Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTANA MELAYANG
WUUUUUSH!
Angin malam di ketinggian sepuluh ribu meter bertiup sangat kencang, membawa hawa dingin yang sanggup membekukan darah dalam sekedip mata. Di atas lautan awan putih yang membentang tanpa tepi, berdiri sebuah jembatan batu kuno—Jembatan Tulang Kelam—yang menghubungkan jurang hampa menuju sebuah istana raksasa bernuansa emas dan hitam yang melayang anggun di angkasa.
Istana Melayang. Tempat bersemayamnya Leluhur Agung Wilayah Pusat, pusat gravitasi dari seluruh kekuasaan dan intrik di daratan ini.
Ryu Jin melangkah tenang menyeberangi jembatan batu yang tidak memiliki pagar pelindung tersebut.
Jubah cokelat pudarnya yang kusam berkibar hebat dihantam angin angkasa. Wajah kusam sang pendekar tetap dingin, datar, dan hampa—bagaikan batu ukir tua yang tak tersentuh emosi. Tangan kanannya bertengger santai di gagang pedang besi berkarat, sementara tangan kirinya mencengkeram aura kematian yang mengikat bahu Lian Xue.
Di dalam dadanya, integrasi Pedang Tulang Hitam dengan Sembilan Mata Merah berdenyut halus dalam ritme yang teratur. Setiap denyutannya merespons keaslian energi terlarang yang memancar pekat dari arah Istana Melayang di ujung jembatan.
Di bahu Ryu Jin, Lian Xue yang dipanggul lemas merintih tipis.
Meskipun fisiknya telah dipulihkan secara paksa oleh efek obat pusaka, tekanan gravitasi dan pancaran aura spiritual skala besar dari Istana Melayang menindih dadanya bagaikan gunung raksasa. Lian Xue menyadari bahwa fondasi bangunan di hadapan mereka tidak berdiri di atas batu biasa, melainkan ditopang oleh formasi raksasa yang secara terus-menerus menyedot esensi kehidupan dari seluruh sudut wilayah.
Gadis itu menatap profil samping wajah Ryu Jin dengan sepasang mata yang redup. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut, dan tidak ada kebimbangan dalam setiap pijakan kaki pemuda iblis ini.
DUAARR!
Tepat saat Ryu Jin menginjakkan kakinya di pelataran batu depan gerbang emas Istana Melayang, empat pilar cahaya berwarna merah, biru, emas, dan hitam meledak membumbung tinggi melingkupi empat sudut pelataran!
Empat sosok pria bergaun zirah baja tebal berukirkan lambang naga melayang turun dari udara, mendarat anggun mengepung posisi Ryu Jin.
Mereka adalah Empat Pengawal Abadi—empat pembunuh tertinggi kepercayaan Leluhur Agung yang seluruh basis kultivasinya telah berpijak di puncak ranah Pseudo-Heavenly Tribulation!
"Kelinci Percobaan Nomor Nol," salah satu pengawal di barisan depan bersuara rendah, matanya memancarkan pendar membunuh yang sanggup merobek udara. "Langkahmu terhenti di sini. Formasi Segel Empat Elemen telah mengunci seluruh jalur energi di pelataran ini!"
GZZZZZZ!
Empat Pengawal Abadi mengangkat senjata mereka secara bersamaan. Jaring-jaring energi empat warna meledak mendatar, membentuk kubah pelindung tebal yang dirancang khusus untuk menetralisir racun, racun jiwa, dan aura kematian milik Pedang Tulang Hitam! Mereka tidak bertindak teledor bagaikan prajurit biasa. Serangan mereka terkoordinasi secara sempurna untuk memotong akses energi Ryu Jin hingga tak tersisa!
Lian Xue menahan napasnya. Formasi empat elemen ini begitu padat hingga celah sekecil apa pun tak terlihat.
Namun...
Ryu Jin tidak membuang waktu untuk berdialog atau sekadar mendengarkan gertakan musuh.
Mata merah darahnya berkilat sangat dingin. Dalam kurun waktu kurang dari satu milidetik, sebuah kalkulasi taktis dieksekusi di benaknya.
TAP!
Ryu Jin mengibaskan bahu kirinya secara mendadak!
Ia memutar tubuh Lian Xue di udara, menggunakan pendar Energi Murni Darah Suci di dalam tubuh gadis itu sebagai penyeimbang alami untuk memicu benturan pada jaring-jaring Formasi Segel Empat Elemen!
PRANG!
Reaksi benturan energi suci Lian Xue membuat kubah empat elemen tersebut berguncang dan memicu celah mikroskopis pada sudut formasi bagian barat!
Ryu Jin mengambil satu langkah maju.
Tangan kanannya mencabut pedang besi berkarat di pinggangnya, lalu menebaskannya ke depan dalam tiga gerakan kilat yang tak kasat mata!
TAP. TAP. TAP.
Tiga langkah kaki. Tiga kibasan pedang santai.
KRAK! DUAARR!
Aura petir hitam keemasan dari Mata Merah Kesembilan meledak mendatar merobek ruang dan waktu!
Formasi Segel Empat Elemen yang diagungkan itu terbelah dua bagaikan kertas terbakar! Sebelum Empat Pengawal Abadi sempat menyadari apa yang terjadi atau mengayunkan senjata mereka, garis tebasan pedang Ryu Jin telah melintasi leher dan pusat energi mereka secara mendatar!
SSSTTT!
Aura kematian beraroma kuburan tua melahap habis seluruh pembuluh darah, daging, dan Inti Jiwa keempat ahli puncak tersebut! Dalam kurun waktu satu kedipan mata, Empat Pengawal Abadi mengering, berubah menjadi empat tumpukan abu hitam yang seketika lenyap ditiup angin angkasa!
