Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH EMPAT
Kabar perceraian Anyara dan Juned, ditambah fakta bahwa perselingkuhannya melibatkan rekan kerja di kantor yang sama, ternyata sampai juga ke telinga atasan Juned. Divisi HRD memanggil Juned untuk klarifikasi setelah menerima laporan dari beberapa karyawan yang merasa tidak nyaman dengan hubungan asmara yang tumpang tindih di lingkungan kerja, apalagi salah satu pihak yang terlibat, Sinta, juga karyawan di divisi yang sama.
"Pak Juned, kami menerima beberapa laporan terkait hubungan personal yang melibatkan lebih dari satu karyawan perusahaan. Ini melanggar kode etik perusahaan soal hubungan antar-karyawan yang bisa mengganggu profesionalitas kerja," ucap kepala HRD dalam pertemuan tertutup.
Juned, yang menceritakan kejadian itu kepada Ratih beberapa hari kemudian, tampak putus asa. "Bu, kemungkinan aku bakal kena surat peringatan, atau lebih parah lagi, bisa sampai pemutusan kerja."
Ratih, yang kini sudah jauh berbeda sikapnya, hanya menghela napas panjang. "Itu konsekuensi dari perbuatan kamu sendiri, Juned. Ibu nggak bisa bantu apa-apa lagi soal ini."
Anyara, yang kebetulan sedang berkunjung untuk mengantarkan beberapa barang yang tertinggal, mendengar percakapan itu tanpa sengaja. Ia tidak lagi merasakan kepuasan atau dendam mendengar kesulitan yang dihadapi mantan suaminya—hanya sebuah kesadaran datar bahwa setiap tindakan memang membawa konsekuensinya sendiri.
Seminggu kemudian, kabar tersebar bahwa Juned resmi dimutasi ke cabang perusahaan di kota lain, sebuah langkah yang secara halus merupakan bentuk sanksi dari perusahaan atas pelanggaran kode etik yang ia lakukan. Posisinya juga diturunkan, gajinya berkurang signifikan.
Sementara itu, karier Anyara di butik justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Bu Sari, pemilik butik, semakin mempercayai kemampuannya dalam melayani pelanggan dan mengelola stok barang.
"Anyara, saya mau tawarin sesuatu," ucap Bu Sari suatu sore. "Saya lagi mikir buat buka cabang kedua bulan depan. Saya pengen Anyara jadi kepala toko di cabang baru itu, gajinya juga bakal naik."
Anyara terkejut mendengar tawaran itu, sebuah pengakuan atas kerja kerasnya yang belum pernah ia dapatkan sepanjang hidupnya. "Serius, Bu? Saya... saya nggak nyangka."
"Anyara udah nunjukin kemampuan yang luar biasa selama beberapa bulan ini. Saya yakin kamu bisa pegang tanggung jawab lebih besar."
Anyara menerima tawaran itu dengan penuh syukur, merasakan sebuah kebanggaan yang datang murni dari usahanya sendiri, tanpa campur tangan siapa pun.
Malam itu, ia menceritakan kabar baik itu kepada Hans, yang menyambutnya dengan kegembiraan yang tulus.
"Pak, saya ditawarin jadi kepala toko cabang baru! Gajinya juga naik."
"Wah, selamat, Mbak! Ini bukti nyata betapa berharganya Mbak. Saya bangga banget."
"Makasih, Pak. Rasanya nggak nyangka, dari yang dulu cuma ibu rumah tangga yang selalu dipandang sebelah mata, sekarang bisa dapet kepercayaan sebesar ini."
"Mbak emang selalu punya kemampuan itu, Mbak. Cuma dulu nggak dikasih kesempatan buat nunjukinnya aja."
Anyara tersenyum membaca balasan itu, merasakan kehangatan yang selalu hadir setiap kali berkomunikasi dengan Hans—sebuah kehangatan yang jauh berbeda dari kekosongan yang selalu ia rasakan sepanjang pernikahannya yang lalu.
"Pak Hans, kapan-kapan kalau ada waktu, saya mau traktir Bapak. Sebagai ucapan terima kasih atas semua dukungan selama ini."
Balasan Hans datang dengan emoji senyum yang jarang ia gunakan. "Dengan senang hati, Mbak. Saya tunggu kapan pun Mbak siap."
Beberapa hari kemudian, Anyara dan Hans akhirnya menghabiskan waktu bersama, bukan lagi sebagai teman yang saling menguatkan di tengah krisis, melainkan sebagai dua orang yang perlahan mulai membuka diri terhadap kemungkinan hubungan yang lebih dalam.
Mereka makan malam di sebuah restoran sederhana namun nyaman, suasana yang jauh berbeda dari kafe-kafe yang biasa mereka kunjungi sebelumnya.
"Mbak Anyara," Hans membuka pembicaraan setelah pesanan mereka datang, "saya udah nunggu lama buat nanya ini. Sekarang, setelah semua proses cerai udah selesai, apa Mbak udah siap buat mikirin hubungan yang lebih serius?"
Anyara menatap Hans, merasakan jantungnya berdebar mendengar pertanyaan yang selama ini sudah ia duga akan datang. "Pak Hans, saya... saya masih butuh waktu sedikit. Bukan karena saya nggak punya perasaan yang sama, tapi karena saya baru aja mulai belajar berdiri sendiri. Saya nggak mau buru-buru masuk ke hubungan baru sebelum bener-bener yakin saya udah utuh sebagai diri saya sendiri."
Hans mengangguk, menghargai kejujuran itu. "Saya ngerti, Mbak. Dan saya siap nunggu, selama apa pun itu. Yang penting Mbak tau, saya nggak akan ke mana-mana."
Anyara tersenyum, merasakan kelegaan karena kejujurannya diterima dengan penuh pengertian, bukan paksaan atau tekanan seperti yang selalu ia alami sepanjang pernikahannya yang lalu.
"Terima kasih udah selalu sabar, Pak," ucapnya, hatinya dipenuhi rasa syukur atas kehadiran seseorang yang benar-benar menghargai prosesnya, bukan sekadar hasil akhirnya.