Indonesia
NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34.Harus pergi.

Matahari pagi menyelinap lembut masuk melalui celah jendela kamar Li Hua, menyentuh kelopak matanya yang masih terpejam rapat. Udara pagi terasa sejuk dan nyaman, membuatnya enggan untuk beranjak dari tempat tidur yang empuk itu. Selimut yang hangat terasa begitu nyaman, dan ia baru saja bermimpi indah — tidak ingat persis apa isinya, tapi rasanya damai sekali.

Namun keheningan pagi itu perlahan terpecah oleh suara ketukan di pintu, diikuti suara Qiao'er yang memanggilnya berulang kali dengan nada bersemangat.

"Nona... Nona Hua'er, bangunlah! Matahari sudah tinggi sekali di luar sana!" panggil Qiao'er dari balik pintu.

Li Hua mengerang pelan, menarik selimut menutupi separuh wajahnya. "Sebentar lagi... aku masih ngantuk sekali..."

"Nona, bangun dulu ya! Ada kabar baik yang ingin aku sampaikan!" seru Qiao'er lagi, kali ini suaranya terdengar lebih antusias.

Li Hua akhirnya membuka satu matanya sedikit, lalu menguap lebar hingga matanya berkaca-kaca. Dengan berat hati ia duduk di tepi tempat tidur, rambutnya sedikit berantakan.

"Baiklah, aku bangun. Masuklah," gumamnya serak.

Pintu terbuka dan Qiao'er melangkah masuk dengan senyum lebar di wajahnya, membawa baskom berisi air bersih dan handuk kecil. Ia meletakkannya di meja sambil menatap tuannya dengan mata berbinar.

"Ada apa pagi-pagi sekali? Awas saja kalau kau membangunkanku hanya untuk hal yang tidak seru, nanti aku tidak akan membagi camilan denganmu minggu ini," ancam Li Hua sambil tersenyum malas, mengusap wajahnya dengan handuk basah.

Qiao'er tertawa kecil, lalu mendekat sambil menurunkan suaranya seakan ada rahasia besar. "Tenang saja Nona, ini pasti kabar yang membuat Nona senang. Rencana kita kemarin berhasil luar biasa!"

Li Hua berhenti bergerak sejenak, alisnya terangkat. "Maksudmu...rencana serangan tikus?"

"Benar sekali, Nona! Kemarin malam di sana benar-benar heboh luar biasa! Para pelayan berlari ke sana kemari membawa lampu dan sapu, terdengar teriakan Nona Shi Yin sampai ke halaman depan kita lho! Dan tadi pagi aku dengar dari pelayan dapur — Nona Shi Yin sampai pingsan ketakutan saat menemukan tikus di dalam lemari pakaiannya!" ceritakan Qiao'er dengan semangat berapi-api, matanya berbinar riang.

Mata Li Hua langsung terbuka lebar, rasa kantuknya hilang seketika. Ia tersenyum lebar, merasa lega sekaligus puas mendengar kabar itu.

"Benarkah begitu? Wah... pasti tadi malam di sana sangat kacau balau ya," ucap Li Hua sambil tertawa pelan. "Dia yang selalu merasa paling mulia dan tak tersentuh, akhirnya merasakan ketakutan juga. Baguslah."

"Dan belum selesai, Nona!" lanjut Qiao'er cepat. "Tadi pagi Tuan Besar datang sendiri ke sana. Setelah melihat keadaan kediamannya yang berantakan dan Nona Shi Yin yang masih lemas karena pingsan, Tuan Besar memerintahkan untuk memindahkan tempat tinggalnya. Dia dikembalikan ke kediaman lama Nona — yang dulu Nona tinggali sendirian sebelum dipanggil kembali ke sini. Katanya tempat itu lebih sederhana dan lebih mudah dijaga kebersihannya."

Li Hua tersenyum puas, mengangguk pelan. "Itu baru permulaan. Semoga dia belajar sesuatu dari semua ini. Sekarang... cepat bantu aku bersiap, Qiao'er. Aku harus menemui Li Yun dan An Fu secepatnya. Aku ingin berterima kasih pada mereka berdua karena sudah membantu melaksanakan rencana ini dengan begitu rapi."

