Indonesia
NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Suara tembakan yang meriam di aula bawah, jeritan amarah Gabriel, dan bentakan dingin Nyonya Eleanor merambat naik menembus dinding-dinding batu tebal Puri Moretti. Di dalam kamar utama yang temaram, Aurora berdiri mematung di balik pintu mahoni yang terkunci rapat.

Napasnya memburu halus. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga bergaung riuh di dalam rongga dadanya.

Bagi siapapun, dentuman senjata api dan pembantaian yang sedang berlangsung di lantai bawah adalah mimpi buruk yang mengerikan. Namun bagi Aurora, suara kekacauan itu tak ubahnya bagaikan simfoni kebebasan yang telah lama ia tunggu-tunggu.

"Ini waktunya..." bisik Aurora pada kegelapan kamar.

Otaknya yang tajam bekerja secara kilat memproses situasi. Perkiraannya sebelumnya yang sempat meleset kini terbayar lunas oleh perang saudara yang meletus di antara Gabriel dan ibunya. Pasukan elit Black Vipers milik Eleanor terkonsentrasi penuh di aula utama untuk melumpuhkan Gabriel dan Marco. Pengawasan ketat yang tadi mengepung setiap sudut koridor dan halaman puri kini tercerai-berai. Para pengawal pribadi Gabriel pasti terseret ke dalam pusaran kontak tembak di lantai dasar, meninggalkan pos-pos penjagaan periferi dalam keadaan kosong tanpa penjaga.

Sistem keamanan puri sedang berada dalam titik terlemahnya sejak ratusan tahun berdiri.

Aurora melangkah cepat menuju sudut ruangan tanpa meragukan keputusannya sedikit pun. Seluruh rasa bersalah, keraguan, dan simpati yang sempat muncul saat Gabriel melindunginya di ruang rahasia tadi siang seketika menguap tanpa sisa. Aurora menyadari satu hal dengan teramat jernih: jika ia tidak keluar dari tempat ini sekarang, ia hanya akan menjadi korban pembantaian Eleanor, atau kembali terkunci selamanya di bawah obsesi gila Gabriel yang kian mematikan.

Ia tidak sudi menjadi pion dalam perang darah keluarga mafia ini.

Dengan gerakan cekatan dan terlatih, Aurora menanggalkan gaun mewah bercorak rumit yang dikenakannya. Ia menggantinya dengan pakaian serba hitam sebuah celana bahan taktis ketat dan kemeja lengan panjang berwarna gelap yang berhasil ia sembunyikan di balik lipatan lemari pakaian selama beberapa minggu terakhir. Ia mencopot kalung berlian blue sapphire puluhan juta dolar dari lehernya, melemparkannya begitu saja ke atas peraduan tanpa penyesalan. Barang mewah itu hanyalah belenggu, dan ia tidak membutuhkan perhiasan untuk menembus malam.

Dari balik ceruk tersembunyi di bawah meja rias, Aurora mengambil sebuah tas pinggang kecil yang telah diisinya dengan dokumen penting, paspor palsu bertandatangan khusus yang berhasil ia amankan melalui jaringan transaksi rahasia, serta sejumlah uang tunai mata uang Euro dan Dolar.

Ia mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir kuda yang rapi, memastikan tak ada satu pun helai rambut yang akan mengganggu penglihatannya.

Saat jemari Aurora mengusap mantel gelapnya, suara hentakan sepatu taktis yang berat dan cepat terdengar menyusuri koridor lantai dua. Belasan anggota Black Vipers sedang menuju ke kamar utama atas perintah Eleanor untuk menyeretnya turun.

"Mereka datang," gumam Aurora dingin.

Namun, Aurora tidak berniat melarikan diri melalui pintu depan kamar. Gadis itu sudah menghafal setiap inci denah dan cetak biru rahasia Puri Moretti selama berbulan-bulan ia terkurung di tempat ini. Ia tahu persis bahwa puri tua berarsitektur gotik ini memiliki jalur pelarian kuno yang dirancang oleh pembangun aslinya untuk situasi darurat jalur rahasia yang bahkan pengawal baru seperti pasukan Black Vipers tidak akan pernah mengetahuinya.

Aurora melangkah menuju perpustakaan pribadi yang menyatu di dalam kamar utama. Di balik rak buku kayu mahogany raksasa bernuansa klasik, ia meraba celah batu di dinding sebelah kiri. Jemarinya yang ramping menekan sebuah tonjolan batu berukir lambang dinasti kuno yang agak terbenam.

KLIK.

Sebuah panel batu bergeser tanpa suara, membocorkan celah sempit yang mengarah ke lorong ventilasi dan tangga pelayan tua yang sangat gelap. Udara dingin bertiup keluar dari dalam celah tersebut, membawa aroma tanah lembap dan kebebasan.

Tepat saat panel batu itu hampir tertutup kembali di belakang tubuh Aurora, pintu depan kamar utama terbanting hancur oleh dobrakan keras pasukan Eleanor.

Brak!

"Cari wanita itu! Periksa seluruh ruangan!" teriak pimpinan skuad Black Vipers dari dalam kamar.

