Linggar Angkasa adalah seorang pria yang sudah memiliki istri, menjalin cinta terlarang dengan seorang wanita yang tidak lain adalah karyawannya sendiri, istrinya seorang model majalah yang sering berada di luar kota.
Tania... wanita berusia 25 tahun yang menjabat sebagai sekretaris perusahaan retail,, atas dasar cinta, dia rela menjadi simpanan dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
3 tahun menjalin asmara tanpa kepastian kemana arah hubungan akan berlabuh, tiada hari tanpa desahan, kepuasan dan... cinta bertepuk sebelah tangan.
Jalinan cinta terlarang keduanya membuahkan hasil... tanpa ikatan... tanpa tuntutan... yang ada hanya sebuah kesadaran dari kesalahan...
Apakah Tania dan Linggar akan tetap bertahan? ataukah Tania mundur dan memutuskan hidup tanpa perlindungan...
Selamat membaca ya guys... semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
#AKU SUDAH TIDAK PEDULI DI CINTAI ATAU TIDAK, SAAT INI AKU HANYA BUTUH KETENANGAN MENJALANI HIDUP#
Waktu yang bergulir membuat perubahan di setiap cerita manusia, terkadang hati berada di titik lelah bukan karena bosan... Melainkan beristirahat sejenak, agar mampu berpikir lebih baik.
Satu tahun... Dua tahun... Tiga tahun... Bahkan seumur hidup sekalipun, Linggar tidak akan berhenti berharap bisa bertemu dengan ke dua putranya, dan wanita yang telah di sakitinya.
Dia tidak lagi peduli dengan banyaknya wanita yang mengejarnya, Yuka yang masih gencar mendekatinya tak lagi dia hiraukan. Lebih tepatnya... Terserah.
Bahkan beberapa kali dia sempat bertemu dengan Maya, sikapnya jauh lebih baik. Sebab Maya menyapanya tanpa menebar pesona untuk mendapatkannya.
Maya yang menggandeng anak perempuan berusia sekitar 5 tahun... terkesan menjaga jarak bahkan melarang putrinya menerima uang pemberiannya.
Linggar salut pada mantan istrinya, saat dia bercerita bahwa dia juga pernah berkhianat, Maya sama sekali tidak marah atau menghujat, dia tersenyum dan berkata
" jika benar kita sama sama berkhianat, maka bersiaplah menerima hukuman sepertiku, sebab setiap perbuatan akan di mintai pertanggung jawaban, pesanku.... Bukan sebagai mantan istrimu... Melainkan sebagai temanmu.... Anak tidak bersalah, kitalah yang pendosa. Jangan pernah mengorbankan anak demi ambisi."
5 tahun sudah pembangunan yayasan ini berjalan dengan bertahap, dan di 3 tahun terakhir dia habiskan waktu untuk mencari kedua putranya serta wanita yang mengandung anak anaknya. Dan berakhir dengan... Nihil.
Saat ini... Perusahaan papanya dan perusahaan yang dia dirikan telah bergabung, sebab papa Linggar kembali menyerahkan cambuk kekuasaan pada putranya.
Sejak saat itu... Linggar menghentikan pencariannya. Bukan bosan... Tetapi hanya sedikit... lelah. Sebab dia merasa semakin di cari semakin menghilang, semakin dia mendekat takdir seolah membuatnya semakin menjauh.
Saat ini... Linggar lebih ke berserah tetapi bukan pasrah..., dia menggunakan jalur langit dan juga berbenah.
Dia tidak ingin melawan takdir, ucapan Maya sedikit menamparnya. Jika Maya saja mampu berjalan sesuai takdirnya, mengapa dia tidak.? Begitu pikir Linggar.
Dan sejak itu... Sikapnya dingin tak tersentuh. Bukan arogan... tetapi berbenteng kokoh, tak ada canda yang menghiasi wajahnya... Kecuali saat dia bertemu dangan anak anak panti asuhan atau orang tua jompo.
Linggar menatap bangunan yang akan di jadikan AULA panti, di depan aula akan dia bangun taman bermain untuk anak anak, tetapi tidak di buka untuk umum.
Bertepatan di sebelah panti terdapat toko waralaba cabang milik Angga yang sengaja di bangun di daerah tersebut.
Angga ingin mengikuti jejak sahabatnya, membangun bisnis yang di mulai dari NOL, agar kelak saat berumah tangga, dia sudah memiliki aset pribadi.
Toko yang di bangun Angga memiliki dua lantai, lantai atas dia jadikan tempat tidur karyawan.
Jika Angga dan Linggar berkunjung, mereka lebih sering menghabiskan waktu di pantai dan menginap di sana.
" Maaf pak Linggar, apakah desain nya sudah sesuai dengan yang bapak inginkan? " tanya kepala pengurus panti.
