih kolektif atas semua bantuan yang sudah dia berikan selama berbulan bulan penuh drama itu.
"Pak, kami nggak tau harus gimana lagi ngucapin terima kasihnya," kata Dinda, mewakili suara ketiganya, matanya berkaca kaca menahan haru.
Riko mengangguk setuju, menambahkan dengan nada serius yang jarang sekali dia tunjukkan, "beneran, Pak, kalau bukan karena bapak, mungkin sekarang saya udah nggak lanjut kuliah, atau paling parah, Farel udah kena masalah plagiarisme yang bisa hancurin masa depannya".
Farel mengangguk pelan, matanya juga mulai berkaca kaca mengingat betapa dekatnya dia dengan keputusan yang bisa saja menghancurkan segalanya, "iya, Pak, saya masih inget kali malam itu, panik kali rasanya, untung bapak angkat telepon".
"Halah, nggak usah lebay gitu. Anggap aja bapak cuma jalanin tugas dosen yang sesungguhnya, bukan yang cuma ngajar terus ninggalin kalian sendirian ngadepin masalah," jawab Bang Tua, mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa terlalu sendu untuk seleranya. "Lagian, kalian nggak tau aja, selama ini bapak juga banyak belajar dari kalian bertiga, soal keberanian, soal perjuangan, soal gimana caranya tetap jujur walau dunia kadang nggak adil."
Ketiga mahasiswa itu terdiam sejenak mendengar kata kata itu, saling bertukar pandang, seolah baru menyadari betapa dalamnya makna dari semua yang sudah mereka lalui bersama selama ini, bukan cuma soal skripsi dan sidang, tapi juga soal pelajaran hidup yang jauh lebih berharga dari sekadar gelar sarjana.
"Tapi Pak, jujur, kadang kami mikir, bapak ini kok kayak punya semacam radar gitu ya, tau aja pas kami lagi susah, terus tau juga cara nyelesaiinnya. Jangan jangan bapak ini punya kekuatan super beneran," celetuk Farel setengah bercanda, tidak menyangka betapa dekatnya candaannya itu dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Bang Tua tertawa keras mendengar celetukan itu, berusaha menutupi keterkejutannya sebaik mungkin. "Kekuatan super dari mana, paling cuma kekuatan sotoy doang, alias sok tau. Kalau bapak beneran punya kekuatan super, udah dari dulu bapak bereskan semua masalah kampus ini sekali gebrak, nggak perlu lah repot repot ngumpulin bukti sana sini kayak detektif kere begini," candanya, berhasil membuat ketiga mahasiswanya tertawa lepas, sama sekali tidak curiga akan kebenaran yang sesungguhnya tersembunyi di balik candaan itu.
Farel menambahkan sambil masih tertawa, "iya juga sih, Pak, kalau bapak superhero beneran, mestinya bapak bisa bikin dosen pembimbing langsung ACC skripsi orang tanpa revisi, itu baru kekuatan super yang paling dibutuhkan semua mahasiswa sedunia". Candaan itu disambut tawa paling keras dari ketiganya, sebuah lelucon yang terasa begitu relate bagi siapa pun yang pernah merasakan pedihnya revisi skripsi berkali kali.
Riko menambahkan sambil masih terkekeh, "kalau bapak beneran superhero, kostumnya kayak apa ya, Pak, jangan jangan kemeja kotak kotak sama sendal jepit, superhero paling santai sedunia". Candaan itu disambut tawa lepas mereka berempat, mencairkan suasana haru yang tadi sempat menggantung di udara.
Dinda menambahkan, masih terkekeh, "atau jangan jangan kekuatan bapak itu ngomel dalam hati, terus tiba tiba masalah orang selesai sendiri, kayak sihir dari mulut yang nggak pernah kebuka". Candaan itu, meski dilontarkan asal asalan tanpa tahu betapa dekatnya dengan kenyataan, sempat membuat Bang Tua tersedak minumannya sendiri, terbatuk batuk kecil sambil tertawa canggung, "wah, ngawur kali kau, Dinda, kalau kekuatan bapak cuma modal ngomel doang, mana ada yang berhasil, paling paling cuma bikin tetangga kesel doang".
Ketiga mahasiswa itu tertawa mendengar reaksi berlebihan Bang Tua, sama sekali tidak menyadari betapa dekatnya candaan mereka dengan kebenaran yang sesungguhnya. Sore itu berlalu dengan penuh tawa dan cerita, jauh dari suasana tegang yang selama berbulan bulan mewarnai hubungan mereka, sebuah momen sederhana yang terasa begitu berharga setelah semua drama yang mereka lalui bersama.