Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Langit melangkahkan kakinya melewati pintu penthouse. Jam dinding digital di ruang tamu yang luas itu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana hening langsung menyambutnya.
Alih-alih melangkah ke kamar tidur utama untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk, sang CEO Dewanta Group itu justru membelokkan langkah ke ruang kerja pribadinya.
Ia menghempaskan tubuh di kursi kerja ergonomis berlapis kulit premium.
Tangan kanannya terangkat, memijat pangkal hidung dan pelipisnya yang berdenyut kencang.
Di atas meja jati besar itu, beberapa map dokumen tebal berlambang rahasia tergeletak berantakan.
Di layar monitor yang masih menyala, puluhan baris kode sistem keamanan data berkedip-kedip.
Langit menghela napas panjang, menatap nanar lembaran analisis forensik keuangan di depannya.
Semua bukti keterlibatan pamannya sendiri, Hendra Dewanta, dalam kasus sabotase internal masih terlihat sangat abu-abu.
Setiap kali tim investigasi independen yang dibentuknya menemukan titik terang, jalur informasi itu selalu berakhir di sebuah dinding kosong, jalan buntu.
Dalam benaknya, Langit sudah menyusun rencana matang. Ia ingin menyeret tiga orang sekaligus ke jalur hukum tanpa ampun: Galang, Sera, dan sang paman, Hendra Dewanta, yang menjadi otak dari seluruh pergerakan ini.
Rencana itu sudah sempurna di kepalanya, namun kenyataan di lapangan berkata lain. Bukti yang ia miliki saat ini terlalu lemah untuk bisa menjebloskan mereka bertiga bersama-sama ke balik jeruji besi.
Jika ia bergerak sekarang dengan bukti yang compang-camping, Hendra dengan jaringan hukumnya yang kuat pasti bisa berkelit dan justru menyerang balik.
Beban pikiran Langit tidak berhenti sampai di sana. Matanya beralih menatap baris-baris kode di monitor. Saat ini, ia tengah memimpin langsung pengembangan sistem keamanan tingkat tinggi untuk proteksi data perusahaan.
Proyek ini sangat krusial, namun pengembangannya berjalan lambat karena kompleksitas enkripsi yang dibutuhkan.
Hal inilah yang menjadi mimpi buruk terbesarnya. Sistem yang belum selesai ini menjadi celah fatal. Langit sangat khawatir jika data sensitif mengenai Proyek Starlight akan bocor kembali ke publik atau jatuh ke tangan kompetitor.
Ia tahu betul, ada musuh dalam selimut di perusahaannya, dan Hendra Dewanta sedang mengintai setiap titik lengahnya dari dalam.
Di bagian lain penthouse, Bumi terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Pria bertubuh tegap itu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.
Saat hendak kembali ke kamarnya, matanya menangkap seberkas cahaya terang yang keluar dari celah pintu ruang kerja Langit.
Bumi menghentikan langkahnya. Ia tahu Langit baru saja pulang dari kantor berjam-jam yang lalu, namun fakta bahwa lampu ruang kerja itu masih menyala membuatnya penasaran.
Sebagai suami kontrak yang terikat perjanjian profesional di atas kertas, Bumi biasanya tahu diri untuk tidak mencampuri urusan pribadi sang CEO.
Namun, melihat bayangan tubuh Langit yang nampak resah, bergerak gelisah di atas meja kerjanya dari balik kaca buram, membuat langkah kaki Bumi tergerak mendekat.
Bumi mengetuk pintu kayu solid itu dua kali secara perlahan. Tanpa menunggu jawaban yang pasti, ia memutar kenop pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi aroma kopi hitam dan parfum maskulin milik Langit.
Langit terkejut, mendongak dari tumpukan berkasnya dengan raut wajah defensif yang khas.
Namun, energi untuk bersikap ketus seolah menguap begitu saja melihat ekspresi Bumi yang datar tanpa dosa.
Bumi berjalan mendekati meja kerja tanpa suara. Matanya yang tajam langsung menangkap catatan-catatan kecil, diagram alur konspirasi, serta coretan arsitektur jaringan yang berantakan di atas meja.
Secara alami, tanpa meminta izin terlebih dahulu, Bumi menarik salah satu lembar kertas catatan ringkasan masalah yang ditulis tangan oleh Langit dengan frustrasi.
Langit sempat ingin menarik kertas itu kembali, namun tangannya tertahan di udara saat melihat keseriusan di mata Bumi.
Bumi membaca deretan kalimat di sana dengan saksama. Garis wajahnya yang tegas tidak menunjukkan keterkejutan, melainkan sebuah konsentrasi yang dingin.
Setelah beberapa saat mengamati catatan tersebut, Bumi menurunkan kertas itu dan menatap langsung ke netra Langit. "Apa yang tidak dimengerti olehmu dari skema pengkhianatan ini?" tanya Bumi langsung pada inti masalah, suaranya terdengar berat dan tenang.
Langit bersandar pada kursi kerjanya, melepaskan sisa-sisa kedok keangkuhannya sebagai seorang CEO di depan suami kontraknya. Rasa lelah yang teramat sangat membuatnya menyerah.
"Semuanya saling mengunci, Bumi," ujar Langit dengan suara serak. "Aku tahu Hendra yang menggerakkan Galang dan Sera. Tapi aliran dananya diputus lewat perusahaan cangkang di luar negeri. Jalur hukum kita akan patah di tengah jalan kalau dokumen ini yang dibawa ke pengadilan."
