Indonesia
NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 ES TEH MANIS DI RUANG OSIS

Hiruk-pikuk Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) SMA Budi Bangsa masih terus bergema di luar sana. Sorak-sorai penonton dari lapangan outdoor, dentuman bass dari pengeras suara yang memutar lagu-lagu penyemangat, serta tiupan peluit wasit yang nyaring, berpadu menjadi sebuah simfoni kebisingan yang mengudara di bawah teriknya matahari Yogyakarta.

Namun, di balik tembok tebal berkedap suara milik Ruang Kesekretariatan OSIS yang terletak di sudut lorong lantai satu, suasana terasa bertolak belakang seratus delapan puluh derajat. Ruangan itu sepi, tenang, dan hanya diisi oleh dengungan konstan dari pendingin ruangan (AC) yang menyemburkan udara sejuk.

Di tengah ruangan tersebut, di balik meja oval berukuran besar yang dipenuhi oleh tumpukan proposal, map plastik, dan sisa-sisa kardus konsumsi panitia, duduklah Asmara Putri.

Sang Ketua OSIS itu tampak seperti seorang prajurit yang baru saja kehilangan seluruh tenaganya setelah bertempur di garis depan.

Rambutnya yang sejak pagi diikat ekor kuda kini terlihat sedikit berantakan, dengan beberapa anak rambut yang lepek oleh keringat menempel di pelipis dan tengkuknya. Kemeja seragam OSIS biru mudanya sedikit kusut, dan lanyard panitia masih menggantung setia di lehernya.

Asmara menghela napas panjang, sebuah helaan yang terdengar begitu berat dan sarat akan kelelahan. Matanya yang biasanya berbinar tajam dan penuh ketegasan, kini terlihat sayu. Kantung mata tipis mulai menghiasi bagian bawah matanya, bukti dari kurangnya jam tidur selama seminggu terakhir demi mempersiapkan acara tahunan sekolah ini.

Tangannya yang terasa pegal masih memegang sebuah pulpen, bergerak pelan mencontreng daftar peralatan dari divisi perlengkapan yang baru saja disetorkan oleh Fajar.

"Kabel roll dua puluh meter, sudah. Sound system portable untuk lomba akustik, sudah. Konsumsi juri lomba mading, sudah..." gumam Asmara pada dirinya sendiri, suaranya parau dan nyaris berbisik.

Ia meletakkan pulpen itu di atas meja, lalu memijat pelipisnya dengan kedua tangan. Kepalanya terasa pening. Sejak pukul enam pagi tadi, ia belum sempat duduk tenang lebih dari lima menit. Berlari dari satu titik ke titik lain, memastikan tidak ada jadwal yang bentrok, mengurus komplain dari peserta, hingga menghadapi guru pembina yang menuntut kesempurnaan.

Menjadi seorang ketua yang bertanggung jawab atas kesuksesan sebuah acara yang melibatkan ratusan siswa ternyata menguras fisik dan mentalnya hingga ke titik penghabisan.

Asmara menyandarkan punggungnya ke kursi. Tulang punggung dan bahunya terasa kaku, seolah ada balok es seberat belasan kilogram yang bertengger di sana. Udara dingin dari AC perlahan mulai meresap ke dalam pori-pori kulitnya, memberikan sensasi nyaman yang melenakan.

Gadis itu melirik jam dinding yang berdetak konstan. Pukul dua belas lewat seperempat. Saat ini adalah jam istirahat untuk jeda shalat dan makan siang. Seluruh panitia dan peserta sedang beristirahat, yang berarti Asmara memiliki waktu sekitar empat puluh lima menit sebelum rentetan acara sesi siang kembali dilanjutkan.

"Hanya lima menit," bisik Asmara pelan kepada dirinya sendiri. "Aku hanya butuh memejamkan mata lima menit saja."

