Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MUSIBAH MEMBAWA BERKAH
Nyuutt..
Dirga terdiam ketika pinggangnya terasa nyeri saat hendak mengangkat barang belanjaan Vallery yang ada di jok depan motor maticnya.
Tapi demi tampil keren dihadapan gadis yang dicintainya, ia menahan rasa nyeri yang mulai menjalar, membuat tubuhnya menjadi kaku seperti robot.
"Ada apa lagi dengan mas Dirga? Kenapa dia berjalan seaneh itu?", batin Vallery curiga.
Vallery yang teringat jika Dirga sempat terpeleset di pasar tadi dan kemungkinan gaya jalannya yang aneh ada kaitannya dengan hal tersebut, iapun segera menyuruh Dirga masuk.
“Mas, duduk dulu didalam. Aku ambilkan obat pereda otot didalam”, ujar Vallery yang langsung masuk kedalam kamar sebelum Dirga merespon.
Nenek Gendhis yang baru keluar dari dapur, melihat ekspresi Dirga yang tampak menahan rasa sakit seketika merasa penasaran dan bertanya.
“Mas kades kenapa Val?”, tanyanya pada Vallery yang baru keluar dari dalam kamar sambil membawa salep pereda nyeri otot.
“Mas Dirga tadi habis jatuh kepleset pasar, ini mau Vallery oles salep pereda nyeri otot tubuhnya”, jawab Vallery sambil berjalan santai ke arah dimana Dirga duduk.
“Kalau habis jatuh begini, mending diurut (dipijat) aja. Coba kamu panggil Mbah Gito kemari, biar mas kades segera diurut”, ucap nenek Gendhis sambil mendorong tubuh Vallery keluar dari dalam rumah sebelum gadis itu sempat menolak, tahu-tahu kunci motor sudah diberikan ketangannya.
“Sudah sana pergi, cepat panggil Mbah Gito sebelum bagian tubuh mas kades yang keseleo jadi bengkak”, perintah nenek Gendhis.
Vallery yang tak bisa menolak hanya pasrah mengikuti kemauan nenek Gendhis dan segera pergi untuk menjemput Mbah Gito.
Lima menit kemudian, Vallery sudah balik kerumah sambil membawa seorang lelaki tua berusaha enam puluh tahun yang masih tampak gagah, menyuruhnya untuk segera masuk.
“Mari masuk Mbah. Mas kadesnya ada didalam”, ucap Vallery.
Melihat ada pak kades didalam rumah nenek Gendhis, Mbah Gito sempat terkejut. Tapi setelah mendengar penjelasan nenek Gendhis jika Dirga terjatuh di pasar ketika mengantar Vallery belanja, rasa terkejut itupun semakin bertambah dan jiwa gosip pria tua itupun mulai timbul.
“Sepertinya rumor diluaran itu benar adanya. Pak kades tampaknya benar-benar serius mendekati cucunya nenek Gendhis”, tebak Mbah Gito dalam hati.
Dirga yang sebenarnya ingin menolak niat baik nenek Gendhis, tapi melihat Mbah Gito sudah datang dan juga tubuh serta kakinya terasa tak nyaman, iapun hanya bisa patuh dan masuk kedalam kamar untuk dipijat.
Begitu kain selambu yang ada didepan pintu kamar tertutup, tak lama kemudian terdengar suara jeritan kesakitan dari dalam kamar, membuat Vallery yang sedang merapikan barang belanjaannya didapur merasa prihatin atas kondisi yang dialami oleh Dirga.
“Tahan sedikit mas kades, ini saya kurangi tenaganya. Jika tak benar-benar diurut, besok bisa bengkak ini kaki. Pinggang mas juga jika tak segera diurut dengan benar bisa-bisa mas kades besok gak bisa kerja”, celoteh Mbah Gito sambil tangannya tetap mengurut bagian tubuh Dirga yang ototnya kaku agar kembali lemas dan tak lagi sakit seperti sedia kala.
Setelah mendapatkan teguran dari Mbah Gito, Dirga yang sadar jika ia masih berada di rumah nenek Gendhis pun berusaha menahan suaranya agar tak lagi berteriak sekencang sebelumnya.
Seiring otot tubuhnya yang mulai lemas dan rileks, Dirga pun tak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya dan iapun mulai menikmati pijatan mbah Gito hingga matanya hampir tertutup.
“Sudah mas. Cepat pakai baju biar gak masuk angin. Saya akan kebelakang dulu untuk memberikan jamu kepada Vallery agar di seduh biar bisa segera mas kades minum”, ucap Mbah Gito sambil menyibakkan tirai penutup pintu kamar dan berjalan menuju dapur.
Tak lama kemudian, Vallery pun masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas jamu, bertepatan dengan Dirga yang baru saja memakai kaosnya.
Vallery yang tak sengaja melihat enam roti sobek Dirga terdiam dengan kedua mata berbinar cerah karena tak menyangka jika akan mendapat rejeki nomplok seperti ini.
"Badan mas Dirga ini bagus juga. Gimana ya rasanya kalau dipegang", batin Vallery dengan pikiran yang mulai bergerak liar.
Dirga yang melihat Vallery melamun sambil tersenyum malu, melambaikan satu tangannya didepan wajah Vallery.
Vallery yang tertangkap basah, tergagap.