Qiao'er yang tadi tersenyum lebar tiba-tiba terlihat ragu. Ia menunduk pelan, lalu berkata dengan nada hati-hati.

"Ehmm... soal itu, Nona... Pangeran Li Yun dan Tuan An Fu tidak ada di rumah sejak tadi pagi."

Li Hua yang sedang menyisir rambutnya berhenti bergerak, menoleh cepat ke arah pelayannya. "Tidak ada? Ke mana mereka pergi begitu pagi?"

"Mereka sudah diizinkan oleh Kaisar Ye Lu untuk pergi menemui utusan dari Negeri Tang Liang yang baru saja tiba di perbatasan kota," jelas Qiao'er. "Katanya utusan itu datang untuk menjemput Pangeran pulang. Sepertinya pernikahan antara Nona dan Putra Mahkota membuat urusan di istana Tang Liang menjadi mendesak."

Jantung Li Hua berdebar kencang mendengar penjelasan itu. Ia meletakkan sisirnya perlahan ke atas meja, pikirannya mulai berputar cepat mencoba mengingat alur cerita dalam buku yang pernah ia baca.

Benar... di cerita aslinya, utusan dari Tang Liang datang menjemput Li Yun kembali ke istana. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Dia datang ke ruang pengantin sambil bawa pedang panjangnya, dan di malam pengantin... dia membunuhku. Setelah itu dia balas dendam ke negeri Ye lu yang sudah menyiksanya dan merendahkan dirinya saat tinggal di sana terutama di keluarga Zhang, menghancurkan seluruh negeri Ye Lu, membantai keluarga Zhang, dan naik takhta mengantikan ayahnya setelah itu menaklukkan seluruh dunia dengan kekejamannya.

Wajah Li Hua menjadi pucat seketika. Tangannya dingin dan gemetar pelan.

"Nona? Nona tidak apa-apa?" tanya Qiao'er cemas, mendekat dan memegang tangan tuannya yang terasa dingin.

"Kita harus pergi, Qiao'er," ucap Li Hua tiba-tiba, suaranya tegas namun bergetar. "Kita harus segera menemui Li Yun sebelum dia benar-benar pergi jauh. Aku harus mencegah sesuatu yang buruk terjadi."

"Tapi bagaimana caranya Nona? Kita tidak boleh keluar dari kediaman tanpa izin dari Tuan Besar," ingatkan Qiao'er dengan cemas. "Kalau ketahuan, kita bisa dihukum berat."

Li Hua terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke luar jendela sambil berpikir keras. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya, membuatnya tersenyum tipis.

"Aku tahu caranya. Kita akan menemui Kakak Pertama, Mo Chen," ucapnya mantap.

"Kakak Mo Chen? Tapi hukuman menyalin kitabnya belum selesai, kan? Untuk apa kita menemui dia?" tanya Qiao'er bingung.

"Bukankah hari ini ada ujian negara yang harus Kakak ikuti di Akademi Kerajaan? Dia pasti harus keluar dari kediaman hari ini," jelas Li Hua sambil tersenyum penuh rencana. "Dia butuh seseorang untuk membantunya mendapatkan izin resmi dari Ayah, dan aku akan menemaninya sebagai imbalan agar dia membawaku keluar bersama keretanya."

Qiao'er masih terlihat bingung, namun ia hanya mengangguk patuh. "Baiklah Nona, apa pun keputusanmu, aku akan ikut."

Segera setelah bersiap, Li Hua dan Qiao'er berjalan cepat menuju sayap barat kediaman tempat Mo Chen dikurung. Pintu kamarnya terbuka sedikit, dan saat melihat kakaknya yang sedang duduk di meja belajar dengan tumpukan kitab tebal di depannya, Li Hua langsung melangkah masuk sambil memanggilnya dengan lantang.

"Kakak Pertama! Kakak Mo Chen! Di mana kau?"