Tak kuasa menahan rasa kantuk dan lelah yang menyerang bertubi-tubi, Asmara melipat kedua lengannya di atas tumpukan proposal. Ia menurunkan wajahnya, membiarkan pipinya bertumpu pada lengan bajunya yang lembut. Matanya yang terasa panas perlahan-lahan tertutup. Dalam hitungan detik, napas gadis itu berubah menjadi teratur. Sang putri abdi dalem yang selalu tangguh itu akhirnya terlelap, menyerah pada kepenatan yang meluluhlantakkan pertahanannya.

Beberapa menit setelah Asmara memejamkan mata, knop pintu ruang OSIS berputar perlahan tanpa menimbulkan bunyi klik yang berarti.

Pintu itu terbuka sedikit, membiarkan celah yang cukup untuk seseorang menyelinap masuk.

Wira melangkah memasuki ruangan tersebut dengan sangat mengendap-endap. Pemuda itu sudah berganti pakaian, menanggalkan jersey basketnya yang basah oleh keringat dan menggantinya dengan kaus hitam polos. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas plastik berisi es teh manis yang bagian luarnya sudah dipenuhi oleh embun dingin.

Wira menutup pintu ruang OSIS kembali dengan sangat pelan, memastikan kunci selotnya terpasang agar tidak ada sembarang orang yang bisa masuk dan mengganggu.

Ia memutar tubuhnya, dan matanya langsung menangkap pemandangan di tengah ruangan.

Langkah Wira terhenti. Senyum tengil yang sudah ia siapkan untuk menggoda Asmara seketika pudar, digantikan oleh sebuah tatapan teduh yang dipenuhi oleh rasa iba dan kepedulian yang mendalam.

Di sana, di balik tumpukan kertas yang menggunung, gadis yang paling ia sayangi sedang tertidur pulas dengan posisi yang sama sekali tidak nyaman. Napas Asmara terdengar teratur, namun sesekali kening gadis itu sedikit berkerut, seolah bahkan di dalam tidurnya pun, Asmara masih memikirkan tanggung jawab acara sekolah.

Wira berjalan mendekati meja oval itu dengan langkah kaki seringan kucing. Ia menarik sebuah kursi kosong dan duduk tepat di hadapan Asmara yang sedang terlelap.

Pemuda itu meletakkan gelas es teh manisnya di atas meja, sengaja dijauhkan sedikit dari dokumen-dokumen penting agar embunnya tidak merusak kertas. Setelah itu, Wira menopang dagunya dengan sebelah tangan, memandangi wajah damai Asmara dalam diam.

Melihat gelas es teh manis itu dan melihat Asmara, ingatan Wira mendadak terlempar mundur ke beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada kejadian di saat ia tak sengaja menumpahkan segelas es teh ke atas rok abu-abu Asmara.

Kala itu, di kantin sekolah yang penuh sesak, Wira yang sedang dalam puncak amarah dan masa pemberontakannya, berjalan dengan sengaja menabrak bahu Asmara. Es teh manis yang saat itu baru saja dibeli oleh Asmara tumpah berantakan, membasahi rok seragam dan sepatu putih gadis tersebut.

Bukannya meminta maaf, Wira saat itu hanya menyeringai meremehkan, melemparkan uang selembar lima puluh ribuan ke meja dengan angkuhnya, lalu berlalu pergi seolah Asmara hanyalah serangga tak berarti.

Kejadian itu telah memicu perang dingin yang panjang di antara mereka. Asmara membalasnya dengan jurus diam seribu bahasa yang sukses membuat batin Wira tersiksa setengah mati.

Wira menghela napas pelan, tersenyum miris menertawakan kebodohannya sendiri di masa lalu.

"Gila. Gue dulu bener-bener bajingan nggak punya hati," batin Wira merutuki dirinya sendiri. "Gimana bisa gue berbuat kasar sama cewek sebaik dan setulus ini?"

Dulu, ia menumpahkan es teh manis gadis ini sebagai bentuk arogansi. Namun hari ini, ia menyelinap masuk ke ruang OSIS, membawa es teh manis dengan tangannya sendiri, sebagai bentuk penebusan dosa sekaligus wujud perhatian tertingginya.

Wira mengulurkan tangannya yang besar dan sedikit kasar, berniat merapikan beberapa helai anak rambut yang menutupi mata Asmara. Namun, tepat ketika ujung jarinya hampir menyentuh dahi gadis itu, Asmara tiba-tiba bergerak pelan.

Gadis itu mengerang halus, mengubah posisi kepalanya. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang terang.

Saat pandangannya mulai fokus, hal pertama yang ia lihat adalah sosok pemuda berkaus hitam yang sedang duduk tepat di depannya, menatapnya dengan senyum miring yang sangat familier.

Asmara tersentak kaget. Ia refleks mengangkat kepalanya dari meja dan menegakkan punggungnya dengan cepat.

"Aduh!"

Asmara meringis tertahan, sebelah tangannya otomatis memegangi bagian belakang lehernya.

Gerakan refleks yang terlalu tiba-tiba itu membuat urat leher dan bahunya yang kram terasa seperti tertarik paksa.

Melihat itu, kepanikan kecil melintas di mata Wira, namun ia segera menutupinya dengan gaya santainya.

"Pelan-pelan, Bos. Nggak usah kaget gitu ngelihat orang ganteng. Tegang banget urat leher lo," goda Wira, suaranya sengaja direndahkan agar tidak memekakkan telinga Asmara yang baru saja bangun.

Asmara mengusap matanya, masih sedikit linglung mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul penuh. "Wir? Lo... lo ngapain di sini? Jam berapa sekarang?"

"Baru jam dua belas lewat dua puluh. Lo baru tidur sekitar sepuluh menit," jawab Wira tenang. Ia kemudian mendorong perlahan gelas plastik berisi es teh manis itu menyeberangi meja, mendekatkannya ke arah Asmara. "Nih. Minum dulu. Nyawa lo masih ketinggalan separuh tuh di alam mimpi."

Asmara menatap gelas es teh manis yang menggiurkan itu, lalu menatap Wira. "Lo... sengaja bawain ini buat gue?"

Wira mendengus pelan, menaikkan sebelah alisnya. "Nggak. Tadi gue nemu di jalan, terus karena sayang dibuang, ya udah gue kasih lo aja."

Asmara cemberut, menyadari Wira sedang menggunakan sarkasme. Meski begitu, tangannya tetap meraih gelas tersebut, memasukkan sedotan plastiknya, dan menyesap minuman dingin itu.

Rasa manis dari teh gula batu yang sangat pas dan sensasi dingin es yang mengalir membasahi kerongkongannya seketika membuat rasa penat di kepalanya sedikit berkurang. Asmara memejamkan mata sejenak, menikmati kesegaran yang sangat ia butuhkan saat ini.

"Makasih ya, Wir," ucap Asmara tulus setelah menelan minumannya. "Gue beneran butuh banget yang manis-manis dan dingin."

"Sama-sama. Hitung-hitung ini sebagai permintaan maaf gue yang delay berbulan-bulan," jawab Wira blak-blakan.

Asmara mengerutkan kening. "Permintaan maaf buat apa?"

"Buat es teh lo yang pernah gue tumpahin ke rok lo di kantin waktu itu," ucap Wira, menatap langsung ke dalam mata Asmara dengan penuh penyesalan yang jujur. "Waktu itu gue brengsek banget. Gue bahkan nggak minta maaf sama sekali. Jadi, es teh hari ini adalah bentuk kompensasi gue. Yah, walaupun telat banget."

Mendengar Wira mengungkit kejadian itu, Asmara tak kuasa menahan tawa kecilnya. "Ya ampun, Wir. Kejadian zaman kapan itu masih aja lo ingat. Santai aja kali, gue juga udah lupa. Lagian lo udah nembus dosa lo dengan ngepel Ruang Budaya sebulan penuh."

"Bagi gue, dosa numpahin es teh lo itu beda file sama dosa mukul si Bima," balas Wira, nadanya terdengar keras kepala namun manis di telinga Asmara.

