Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghargaan Untuk Zea
Intan langsung membelalakkan mata. Ia hampir membuka mulut untuk membalas, tetapi Zea mengangkat tangan kecil, memberikan isyarat agar sahabatnya tidak ikut campur.
Zea kemudian menatap Soraya dengan senyum tipis yang justru membuat perempuan itu merasa tidak nyaman. “Menarik sekali nasihat Anda, Lettu. Rupanya Anda cukup memikirkan penampilan dan kehidupan pribadi saya sampai sedetail itu.”
Soraya mengangkat dagu. “Saya hanya menyampaikan pendapat.”
“Tentu, setiap orang memang berhak menyampaikan pendapatnya,” jawab Zea tenang. “Tapu kalau kita sedang membicarakan kehidupan pribadi orang lain, sebaiknya kita memastikan kehidupan kita sendiri juga tidak menyimpan cerita yang menarik untuk dibicarakan.”
Senyum Soraya perlahan memudar. “Apa maksud Anda?”
Zea memiringkan kepala sedikit, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu. “Bukankah Anda cukup sering bepergian ke luar negeri dengan alasan berlibur, tetapi justru beberapa kali terlihat keluar masuk hotel bersama sejumlah putra pejabat di sana dengan berbagi peluh?”
Wajah Soraya seketika membeku. Ia sama sekali tidak menyangka Zea akan mengungkit hal tersebut, terlebih di tengah acara yang dipenuhi pejabat dan orang-orang penting.
“Apa?” desis Soraya, suaranya nyaris tidak terdengar. “Dari mana Anda tahu soal itu?”
Zea hanya tersenyum kecil. “Mengapa Anda begitu terkejut? Bukankah tadi Anda sendiri yang mengingatkan saya agar tidak bersembunyi di balik penampilan luar?”
Soraya merasakan jantungnya berdebar kencang. Selama ini, ia selalu menggunakan alasan liburan setiap kali pergi ke luar negeri untuk menemui pria-pria yang sedang dekat dengannya, dan ia sangat berhati-hati agar keluarganya tidak mengetahui kebiasaan tersebut.
Bahkan ayah dan ibunya sendiri tidak pernah mencurigai apa pun karena Soraya selalu pandai menyusun alasan.
Tapu kini Zea justru mengetahui sesuatu yang selama ini ia rahasiakan, membuat pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan tentang siapa yang telah membocorkan informasi tersebut.
“Kau—” Soraya hendak membalas, tetapi suaranya mendadak terputus.
Sebelum ia sempat melanjutkan perkataannya, suara pembawa acara terdengar menggema melalui pengeras suara di seluruh aula.
Musik latar perlahan mengecil, sementara para tamu mulai menghentikan percakapan dan mengalihkan perhatian ke panggung utama.
“Selamat malam, Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih telah hadir dalam malam penganugerahan penghargaan bagi para pejabat dan pegawai teladan yang telah memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat.”
Tepuk tangan meriah segera memenuhi ruangan. Soraya terpaksa menutup mulutnya dan mengalihkan perhatian ke panggung, meskipun tatapan kesalnya masih sesekali tertuju kepada Zea.
Zea sendiri hanya merapikan ujung hijabnya, lalu menghadap ke depan seolah percakapan mereka tadi tidak pernah terjadi. Sagara yang sejak awal mengawasi dari jarak sekitar satu meter memperhatikan keadaan itu dengan saksama, tetapi tetap menjaga sikap profesionalnya.
“Pada malam ini, kita akan memberikan penghargaan kepada sejumlah pejabat daerah dan pegawai teladan atas dedikasi, integritas, serta keberhasilan mereka dalam menjalankan tugas,” lanjut pembawa acara. “Selain piagam dan penghargaan khusus, para penerima juga akan memperoleh bantuan dana yang diperuntukkan bagi program kemasyarakatan di daerah masing-masing.”
Nama demi nama mulai dipanggil ke atas panggung. Para pejabat yang terpilih menerima penghargaan maju dengan wajah bangga, berfoto bersama para petinggi yang menyerahkan piagam, kemudian kembali ke tempat masing-masing diiringi tepuk tangan para tamu.
Beberapa penerima penghargaan memperoleh apresiasi atas keberhasilan menjalankan program pendidikan, sementara yang lain dinilai berhasil meningkatkan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Suasana aula semakin meriah ketika pembawa acara mengumumkan pencapaian masing-masing penerima beserta bantuan dana yang akan dialokasikan untuk kepentingan warga.
Soraya berusaha memusatkan perhatian pada acara tersebut, tetapi pikirannya masih terganggu oleh perkataan Zea. Ia tidak suka melihat perempuan itu begitu tenang setelah mempermalukannya, seolah-olah dirinya sama sekali bukan ancaman.
Di sisi lain, Zea mendengarkan setiap pengumuman dengan penuh perhatian. Beberapa saat kemudian, pembawa acara kembali naik ke tengah panggung sambil membawa sebuah kartu berisi nama penerima penghargaan berikutnya.