“Oh, ini...Ini jamunya mas, diminum dulu”, ucap Vallery sambil menyodorkan segelas jamu yang baru di seduhnya.
Dirga pun segera menghabiskan jamu tersebut hanya dalam dua kali tegukan dan segera menghabiskan segelas air putih yang juga Vallery bawa untuk menetralkan rasa pahit jamu yang baru saja diminumnya.
“Mas istirahat dulu dikamar. Nanti kalau sarapannya sudah matang, aku panggil”, ucap Vallery yang langsung berjalan keluar kamar dengan terburu-buru karena malu, takut Dirga menyadari jika ia sempat mengagumi bentuk tubuh pria tersebut.
Dirga yang melihat Vallery ngibrit ke belakang, hanya bisa mengantuk kepalanya dengan bingung. "Kenapa lagi tuh anak, aneh banget", gumannya sambil mulai mengamati kondisi sekelilingnya.
"Apa ini kamar Vallery ?", Dirga yang baru menyadari jika kamar yang ia gunakan untuk pijat adalah kamar Vallery, tersenyum lebar.
Merasa penasaran, iapun mulai berjalan berkeliling didalam kamar yang tak seberapa besar itu, mengamati semuanya dengan seksama sambil sesekali tersenyum hangat ketika membayangkan apa yang Vallery lakukan disana.
Karena tubuhnya masih sedikit lemas setelah dipijat dan efek dari jamu yang diminumnya, Dirga pun segera merebahkan diri diatas ranjang dengan sprei motif bunga tersebut.
“Jadi ini bantal yang digunakan Vallery tidur…”, guman Dirga sambil menghirup dalam-dalam aroma Vallery yang tertinggal disana.
Fantasi liar Dirga pun mulai bersliweran dalam otak pria dewasa tersebut, membuatnya wajahnya terlihat sangat mesum.
Dirga yang tengah membayangkan hal liar bersama Vallery sambil memeluk bantal yang selama ini digunakan oleh Vallery untuk tidur, tak terasa kelopak matanya menjadi berat dan iapun terlelap.
Sepuluh menit kemudian, Vallery yang baru selesai membantu neneknya memasak dan ingin memanggil Dirga untuk sarapan seketika tertegun didepan pintu melihat pria itu tengah tertidur nyenyak diatas ranjangnya.
“Ada apa Vall, kenapa bengong didepan pintu?”,tanya nenek Gendhis penasaran.
“Mas Dirga lagi tidur nek, jadi kita sarapan saja dulu”, jawab Vallery sambil menutup kembali tirai kamar yang baru dibukanya.
Karena ada Dirga didalam kamarnya, Vallery pun membawa laptop nya keluar agar ia bisa menyelesaikan pekerjaannya diruang tengah.
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa waktu sholat dhuhur telah tiba.
Dirga yang terbangun oleh suara adzan yang dikumandangkan dari surau dekat rumah nenek Gendhis mulai membuka mata.
Setelah menggeliat sebentar, Dirga yang sadar jika ia masih berada didalam kamar Vallery dan masih memeluk bantal milik gadis cantik itu, senyuman lebarpun mereka di wajahnya.
“Dengan memeluk bantal ini, aku seperti tidur sambil memeluk Vallery. Sangat hangat dan nyaman”, gumannya dalam hati.
Vallery yang baru masuk untuk mengambil charge laptopnya, melihat Dirga tersenyum senang diri dengan ekspresi malu-malu sambil sesekali menciumi bantal miliknya, keningnya pun mulai berkerut dan tatapan matanya menjadi sangat aneh.
“Perasaan tadi ketika jatuh, kepala mas Dirga gak kebentur,tapi kenapa jadi aneh begini ya? apa jangan-jangan jamu yang diberikan oleh mbah Gito sudah kadaluarsa sehingga otak mas Dirag sedikit gesrek?”, batin Vallery menebak.
Ternyata bukan hanya Vallery saja yang terkejut dan menatap aneh kearah Dirga, nenek Gendhis yang kembali penasaran kenapa Vallery terdiam didepan pintu kamarnya pun, ikut melihat.
Sama seperti Vallery, nenek Gendhis juga mengkerutkan keningnya cukup dalam melihat tingkah Dirga yang aneh itu.
Merasa ada yang memperhatikan, Dirga pun menoleh dan seketika wajahnya membeku dan berubah warna menjadi hijau, biru, putih, seperti palet yang terus berubah-ubah warna melihat Vallery dan nenek Gendhis ada didepan pintu kamar dan menatapnya dengan ekspresi serius.
“Apa mereka melihat semua yang aku lakukan tadi?”, batin Dirga panik.
Melihat nenek dan cucu tersebut menatapnya dengan tatapan aneh yang menusuk, Dirga pun sadar jika apa yang terlintas dalam pikirannya benar adanya.
Wajah Dirga pun semakin pucat dan rasa panik akan citranya yang tenang dan berwibawa, hancur hanya karena ulahnya yang absurd.
“Habis sudah! citra yang selama ini kubangun hancur karena aku tak bisa menahan diri”, runtuk Dirga dalam hati
Ia benar-benar meruntuki kebodohannya yang terlalu senang bisa tidur sambil memeluk bantal milik Vallery tanpa sadar jika masih ada orang di rumah ini yang mungkin melihat tingkah konyolnya itu
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA