Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Keheningan kaku menyergap ruangan kecil itu setelah pernyataan tegas Aluna menggantung di udara.
Haris Mahendra menatap Aluna lekat-lekat, menilai kesungguhan di balik iris mata gadis itu. Tidak ada keraguan, tidak ada pendar ketakutan, apalagi kepura-puraan. Untuk pertama kalinya, sang patriark Mahendra melihat seorang wanita biasa yang berdiri tegak menantang keluarganya tanpa sedikit pun silau oleh harta atau nama besar yang mereka agungkan.
"Bagus kalau kamu tahu diri," sela Dania cepat, berusaha menutupi sedikit kecanggungannya dengan nada angkuh. Ia melirik Haris seraya mengibaskan tangannya pelan. "Mas Haris, dengar sendiri, kan? Dia sudah berjanji akan pergi. Jangan sampai kita buang-buang waktu lagi di tempat kumuh ini."
Valerie masih menatap Aluna penuh kebencian, namun raut wajahnya menyiratkan kepuasan liar. "Awas saja kalau kamu bohong! Kalau aku sampai melihatmu mendekati Hayden lagi, aku sendiri yang akan membuat hidupmu dan kakakmu makin menderita!"
"Valerie, cukup," tegur Haris tegas dengan suara beratnya. Ia menatap Romeo sekilas, menunjukkan sedikit rasa hormat pada stafnya itu, lalu kembali memandang Aluna. "Jika kamu benar-benar memegang ucapanmu untuk pergi dan tidak mengganggu kehidupan Hayden lagi, saya pastikan masalah ini selesai sampai di sini. Saya tidak akan memperpanjangnya."
Tanpa menguncapkan sepatah kata lagi, Haris berbalik dan melangkah keluar, diikuti oleh Dania yang melengos sinis serta Valerie yang memberikan tatapan mengancam terakhir sebelum menyusul mereka.
*
Suara deru mesin mobil mewah yang menjauh perlahan memecah ketegangan mencekik yang tersisa di rumah sederhana itu.
Pintu kayu tua itu memantulkan hening. Aluna menghembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan meluruh. Namun, saat ia berbalik, ia mendapati Romeo menatapnya dengan binar mata terpukul dan sarat pertanyaan yang menuntut jawaban.
"Aluna..." suara Romeo bergetar, bening air mata menggenang di sudut matanya. "Apa maksud semua ini? Kenapa mereka bilang kamu model lukis? Kenapa mereka menuduhmu berhubungan dengan Hayden?!"
Lutut Aluna terasa lemas. Ia melangkah mendekati kursi roda Romeo, lalu berlutut di hadapan kakaknya. Jemarinya yang gemetar meraih jemari Romeo yang dingin.
"Kak... maafkan Aluna," bisik Aluna, air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes hangat membasahi pipinya. "Aluna tidak bermaksud menyembunyikan apa pun dari Kakak..."
"Jelaskan pada Kakak, Aluna!" potong Romeo dengan napas memburu, raut wajahnya campur aduk antara cemas dan kecewa. "Kenapa Hayden membiayai pengobatanku? Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Hayden selama Kakak terbaring sakit?!"
Aluna menelan ludah yang terasa bagai duri. Ia tahu ia tidak bisa membongkar seluruh kejahatan dan pemaksaan Hayden tanpa menghancurkan mental kakaknya yang sedang berjuang untuk sembuh. Namun, ia juga tak bisa lagi berbohong sepenuhnya.
"Hayden... Hayden memang menjadikanku model lukisnya di studio, Kak," aku Aluna pelan dengan suara serak. "Tapi Aluna melakukan itu murni untuk mencari uang tambahan demi pengobatan Kakak. Aluna tidak pernah menggoda atau meminta apa pun dari Hayden. Hayden menolong Kakak karena dia bersahabat dengan Kakak, tapi keluarganya salah paham dan mengira Aluna memanfaatkan keadaan."
Aluna mengusap air matanya, menatap lurus ke dalam mata Romeo dengan permohonan yang amat sangat.
"Aluna tidak mau berada di antara konflik keluarga mereka, Kak. Aluna lelah. Hubungan Hayden dan keluarganya sangat rumit, dan Aluna tidak ingin Kakak terseret dalam bahaya atau hinaan orang-orang kaya itu lagi. Tolong, Kak... percaya sama Aluna. Kita pergi dari sini ya? Kita buka lembaran baru di tempat lain."
Romeo terdiam kaku. Hatinya hancur melihat adiknya menangis penuh keputusasaan di pangkuannya. Ia teringat bagaimana Valerie dan ibu tiri Hayden memaki adiknya dengan kata-kata kasar. Rasa bersalah menghantam dada Romeo—karena kelumpuhannya, adiknya harus menanggung beban berat dan hinaan dari orang-orang terpandang itu.
"Maafkan Kakak, Aluna..." bisik Romeo parau seraya merengkuh kepala adiknya ke dadanya. "Maafkan Kakak yang tidak berguna ini... Kakak yang membuatmu harus menderita dan dihina seperti ini."
"Tidak, Kak... ini bukan salah Kakak," tangis Aluna pecah di dada Romeo. "Aluna cuma ingin hidup tenang bersama Kakak. Tanpa Hayden, tanpa keluarga Mahendra, tanpa siapa pun dari masa lalu kita."