“Bapak dan Ibu sekalian, kini kita memasuki salah satu penghargaan yang paling dinantikan malam ini, yaitu penghargaan bagi gubernur dengan kinerja terbaik. Penghargaan ini diberikan berdasarkan evaluasi terhadap berbagai indikator, termasuk pertumbuhan perekonomian, efektivitas program pembangunan, serta dampak kebijakan terhadap kesejahteraan masyarakat.”
Ruangan mendadak terasa lebih hening. Sejumlah tamu mulai saling berbisik, menebak siapa yang akan menerima penghargaan bergengsi tersebut.
“Berdasarkan hasil evaluasi, Provinsi M berhasil mencatatkan peningkatan perekonomian yang sangat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Provinsi tersebut kini menempati posisi pertama dalam penilaian pertumbuhan ekonomi di antara daerah-daerah yang dievaluasi.”
Sorak kagum terdengar dari beberapa sudut aula. Para tamu mulai memperhatikan Zea, sementara Soraya yang berdiri tidak jauh darinya langsung menegang.
Pembawa acara membuka kartu di tangannya, kemudian mengumumkan nama penerima penghargaan dengan suara lantang. “Dengan bangga, kami mengundang Gubernur Provinsi M, Ibu Alvierra Zea Khanza, sebagai penerima penghargaan Gubernur Terbaik atas keberhasilan meningkatkan kinerja perekonomian daerah dan mendorong berbagai program pembangunan yang berdampak bagi masyarakat!”
Tepuk tangan langsung menggema memenuhi aula. Sejumlah tamu berdiri untuk memberikan penghormatan, sementara kamera para fotografer mulai mengarah kepada Zea yang kini menjadi pusat perhatian.
Intan spontan mencengkeram lengan sahabatnya dengan wajah berbinar. “Zea! Namamu dipanggil! Kau dengar, kan? Kau menang!”
Zea tertawa kecil melihat kegembiraan Intan. “Aku dengar, Tan. Kau tidak perlu mengguncang lenganku seperti sedang membangunkan orang pingsan.”
“Biar saja! Aku bangga kepadamu!” balas Intan, masih tidak mampu menyembunyikan senyumnya.
Zea kemudian menarik napas, merapikan gaunnya, lalu melangkah menuju panggung dengan tenang. Ia menyapa beberapa tamu yang berdiri di dekat jalurnya, kemudian menaiki tangga panggung untuk menerima piagam penghargaan dari pejabat yang bertugas menyerahkannya.
Ketika piagam itu berada di tangannya, kilatan kamera memenuhi ruangan. Zea berdiri tegak dengan senyum anggun, sementara pembawa acara kembali menjelaskan bahwa keberhasilan Provinsi M tidak hanya terlihat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari berbagai upaya pembenahan program pembangunan dan pelayanan masyarakat.
“Selamat atas pencapaian yang luar biasa, Ibu Gubernur,” ujar pejabat yang menyerahkan penghargaan kepadanya. “Semoga keberhasilan ini dapat dipertahankan dan menjadi inspirasi bagi daerah lainnya.”
“Terima kasih banyak, Pak,” jawab Zea sopan. “Penghargaan ini bukan hanya milik saya, melainkan juga milik masyarakat Provinsi M yang terus berusaha bersama pemerintah untuk membuat daerah kami menjadi lebih baik.”
Jawaban itu kembali disambut tepuk tangan. Zea lalu menerima penghargaan tersebut, berfoto bersama para pejabat di atas panggung, dan menyampaikan beberapa patah kata mengenai pentingnya transparansi anggaran serta pemerataan pembangunan.
Dari tempatnya berdiri, Soraya menyaksikan semuanya dengan wajah yang semakin masam. Perempuan yang tadi ia rendahkan karena dianggap hanya mengandalkan penampilan itu kini justru berdiri di atas panggung sebagai gubernur terbaik, menerima penghormatan dari para tokoh penting.
Rasa iri menggerogoti hatinya, terlebih ketika ia melihat beberapa pemuda di dekatnya bertepuk tangan sambil membicarakan Zea dengan nada kagum.
“Dia memang luar biasa,” ujar salah seorang pemuda. “Masih muda, cantik, tetapi bisa membawa daerahnya menjadi yang terbaik.”
“Kalau ada kesempatan, aku ingin berkenalan dengannya,” sahut pemuda lain sambil tersenyum. “Jarang sekali ada perempuan yang punya penampilan menarik sekaligus pencapaian seperti itu.”
Soraya mengepalkan tangannya di balik tas kecil yang dibawanya. Ia tidak tahan mendengar orang-orang terus memuji Zea, seolah perempuan itu tidak memiliki kekurangan sedikit pun.
wehhh piye iki jal
sat set tnpa drama keren
KLO kek gini rasanya negara ini akan damai2 saja
tp kbnykan pada komen dlu sblm tau faktanya
alahhh mboh lah mumet AQ
AQ ora tau melu2 komen ini itu JD tak tau lah
mempan 🤣🤣🤣🤣🤣
kiro2 piye yoooo