Asmara kembali terkekeh, namun tawanya terhenti ketika ia tanpa sadar memutar bahunya untuk merenggangkan otot, dan rasa nyeri yang tajam kembali menyerang daerah tengkuk hingga ke pundaknya. Gadis itu meringis, memijat bahu kirinya sendiri dengan tangan kanannya sambil menundukkan kepala.

"Duh, pegel banget," keluh Asmara, lebih kepada dirinya sendiri. "Pundak gue rasanya kayak habis mikul beras dua karung."

Wira yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu, langsung menyadari penderitaan fisik Asmara. Ia tahu Asmara terlalu memaksakan diri sejak pagi.

Pemuda itu berdiri dari kursinya. Ia berjalan memutari meja oval tersebut hingga berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki Asmara.

"Lo mau ngapain, Wir?" tanya Asmara dengan nada waspada, mencoba menoleh ke belakang meski lehernya terasa sakit.

"Diem aja, ngadep depan. Nggak usah noleh-noleh," instruksi Wira dengan nada tegas yang biasa ia gunakan saat bertanding basket.

Wira menatap bahu Asmara yang terlihat kaku. Sebagai seorang remaja laki-laki, insting pertamanya tentu saja ingin memijat bahu gadis itu dengan kedua tangannya sendiri untuk meredakan ketegangan ototnya. Wira tahu bagaimana cara melakukan pijatan olahraga yang benar karena ia sering melakukannya pada teman-teman setim basketnya yang mengalami kram.

Namun, Wira menahan tangannya di udara.

Ia kembali teringat pada petuah Bude Ning dan prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh keluarga keraton Asmara. Ini adalah ruang tertutup. Jika ia menyentuh fisik Asmara secara langsung di ruangan sepi ini, hal itu akan melanggar batas kesopanan yang selama ini ia jaga mati-matian. Ia tidak ingin merusak kepercayaan yang sudah gadis itu berikan padanya.

Mata elang Wira menyapu isi meja di sekelilingnya, mencari solusi. Tatapannya kemudian jatuh pada sebuah buku tebal bersampul hardcover yang tergeletak di sudut meja—Buku Panduan Tata Tertib dan Laporan Pertanggungjawaban OSIS tahun lalu yang tebalnya nyaris menyamai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Wira meraih buku tebal tersebut dengan tangan kanannya.

"Wir? Lo lagi ngapain sih di belakang?" tanya Asmara yang mulai merasa bingung, tangannya masih memegangi pundaknya sendiri.

"Gue bilang diem. Relaksin bahu lo. Jangan ditahan," perintah Wira lagi.

Dengan hati-hati, Wira memposisikan bagian ujung datar dari buku tebal tersebut tepat di atas otot bahu Asmara yang tegang. Alih-alih menggunakan telapak tangannya secara langsung, Wira menggunakan buku tebal itu sebagai perantara. Ia mulai menekan ujung buku tersebut secara teratur ke titik-titik ketegangan di bahu dan sekitar pangkal leher Asmara, memberikan pijatan tekanan (pressure point massage) yang terkontrol.

Tuk. Tekan. Lepas.

Tuk. Tekan. Lepas.

Asmara terkesiap pelan saat merasakan tekanan yang kuat namun sangat pas mendarat di bahunya. Rasa sakit dan kaku yang sedari tadi menyiksanya seolah menemukan penyaluran yang tepat.

"Ah..." Asmara tak sengaja melepaskan sebuah desahan lega yang panjang, membiarkan kepalanya sedikit menunduk saat buku di tangan Wira terus menekan-nekan bahunya dengan ritme konstan. "Wir... itu enak banget. Pas banget di titik yang pegal."

Wira tersenyum tipis di belakang Asmara. Ia mengatur tenaga tekanannya agar tidak terlalu keras hingga menyakiti, namun cukup kuat untuk mengurai otot yang kram.