" Sudah Bu, yang penting jangan ada kolam sekecil apapun, karena sangat berbahaya. Itu saja pesan saya. " tegas Linggar.
Tiba tiba dari arah belakang, dua orang anak berlari dan tidak sengaja menabraknya. lalu terdengar suara wanita berteriak.
" Shaka!!!"
" Huaaaa sakiiit, sakiiiit , aduuuh sakiiiit" teriak Shaka kesakitan, membuat gaduh orang orang yang ada di sana."
Satu anak kembar lagi datang, bersikap cuek dan tetap berjalan tanpa menoleh pada Linggar, tetapi... Menolong saudaranya yang mengaduh kesakitan.
" ceroboh!!! Lain kali kalau berlari lihat depan pakai mata!!" ucapan tajam keluar untuk saudara kembarnya.
" Ayo berdiri, kasihan bunda dan adek Satria." kembali ucapan pedas terlontar dari bibir mungil itu.
" Astagfirullah... Kalian tidak apa apa?" tanya Tiyas pada si kembar.
" Tidak Bunda, Shaka ini ceroboh. Heran sama anak kecil." omelannya bukan membuat orang marah tetapi membuat orang di sekitarnya cekikikan.
Bagaimana mungkin dia mengatai saudaranya anak kecil, sedangkan diapun masih kecil bahkan mereka saudara kembar.
" Kalian benar benar tidak apa apa? " suara bariton itu membuyarkan perdebatan mereka.
" Pak Linggar...." sapa Tiyas.
" Loh anda Bu Tiyas...? Jawab Linggar.
" Oh iya pak... Mohon maaf kan putra putra saya. Perkenalkan mereka Shaka dan Shakti." Tiyas memperkenalkan si kembar.
Linggar menoleh pada kedua anak laki laki yang wajahnya kembar identik itu. Dan...
Betapa terkejutnya Linggar, saat menatap wajah kedua anak lali laki itu, dia merasa... Tidak asing.
Linggar mensejajarkan tubuhnya agar setara dengan kedua bocah itu... Sejenak dia terlena... entah apa yang dia harapkan dari pertemuan ini.
Linggar memegang wajah Shaka dan Shakti, tetapi sebentar kemudian... Kedua anak kembar itu berlari ke arah ibunya.
" Bunda.... " Shaka dan Shakti bersembunyi di bali tubuh Tiyas.
" Astagfirullah... Jelas jelas mereka adalah anak anak dokter Tiyas, apa yang sudah ku pikirkan..." gumam Linggar dalam hati.
" Maafkan mereka pak Linggar... " kata Tiyas dengan sungkan.
" Tidak apa apa Dokter, saya hanya merasa tidak asing dengan mereka" jawab Linggar kembali bersikap dingin, tetapi melempar senyum pada Shaka dan Shakti.
" Bunda... Kita boleh main sama adek?" tanya Shakti.
" Boleh... Tetapi tidak boleh keluar pagar atau masuk ke dalam kamar. " jawab Tiyas.
Lalu ketiga anak itu berlari menuju ayunan dan bermain di sana.
Linggar melihat dari jauh tingkah ketiganya, senyum tipis tak terasa terukir indah di sudut bibirnya.
" Tuhan... Pertemukan aku dengan anak anakku..." doa Linggar dalam hati.
" Pak Linggar, Bu Dokter.. Maaf menunggu, ruangan baru saja di renov, jadi masih kotor." kata kepala Panti.
" Tidak apa apa... Saya hanya ingin memeriksa kesehatan mereka... Tidak perlu memperlakukan saya secara istimewa" jawab Tiyas.
Lalu... kepala panti tersebut mempersilahkan Linggar dan Tiyas untuk melihat kondisi orang tua yang ada di sana.
Dan Tiyas dengan cekatan segera memeriksa semua orang tua di bantu dengan kedua perawatnya.
Tetapi... Di balik jendela tempat pemeriksaan itu... Linggar berdiri memperhatikan ketiga putra Tiyas dengan pandangan yang sulit di artikan.... Pandangan penasaran dan... Takut adanya kenyataan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat membaca ya guys... Jangan lupa tinggalkan jejak kalian...
yg kabur.... krna takut klo kndungannya disuruh gugurin linggar😔😔
pasti km akn mnyesal dan trluka... klo smpe mereka tak menerimamu linggar...
dlu seenteng itu km mngtakn tak akn prnh mnikahi tania... bhkn tk mnginginkn ank drinya....
dan bgitu jg dgn yuka.... km pun enteng bgt mnyetujui prtunangan....
karna mulut tajammu mnolak seandainya tania hamil....
tania hnya mmprtahnkn ank yg tak brdosa linggar.... tania prgi krna takut km memaksanya untuk mnggugurkn kndungannya....
jdi.... mkan tuh tuduhan kejimu trhdp tania...🙄🙄🙄