Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Tiga Ancaman, Satu Rencana
Chu Feng masih berdiri di depan gerbang batu yang kini cahayanya benar-benar padam di belakang mereka, Tombak Awan Kelabu tergenggam erat, ketika Tetua Wang menepuk bahunya pelan.
"Jangan berdiri di sini terlalu lama," katanya. "Kalian semua butuh makan, istirahat, dan luka-luka kecil yang belum terasa perlu diperiksa dulu. Setelah itu, kita bicara lebih panjang di ruanganku."
Chu Feng mengangguk, menahan dorongan untuk langsung berlari mengirim pesan ke Su Yue saat itu juga. Tubuhnya memang belum terasa lelah qi-nya yang kini jauh lebih dalam membuat stamina dasarnya jauh melampaui sebelumnya namun ia tahu Tetua Wang benar. Bertindak gegabah dalam keadaan panik hanya akan membuang waktu yang sudah sangat sempit.
Kelima murid itu menuruni lereng gunung dengan langkah yang jauh lebih ringan dari saat mereka mendaki enam bulan lalu atau tiga minggu lalu bagi dunia luar. Setiap langkah terasa nyaris tanpa beban, efek dari berminggu-minggu berlatih di bawah tekanan gravitasi berlipat ganda. Liu Bo bahkan sempat melompat kecil dari sebuah batu setinggi dua kali tubuhnya, mendarat mulus sambil tertawa lepas seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.
"Aku belum pernah merasa seringan ini," katanya, masih tertawa. "Rasanya seperti bisa terbang."
"Jangan terlalu senang," Zhao Lin mengingatkan, meski ada senyum tipis di wajahnya. "Ingat, kekuatan ini baru berguna kalau kita bisa mengendalikannya dengan baik."
Sore itu, setelah membersihkan diri dan mengisi perut, Chu Feng dan keempat rekannya duduk melingkar di ruang pribadi Tetua Wang di menara pusat, bersama Tetua Feng dan Tetua Mei yang sudah menunggu dengan wajah serius.
"Mari kita atur prioritas," Tetua Wang memulai, membuka sebuah peta wilayah selatan di atas meja. "Ada tiga hal yang bersamaan menekan kita, dan kita tidak bisa mengabaikan satu pun tanpa risiko."
Ia menunjuk titik pertama di peta. "Kompetisi Sekte Wilayah Selatan akan diadakan di Kota Batu Merah, sekitar empat hari perjalanan dari sini. Kalau kita berangkat dalam seminggu, masih ada cukup waktu untuk tiba tanpa terburu-buru."
"Kedua," Tetua Feng menambahkan, "Aula Kegelapan Malam. Kami sudah mengirim beberapa murid senior untuk mengintai wilayah sekitar dalam radius tiga hari perjalanan, dan hasilnya... tidak ada jejak apa pun. Bukan berarti mereka sudah pergi, hanya berarti mereka sangat berhati-hati."
"Dan ketiga," Tetua Mei menoleh ke arah Chu Feng, ekspresinya lebih lembut, "urusan gadis dari Klan Su itu."
Chu Feng menatap peta di hadapannya, mencoba menyusun pikirannya yang berkecamuk. "Kalau Su Yue benar-benar berhasil hadir di kompetisi seperti yang ia janjikan, itu bisa jadi kesempatan untuk berbicara langsung dengannya. Tapi dengan tenggat waktu yang sudah dipercepat, aku tidak yakin ia akan diizinkan bepergian sejauh itu."
"Ada satu hal yang bisa kita lakukan," Jiang Rou angkat bicara, suaranya ragu namun jelas. "Kalau kita bisa membuktikan sesuatu di kompetisi reputasi sekte, atau bahkan reputasimu sendiri, Chu Feng mungkin itu bisa memberi Su Yue argumen tambahan di hadapan keluarganya. Aliansi dengan Klan Zhao bukan satu-satunya pilihan yang mungkin, kalau ada pihak lain yang terlihat cukup menjanjikan."
Chu Feng terdiam, mempertimbangkan gagasan itu. Ia tidak pernah berpikir untuk menggunakan pencapaian di kompetisi sebagai alat tawar politik kebiasaan seorang pangeran yang selalu bersembunyi dan menghindari sorotan namun kali ini, mungkin sudah saatnya ia menggunakan sorotan itu sebagai senjata.
"Aku akan mengirim pesan pada Su Yue malam ini," katanya akhirnya. "Memberitahunya bahwa aku akan hadir di Kota Batu Merah, dan meminta dia berusaha datang. Sisanya... kita lihat bagaimana situasinya berkembang."
Malam harinya, Chu Feng duduk sendirian di beranda asramanya dengan giok komunikasi di tangannya, jarinya sedikit gemetar saat mengalirkan qi ke permukaannya. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, menyadari pesan ini mungkin akan dibaca oleh orang lain sebelum sampai ke tujuan.
