Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 34
Van Declasse Burrito hitam yang penuh jelaga dan lecet bekas tembakan itu akhirnya memelankan lajunya, berbelok masuk ke sebuah tempat persembunyian rahasia di pinggiran daerah perindustrian sepi yang terlindung dari pandangan publik. Di sana, di dalam sebuah tempat yang terisolasi dan remang, Lester Crest sudah menunggu di balik kursi rodanya. Di samping Lester, berdiri sesosok pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam—pengawal pribadi terpercaya yang disiapkan Lester untuk menjaga keamanan area penampungan akhir tersebut.
SREEEEECH!
Franklin mematikan mesin V8 van yang menderita itu. Pintu samping kendaraan dibanting terbuka lebar. Michael, Trevor, Franklin, dan Andika melangkah turun secara berurutan. Meski tubuh mereka dipenuhi rasa lelah yang luar biasa, bau asap mesiu yang masih melekat di pakaian jas mereka, dan pakaian yang basah oleh keringat, binar di mata mereka memancarkan rasa puas yang tak terhingga.
"Kalian berhasil... Kalian benar-benar meloloskan diri!" seru Lester dengan senyuman lebar mengembang di wajahnya yang pucat. Pengawalnya hanya mengangguk hormat, tetap siaga mengawasi perimeter luar.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Andika dan Franklin membopong dua tas kargo kanvas jumbo yang amat berat dari dalam bagasi van, lalu membawanya melangkah mendekati meja besi raksasa yang berada di tengah ruangan.
BRUK! BRUK!
Dua tas jumbo itu dijatuhkan ke atas meja besi dengan suara dentuman berat yang mantap.
Ritsleting tebal tas ditarik meluncur terbuka oleh Michael. Seketika itu juga, pemandangan berharga terhampar di hadapan mata mereka berlima: ribuan berkas ikatan lembaran uang kertas seratus dolar berwarna hijau segar berpadu dengan pendar kilau murni dari belasan batangan emas padat yang tersusun rapi di dasar tas. Bau khas uang kertas baru dan logam berharga menyeruak memenuhi udara ruangan, seolah membayar tuntas segala darah, peluru, dan bahaya mati yang baru saja mereka lewati di jalanan Los Santos.
"Luar biasa..." gumam Lester, mendorong kaca matanya naik seraya mengelus tumpukan uang kertas itu dengan jemarinya. "Total jarahan bersih kita mencapai 8,4 juta dolar, ditambah nilai investasi dari batangan emas ini."
"Nah! Ini dia saat yang paling kutunggu-tunggu!" tawa Trevor meledak gembira seraya menepuk-nepuk meja besi tersebut dengan kasar. "Pembagian hasil, para bajingan!"
Lester menarik sebuah kalkulator taktis dan catatan keuangan dari dalam tas laptopnya. Ia mulai menghitung pembagian secara cermat berdasarkan risiko lapangan, peran operasional, perencanaan, dan kontribusi eksekusi dari masing-masing orang.
"Baiklah, dengarkan aku," kata Lester dengan nada bicara yang tegas dan profesional. "Pembagian ini dihitung secara adil berdasarkan peran, tingkat bahaya, dan besarnya risiko yang ditanggung di lapangan."
Lester mulai menggeser tumpukan uang dan emas batangan tersebut ke lima bagian terpisah di atas meja:
Michael De Santa: Mendapatkan bagian terbanyak di antara semua orang. Sebagai pimpinan operasional (heist leader), eksekutor lapangan veteran yang mengendalikan massa, sekaligus pria yang secara ajaib berhasil menembak jatuh helikopter kepolisian LSPD di tengah kejar-kejaran maut, Michael berhak atas porsi terbesar sebagai imbalan atas kepemimpinan dan risiko tertinggi yang ia pikul di pundaknya.
Franklin Clinton: Mendapatkan bagian yang sama besar dengan Trevor dan Andika. Sebagai pengemudi getaway vehicle yang memperlihatkan kemampuan mengemudi kelas atas—menerobos barikade, menghindari kejaran puluhan mobil patroli, dan membawa mereka selamat sampai ke terowongan—bagian Franklin sangat masif dan sepadan.
Trevor Philips: Mendapatkan bagian yang sama besar dengan Franklin dan Andika. Sebagai penyedia seluruh pasokan persenjataan militer, amunisi, dan rompi dari Sandy Shores, sekaligus mesin tempur gila yang menahan gempuran puluhan polisi dan pasukan SWAT di aula depan seorang diri, Trevor menerima potongan bernilai jutaan dolar yang sangat memuaskan dahaga kegilaannya.
