Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembelaan Areksa

“Kamu kan yang mencampurkan obat perangsang ke minuman saya waktu pesta itu.”

Deg!

Wajah Felicia seketika memucat.

Adira yang sejak tadi hanya diam menatap Areksa, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Felicia.

Felicia membeku.

Selama beberapa detik, tidak ada satu pun suara yang terdengar di ruangan itu.

“K-Kak…” Felicia mencoba tersenyum gugup. “Aku nggak tau apa-apa.”

“Jangan pura-pura nggak tau.” Suara Areksa terdengar dingin.

“Saya sudah tau apa yang kamu lakukan.”

Felicia menelan ludah. “A-aku melakukan itu semua…”

“Untuk apa?” Areksa menatapnya tajam.

“Untuk menjebak saya, lalu kamu meminta saya bertanggung jawab dan menikahi kamu, begitu?”

Felicia membeku. Suaranya tercekat tak mampu mengucapkan satu kata pun.

Suara Areksa terdengar tegas. “Kalau itu rencanamu, lupakan. Itu tidak akan pernah terjadi, Feli.”

Felicia mengepalkan tangannya.

“Oh…” Ia tertawa sinis. “Sekarang aku mengerti.”

Tatapannya beralih kepada Adira. “Kamu pulang setelah pesta itu, lalu melakukan semua itu dengan babysitter Aretha, iya kan?”

Raut wajah Adira langsung berubah.

Areksa menatap Felicia tajam. “Lebih baik saya melakukannya dengan Adira daripada dengan kamu.”

Felicia terkesiap. “Cih!”

Ia menatap Adira penuh penghinaan. “Tampang saja polos. Diam-diam ternyata seperti ular!”

“Tidak!” Areksa langsung membantah.

“Saya yang datang kepadanya. Dia sudah menolak. Saya yang memaksa.”

Suasana mendadak hening.

Areksa menarik napas sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih mantap.

“Saya mencintainya.”

Deg!

Felicia membeku.

Adira pun menatap Areksa dengan mata berkaca-kaca.

“Kak Reksa…” Felicia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kak Reksa sadar nggak sih dengan apa yang Kakak katakan? Kak Aruna bahkan baru meninggal empat bulan yang lalu.”

“Saya ingat.”

“Lalu kenapa?”

“Karena saya tidak bisa mengatur perasaan saya hanya berdasarkan waktu.”

Felicia menatapnya dengan kecewa.

Areksa kemudian menunjuk ke arah pintu. “Kamu lebih baik keluar.”

“Tapi, Kak—”

“Kamu masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu. Sekarang keluar!”

Felicia menggeleng. “Aku akan adukan ini ke Papa!”

“Silakan.”

Areksa sama sekali tidak gentar. “Saya tunggu.”

Felicia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berbalik.

Brak!

Pintu ditutup dengan kasar.

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Namun kali ini, perhatian Areksa langsung tertuju kepada Adira.

“Adira…”

Adira menundukkan wajah. “Kenapa Tuan harus mengatakan semuanya kepada dia?”

Suaranya bergetar. “Saya belum siap, Tuan.”

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Saya belum…”

“Adira, maaf.”

Areksa langsung mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah darinya. “Saya hanya tidak ingin Feli terus merendahkan kamu.”

Adira mengusap air matanya dengan cepat. “Saya pulang.”

“Saya antar.”

“Masih ada sopir di bawah.”

“Saya tetap akan pulang bersama kamu.”

Adira menatapnya. Matanya masih basah.

“Selalu seenaknya.”

Adira mengambil tasnya, lalu berjalan menuju pintu.

Areksa mengikuti dari belakang. Kali ini ia tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya memastikan Adira tidak pulang sendirian setelah semua yang baru saja terjadi.

***

“Loh, kamu mau ke mana?”

Suara Bayu membuat langkah Areksa terhenti.

Bayu baru saja keluar dari ruangannya. Sebelumnya, Chandra sudah memberitahunya bahwa Felicia datang dan sempat memaksa masuk ke ruangan Areksa.