Su Yue, aku sudah kembali dari latihan panjang dan mendengar kabar tentang tenggat waktumu. Aku akan hadir di Kompetisi Sekte Wilayah Selatan di Kota Batu Merah dalam dua minggu. Kalau kau bisa datang, ada banyak yang ingin kubicarakan. Jaga dirimu.
Ia menahan napas, menunggu, meski tahu jawaban mungkin tidak akan datang secepat itu.
Sepuluh menit berlalu tanpa respons, lalu tiga puluh menit. Chu Feng hampir menyerah dan bersiap masuk ke kamarnya ketika giok itu tiba-tiba bergetar pelan.
"Chu Feng." Suara Su Yue terdengar sangat pelan, nyaris berbisik, seolah ia sedang bersembunyi di tempat yang jauh dari pendengaran siapa pun. "Aku sangat senang mendengar suaramu. Aku tidak bisa berbicara lama. Tetua memperketat penjagaanku, dan hanya sedikit pelayan yang masih berani membantuku mengirim pesan seperti ini."
"Aku mengerti," Chu Feng menjawab pelan, jantungnya berdegup kencang mendengar suaranya setelah sekian lama. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku... baik-baik saja," jawab Su Yue, nada suaranya sedikit bergetar. "Ayahku memberiku sedikit ruang untuk bernapas, tapi tetua lain tidak sepenuhnya setuju. Mereka ingin perjodohan ini dipercepat. Kurang dari sebulan lagi. Aku akan berusaha datang ke kompetisi itu, entah bagaimana caranya. Tapi Chu Feng... kalau aku tidak bisa datang, jangan menyalahkan dirimu sendiri."
"Aku tidak akan menyalahkan siapa pun," Chu Feng menjawab tegas. "Tapi aku akan datang, apa pun yang terjadi. Dan aku akan berusaha sekuat yang aku bisa di sana."
Hening sejenak sebelum Su Yue menjawab, suaranya lebih lembut. "Terima kasih. Aku akan mengingat itu."
Pesan itu terputus, meninggalkan Chu Feng dengan giok yang kembali dingin di tangannya, namun dengan sesuatu yang lebih hangat di dadanya dibandingkan sebelumnya setidaknya kini ia tahu Su Yue masih berjuang, masih berpegang pada harapan meski dikelilingi tembok yang begitu tinggi.
Jauh dari Sekte Awan Langit, di sebuah kamar gelap di dalam benteng tersembunyi yang tidak tercatat di peta mana pun, pria bertopeng perak itu berdiri di depan sebuah cermin batu besar yang permukaannya beriak seperti air, menampilkan bayangan samar dari sesuatu yang jauh.
"Tuan," salah seorang bawahannya bersimpuh di belakangnya, suaranya bergetar. "Laporan dari mata-mata kami di dekat Sekte Awan Langit. Kelima murid perwakilan sekte, termasuk pembawa pecahan itu, baru saja keluar dari sebuah tempat tersembunyi di gunung belakang sekte setelah menghilang kurang lebih selama tiga minggu."
Pria bertopeng perak itu diam sejenak, matanya menyipit menatap bayangan di cermin batu itu gambar samar Chu Feng yang berjalan menuruni lereng gunung, langkahnya ringan dan mantap.
"Tiga minggu," gumamnya akhirnya, nada suaranya dingin namun kini menyimpan sesuatu yang baru: kewaspadaan yang jauh lebih serius. "Dan aura anak itu... jauh lebih kuat dari terakhir kali kita bertemu. Tempat apa yang mereka temukan di dalam gunung itu?"
"Kami belum tahu, Tuan. Formasinya terlalu kuat untuk ditembus dari luar."
"Kalau begitu, tidak ada gunanya menyerang sekte itu secara langsung lagi," pria bertopeng itu berbalik, jubah hitamnya berkibar pelan. "Kita akan menunggu momen yang tepat. Kompetisi Sekte Wilayah Selatan—tempat semua mata akan tertuju pada arena, dan pengawasan terhadap para peserta justru akan lebih longgar. Persiapkan orang-orang terbaik kita untuk berada di Kota Batu Merah."
"Baik, Tuan."
Pria bertopeng itu kembali menatap cermin batu, senyum dingin terbentuk di balik topengnya. "Kali ini, anak itu tidak akan punya tempat bersembunyi. Dan pecahan yang ia bawa akan menjadi milik kita, sebelum ia sempat memahami sepenuhnya kekuatannya sendiri."
Kembali di Sekte Awan Langit, Chu Feng menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam, tidak menyadari bahwa di balik kesunyian yang menenangkan itu, sebuah jaring baru sedang ditenun dengan cermat di sekeliling arena tempat ia dan timnya akan segera bertanding.
Ia menggenggam kalung peninggalan ibunya erat-erat, merasakan kehangatan samar dari liontinnya, seolah benda itu sendiri berusaha menyampaikan sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.
Dua minggu, pikirnya, menatap ke arah cakrawala tempat Kota Batu Merah menanti di kejauhan. Waktu yang cukup untuk bersiap—atau setidaknya, cukup untuk mencoba.