Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

[TING!]

[Proses Penyembuhan Fisik Minor selesai.]

[Status Pita Suara: Dipulihkan sebanyak 40 persen.]

[Catatan: Suara tuan rumah belum bisa kembali jernih seperti sedia kala, namun sudah bisa digunakan untuk berbicara dan bernyanyi dengan nada tertentu.]

Stevan membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit ruangan kerjanya.

Ia menelan ludah, mencoba merasakan keadaan kerongkongannya yang kini tidak lagi terasa kaku dan perih.

Tangan kirinya naik menyentuh jakun di lehernya dengan gerakan sedikit gemetar.

Ia menarik napas panjang, mengumpulkan udara di paru-parunya, lalu memaksa otot tenggorokannya untuk bekerja.

"A... ah..."

Sebuah suara serak dan sangat berat keluar dari mulut Stevan.

Meskipun terdengar seperti suara besi berkarat yang bergesekan, itu adalah suara nyata yang berhasil ia keluarkan.

Mata Stevan seketika memerah dan air mata kebahagiaan menetes dari sudut matanya.

Sudah sekian lama ia terkurung dalam penjara keheningan, dan hari ini belenggu itu akhirnya mulai retak.

"A-aku... bisa... bicara," ucap Stevan perlahan, setiap kata dieja dengan susah payah dan suara yang sangat parau.

Suaranya tidak lagi jernih dan emas seperti saat ia masih menjadi bintang kampus dulu.

Suaranya kini terdengar gelap, berat, serak, dan dipenuhi oleh tekstur berpasir yang sangat maskulin.

Stevan tersenyum lebar, ia sama sekali tidak kecewa dengan perubahan tekstur suaranya ini.

Justru suara serak dan berat ini sangat cocok dengan genre musik rock elektronik yang sedang ia produksi sekarang.

Stevan bangkit dari sofa, berjalan menuju meja kerjanya yang dilengkapi dengan komputer produksi dan mikrofon rekaman kelas atas.

Ia menyalakan komputer itu dan membuka file proyek lagu utama yang baru saja mereka selesaikan tadi di lantai bawah.

"Jika aku belum bisa menyanyi lirik penuh, aku masih bisa mengisi bagian yang kosong," batin Stevan.

Ia memakai headphone dan menekan tombol rekam pada mikrofon di depannya.

Stevan memutar ulang lagu tersebut tepat di bagian chorus terakhir saat Clara menarik nada tinggi.

Di latar belakang melodi itu, ada ruang kosong yang sengaja ia sisakan sebelumnya.

Stevan mendekatkan bibirnya ke mikrofon, memejamkan mata, dan menggunakan teknik pernapasan perutnya.

"Hooo... wooo... aaaa!"

Sebuah vokal latar yang sangat serak, berat, dan mengerikan keluar dari mulut Stevan.

Suaranya terdengar seperti raungan seekor monster buas yang sedang terbangun dari tidur panjangnya.

Resonansi suaranya berpadu dengan sangat gila bersama vokal tinggi Clara yang melengking.

Vokal Clara terdengar seperti malaikat, sementara vokal Stevan terdengar seperti iblis yang menariknya dari bawah.

Kombinasi kontras itu menciptakan nuansa merinding yang luar biasa epik pada lagu tersebut.

Klik.

Stevan menghentikan rekaman dan langsung mencampur vokal latarnya itu ke dalam file utama.

Ia memoles frekuensi suaranya sedikit menggunakan efek agar terdengar semakin misterius dan menyatu dengan instrumen.

Setelah puas dengan hasilnya, Stevan tersenyum dingin dan menyimpan file tersebut.

Satu jam kemudian, Stevan turun kembali ke ruang rekaman lantai satu.

Mika sedang memakan piza dari dalam kotak, sementara Clara dan Leo sedang mengobrol canggung di sofa.

"Kak Stevan sudah selesai istirahatnya?" tanya Clara sambil tersenyum menyambut.

Stevan mengangguk pelan tanpa mengetik apa-apa di ponselnya.

Ia berjalan lurus menuju meja produksi, menyambungkan ponselnya ke sistem speaker utama ruangan.

"Duduk dan dengarkan hasil akhir dari lagu utama kita," ketik Stevan di monitor besar.

Mika langsung meletakkan sisa pizanya dan memasang wajah serius.

Leo dan Clara juga menatap ke arah speaker dengan penuh antisipasi.

Klik.

Lagu mengalun memenuhi ruangan studio dengan kualitas audio yang sudah disempurnakan.

Semuanya terdengar luar biasa, persis seperti yang mereka rekam tadi.

Namun, ketika lagu mencapai bagian chorus penutup...

"Hooo... wooo... aaaa!"

Raungan vokal latar yang sangat berat, serak, dan penuh amarah itu tiba-tiba meledak dari speaker.

Mata Mika terbelalak sangat lebar hingga ia tersedak ludahnya sendiri.

Clara dan Leo juga langsung membeku kaku di tempat duduk mereka.

"G-gila! Suara siapa itu?!" jerit Mika dengan nada tidak percaya.

"Suara pria ini terdengar sangat serak tapi punya power yang mengerikan!"

Clara menoleh ke arah Stevan dengan kening berkerut dalam dan tatapan penuh tanda tanya.

"Kak Stevan, kakak menyewa penyanyi pria lain dari luar untuk mengisi vokal latar ini?" tanya Clara bingung.

Leo juga ikut menganggukkan kepalanya dengan raut wajah kebingungan.

"S-suaranya... sangat gelap... tapi cocok," gumam Leo pelan.

Stevan hanya menyandarkan punggungnya ke dinding dengan tangan menyilang di dada.

Ia menatap mereka bertiga dengan pandangan datar dan senyum tipis yang tersembunyi di balik masker medisnya.

Ia mengambil ponselnya, mengetik satu kalimat misterius, dan memutar layarnya ke arah mereka.

"Itu adalah suara dari iblis yang akan mengantar industri musik ini ke neraka."

Stevan sama sekali tidak memiliki niat untuk memberi tahu mereka bahwa itu adalah suara aslinya yang baru saja pulih.

Biarkan vokal misterius ini menjadi senjata rahasia sekaligus rumor baru yang akan membuat publik semakin gila.

"Dengan ini, satu lagu utama telah selesai seratus persen," ketik Stevan lagi untuk mengalihkan topik.

"Kita masih punya sembilan lagu lagi untuk direkam dalam dua minggu ke depan sebelum peluncuran album."

Mika langsung mengerang panjang dan menjatuhkan kepalanya ke bantal sofa.

"Sembilan lagu lagi dalam dua minggu?! Kau benar-benar produser iblis, Zero!" keluh Mika dengan lemas.

Namun di balik keluhan itu, Mika sama sekali tidak berniat untuk menyerah.

Justru keberadaan vokal pria misterius yang sangat keren itu membuat darah musisinya semakin mendidih untuk terus berkarya.

Clara dan Leo juga saling berpandangan lalu tersenyum penuh semangat.

Mesin produksi Zeros Records telah menyala dengan kekuatan penuh.

Di saat label-label besar di luar sana sedang bersantai merayakan monopoli mereka, sebuah badai raksasa sedang dipersiapkan di dalam gedung ini.

Sebuah album mega-karya yang tidak hanya akan menghancurkan tangga lagu, namun akan merevolusi seluruh standar musik di negara ini.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!