“Pulang, Pa.”

Bayu mengernyit. “Terus itu Adira kenapa?” Ia melirik ke arah Adira yang sudah berjalan lebih dulu. “Mukanya kayak habis nangis.”

“Gara-gara Feli.”

Areksa menghela napas. “Dia menghina dan merendahkan Adira.”

“Kenapa bisa begitu?”

Bayu tampak heran. “Chandra baru kasih tau Papa tadi. Dia sudah melarang Feli masuk, tapi Feli tetap menerobos.”

Areksa mengangguk kecil. “Iya.”

Bayu memperhatikan wajah putranya.

Namun, baru beberapa detik kemudian, sesuatu seperti terlintas di pikiran Areksa.

Tatapannya berubah. Wajahnya perlahan memerah.

Ia teringat apa yang baru saja terjadi di ruangannya.

Adira duduk di pangkuannya. Mereka berciuman.

Dan Felicia melihat semuanya.

Bayu yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hanya semakin bingung melihat perubahan wajah putranya.

“Reksa?”

“Sudahlah, Pa.”

Areksa mengusap tengkuknya dengan canggung. “Aku mau kejar Adira dulu.”

Tanpa menunggu pertanyaan berikutnya, Areksa langsung berjalan cepat meninggalkan Bayu.

Bayu hanya menatap punggung putranya. “Ini anak kenapa mukanya merah?”

Ia menggeleng pelan. “Jangan-jangan ada sesuatu yang Papa nggak tau.”

***

Areksa akhirnya sampai di mobil yang tadi mengantar Adira.

Pak sopir yang berdiri di samping mobil langsung menoleh ketika melihatnya.

“Pak, biar saya yang bawa.”

Areksa mengulurkan tangannya. “Kunci mobilnya. Bapak bisa antar Papa pulang nanti.”

“Oh, iya, Den.” Pak sopir segera menyerahkan kunci mobil.

“Maaf, Pak.”

“Gapapa, Den.”

Areksa membuka pintu mobil, lalu masuk ke kursi pengemudi.

Adira sudah lebih dulu duduk di kursi penumpang.

Tanpa banyak bicara, Areksa menyalakan mesin.

Mobil pun meninggalkan area gedung kantor Dirgantara.

Sepanjang perjalanan, Adira hanya diam.

Tatapannya tertuju ke luar jendela.

Areksa beberapa kali meliriknya, tetapi perempuan itu sama sekali tidak menoleh.

“Adira, saya—”

“Kenapa Tuan harus mengatakan hal-hal macam-macam tadi?”

Areksa menghela napas. “Hal macam apa?”

“Kenapa Tuan harus berbohong?”

“Saya bohong?” Areksa menoleh sekilas. “Yang mana?”

“Kenapa Tuan harus mengatakan kalau Tuan mencintai saya?”

Adira akhirnya menatapnya. “Tuan tidak mungkin—”

“Saya memang mencintai kamu, Adira.”

Adira terdiam. “Secepat itu?” tanyanya lirih. “Padahal benar apa yang dikatakan Non Feli. Aruna baru meninggal empat bulan yang lalu.”

Areksa mengeratkan genggaman pada kemudi.

“Saya yakin itu hanya perasaan tanggung jawab. Bukan perasaan Tuan yang sebenarnya.”

“Kamu kok yang paling tau soal hati saya? Saya benar-benar mencintai kamu, Dira.”

“Enggak.” Adira menggeleng.

“Sejak awal seharusnya kita nggak punya hubungan apa pun, Tuan. Seharusnya malam itu saya nggak perlu membukakan pintu untuk Tuan. Dengan begitu, kita nggak akan terjebak seperti ini.”

"Kamu menyesal menikah dengan saya?"

Pertanyaan itu membuat Adira terdiam. Ia menatap keluar jendela.

Namun tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya.

Areksa kembali memandang jalan. “Saya akui saya salah karena sudah melakukan itu kepada kamu. Saya juga akui, awalnya saya menikahi kamu karena tanggung jawab. Tapi asal kamu tau, sebelum kejadian itu…” Areksa menarik napas. “Entah kenapa, perasaan saya kepada kamu sudah berbeda, Dira.”

