Indonesia
NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cakrawala Tanpa Batas dan Langkah Pertama Menuju Kosmos

Suara desir angin pagi menggoyang pucuk-pucuk pohon mahoni di sekeliling kawasan Kusuma Advanced Research Center (KARC). Sinar matahari pertama menyapu dinding kaca masif lantai tiga, memantulkan warna keemasan yang berkilauan di atas lantai marmer putih bersih.

Rian berdiri di hadapan jendela panorama, menatap hamparan luas kota Jakarta yang perlahan terbangun dari tidurnya. Kemeja putih berbalut jas laboratorium tanpa kancing melekat sempurna di tubuhnya, memancarkan wibawa yang tenang, seolah-olah seluruh gravitasi bumi tunduk pada kendali kesadarannya.

Cklek.

Pintu geser otomatis terbuka dengan desisan halus. Maya melangkah masuk membawa map laporan eksperimen terbaru dan secangkir kopi hitam hangat. Rambutnya dikuncir rapi, dan senyuman cerah menghiasi wajahnya.

"Pagi, Rian," sapa Maya ramah, meletakkan cangkir kopi di atas meja konsol. Ia melirik sekilas ke arah layar holografik utama yang menyala hijau stabil. "Tim teknis dari kementerian energi baru saja mengirimkan konfirmasi resmi. Anggaran pengembangan proyek ekspansi jaringan termoelektrik skala makro telah disetujui sepenuhnya tanpa ada revisi."

Rian membalikkan badannya perlahan, menatap Maya dengan sorot mata yang jernih. "Persetujuan anggaran dan birokrasi negara hanyalah mekanisme administratif fana, Maya. Yang terpenting adalah bagaimana energi bersih ini dapat mengalir secara mandiri tanpa membebani ekosistem."

Maya mendengus geli, menggelengkan kepalanya pelan. "Kau selalu bisa mereduksi berita besar birokrasi menjadi sekadar mekanisme administratif biasa. Tapi biarlah, karena berkat hasil kerjamu, nama KARC kini menjadi pusat rujukan riset teknologi paling berpengaruh di Asia Tenggara."

Rian mengambil cangkir kopi hangatnya, lalu meneguk sedikit cairan pahit manis itu. "Ketenaran institusional tidak mengubah hukum dasar alam. Fokus kita bukan pada pengakuan sosial, melainkan pada langkah eksplorasi berikutnya."

"Eksplorasi berikutnya?" Maya mengerutkan keningnya, menatap Rian dengan rasa penasaran. "Maksudmu, setelah jaringan listrik nasional ini stabil, kita akan beralih ke proyek apa lagi?"

"Menembus batas atmosfer bumi," jawab Rian singkat dengan nada tenang namun penuh keyakinan mutlak.

Maya tertegun sejenak. Sebelum ia sempat meminta penjelasan lebih jauh, suara ketukan pintu berderit pelan, disusul oleh kemunculan Wijaya yang melangkah masuk dengan langkah cepat namun terukur.

"Tuan Rian, Nona Maya," sapa Wijaya hormat, membungkuk sekilas. "Ada tamu penting di ruang penerima tamu lantai bawah. Profesor Wiratman datang langsung dari kementerian bersama delegasi ilmuwan senior dari badan antariksa nasional."

Rian meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. "Persilakan mereka naik ke ruang rapat utama. Saya akan segera ke sana."

Sepuluh menit kemudian, di ruang rapat eksekutif lantai tiga yang dikelilingi dinding kaca panorama, Profesor Wiratman dan tiga orang ilmuwan senior berjas formal duduk menanti. Begitu Rian melangkah masuk ke dalam ruangan bersama Maya dan Wijaya, Profesor Wiratman langsung berdiri dan menyambut remaja itu dengan senyuman lebar serta jabat tangan yang hangat.

