Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Matahari baru saja melewati titik tengah langit Desa Kertajaya, memancarkan terik siang yang cukup menyengat di atas jalanan aspal dusun. Suara angin siang berembus malas, membawa debu tipis jalanan yang beterbangan setiap kali truk pengangkut tebu lewat menuju pabrik di ujung wilayah.
Di dalam kamar nomor empat, suasana yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi panggung perayaan kecil-kecilan. Di atas meja kayu kecil, lembaran uang dua ratus ribu rupiah hasil kerja keras membersihkan gudang balai desa semalam kini terbentang rapi di samping dompet kusam Raka.
Bayu berbaring telentang di atas kasur busa tipis, kedua tangannya menopang kepala sambil menatap langit-langit kamar dengan senyum selebar daun kelor.
"Sumpah ya, rasanya jadi orang kaya baru itu luar biasa. Baru kali ini dompet saya punya penghuni warna merah yang nggak perlu dilipat-lipat sampai pusing."
Dimas duduk di tepi kasur sambil menghitung koin recehan sisa kembalian warung sembako di telapak tangannya.
"Jangan dihabiskan sekaligus, Bay. Dua ratus ribu itu harus kita alokasikan dengan bijak: sebagian buat stok makanan, sebagian buat cadangan kos, sisanya buat bensin sama kebutuhan kerja."
"Ah, Pak Bendahara ngomong mulu. Sekali-sekali kita harus merayakan pencapaian besar kelompok Pemuda Mandiri Kertajaya!" sanggah Bayu bangga, menoleh ke arah Raka yang sedang merapikan ranselnya. "Ka, gimana kalau siang ini kita traktir diri kita sendiri ke warung Pak Jaya? Pesan mi kuah spesial pakai telur dobel plus teh tarik dingin ukuran jumbo!"
Raka tersenyum tipis, memasukkan kotak kayu berisi bros bulan sabit dan surat tahun 1987 ke dalam laci meja paling bawah agar aman dan tidak terlihat sembarangan. "Boleh juga. Kita sudah kerja rodi semalaman, saatnya menikmati hasil keringat sendiri."
Di sudut ruangan, Mira berdiri dengan menyilangkan tangan di dada. Meskipun ia tidak ikut memikirkan alokasi keuangan manusia atau berencana memesan teh tarik, ia ikut mendengarkan obrolan tersebut dengan tatapan tenang. Sejak pagi tadi, setelah mereka pulang dari balai desa, sikap Mira jauh lebih pendiam dari biasanya.
Pikirannya seolah tersedot ke dalam satu benda kecil berwujud bulan sabit perak yang kini tersimpan di dalam laci meja.
"Kalian ini benar-benar mudah puas hanya dengan lembaran kertas tipis bergambar pahlawan nasional," komentar Mira ringan, mengangkat dagunya dengan sedikit nada mengejek untuk menutupi kegelisahannya.
"Di duniaku, kekayaan diukur dari simpanan batu permata dan kilau emas murni di ruang bawah tanah istana."
"Iya, tapi batu permata emas murni itu nggak bisa dipakai buat beli gorengan pisang di warung Pak Jaya, Ratu Gaib," balas Bayu cepat sambil terkekeh geli. "Udah, ayo berangkat! Perut saya udah demo minta diisi."
Lima belas menit kemudian, Raka, Bayu, dan Dimas sudah duduk di salah satu meja kayu panjang di warung milik Pak Jaya warung kopi dan mi instan paling populer di sudut dusun yang selalu ramai dikunjungi warga saat jam istirahat siang.
Di sekeliling mereka, beberapa warga desa tampak duduk bersantai, menikmati secangkir kopi tubruk atau teh tarik buatan Pak Jaya sambil membicarakan hasil panen dan berita seputar RT.
Pak Jaya-seorang lelaki paruh baya berperawakan gempal dengan handuk kecil tersampir di bahunya datang mengantar pesanan mereka ke atas meja.
Tiga mangkuk mi instan rebus panas dengan taburan bawang goreng melimpah dan telur setengah matang tersaji harum, disusul segelas besar teh tarik berbusa lembut milik Bayu dan dua gelas es teh manis milik Raka dan Dimas.
"Wah, mantap nih, Pak Jaya! Baunya aja udah bikin iman goyah," puji Bayu antusias, langsung menyambar sumpit kayu.
"Silakan dinikmati, Nak. Mumpung masih panas," balas Pak Jaya ramah sebelum beranjak kembali melayani pelanggan di meja sebelah.
Raka, Bayu, dan Dimas langsung makan dengan lahap, menikmati jerih payah lembaran dua ratus ribu rupiah pertama mereka. Sementara itu, Mira berdiri di samping meja, melipat tangannya di dada sambil memperhatikan mereka makan dengan ekspresi jijik bercampur penasaran.
Bagaimana bisa makanan olahan pabrik yang direbus di dalam air mendidih itu selalu berhasil membuat manusia-manusia ini tampak begitu bahagia? batin Mira menggelengkan kepala perlahan.
Namun, ketenangan jam makan siang mereka tidak berlangsung lama. Dari meja di sudut warung yang terletak agak di belakang, suara tawa melengking seorang perempuan paruh baya tiba-tiba mengalihkan perhatian seluruh isi warung.
Itu adalah Bu Rini- tetangga sebelah kos yang terkenal sebagai ratu gosip tingkat RT—sedang duduk berkerumun dengan dua orang ibu-ibu tetangga lainnya. Rupanya, topik pembicaraan mereka siang ini mengarah langsung ke kelompok kecil Raka.