“Itu hanya karena Aretha, Tuan.”

Areksa menghela napas. “Bisa nggak kamu jangan panggil saya Tuan terus?”

“Nggak bisa.”

Areksa menoleh sebentar. “Kamu sepertinya harus dihukum.”

Adira langsung menatapnya curiga. “Hukuman apa?”

Areksa tidak menjawab. Ia justru sengaja mempercepat mobil sedikit.

Adira langsung memegang sabuk pengamannya. “Tuan, kenapa harus ngebut?”

Areksa tetap diam.

Adira semakin memperhatikan jalan di depan.

Beberapa saat kemudian, ia menyadari sesuatu.

Ini bukan arah menuju rumah.

“Tuan…”

Areksa tetap tidak menjawab.

“Kita mau ke mana?”

Adira mulai panik.

Areksa akhirnya meliriknya. “Hotel.”

“Ngapain?”

“Hukuman.”

Adira menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan.

“Mas…”

“Maaf, oke?” suara Adira melembut. “Saya janji. Saya nggak akan panggil Tuan lagi.”

Perlahan, Areksa mengurangi kecepatan mobil.

Nada lembut Adira membuat ketegangan di wajahnya menghilang seketika.

Ia menghela napas. “Kita pulang.”

Adira menatapnya. “Benarkah?”

“Iya.”

Areksa kembali fokus ke jalan. “Tapi kalau kamu masih memanggil saya Tuan…”

Ia melirik Adira sekilas dengan senyum tipis. “Saya pastikan kamu dapat hukuman yang benar-benar bikin kamu kapok.”

Adira langsung mengerucutkan bibir. “Mas…”

“Nah.” Areksa tersenyum. “Begitu lebih baik.”

Adira akhirnya mengalihkan pandangan ke jendela.

Namun kali ini, sudut bibirnya tanpa sadar ikut terangkat sedikit.

Setidaknya, untuk beberapa menit, pembicaraan mereka tidak lagi dipenuhi luka dari kejadian pagi tadi.

***

“Ma, Pa!”

Suara Felicia terdengar nyaring begitu ia masuk ke dalam rumah. Langkahnya tergesa-gesa, bahkan tas yang dibawanya nyaris terlepas dari bahunya.

Sisil yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh.

“Ada apa sih, Feli? Teriak-teriak begitu.”

“Papa mana, Ma?”

“Memangnya kenapa cari Papa?”

Belum sempat Felicia menjawab, terdengar langkah kaki dari arah tangga.

Bara turun dari lantai atas sambil merapikan lengan kemejanya.

“Ada apa?” tanyanya. “Papa dengar kamu teriak.”

Felicia langsung menghampiri kedua orang tuanya. “Mama sama Papa harus tau sesuatu.”

“Apa?” Sisil mulai penasaran.

“Kak Reksa sudah menikah!”

Sisil dan Bara sama-sama membeku.

“Hah?” Bara mengernyit. “Nikah?”

“Sama siapa?” tanya Sisil cepat.

Felicia mengangguk berkali-kali. “Aku serius, Ma, Pa. Kak Reksa sendiri yang bilang tadi waktu aku datang ke kantornya.”

Sisil masih tampak tidak percaya. “Jangan ngelantur, Feli. Setahu Mama, tidak ada pembicaraan soal pernikahan Areksa.”

“Aku juga awalnya nggak percaya.” Felicia menarik napas. “Tapi dia benar-benar bilang kalau dia sudah menikah.”

“Dengan siapa?” Bara kembali bertanya.

Felicia terdiam sejenak, seolah sengaja membiarkan rasa penasaran kedua orang tuanya meningkat.

“Adira.”

Sisil langsung menatap putrinya. “Adira?”

“Iya.”

“Adira yang bekerja sebagai babysitter Aretha itu?”

Felicia mengangguk. “Iya. Babysitter Aretha.”

