⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 34: Rival Zhao Xiao
Angin malam berembus dingin menyapu balkon lantai dua Paviliun Phoenix Agung. Daun-daun bambu di pelataran bergemerisik lembut, mengiringi keheningan yang menyelimuti kediaman resmi Putri Mahkota.
Di atas sana, sinar rembulan perak berpendar terang, menyoroti dua sosok yang berdiri berdekatan di tepi teras kayu berukir.
Pangeran Ketiga, Zhao Feng, berdiri dengan sikap tenang dan anggun. Lengan bajunya yang luas berkibar perlahan ditiup angin malam.
Di sampingnya, Shen Yue berdiri tegak. Jemari lentiknya yang ramping memegang erat gulungan surat rahasia berstempel lilin hitam, informasi vital mengenai rencana busuk Perdana Menteri Lin dan faksi perbatasan yang baru saja diserahkan oleh Zhao Feng.
"Perdana Menteri Lin bukan orang bodoh, Putri Mahkota," suara Zhao Feng terdengar rendah, bernada peringatan yang halus namun sarat akan bahaya. "Dia tau hukum Istana Timur berada sepenuhnya di bawah kendalimu sejak pagi tadi. Maka dari itu, dalam Perjamuan Kekaisaran mendatang, dia tidak akan menyerangmu melalui tata kelola rumah tangga, melainkan melalui dakwaan pengkhianatan dengan memanfaatkan utusan asing."
Shen Yue menyunggingkan senyum tipis yang amat memikat, sebuah senyuman penuh dominasi dan kecerdasan yang tak tergoyahkan. Ia menatap gulungan kertas di tangannya, lalu mendongak menatap Zhao Feng.
"Pengkhianatan?" bisik Shen Yue merdu, nada suaranya mengalir bagaikan simfoni dingin di tengah malam. "Begitu dangkal. Perdana Menteri Lin berpikir dia bisa memasang perangkap untukku, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang diayunkannya hanya mempercepat eksekusi bagi faksinya sendiri. Terima kasih atas informasimu, Pangeran Ketiga."
Zhao Feng terkekeh pelan, tatapan matanya memancarkan rasa kagum yang mendalam terhadap wanita di hadapannya. "Kau selalu membuatku terpesona, Putri Mahkota. Keberanian dan ketenanganmu sungguh tak tertandingi di istana yang penuh ular ini."
Tanpa mereka sadari, di balik bayangan pilar-pilar besar koridor lantai bawah yang gelap, sesosok tubuh tinggi tegap menghentikan langkahnya secara mendadak.
Itu adalah Putra Mahkota Zhao Xiao.
Malam itu, setelah melewati pergolakan batin yang hebat serta rasa bersalah yang tak terucap akibat teguran Kaisar dan pengorbanan Shen Yue di Istana Kedamaian Abadi tadi pagi, Zhao Xiao memutuskan untuk kembali bermalam di Paviliun Phoenix Agung.
Ia berniat menunjukkan iktikad baik sebagai suami dan pemimpin Istana Timur.
Namun, pemandangan yang menyambut kedatangannya di pelataran paviliun justru menghantam dadanya bagaikan tembakan panah beracun.
Dari jarak sepuluh langkah di bawah koridor, Zhao Xiao mendongak dan menyaksikan secara langsung kebersamaan Shen Yue dan Zhao Feng di balkon atas.
Di bawah sinar bulan, kedua orang itu tampak begitu dekat, saling melempar senyum dan berbicara dengan keakraban rahasia yang tidak pernah ditunjukkan Shen Yue kepadanya.
Crak!
Rahang Zhao Xiao mengeras seketika. Pembuluh darah di pelipisnya bertonjolan. Tangannya yang tersembunyi di balik jubah naga keemasan mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih dan menancap di telapak tangan.
Gelombang amarah, cemburu, dan rasa terkhianati yang membakar mendadak meledak di dalam dadanya.
Kepala Kasim dan rombongan pelayan yang berjalan beriringan di belakang Putra Mahkota seketika membeku. Mereka melihat ekspresi wajah Zhao Xiao yang berubah sangat mengerikan. Atmosfer di sekitar sang Putra Mahkota terasa membeku dan mencekat leher.
Kasim pribadi Zhao Xiao gemetar hebat, dan memucat bagai mayat. Dengan suara bergetar dan panik, ia berbisik sambil membungkuk dalam-dalam, "Y-Yang Mulia... hamba akan memberitahukan kedatangan Yang Mulia kepada Putri Mahkota..."
Ssh!
Sebelum kasim itu sempat melangkah, Zhao Xiao mengangkat sebelah tangannya yang terangkat kaku di udara. Gerakan itu pun menghentikan seluruh rombongan.
"Di tempat," perintah Zhao Xiao dengan suara yang sangat rendah, dingin, dan bergetar karena menahan murka. "Jangan ada satu pun dari kalian yang berani bersuara atau mengikutiku. Siapa pun yang bersuara... akan kuhukum mati!"
