Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Membedah Sarang Laba-Laba
Mata ungu Elara melebar. Udara dingin yang memancar dari tubuhku membuat gelas minuman di mejanya perlahan retak. Beberapa preman kasino yang duduk di meja terdekat mulai berdiri, menyadari ada ketegangan yang tidak normal, namun mereka terlalu takut untuk mendekat karena insting pembunuh mereka mengenali predator yang jauh lebih mematikan.
"Kau... ingin Sindikat Arachne bekerja untukmu?" Elara terkekeh paksa, meski suaranya bergetar. Ia mencoba mempertahankan postur dominannya. "Tuan Pendelton, tampaknya keberhasilanmu di Makam Suci telah membuatmu mabuk kekuasaan. Kami bukan preman jalanan yang bisa kau gertak. Kami memiliki mata di dalam istana, di akademi, bahkan... di dalam keluargamu sendiri."
"Aku tahu," balasku datar. "Dan itulah mengapa kau duduk di sini sekarang, mencoba memanfaatkanku."
Aku bersandar kembali ke kursiku, membiarkan aura kegelapanku mereda sedikit agar gelasnya tidak benar-benar hancur.
"Kau memintaku membunuh Kaisar karena Sindikat kalian sedang dalam masa kritis, bukan?" tanyaku santai. "Bulan depan, saat Festival Musim Semi, Kaisar berencana meluncurkan operasi pembersihan besar-besaran yang dipimpin oleh Inkuisisi Suci. Target utamanya adalah markas besar kalian di ibu kota. Kalian panik, kalian butuh kekacauan besar untuk mengalihkan perhatian, dan kebetulan... anomali berambut putih dari utara muncul tepat pada waktunya."
Wajah Elara yang tadinya angkuh kini seputih kertas. Tangannya yang dipenuhi cincin racun mengepal erat di atas meja. "D-Dari mana kau..."
"Nona Vance, jika kalian mengklaim sebagai penguasa informasi, kalian seharusnya tahu bahwa berbohong pada seseorang yang bisa melihat isi kepalamu adalah tindakan bunuh diri," ucapku pelan, memutar-mutar gelas kosong di depanku.
Mata Kausalitas: Aktif.
Aku menatap lurus ke dalam mata ungu wanita itu. Data-data rahasianya, kelemahan organisasinya, bahkan penyesalan terdalamnya, mengalir deras ke dalam pandanganku.
"Mari kita bedah situasi ini secara logis," aku mulai menghitung dengan jariku. "Pertama, Ketua Besar Sindikat Arachne di Benua Timur saat ini sedang sekarat karena kutukan darah yang gagal disembuhkan. Kedua, kau, sebagai pemimpin cabang ibu kota, sedang ditekan oleh fraksi internal Sindikat untuk mengambil alih posisi ketua, namun kau tidak memiliki cukup dukungan militer."
Elara menelan ludah kasar. Tubuhnya gemetar hebat. Rahasia tingkat atas yang hanya diketahui oleh tiga orang di seluruh benua baru saja diucapkan oleh anak laki-laki berumur lima belas tahun layaknya membaca menu sarapan.
"Ketiga," aku mencondongkan tubuhku ke depan lagi, mataku yang memancarkan pendaran ungu dan emas menatap tajam ke dalam jiwanya. "Jika kau memintaku membunuh Kaisar dan aku gagal, aku akan dieksekusi, dan kalian akan mencuci tangan. Jika aku berhasil, kekaisaran akan hancur, kau bisa memanfaatkan kekacauan itu untuk naik takhta di Sindikat, dan... kau mungkin akan memerintahkan pembunuh bayaranmu untuk menghabisiku agar rahasia kalian aman."
Aku tersenyum iblis. "Strategi yang cukup bagus untuk seorang amatir, Elara. Sayangnya, otakmu terlalu kecil untuk bermain catur denganku."
Wanita tangguh itu akhirnya runtuh. Elara menundukkan kepalanya, napasnya memburu. Pertahanan psikologisnya telah kuhancurkan tanpa menyentuhnya sama sekali. Di hadapannya kini bukanlah seorang bangsawan muda yang bisa dimanipulasi, melainkan monster yang mengetahui setiap rahasia busuknya.
"A-Apa yang kau inginkan, Arthur Pendelton?" bisik Elara dengan suara parau, melepaskan gelar kehormatanku. Ia menyerah.
"Kepatuhan absolut," jawabku tanpa ragu. "Aku tidak akan membunuh Kaisar untukmu. Itu adalah langkah bodoh yang akan mengakhiri kehidupanku yang nyaman. Tapi..."
Aku mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari dimensi penyimpananku. Di dalamnya, terdapat setetes cairan hitam pekat yang berdenyut pelan. Sisa dari racun Mandragora Kematian yang telah kusetarakan dengan energi penawarnya.
"Aku bisa menyembuhkan Ketua Besar kalian yang sekarat itu," aku meletakkan botol itu di tengah meja. "Sebagai gantinya, kau dan seluruh cabang ibu kota Sindikat Arachne akan menjadi mataku. Pasukan Bayangan keluargaku mungkin kuat, tapi mereka terikat oleh aturan bangsawan. Kalian... bergerak di dalam kegelapan yang sesungguhnya."
Elara menatap botol kecil itu dengan sisa-sisa kewaspadaan. "Hanya itu? Kau menyelamatkan Ketua kami, dan kami menjadi informanmu?"