"Gue pakai ujung buku proposal tebal punya lo ini buat nekan pundak lo, Ra," ucap Wira jujur, menjelaskan apa yang sedang ia lakukan agar gadis itu tidak salah paham. "Soalnya kalau gue langsung pakai tangan kosong, takutnya nanti gue dibilang modus, terus Romo lo ngirim pasukan abdi dalem buat ngepung rumah Bude Ning. Bisa gawat urusannya."

Mendengar penjelasan yang begitu sopan namun dibungkus dengan nada candaan khas preman itu, Asmara tertawa pelan. Tawanya terdengar sangat tulus, bercampur dengan rasa haru yang tiba-tiba menggenang di rongga dadanya.

Asmara menyadari betapa Wira sangat menghargai dan menjaga batasannya. Pemuda itu menemukan cara yang cerdas dan terhormat untuk merawatnya tanpa harus melanggar norma kesopanan.

"Lo emang ada-ada aja idenya, Wir. Tapi jujur, ini ngebantu banget," ucap Asmara, suaranya terdengar jauh lebih rileks sekarang. Ia menjatuhkan kedua lengannya di pangkuan, sepenuhnya membiarkan Wira mengurai ketegangan di bahunya dengan buku tebal tersebut.

"Makanya, jangan sok kuat," tegur Wira pelan. Suara baritonnya mengalun tepat di atas kepala Asmara, terdengar begitu dekat dan intim di tengah sunyinya ruangan ber-AC itu. "Lo dari pagi wara-wiri kayak orang kesetanan. Ngurusin ini, ngurusin itu. Lo ingat nggak kapan terakhir kali lo duduk tenang sebelum ketiduran barusan?"

Asmara terdiam. Pertanyaan Wira menghantam sebuah titik rapuh di dalam hatinya yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik topeng kesempurnaan seorang Ketua OSIS.

"Gue... gue nggak bisa diam, Wir," jawab Asmara lirih, pertahanannya perlahan mulai luruh. "Acara ini tanggung jawab gue sepenuhnya. Kalau ada satu aja yang salah, yang pertama kali disalahkan sama pihak sekolah itu pasti OSIS. Gue nggak mau ngecewain kepala sekolah, guru pembina, dan teman-teman panitia yang udah kerja keras berbulan-bulan."

Wira terus memberikan tekanan yang lembut di bahu Asmara menggunakan buku tersebut. Ia mendengarkan keluh kesah gadis itu tanpa memotongnya.

"Kadang gue ngerasa..." Asmara menarik napas panjang yang sedikit bergetar. "Gue ngerasa capek banget dituntut buat selalu sempurna. Di rumah, gue harus jadi anak keraton yang patuh dan penuh unggah-ungguh. Di sekolah, gue harus jadi contoh, harus jadi ketua yang nggak pernah bikin kesalahan. Semuanya harus teratur. Semuanya harus sesuai jalur."

Asmara menundukkan kepalanya semakin dalam. Suaranya kini terdengar sangat parau, hampir menyerupai bisikan orang yang sedang putus asa. "Gue capek, Wir. Tapi gue nggak punya tempat buat bilang kalau gue capek."

Mendengar kejujuran yang sangat telanjang dan menyayat hati itu, gerakan tangan Wira terhenti. Pemuda itu merasakan sebuah empati yang begitu besar meremas dadanya.

Selama ini, ia selalu melihat Asmara sebagai sosok yang kuat, tak tersentuh, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Namun hari ini, di ruangan sepi ini, Asmara akhirnya menunjukkan retakan pada perisai emasnya. Sang Bulan ternyata juga bisa merasa redup dan kelelahan menanggung ekspektasi dunia.

Wira menurunkan buku tebal itu dari bahu Asmara dan meletakkannya kembali ke atas meja.

Alih-alih kembali duduk di kursi seberang, Wira melangkah ke samping, lalu berjongkok dengan satu lutut tepat di samping kursi Asmara. Ia memposisikan wajahnya agar sejajar dengan wajah gadis itu, memaksa Asmara untuk menoleh dan menatapnya.

Mata elang Wira, yang biasanya menyiratkan arogansi dan kejahilan, kini menatap Asmara dengan kedalaman emosi yang tak tertandingi. Tidak ada senyum tengil. Tidak ada godaan. Yang ada hanyalah sebuah ketulusan yang luar biasa tulus.

"Lo dengerin gue baik-baik, Ra," ucap Wira dengan intonasi yang sangat tegas, namun suaranya dibalut dengan kelembutan yang nyaris meluluhkan hati. "Lo itu manusia, bukan robot."

Asmara menelan ludah. Matanya yang sedikit berkaca-kaca menatap Wira tak berkedip.

"Lo punya hak buat ngerasa capek. Lo punya hak buat ngeluh. Dan lo punya hak buat bikin kesalahan," lanjut Wira, setiap suku katanya ia tekankan agar meresap langsung ke dalam sanubari Asmara. "Nggak ada satu pun orang di dunia ini yang ditakdirkan buat sempurna setiap detik, Ra. Bahkan matahari pun butuh waktu buat tenggelam setiap malam biar dia bisa istirahat."

Wira mengangkat tangan kanannya. Ia tidak menyentuh wajah Asmara, melainkan meletakkan tangannya di atas sandaran kursi yang diduduki gadis itu, menciptakan sebuah gestur perlindungan yang seolah membentengi Asmara dari segala tuntutan dunia luar.

"Selama ini, lo yang selalu ngajarin gue buat sabar. Lo yang selalu ngajarin gue buat nurunin ego, ngajarin gue buat nahan marah, dan ngajarin gue buat jadi versi diri gue yang lebih baik," ucap Wira, suaranya sedikit bergetar, memancarkan rasa terima kasih yang tak terhingga.

"Sekarang gantian, Ra," Wira menatap lurus ke dalam pupil mata Asmara yang memantulkan bayangannya. "Gue yang bakal ngajarin lo buat istirahat. Gue yang bakal jadi tempat lo buat ngeluh kalau lo capek jadi anak baik. Kalau lo butuh tempat buat numpahin rasa frustrasi lo tanpa takut dihakimi, gue bakal selalu ada di situ buat lo."

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada romantis picisan atau puisi yang mendayu-dayu. Wira mengucapkannya dengan gaya to the point, tegas, dan sarat akan janji seorang laki-laki yang rela memasang badan untuk melindungi orang yang disayanginya.

Mendengar janji tersebut, pertahanan emosi Asmara akhirnya jebol.

Satu tetes air mata lolos dari sudut matanya, mengalir cepat membelah pipi kuning langsatnya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa besar. Beban berat yang selama ini mengimpit dadanya terasa seolah menguap tak bersisa. Ia akhirnya menemukan sebuah pelabuhan aman di mana ia tidak dituntut untuk menjadi sempurna. Dan pelabuhan itu ternyata adalah pemuda yang dulu paling ia jaga jaraknya.

Asmara buru-buru mengusap air matanya dengan punggung tangannya, tertawa pelan di sela-sela isaknya yang tertahan.

"Sialan lo, Wir. Berengsek banget sih," isak Asmara sambil tertawa, menggunakan kosakata kasar Wira sebagai bentuk pelampiasan emosinya. "Gue lagi capek begini malah dibikin nangis. Kalau make up gue luntur terus muka gue jelek, gimana gue mau mimpin penutupan acara nanti sore?"

Melihat Asmara yang menangis sambil mengomelinya dengan gaya begajulan, Wira menyeringai lebar. Rasa lega ikut menyelimuti dadanya. Ia tahu, Asmara sudah kembali menemukan kekuatannya.

Wira menarik selembar tisu dari kotak di atas meja dan menyodorkannya kepada gadis itu.

"Nggak usah khawatir. Lo mau nangis sampai sesenggukan, muka lo belepotan make up, atau rambut lo awut-awutan kayak singa belum mandi, di mata gue lo tetap cewek paling cantik di SMA Budi Bangsa ini," gombal Wira tanpa ampun, kembali memasang mode tengilnya.