Bara tampak semakin bingung. “Bagaimana bisa?”

Felicia kemudian berkata dengan suara lebih pelan. “Dan itu belum seberapa.”

“Apa lagi?” tanya Sisil.

“Aku melihat mereka sendiri.”

“Melihat apa?”

Felicia menelan ludah. “Kak Reksa memangku Adira. Mereka... sedang berciuman.”

Sisil spontan membelalakkan mata. “Apa?!”

“Serius, Ma.”

Bara mengusap wajahnya, seolah berusaha mencerna semua informasi yang baru saja didengarnya.

“Jadi kamu mau bilang Areksa menikahi babysitter anaknya sendiri?”

“Bukan cuma itu, Pa.” Felicia menggeleng. “Kak Reksa bilang mereka sudah menikah sejak sebulan lalu.”

“Sebulan?” ulang Sisil tidak percaya.

Felicia mengangguk. “Kenapa keluarga Dirgantara sama sekali tidak memberi tahu kita?” Sisil mulai terdengar kesal. “Mereka keluarga dekat kita. Setidaknya untuk urusan sebesar ini, seharusnya ada kabar.”

“Justru itu.” Felicia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Aku juga merasa aneh.”

Bara berjalan menuju sofa lalu duduk. “Aruna baru meninggal empat bulan lalu.”

Kalimat itu membuat suasana ruang keluarga seketika berubah.

Sisil ikut duduk di sampingnya. “Benar. Baru empat bulan.”

"Makanya aku nggak mengerti. Kenapa tiba-tiba Kak Reksa menikah lagi? Dan kenapa dengan Adira?”

Bara menghela napas panjang. “Kita tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari apa yang kamu lihat, Fel.”

“Tapi dia sendiri yang mengatakannya, Pa.”

“Papa tau.”

Bara terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menatap Sisil.

“Lebih baik malam ini kita datang ke rumah keluarga Dirgantara.”

Sisil mengangguk. “Kita tanyakan langsung kepada mereka.”

“Kenapa pernikahan itu dirahasiakan,” lanjut Bara. “Dan kenapa semuanya dilakukan begitu cepat.”

“Kalau begitu,” ujar Sisil pelan, “malam ini kita ke sana.”

Bara mengangguk. “Kita dengar penjelasan mereka langsung.”

1
Syti Sarah
selmat ya Adira 😍😍
sunaryati jarum
Selamat atas kehamilannya Adira, semoga bayi dan kamu sehat.Thoor segera kuak kalau Adira itu Little girl nya Areksa,agar rasa insecure Adira hilang.
Fegajon: iya 2 bab lagi, tenang aja😎
total 1 replies
Syti Sarah
mungkin Adira hamil kli ya
sunaryati jarum
Coba jika kamu tidak mengharapkan dinikahi Areksa,kamu tidak mempermasalahkan pernikahan Adira dan Areksa Felicia,itu juga karena olahmu yang ingin menjebak Areksa.Memang Adira itu mungkin jodoh Areksa setelah Aruna.
anakkeren
rasain lo fel
sunaryati jarum
Kau yang memberi obat perangsang tapi Adira yang digagahi Areksa.Lagia Adira itu orang yang selama ini dicari Areksa.Jepit dan liontin Aruna,itu milik Adira dari Areksa, maka Areksa mengira Aruna little girl nya
Syti Sarah
rasain kamu fel,ktahuan kn akal licik kamu
sunaryati jarum
Jika tahu Adira little girl kamu,kamu menyesal telah membentaknya.Jika kau mencintai Adira kenapa bisa tertarik pada Aruna.Semoga kalian makin dekat dan terungkap bahwa kamu cinta pertama suamimu
Fegajon: sebentar lagi ka
total 1 replies
sunaryati jarum
Areksa padahal barang itu milik Adira sebelum diberikan kepada Aruna
Syti Sarah
waaah,cri Msalah mmang ya kamu reksa
sunaryati jarum
Sedikit demi sedikit little girl nya dekat,pasti nanti sangat bahagia
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!