Suara Mo Chen terdengar dari balik tumpukan kitab. "Aku di sini, di ruang belajar. Masuklah."

Li Hua berjalan masuk dan melihat kakaknya sedang sibuk menyalin teks kuno dengan pena di tangannya. Wajahnya terlihat lelah, rambutnya sedikit berantakan, dan tinta menempel di ujung jarinya. Ia menatap adiknya dengan dahi berkerut bingung.

"Ada apa kamu mencariku pagi-pagi begini, Hua'er? Bukankah seharusnya kau bersiap menyambut tamu istana?" tanyanya sambil meletakkan penanya perlahan.

"Justru aku yang ingin bertanya pada Kakak," jawab Li Hua sambil mendekat. "Bukankah hari ini hari ujian tertulis di Akademi Kerajaan? Kenapa Kakak belum bersiap-siap? Nanti terlambat lho."

Mo Chen membelalakkan matanya, langsung menoleh ke arah jam matahari di dinding. "Ujian... ya, ampun! Hari ini memang hari ujiannya! Aku hampir lupa karena terlalu lama menyalin kitab ini!"

Dia langsung berdiri tergesa-gesa, mengelap debu di jubahnya yang kusut. Pelayan pribadinya yang berdiri di sudut ruangan segera mendekat untuk membantunya merapikan pakaian dan menyisir rambutnya yang berantakan. Mo Chen terlihat panik namun berusaha tenang, berjalan keluar menuju halaman depan diikuti pelayannya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa di belakangnya, Li Hua dan Qiao'er diam-diam mengikuti dari jarak agak jauh.

Saat sampai di depan gerbang, keretanya sudah siap menunggu. Kuda yang tampak kuat dan tenang berdiri di sana, digandeng oleh kusir yang sudah siap. Mo Chen menghela napas lega, lalu berbalik badan — dan baru saat itulah dia melihat Li Hua dan Qiao'er berdiri tidak jauh darinya. Dia mengernyitkan dahi bingung.

"Hua'er? Qiao'er? Kenapa kalian ikut sampai ke sini? Apa yang sedang kalian rencanakan?" tanyanya curiga, menatap adiknya dengan tatapan menyelidik.

Li Hua tersenyum manis, mendekat perlahan sambil memegang lengan kakaknya.

"Kakak... bolehkah aku ikut bersamamu dengan keretamu sebentar saja? Aku belum punya kereta pribadi kan? Kebetulan di dekat Akademi Kakak itu ada penjual manisan buah yang terkenal enak sekali, semua orang membicarakannya. Aku ingin membelinya sebelum kehabisan. Cuma sebentar saja, aku janji akan menunggu di dekat gerbang dan tidak pergi ke mana-mana," Bujuknya dengan suara yang lembut dan meyakinkan.

Mo Chen menatap adiknya dengan ragu. Dia tahu adiknya ini bukan sekadar ingin membeli manisan, tapi dia juga terburu-buru dan tidak punya waktu banyak untuk bertanya lebih lanjut. Dia menghela napas panjang, akhirnya mengalah.

"Baiklah, naiklah ke kereta. Tapi ingat, jangan lama-lama ya! Setelah kau membeli manisanmu, kau harus langsung kembali ke rumah dengan kereta yang sama. Aku tidak mau Ayah marah karena kau berkeliaran sendirian di luar," pesannya tegas sambil membukakan pintu kereta.

"Siap, Kakak! Terima kasih banyak!" seru Li Hua riang, langsung naik ke dalam kereta diikuti Qiao'er yang tersenyum lega.

Pintu kereta tertutup, dan tak lama kemudian terdengar suara kusir yang memerintahkan kuda untuk berjalan. Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman kediaman keluarga Zhang, menembus gerbang utama yang terbuka lebar. Li Hua mengintip dari jendela kereta, melihat tembok tinggi kediaman yang perlahan menjauh di belakang mereka. Jantungnya berdebar kencang — bukan karena takut, tapi karena dia tahu langkah pertamanya untuk mengubah takdir sudah dimulai.

 ​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!