"Jangan salah paham," aku bangkit berdiri, merapatkan kerah mantelku. "Aku tidak sedang memintamu, Elara. Aku sedang memberimu perintah. Kau punya waktu tiga hari untuk mengirimkan botol itu pada Ketuamu dan memberikan sumpah setiarmu padaku. Jika tidak..."
Aku tidak perlu melanjutkan kalimatku. Mata Elara sudah cukup membuktikan bahwa ia mengerti konsekuensinya.
"Satu hal lagi," aku berhenti sejenak sebelum berbalik pergi. "Mulai sekarang, awasi setiap pergerakan Leon, pahlawan kesayangan Pangeran Julian. Beri tahu aku setiap kali dia buang air, berlatih pedang, atau sekadar menangis meratapi perisainya yang hilang. Jangan biarkan dia bernapas tanpa sepengatahuanku."
Elara mengangguk pelan, masih menatap meja dengan tatapan kosong. "Dimengerti... Tuan Pendelton."
Aku tersenyum puas, memutar tumitku dan melangkah meninggalkan Kasino Obsidian. Preman-preman dan penjaga yang sedari tadi mengawasi kami langsung menyingkir, membuka jalan dengan kepala tertunduk. Aura intimidasi dari negosiasi sepihak itu telah cukup untuk menundukkan seluruh ruangan.
Di luar, badai salju masih turun dengan lebat, menyembunyikan jejak langkahku.
"Itu tadi sangat brutal, Arthur," Nox melayang di sisiku, tawanya menggema di pikiranku. "Kau menelanjangi semua kelemahan gadis itu dan menjadikannya pelayanmu dalam waktu kurang dari lima belas menit. Pasukan militer, intelijen keluarga, dan kini jaringan bawah tanah Sindikat Arachne... kau sedang merakit pasukan untuk menghancurkan apa, Arthur?"
Aku menatap langit malam yang kelam, tidak terlihat satu pun bintang akibat badai.
"Aku tidak sedang merakit pasukan untuk menghancurkan, Nox," jawabku tenang. "Aku sedang merakit sistem pertahanan. Jika dunia ini memaksakan pahlawannya untuk bangkit dan menghancurkanku, maka aku harus memastikan bahwa seluruh panggung ini... berada di bawah kendaliku. Jika mereka ingin bermain sebagai penentu takdir..."
Aku menyeringai di dalam kegelapan. "...maka aku akan menjadi Administrator yang mencabut server mereka."
Keesokan paginya, akademi Solaria digemparkan oleh berita baru.
Bukan tentang Perisai Matahari, melainkan kembalinya Leon. Pahlawan Terpilih itu akhirnya muncul di kelas, dan auranya benar-benar berbeda. Jika sebelumnya ia seperti pemuda penuh ambisi yang naif, kini ia memancarkan ketenangan yang mengerikan. Rambut merahnya sedikit memanjang, dan di pinggangnya, tidak ada lagi pedang murahan. Ia membawa pedang baru, ditempa dari api suci murni, hadiah langsung dari Uskup Agung.
Sistem dunia ini benar-benar tidak menyerah.
Saat jam istirahat, Leon berjalan membelah keramaian kantin. Tatapannya lurus ke arah mejaku di sudut ruangan. Tanpa memedulikan bisik-bisik murid lain, ia berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan mejaku.
Aku menatapnya dengan bosan, sambil memutar-mutar garpu di udara.
"Kau terlihat lebih segar dari biasanya, Leon," sapaku datar. "Kudengar kau mendapat mainan baru dari Gereja. Semoga yang ini tidak kau jatuhkan saat kutinju perutmu lagi."
Leon tidak marah. Ia tidak berteriak seperti saat di Hutan Emerald. Ia hanya menatapku dengan mata emasnya yang kini bercahaya terang. Pencerahan Ilahi telah menstabilkan mentalnya, atau setidaknya... membuatnya bisa menutupi amarahnya dengan lebih baik.
"Arthur," suara Leon terdengar dalam dan tenang, sangat kontras dengan kepribadian aslinya. "Ujian Kelangsungan Hidup musim semi akan diadakan bulan depan di Dataran Tinggi Naga. Kau dan aku akan berada di arena yang sama."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan meja dengan satu tangan.
"Dewa Cahaya telah memberiku penglihatan," bisiknya pelan, hanya untuk kudengar. "Aku tahu ada kegelapan yang sangat pekat di dalam dirimu. Aku akan meruntuhkan topeng keangkuhanmu itu di ujian nanti, dan aku akan merebut kembali apa yang menjadi hakku."
Aku meletakkan garpuku perlahan. Aku mendongak, menatap matanya dengan pendaran ungu iblis dari Mata Kausalitas yang sedikit kulepaskan.
"Penglihatan, ya?" aku tersenyum merendahkan. "Kalau begitu, pastikan Dewa Cahayamu itu juga memberimu petunjuk tentang cara membangun nisan yang bagus, Leon. Karena di musim semi nanti... bunga yang mekar di Dataran Tinggi Naga akan disirami oleh darah seorang pahlawan palsu."
Ketegangan di antara kami meledak, membuat udara di kantin terasa sesak. Pertarungan antara sang Pahlawan Takdir dan sang Administrator Anomali secara resmi telah dimulai.