"Eh, kalian tahu nggak?" kata Bu Rini dengan suara yang sengaja dikeraskan agar bisa didengar oleh orang-orang di warung.
"Anak-anak kos nomor empat itu sekarang belagu banget. Kemarin sok-sokan jadi tukang bersih-bersih pekarangan, tahu-tahu semalam dapet borongan misterius di balai desa sama Pak RT. Pulang-pulang bawa uang segepok!"
Salah satu ibu di sebelah Bu Rini ikut menimpali dengan nada penasaran. "Wah, iya kah, Bu Rini? Padahal biasanya mereka kalau ke warung utangnya sering numpuk. Kok bisa tiba-tiba dapat borongan gede?"
"Makanya itu! Jangan-jangan pakai penglaris atau pesugihan kilat!" celutuk Bu Rini asal, diiringi tawa cekikikan dari ibu-ibu lainnya.
"Namanya juga anak muda pengangguran, kalau nggak kerja halal ya cari jalan pintas!"
Mendengar gosip murahan yang disebar secara terang-terangan itu, Bayu hampir tersedak kuah mi panas. Ia langsung meletakkan sumpitnya dengan kasar di atas meja, wajahnya memerah menahan amarah.
"Sumpah ya, itu perempuan daster oranye mulutnya benar-benar minta disumpal pakai garam dapur!" gerutu Bayu setengah berbisik, hendak bangkit berdiri dari kursinya.
"Enak saja ngomongin kita pakai pesugihan! Kita capek-capek begadang semalam di gudang berdebu, malah dituduh yang bukan-bukan!"
Dimas menahan lengan Bayu dengan cepat, wajah datarnya tampak tenang meskipun matanya menyipit tajam. "Duduk, Bay. Jangan ladeni. Kalau diladeni, dia bakal makin senang bikin panggung."
Raka ikut menelan mi di mulutnya, lalu menghela napas panjang untuk meredam emosinya sendiri. Ia tahu membela diri di hadapan Bu Rini hanya akan memperpanjang drama gosip di warung.
Namun, ada satu pihak di tempat itu yang sama sekali tidak punya niat untuk bersabar.
Di samping meja mereka, Mira mengepalkan kedua tangan kecilnya erat-erat. Wajah cantiknya memerah karena kesal. Ratu jin bangsawan itu tidak terima ketiga pemuda yang selama ini sudah menerimanya di kamar kos sempit itu diolok-olok secara terbuka di hadapan orang banyak.
Perempuan cerewet berambut keriting itu benar-benar sudah melampaui batas kesabarannya, batin Mira mendengus tajam, manik matanya memancarkan kilat kemarahan gaib. Sekali-sekali, dia harus diberi pelajaran ringan agar lidahnya tidak lagi menyebarkan fitnah rendahan.
Tanpa sepengetahuan Raka, Bayu, dan Dimas, Mira melangkah pelan meninggalkan meja menuju sudut tempat Bu Rini duduk. Dengan gerakan sangat halus, ia mengangkat jari telunjuknya ke arah cangkir kopi hitam panas yang ada di depan Bu Rini.
Plop!
Seketika, rasa cangkir kopi hitam Bu Rini berubah drastis menjadi sepahit empedu yang pekat, atau mungkin sensasi rasa jamu paitan paling ekstrem di dunia.
"Hih! Astaga, pahit banget!" pekik Bu Rini kaget setengah mati, langsung menyemburkan sedikit kopi yang baru saja ia sesap kembali ke dalam cangkirnya. Ia mengibaskan tangannya di depan mulut sambil meringis menahan rasa pahit yang meledak di lidahnya. "Kopi Pak Jaya hari ini kenapa rasanya kayak air akar genting?!"
Di meja seberang, Pak Jaya yang mendengar protes itu langsung menoleh kaget, mengerutkan keningnya bingung. "Ah, masa, Bu Rini? Kopi tubruknya pakai gula aren asli kok kayak biasa! Nggak mungkin pahit begitu!"
"Beneran pahit, sumpah! Coba aja sendiri!" protes Bu Rini heboh, menggeser cangkirnya menjauh sambil mengelap lidahnya menggunakan tisu. Warga di warung langsung menoleh ke arah meja Bu Rini, tertawa kecil melihat sang ratu gosip mendadak kepahitan secara misterius.
Di sudut ruangan, Mira menyembunyikan senyum puas di balik lengan gaun ungunya, merasa keisengan kecilnya sudah lebih dari cukup untuk membungkam mulut cerewet tetangga itu.
Raka, yang melirik ke arah meja Bu Rini lalu melihat ekspresi puas di wajah Mira, langsung menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala pelan. Ia tahu persis siapa pelaku di balik insiden kopi pahit mendadak itu.
"Udah, habisin mi kalian. Kita cabut sekarang sebelum Bu Rini mulai nyumpahin pemilik warung karena kopinya disurubungi makhluk gaib," bisik Raka cepat kepada Bayu dan Dimas.
Tanpa membuang waktu, mereka bertiga langsung membayar makan siang dan bergegas meninggalkan warung Pak Jaya, meninggalkan Bu Rini yang masih sibuk berkumur-kumur akibat kopi pahit misterius, sementara gosip tentang kelompok Pemuda Mandiri Kertajaya dipastikan akan segera berubah menjadi legenda baru di kalangan warga desa.