Romeo mengangguk pelan, mengusap punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Baik, Dik. Kita pergi. Kita kemasi barang-barang kita sekarang. Kakak akan urus pengunduran diri Kakak dari perusahaan hari ini juga."
*
Sementara itu, di sebuah kawasan terpencil di pinggiran kota yang tenang, sebuah bangunan berasitektur industrial berdiri tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan pinus. Itu adalah studio lukis rahasia milik Hayden—sebuah galeri pribadi yang dilindungi privasi tingkat tinggi, hanya diketahui oleh para kolektor seni mancanegara dan tokoh-tokoh kelas atas.
Di dalam studio luas beraroma cat minyak dan kanvas basah tersebut, pendar cahaya lampu sorot kuning keemasan menyoroti satu lukisan utama yang terpajang di tengah ruangan. Lukisan itu menampilkan siluet dan paras Aluna yang begitu menawan namun sarat duka, dilukis dengan setiap goresan jemari Hayden yang dipenuhi obsesi.
Seorang pria paruh baya berjas elegan—seorang kolektor seni ternama dari Eropa—melangkah mendekati kanvas tersebut seraya menyesap anggur merah.
"Luar biasa, Hayden," puji sang kolektor dengan binar mata terkagum-kagum. "Ekspresi keindahan yang dipadukan dengan kesakitan di mata gadis ini... benar-benar karya terindahmu sepanjang tahun ini. Aku bersedia membayar sepuluh juta dolar untuk lukisan ini. Nama angka berapa pun, aku akan mentransfernya hari ini juga."
Hayden berdiri di samping lukisan itu dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celananya. Jas hitamnya terpasang rapi, menutupi kelelahan yang sempat melingkupinya sejak subuh. Pria itu menatap lekuk wajah Aluna di atas kanvas, memandangi iris mata indah yang dilukisnya dengan rasa memiliki yang teramat pekat.
Penawaran bernilai ratusan miliar rupiah itu sama sekali tak menggerakkan raut wajah Hayden.
"Maaf," pangkas Hayden dingin, suaranya tenang namun bernada mutlak. "Lukisan ini tidak dijual."
Kolektor itu tertegun, menoleh kaget. "Apa? Tapi minggu lalu kamu menyuruh asistenmu memajangnya di studio khusus ini untuk dilelang secara tertutup, Hayden?"
"Itu minggu lalu," balaskan Hayden datar seraya melangkah maju, lalu menarik kain penutup beludru hitam dan mengubur lukisan Aluna kembali dalam kegelapan. "Sekarang aku mengubah pikiranku. Tidak ada satu pun hal, karya, atau citra tentang wanita ini yang boleh dimiliki oleh orang lain."
Kolektor itu menghela napas pasrah, tahu betul bahwa jika seorang Hayden Mahendra sudah mengetuk ketetapan, tak ada uang di dunia ini yang sanggup menggoyahkannya.
Studio rahasia itu dibangun khusus tanpa jaringan telekomunikasi demi menjaga privasi penuh sang seniman saat berkarya. Dinding-dinding beton tebalnya memblokir seluruh sinyal ponsel dan pemancar radio. Di tempat terisolasi itulah Hayden menghabiskan waktu bertaut-taut jam sejak pagi, sama sekali tidak menyadari bahwa di dunia luar, kendali yang selama ini ia agungkan sedang hancur berkeping-keping.
Ia tidak tahu bahwa Aluna telah memaksakan diri keluar dari rumah sakit dengan bantuan Suster Maya. Ia tidak tahu bahwa Haris, Dania, dan Valerie telah melintasi batas untuk memaki adiknya di rumah sederhana itu. Dan ia tidak tahu bahwa gadis yang berusaha ia ikat dalam cengkeramannya baru saja mengikrarkan janji untuk lenyap selamanya dari hidup seorang Hayden Mahendra.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan sang kolektor, Hayden melangkah keluar melewati pintu besi tebal studio. Begitu kakinya melangkah ke pelataran parkir terbuka, hembusan angin sore menyambutnya.
Tepat saat itu, ponsel di dalam saku jasnya yang tadinya mati mendadak bergetar hebat tanpa henti. Puluhan notifikasi pesan dan panggilan tak terangkat dari Rendra langsung membanjiri layar.
Alis Hayden bertaut tajam. Ia menggeser layar dan menghubungi nomor Rendra.
"Ada apa, Rendra?" tanya Hayden dingin, suaranya sarat teguran atas kepanikan yang terdeteksi dari banyaknya panggilan tersebut.
"Tuan Hayden!" suara Rendra dari seberang telepon terdengar sangat tegang dan terengah-engah. "Akhirnya telepon Tuan terhubung! Gawat, Tuan!"
"Bicara yang jelas," bentak Hayden, rahangnya mengeras kaku.
"Nona Aluna... Nona Aluna sudah tidak ada di kamar VIP rumah sakit sejak pagi, Tuan! Dokter Siska bilang Nona Aluna memaksa pulang!" Rendra jeda sejenak dengan napas memburu. "Dan bukan hanya itu... satu jam yang lalu, Tuan Haris, Nyonya Dania, dan Nona Valerie mendatangi rumah Nona Aluna!"
*
*
*