Asmara merampas tisu itu dari tangan Wira dan melemparkannya ringan ke dada pemuda itu. "Diem lo! Muka gue merah nih pasti! Jangan digombalin terus, nanti gue jantungan!"

Wira tertawa lepas, ia berdiri dari jongkoknya dan merenggangkan tubuhnya. "Ya udah, kalau lo nggak mau digombalin. Sekarang lo habisin es teh manis lo itu. Terus tutup mata lo lagi, tidur lima belas menit mumpung acara belum mulai. Gue bakal jaga di depan pintu, nggak bakal ada yang berani masuk dan ganggu lo istirahat."

Asmara menatap gelas es teh manisnya, lalu menatap Wira yang kini berdiri menjulang di dekat pintu, bersiap menjadi penjaga gawangnya.

"Wir," panggil Asmara lembut.

Wira menoleh. "Ya?"

"Makasih," ucap Asmara, sebuah senyuman yang sangat indah dan menawan terukir di bibirnya. "Makasih buat es tehnya, makasih buat pijatan bukunya, dan... makasih buat kata-kata lo tadi. Gue beneran butuh denger itu."

Wira membalas senyuman gadis itu dengan sebuah anggukan kecil yang penuh kepastian. "Sama-sama, Ra. Tidur gih. Porseni masih panjang, dan pawang gue harus tampil maksimal."

Pemuda itu memutar tubuhnya, bersandar pada daun pintu ruang OSIS dengan tangan bersedekap di dada, menghadap ke luar untuk memastikan tidak ada yang mendekat.

Di dalam ruangan yang sejuk itu, Asmara kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Namun kali ini, tidak ada lagi beban berat yang menekan pundaknya. Kepalanya terasa jauh lebih ringan, dan hatinya terasa begitu penuh oleh rasa aman yang luar biasa.

Diiringi oleh embusan udara AC dan kehadiran Sang Matahari yang setia menjaga di depan pintunya, Asmara memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya selama seminggu terakhir, sang ketua OSIS itu akhirnya bisa beristirahat dengan senyum damai yang tak lepas dari bibirnya, mengumpulkan kembali energinya untuk menghadapi dunia bersama pemuda yang kini telah menjadi bagian dari kekuatannya.

1
Yurmanitya Fadilah
Terharu aku 🥹
Wanoja
sedih
Wanoja
jadi inget adegan Cinta nyusul rangga di bandara di film aadc
Wanoja
eldeer itu berat
Wanoja
definisi ada senyum ada tangis ada bahagia ada luka
Wanoja
typo dikit nihh
Yurmanitya Fadilah
Sudah kuduga
Yurmanitya Fadilah
Akhirnya ada yang bisa menaklukan dia
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mwehehehe... 😍😍😍
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Gereget banget gue sama ini anak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Emang badjingan si Wira... 🗿🗿🗿
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Ya Allah Wira Badung nya tuh ngebadung amat ini anak bikin emosi yang baca
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ciri khas bocah nggak mau diatur, Kak... 💪💪💪
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hahahaaa ngakak🤣
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hayo Lo Wira, good luck ya menghadapi Bude mu, semoga cepet tobat GK bandel lagi
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Aamiin... 🤭🤭🤭
total 1 replies
Wanoja
ngiri sama kebahagiaan mereka
Yurmanitya Fadilah
Wira Badung banget, bagus lah bapak ibunya bijak, aku setuju dia dipindahin ke Jogja aja 😄🤣
Wanoja
ya kali raka cs juga berubah kayak kmu wira setelah ke jogja terus ketemu dek asmara
Wanoja
seperti lagi dibawa keliling malioboro sama wira dan dek asmara
Wanoja
Bedanya apa ronde sama sekoteng?
Wanoja
😂 raka belum tau jogja sepertinya cuma candi sama naik becak katanya
Wanoja
baca nya esem esem ndewe
Wanoja: bayangin mereka lah
total 2 replies
@ ~arworld author(。・ω・。)
satu bunga untuk kakak nya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!