Langit terdiam sejenak, lalu mengarahkan pandangannya ke layar monitor. "Dan yang paling membuatku gila adalah ini. Proyek Starlight. Ini adalah proyek masa depan Dewanta Group. Sebuah megaproyek ladang panel surya dan turbin angin lepas pantai. Jika ini berhasil, proyek ini mampu memasok hingga 30% kebutuhan listrik domestik secara mandiri. Ini bukan cuma soal uang, ini soal ketahanan energi dan reputasi perusahaan."
Langit mengusap wajahnya dengan kasar. "Masalahnya, sistem keamanan data baru kami belum selesai. Hendra tahu celah itu. Aku takut data Starlight bocor lagi seperti bulan lalu. Jika mereka memegang cetak biru turbin angin lepas pantai itu sebelum kita mematenkannya, Dewanta Group selesai."
Bumi mendengarkan seluruh penjelasan Langit tanpa menyela satu kali pun. Ekspresinya tetap cool dan dingin, seolah-olah ia sedang mendengarkan laporan cuaca, bukan sebuah krisis korporasi bernilai triliunan rupiah. Pria itu menyilangkan dadanya, bersandar pada pinggiran meja kerja Langit yang kokoh.
"Kau terlalu fokus mencari bukti konvensional untuk menyeret mereka bersamaan," ucap Bumi perlahan setelah keheningan yang cukup lama. "Kau ingin menang telak dalam satu kali pukulan. Itu kesalahanmu."
Langit mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu? Aku tidak bisa memenjarakan mereka satu per satu tanpa menyentuh Hendra. Hendra akan langsung memotong ekornya dan mengorbankan Galang atau Sera."
Bumi sedikit menunduk, menatap baris kode di monitor komputer Langit, lalu kembali menatap Langit. "Kalau begitu, balik logikanya. Jangan kunci aliran dananya, tapi kunci akses informasinya. Untuk sistem keamananmu yang baru 68% ini, kenapa kau tidak membuat jebakan?"
"Pancingan?" Langit menatap Bumi dengan mata yang sedikit melebar.
"Ya. Sengaja bocorkan data Proyek Starlight yang sudah diubah spesifikasinya secara minor namun fatal pada algoritma turbin anginnya. Biarkan musuh dalam selimutmu mengambil data palsu itu melalui akun yang terhubung dengan Sera atau Galang. Saat mereka menggunakan atau menjual data itu ke pihak Hendra, enkripsi tersembunyi di dalam file itu akan otomatis merekam jejak digital IP address pengunduh dan melacak ke mana file itu dikirim secara real-time."
Bumi menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada dengan gaya yang sangat tenang namun mengintimidasi. "Dengan begitu, kau tidak perlu mencari bukti masa lalu yang sudah dihapus oleh Hendra. Kau menciptakan bukti masa kini yang sedang mereka lakukan bersama-sama secara langsung. Mereka bertiga akan terjebak dalam satu lubang yang sama yang mereka gali sendiri."
Langit terpaku di kursinya. Otaknya yang jenius segera memproses saran dari Bumi. Sudut pandang Bumi yang berada di luar lingkaran konflik ini justru memberikan sebuah solusi radikal yang sangat brilian. Memanfaatkan kelemahan sistem yang belum selesai untuk menjadi sebuah perangkap aktif.
"Bumi, itu_" Langit kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. Sebuah senyuman tipis, yang sudah lama tidak muncul di wajahnya, perlahan terbit. "Itu benar-benar bisa berhasil. Kenapa aku tidak memikirkan pendekatan aktif seperti itu?"
"Karena kau terlalu sibuk menjadi CEO yang panik," sahut Bumi datar, tanpa ekspresi, namun ada kilatan jenaka di matanya. "Lagipula, wajar saja kau kalah pintar dariku sesekali. Kalau kau terlalu sempurna, kontrak pernikahan kita bisa berubah jadi sungguhan karena kau terlalu terpesona padaku."
Langit seketika mendengus, tawa kecil lolos dari bibirnya yang semula tegang. Ketegangan yang tadinya memenuhi ruangan itu seolah mencair seketika oleh kepercayaan diri Bumi yang kelewat batas. "Tolong ya, Tuan Bumi. Kepercayaan dirimu itu tolong dikurangi sedikit di jam-jam rawan seperti ini."
"Aku hanya menyatakan fakta medis," balas Bumi dengan wajah yang tetap cool dan dingin. "Stres berlebihan bisa mengurangi ketampananmu sebanyak lima persen. Dan sebagai suami kontrak yang baik, aku bertanggung jawab menjaga aset visual pasanganku agar tetap laku di depan media."
"Aset visual?" Langit tertawa lagi, kali ini lebih lepas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Beban berat yang tadinya menghimpit dadanya terasa jauh lebih ringan sekarang. "Terima kasih, Bumi. Sungguh. Pendapatmu tadi benar-benar membuka jalan buntu di kepalaku."
Bumi hanya mengangguk sekali dengan gaya yang tetap tenang dan berwibawa. "Sama-sama. Sekarang, matikan komputer ini dan kembali ke kamar. Jika kau pingsan di atas meja kerja ini karena kurang tidur, aku malas harus menggendong mu. Tubuhmu lumayan berat untuk ukuran seorang CEO yang kerjanya hanya duduk di kursi empuk."
Langit memutar bola matanya mendengar candaan konyol bernada dingin itu, namun ia tetap menuruti perintah Bumi untuk mematikan komputernya.
Malam itu, di balik keheningan penthouse mewah mereka, Langit akhirnya bisa bernapas lega, tahu bahwa di tengah badai yang dihadapinya, ada sosok dingin namun hangat yang siap berdiri di sampingnya.
Yang makin penasaran, yuk komen gaes, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.