"Rian! Senang bisa bertemu kembali," sapa Profesor Wiratman antusias. Ia menunjuk ke arah tiga orang di belakangnya. "Kenalkan, ini adalah para kepala divisi dari Badan Riset dan Inovasi Antariksa. Mereka datang langsung setelah membaca makalah teoretis yang kau publikasikan secara privat minggu lalu mengenai pemanfaatan gelombang osilasi kuantum untuk propulsi wahana luar angkasa."

Salah seorang ilmuwan senior—pria paruh baya berkacamata tebal bernama Dr. Handoko—maju dan menjabat tangan Rian dengan penuh rasa takjub. "Rian, jujur saja, formula matematika yang kau susun untuk propulsi gelombang mikro itu melompati teknologi roket konvensional hingga puluhan tahun ke depan. Apakah benar perangkat yang kau rancang mampu menghasilkan dorongan tanpa bahan bakar kimia?"

Rian membalas jabat tangan tersebut dengan mantap. "Hukum gerak semesta tidak pernah bergantung pada pembakaran bahan bakar kimia yang kotor, Dr. Handoko. Dengan menyelaraskan frekuensi osilasi medan magnet lokal terhadap ruang hampa, sebuah wahana dapat bergerak memanfaatkan tarikan gravitasi kosmik secara langsung."

Seisi ruangan terhenyak dalam kesunyian sesaat. Para ilmuwan senior itu saling berpandangan, takjub sekaligus terpesona oleh cara pandang fisika tingkat tinggi yang disampaikan oleh remaja berusia tujuh belas tahun di hadapan mereka.

Profesor Wiratman tertawa renyah, memecah keheningan. "Kau lihat sendiri, kawan-kawan? Anak ini selalu berhasil membuat para ahli bergelar doktor terdiam dalam kekaguman. Rian, maksud kedatangan kami kemari adalah menawarkan kerja sama resmi antara KARC dan badan antariksa untuk membangun purwarupa wahana eksplorasi luar angkasa pertama berbasis teknologi kuantum."

Rian menatap Profesor Wiratman dan para ilmuwan di hadapannya dengan sorot mata yang tenang dan berwibawa. Kedua tangannya terlipat di atas meja.

"Saya menerima tawaran kerja sama tersebut," jawab Rian tegas. "Laboratorium bawah tanah kita akan mulai merakit modul inti propulsi kuantum mulai minggu depan."

Maya tersenyum bangga, sementara Profesor Wiratman dan delegasi ilmuwan tampak begitu lega dan antusias menyambut keputusan tersebut.

Menjelang sore hari, setelah seluruh pertemuan formal dengan delegasi badan antariksa selesai, Rian kembali seorang diri ke ruang kerjanya di lantai tiga. Maya dan Wijaya telah turun untuk mengurus persiapan logistik awal modul propulsi baru.

Rian berdiri di dekat dinding kaca panorama, menatap langit senja ibu kota yang mulai berubah warna dari jingga terang menjadi lembayung gelap. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, membuka telapak tangannya di udara.

Seketika itu juga, pendaran cahaya keemasan yang sangat murni berputar lembut di atas telapak tangannya, membentuk miniatur galaksi spiral yang berputar dalam harmoni sempurna.

Di dalam rongga dadanya, inti energi Qi berputar tanpa hambatan, menyatu sepenuhnya dengan kesadaran kosmik tanpa batas. Di dunia fana ini, ia telah menaklukkan setiap tantangan sains, membersihkan intrik korporasi, dan mendirikan fondasi peradaban teknologi tertinggi. Namun, bagi seorang kultivator agung yang telah melampaui batas-batas ruang dan waktu, bumi hanyalah titik kecil di hamparan semesta yang maha luas.

Langkah kaki Rian berikutnya bukan lagi sekadar memenangkan kompetisi atau memimpin korporasi; melainkan menembus bintang-bintang, menjelajahi dimensi-dimensi kosmik yang belum pernah dijamah oleh kesadaran manusia mana pun.

Rian menutup telapak tangannya perlahan, membiarkan pendaran cahaya keemasan itu meresap kembali ke dalam tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut nadi semesta berdetak seirama dengan jiwanya, bersiap menyambut babak keabadian baru di luar angkasa yang tak bertepi.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!