Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing
Kehancuran Ibukota Kekaisaran adalah pemandangan yang melampaui mimpi buruk terdalam. Tanpa sihir, kota yang dibangun di atas kesombongan magis itu tidak bisa menopang arsitekturnya sendiri.
Selama beberapa jam berikutnya, Faksi Ketiadaan tidak bertarung. Mereka bertahan hidup.
Di bawah komando Jenderal Kael dan Rexor, armada Behemoth Darat diubah menjadi benteng darurat. Karena mesin uap mereka sepenuhnya mengandalkan fisika dan mekanika, kendaraan baja itu adalah satu-satunya benda yang masih berfungsi di seluruh ibukota. Mereka harus menggunakan rantai derek meriam untuk memindahkan puing-puing pualam dan menyelamatkan warga sipil yang terjebak.
Paradoks yang aneh pun terjadi: prajurit jalanan dan mantan preman dari Distrik Bawah kini menarik para bangsawan Kekaisaran dari balik reruntuhan, sementara para penyihir elit hanya bisa menangis meratapi hilangnya kekuatan mereka.
Di pusat alun-alun, sebuah derek baja raksasa akhirnya berhasil memindahkan Kepompong Obsidian Kaelen ke atas geladak kendaraan komando. Kepompong itu seberat ribuan ton, nyaris membuat roda rantai kendaraan ambles ke dalam tanah.
Lyra duduk bersila di depan kepompong hitam itu. Ia tidak memedulikan hawa dingin beku yang memancar darinya. Ia hanya meletakkan tangannya di permukaan obsidian yang halus, berharap bisa merasakan detak jantung dari balik lapisan logam purba tersebut.
"Dia belum mati," suara Silas terdengar dari belakang. Dokter tua itu memegang alat pendeteksi yang jarumnya bergetar gila-gilaan. "Tapi dia tidak stabil. Kepompong ini bertindak sebagai penyeimbang tekanan ruang. Di dalam sana, Kaelen sedang memadat energi Jantung Astral. Jika kepompong ini retak sebelum bagian ketiga artefak itu ditemukan, kita tamat."
"Di mana bagian ketiganya, Silas?" tanya Lyra, suaranya parau.
Silas membuka lembaran perkamen kuno yang ia temukan di perpustakaan Varian tempo hari. Ia menyalakan senter minyak—satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan ibukota.
"Inkuisitor Valerius mengatakan bagian kedua ada di Kawah Hitam. Tapi Jantung Astral... Sang Kaisar tidak pernah meninggalkan Istana Matahari. Tahukah kau kenapa?" Silas menunjuk ke arah reruntuhan istana yang kini telah menjadi kawah raksasa. "Istana Matahari bukanlah singgasana. Itu adalah tutup lubang galian."
Jenderal Kael yang baru saja bergabung mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Kaisar Agung memproyeksikan wujudnya di atas, tapi akar sejatinya berada di bawah tanah," jelas Silas cepat. "Catatan ini menyebutkan tentang Sanctum of the First Men—Ruang Suci Manusia Pertama. Tempat di mana Mesin Pemakan Dewa pertama kali diciptakan sebelum umat manusia diperbudak oleh sihir. Ruang suci itu berada tepat di bawah Istana Matahari, di dekat inti planet."
Lyra berdiri, matanya berkilat menatap reruntuhan istana. "Artinya, Kaisar menyembunyikan bagian ketiga artefak itu—Pelindung Tulang Belakang (Aegis Spine)—di sarangnya sendiri, jauh di bawah tanah, agar tidak ada yang bisa menyatukannya."
"Tepat," Silas mengangguk. "Kaisar yang dibunuh Kaelen tadi hanyalah avatar astral. Kesadaran sejatinya... akar parasit yang sesungguhnya, masih bersembunyi di bawah sana, melindungi bagian terakhir artefak itu. Kaelen menyedot sihirnya, tapi bukan kesadarannya."
Rexor melangkah naik ke geladak sambil menyeka keringat kotor dari wajahnya. "Jadi, ringkasannya: Bos kita berubah menjadi telur batu ajaib yang bisa meledak kapan saja, sihir di dunia ini sudah musnah, langit segelap pantat wajan, dan kita harus menggali ke pusat bumi untuk membunuh sisa hantu kaisar dan mengambil baju zirah tulang belakang?"
"Secara kasar, ya," jawab Silas gugup.
Rexor tertawa hambar, lalu menepuk meriam Null-Bringer di sebelahnya. "Untung saja penggalian adalah keahlian utama preman Sektor Empat. Kael! Perintahkan pasukanmu untuk memutar moncong meriam ke bawah! Kita akan meledakkan jalan setapak ke pusat bumi!"
Lyra menoleh kembali ke arah kepompong obsidian. Ia menempelkan dahinya ke permukaan dingin batu hitam tersebut.
Bertahanlah, Kaelen, batin Lyra. Tetaplah menjadi manusia di dalam sana. Kami akan menjemputmu.
Di kedalaman kepompong yang gelap, Kaelen tidak bisa mendengar suara mereka. Kesadarannya terjebak dalam lautan cahaya putih yang tak bertepi. Dan di hadapannya, dari balik kabut ketiadaan, berdiri sosok Sang Kaisar Agung yang asli—bukan berwujud pangeran sempurna, melainkan sesosok monster purba yang terbuat dari jalinan akar astral dan mata-mata yang menyala, bersiap untuk merobek jiwa Kaelen dari dalam.
Pertarungan fisik di atas tanah telah berakhir. Kini, perang sesungguhnya di dalam pikiran Kaelen baru saja dimulai.