Di dalam lorong batu yang gelap gulita dan sempit, Aurora menahan napasnya rapat-rapat. Ia merapatkan punggungnya ke dinding batu yang dingin, mendengarkan suara pecahan kaca dan derap kaki para pengawal yang mengacak-acak kamar utama yang baru saja ditinggalkannya.

Aurora tersenyum tipis sebuah senyuman penuh kebanggaan dan dingin. Mereka terlambat.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Aurora membalikkan badannya dan menyusuri tangga batu yang menukik tajam ke bawah. Lorong rahasia ini berjalan beriringan di balik dinding-dinding batu puri, memintas langsung menuju lantai dasar tanpa harus melewati aula utama tempat pertempuran berdarah berlangsung.

Langkah kaki Aurora terayun cepat dan tanpa suara, bagaikan seekor kucing hutan yang bergerak di dalam kegelapan malam.

Suara tembakan di aula utama terdengar kian jelas saat ia melewati dinding pembatas lantai dasar. Melalui sebuah celah lubang intip kuno yang tersembunyi di balik ukiran patung batu aula, Aurora sempat menghentikan langkahnya sejenak.

Ia mengintip ke luar.

Pemandangan di aula utama begitu mengerikan. Genangan darah pekat membasahi marmer putih. Marco terbaring tak berdaya di sudut pilar dengan pendarahan hebat di dada dan pahanya, sementara Gabriel... Gabriel Moretti sang penguasa yang biasanya begitu angkuh dan tak tersentuh kini dipaksa berlutut di tengah lautan darah oleh lima pengawal elit yang menindih punggung dan memiting kedua tangannya ke belakang.

Wajah Gabriel yang bersimbah darah dan peluh menatap sang ibu dengan kebuasan gila yang luar biasa.

"Di mana wanita itu?!" suara Eleanor menggema keras di aula saat seorang pengawalnya turun dari tangga dengan tangan kosong.

"Kamar kosong, Nyonya Besar! Wanita itu sudah tidak ada di sana!"

Mendengar laporan itu, mata Gabriel yang tadi dipenuhi rasa cemas seketika membuncah oleh riak terkejut yang teramat sangat. Pria itu menengadahkan kepalanya secara kasar, menatap ke arah tangga dengan raut wajah tak percaya.

Gabriel tahu betul puri ini. Ia tahu tak ada celah untuk keluar dari kamar utama kecuali... kecuali jika Aurora telah merencanakan pelarian ini sejak lama dan menemukan jalur rahasia kuno tersebut.

Di balik dinding batu tempatnya bersembunyi, Aurora bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana raut wajah Gabriel berubah secara drastis. Rasa syok, kekecewaan mendalam, dan kesadaran bahwa dirinya telah dikhianati secara utuh oleh wanita yang dipujanya terpancar begitu telanjang di manik mata hitam sang Don.

Gabriel menyadari bahwa di saat ia mempertaruhkan nyawa dan menantang ibunya sendiri untuk melindungi Aurora, wanita yang dicintainya itu justru memanfaatkan kekacauan tersebut untuk melangkah pergi meninggalkannya.

Dada Aurora berdesir samar saat menangkap kilatan hancur di mata Gabriel. Namun, Aurora segera mengeras hatinya kembali.

"Kau yang menciptakan monster ini, Gabriel," bisik Aurora pelan di dalam kegelapan lorong batu. "Ini adalah harga dari kebebasanku."

Aurora memalingkan pandangannya, menolak untuk terhanyut oleh rasa iba yang mematikan. Ia melanjutkan langkahnya kembali menyusuri lorong bawah tanah yang melengkung menuju arah luar puri.

Jalur rahasia itu berakhir di sebuah pintu kayu tua bertarali besi yang tertutup semak belukar tebal di bagian luar benteng barat puri jauh dari jangkauan lampu sorot pelataran dan jangkauan patroli pasukan Eleanor maupun Gabriel.

Aurora mendorong pintu kayu itu perlahan. Engsel karatnya berderit halus, tersamar oleh deru angin malam yang bertiup kencang menerpa hutan pinus.

Ia melangkah keluar dari dalam lorong batu.

Udara malam yang teramat dingin langsung menyapu wajah dan tubuhnya. Bau tanah basah, aroma getah pinus, dan kebebasan yang murni menyapa indra penciumannya dengan begitu nyata. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan terkurung dalam sangkar emas yang dipenuhi sangkur dan darah, Aurora merasakan kakinya berpijak di atas tanah bebas tanpa ada pengawal yang mengawasi dari balik punggungnya.

Aurora menoleh ke belakang sejenak, menatap bangunan Puri Moretti yang berdiri megah namun mencekam di balik pepohonan pinus. Suara sirine dan dentuman tembakan balasan dari unit pengawal Gabriel yang baru tiba dari luar mulai bergaung nyaring, menandakan bahwa perang di dalam puri akan kian membara dan berdarah.

Aurora mengeratkan mantel gelapnya, mengencangkan ikatan tas pinggangnya, lalu berbalik memunggungi Puri Moretti tanpa niat untuk menoleh kembali.

Gadis itu melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan pinus yang lebat, menyusuri jalan setapak rahasia yang mengarah langsung ke perbatasan kota tempat kendaraan pelariannya telah menunggu.

1
King Kas
👍🏻👍🏻
King Kas
lanjut kak....!!!
jennn
💪💪💪
jennn
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!