Para kasim dan dayang seketika menundukkan pandangan mereka rapat-rapat ke tanah, dan ketakutan setengah mati.
Mereka menahan napas, dan tidak berani melirik sedikit pun saat Zhao Xiao membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam Paviliun Phoenix Agung secara diam-diam.
Langkah kaki Zhao Xiao sangat ringan bagaikan bayangan malam, tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas karpet beludru.
Tanpa diketahui oleh Shen Yue maupun Zhao Feng yang masih berada di balkon, sang Putra Mahkota telah menyusup masuk dan menerobos ke dalam kamar utama Paviliun.
Sementara di balkon atas, pembicaraan rahasia akhirnya usai.
"Waktu sudah larut," ujar Shen Yue seraya mengemas surat rahasia itu ke dalam lengan bajunya. "Pangeran Ketiga, sebaiknya Anda segera pergi sebelum pengawal ronda melintas."
Zhao Feng lalu membungkuk hormat dengan senyuman miring di bibirnya. "Tentu, Putri Mahkota. Sampai jumpa di Perjamuan Kekaisaran. Aku menantikan pertunjukan megah yang akan kau tampilkan."
Dengan satu lompatan ringan yang sangat halus, tubuh Zhao Feng melesat menembus kegelapan malam, menyatu dengan bayangan pepohonan dan menghilang dari area Paviliun Phoenix Agung.
Shen Yue membenahi jubah luarnya yang sedikit tersingkap angin malam. Ia menarik napas panjang, seraya menikmati kesegaran udara malam sebelum melangkah memutar menuju pintu masuk kamar utamanya.
Namun, tepat di depan pintu kayu berukir phoenix, Shen Yue mendapati Qingzhu berdiri kaku di sana. Wajah pelayan kepercayaannya itu tampak pucat pasi, matanya membelalak lebar, dan kedua tangannya saling meremas erat di depan dada.
Tubuh Qingzhu gemetar hebat bagaikan daun yang dihentak badai.
"Qingzhu?" panggil Shen Yue dengan dahi berkerut pelan. "Mengapa kau berdiri di luar dalam keadaaan seperti ini?"
"N-Nona... maksud hamba, Y-Yang Mulia Putri Mahkota..." cicit Qingzhu dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Tenggorokannya terasa tersumbat, dan matanya melirik liar ke arah gagang pintu kamar dengan ketakutan yang sangat besar.
Namun, pikiran Shen Yue saat itu sedang fokus pada rahasia besar mengenai faksi Perdana Menteri Lin dan analisis taktik yang baru saja diterimanya dari Zhao Feng.
Ia tidak terlalu mengamati gerak-gerik aneh pelayannya dan menganggap Qingzhu hanya kedinginan akibat angin malam.
"Sudahlah, masuklah dan siapkan lilin tambahan," kata Shen Yue santai sambil mendorong pintu kamar.
Shen Yue melangkah masuk ke dalam kamar pengantin yang luas dan megah itu.
Brak!
Tiba-tiba, sebelum Qingzhu sempat mengikutinya melangkah masuk, pintu kayu yang tebal itu langsung ditarik dan ditutup rapat dari luar! Suara selot kunci besi yang bergeser terdengar mengunci pintu tersebut dengan rapat.
Shen Yue menghentikan langkahnya secara mendadak. Alisnya terangkat tinggi karena heran.
"Qingzhu?" panggil Shen Yue seraya memutar tubuhnya menghadap pintu yang telah tertutup rapat. "Apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengunci pintu dari luar?"
Namun tidak ada jawaban dari luar. Yang terdengar hanya hembusan napas panik pelayan di balik pintu.
Shen Yue yang cerdas seketika menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres. Atmosfer di dalam kamar utama pun terasa sangat berat, pekat, dan sarat akan ancaman berbahaya.
Dupa kayu cendana yang biasanya menenangkan, kini tercium bercampur dengan aroma minyak wangi kekaisaran dan hawa keberadaan seseorang yang sangat dominan.
Seakan tau apa yang sedang terjadi, Shen Yue dengan tenang dan perlahan mengedarkan pandangan matanya menyapu seluruh sudut ruangan.
Di tengah remang cahaya lilin merah yang menyala di meja utama, duduk seorang pria.
Dialah Putra Mahkota Zhao Xiao.
Zhao Xiao duduk tegap di kursi kayu cendana bertangan naga. Tubuhnya dibalut jubah kebesaran emas yang belum dilepasnya. Kedua tangannya bertumpu pada lutut, dan kepalanya sedikit tertunduk dalam bayangan.
Namun, saat Shen Yue menatapnya, Zhao Xiao perlahan mendongakkan wajahnya.
Tatapan mata Zhao Xiao saat itu begitu tajam, dingin, dan sarat akan amarah beracun yang sanggup membekukan darah siapa pun yang memandangnya.
Tatapan mata seorang penguasa yang cemburu dan merasa dikhianati di dalam kediamannya sendiri.
Bersambung...