Andika: Mendapatkan bagian yang sama besar dengan Franklin dan Trevor. Sebagai teknisi bor termal yang berhasil menjaga ketenangan dingin di bawah tekanan ekstrem, melelehkan pintu baja brankas dua ton dalam tenggat waktu kritis, serta penembak presisi yang menumbangkan mobil-mobil polisi yang mengejar dari jendela belakang van, Andika menerima bagian jutaan dolar pertamanya secara sah.
Lester Crest: Mendapatkan bagian paling sedikit di antara mereka berempat. Sebagai otak di balik layar yang meretas sistem CCTV, memblokir sinyal alarm, dan memandu rute pelarian melalui navigasi satelit dari jauh tanpa harus mempertaruhkan nyawanya diterjang peluru langsung di lapangan, Lester menerima porsi yang paling proporsional.
Meski porsi bagian Lester adalah yang terendah secara persentase angka dibanding empat eksekutor lapangan, Lester tersenyum puas karena jumlah itu sudah sangat melimpah untuk mendukung seluruh biaya operasi dan peralatan canggihnya. Dan yang paling penting: tak ada satu pun di antara mereka yang protes.
Semua orang di dalam ruangan menyadari betul bahwa pembagian tersebut sangat adil, seimbang, dan menghargai keringat serta taruhan nyawa dari masing-masing anggota.
"Ini porsimu, Mike. Kau layak mendapatkannya atas tembakan helikopter gila itu," kata Lester seraya mendorong tumpukan uang dan emas terbesar ke hadapan Michael.
Michael menyunggingkan senyum tipisnya yang khas, mengambil satu berkas uang tunai, menimbangnya di tangan, lalu menepuk bahu Lester. "Kerja bagus, Lester. Peretasanmu sangat rapi."
Lester lalu menggeser tiga tumpukan uang dan emas dalam jumlah persis sama ke hadapan Franklin, Trevor, dan Andika.
"Dan ini untuk kalian bertiga—Franklin, Trevor, dan Andika. Porsi yang sama rata untuk tiga eksekutor luar biasa," ucap Lester mantap.
Franklin menyambar tumpukan uangnya, membolak-balik lembaran seratus dolar itu dengan pendar mata yang berbinar penuh rasa tidak percaya. "Ayyy! Ini baru namanya hasil kerja keras! Dengan uang sebanyak ini, aku bisa membeli rumah baru di Vinewood Hills!"
Trevor langsung menyambar tumpukan uang dan emas miliknya, memeluk tumpukan dolar itu ke dadanya seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru, lalu tertawa histeris melengking yang menggema di seluruh sudut ruangan!
"HA-HA-HA-HA-HA! LIHAT INI, MICKY! KITA KAYA LAGI! KITA BISA MEMBELI SELURUH KOTA SIALAN INI!" jerit Trevor penuh kegilaan seraya melemparkan seikat uang kertas ke udara hingga berhamburan jatuh menimpa kepalanya sendiri.
Andika melangkah mendekati bagiannya. Ia mengambil satu batangan emas murni yang terasa sangat berat dan dingin di telapak tangannya, lalu memasukkan berkas-berkas uang tunai ratusan ribu dolar itu ke dalam tas sampingnya. Rasa puas yang mendalam mengalir di dalam dadanya. Perjalanan jauhnya merantau ke kota Los Santos, melewati masa-masa keras di jalanan, akhirnya terbayar tuntas malam ini dengan sebuah pencapaian yang fantastis.
Andika menoleh ke arah Franklin, Michael, dan Trevor, lalu merapatkan gelas bir dingin yang disodorkan oleh pengawal Lester ke udara.
"Untuk Fleeca Bank... dan untuk tim terbaik di Los Santos," ucap Andika dengan senyuman renyah dan suara yang mantap.
"Untuk kekayaan kita!" timpal Franklin gembira, merapatkan botolnya!
Gelak tawa yang lepas, gembira, dan penuh kepuasan meledak riuh di antara kelima pria tersebut. Di bawah remang lampu tempat persembunyian rahasia itu, suara dentangan botol minuman bersahutan dengan tawa histeris Trevor dan kelakar renyah Michael serta Franklin. Gelombang teror, pertempuran darah, dan kejaran peluru di jalanan Pacific Bluffs kini telah berlalu, meninggalkan lima pria yang berdiri sebagai pemenang mutlak dari salah satu perampokan bank paling legendaris di Los Santos.