Eksekusi mutlak empat ahli puncak ranah Pseudo-Heavenly Tribulation hanya dalam tiga langkah kaki!
DUAARR!
Ryu Jin mengayunkan pedang besinya ke arah depan. Gelombang tebasan aura kematian menghantam dua pintu gerbang emas Istana Melayang hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam yang beterbangan!
Ryu Jin melangkah menembus asap pembakaran, memasuki ruang aula utama istana yang teramat megah.
Aula raksasa tersebut dilapisi oleh marmer putih dan pilar-pilar batu berukirkan rantai jiwa. Namun, di balik kemegahannya, lantai aula tergenang oleh lapisan tipis darah segar yang memancarkan bau amis membakar hidung.
Di ujung jauh aula utama, di atas sebuah takhta batu raksasa yang dipenuhi ukiran tengkorak, duduk sesosok pria bergaun keemasan dengan mahkota emas kuno—Leluhur Agung Wilayah Pusat.
Wajah Leluhur Agung tampak muda bagaikan pria berusia belasan tahun, namun matanya yang berwarna hitam polos memancarkan keberadaan tua yang telah hidup selama ribuan tahun.
Leluhur Agung tidak terkejut, panik, ataupun marah melihat Empat Pengawal Abadi miliknya hancur menjadi abu di luar gerbang.
Sebaliknya, sebuah senyuman penuh kepuasan dan kebanggaan mengukir di bibirnya saat menatap kedatangan Ryu Jin.
"Luar biasa..." suara Leluhur Agung bergema lembut, memantul di dinding-dinding aula raksasa dengan tekanan yang menggetarkan lantai marmer. "Penguasaan Hukum Kematian yang teramat presisi... Eksekusi yang tanpa cela."
Leluhur Agung bertopang dagu, menatap Ryu Jin bagaikan seorang seniman yang sedang mengagumi karya ciptaan terindahnya.
"Kau pasti berpikir kau datang ke sini untuk membalas dendam atas pembantaian Desa Sunyi, bukan?" Leluhur Agung terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat dingin dan mengintimidasi. "Kau pikir kau bergerak atas kehendakmu sendiri? Setiap pembantaian yang kau lakukan, setiap pertarungan sengit yang kau lalui, hingga penggunaan putri Dewi Lian Ji di bahumu itu... semuanya adalah bagian dari alur yang telah kurancang sejak belasan tahun lalu!"
Lian Xue yang terkulai di bahu Ryu Jin membelalakkan matanya dalam guncangan batin yang luar biasa.
"Sekte Dewa Langit Merah, eksperimen Desa Sunyi, hingga pembantaian kota-kota perbatasan... hanyalah 'wadah pembakaran' untuk mematangkan Jiwa Pedang di dalam dadamu!" lanjut Leluhur Agung dengan mata yang berkilat penuh keserakahan mutlak. "Pedang Tulang Hitam membutuhkan penderitaan, keputusasaan, dan darah jutaan jiwa untuk menyempurnakan Sembilan Mata Merahnya. Dan hari ini... buah dari eksperimen terhebatku akhirnya matang sempurna di hadapanku!"
Leluhur Agung mengangkat tangan kanannya secara mendadak!
DUAARR! DUAARR! DUAARR!
Lantai marmer aula utama retak hebat! Segel Inti Wilayah—sebuah formasi raksasa yang ditanam di bawah Istana Melayang—meledak menyala dalam cahaya keemasan pekat, mengunci seluruh ruang aula dan mencoba menarik paksa Pedang Tulang Hitam keluar dari rongga dada kiri Ryu Jin!
"Kembalilah kepada penciptamu, Ryu Jin!" bentak Leluhur Agung seraya berdiri dari takhta batunya, tekanan auranya membumbung tinggi hingga meruntuhkan atap Istana Melayang!
Namun...
Di bawah tekanan Segel Inti Wilayah yang membakar udara dan tarikan aura raksasa Leluhur Agung...
Ryu Jin tetap berdiri mematung di tengah aula utama.
Wajah kusamnya sama sekali tidak menunjukkan raut terkejut, marah, ataupun terintimidasi oleh pengungkapan rahasia tersebut. Bagi Ryu Jin, tidak peduli apakah perjalanannya dirancang oleh orang lain atau tidak, tidak peduli apakah ia dianggap sebagai karya seni atau kelinci percobaan... siapa pun yang berdiri di hadapannya hanya memiliki satu status mutlak: musuh yang harus dilahap.
SSSTTT!
Ryu Jin mengangkat tangan kanannya, mengarahkan pedang besi berkarat di genggamannya lurus ke wajah Leluhur Agung.
Aura keagungan berwarna Hitam Kelam Mutlak meledak dahsyat dari dalam dada kiri Ryu Jin! Pendar dari Mata Merah Kesembilan melahap habis cahaya keemasan dari Segel Inti Wilayah, membuat seluruh struktur Istana Melayang berguncang hebat dan retak di berbagai sudut!
Aura kematian yang teramat pekat dan dingin merebak, menetralkan seluruh tekanan spiritual Leluhur Agung dalam sekejap mata!
"Kau terlalu banyak bicara," suara Ryu Jin terdengar sangat rendah, datar, dan memantul tebal di seluruh ruangan.
Lian Xue yang berada di bahu Ryu Jin menggigil kaku dalam keputusasaan puncak. Gadis itu menyadari bahwa ia kini terjebak tepat di titik pusat benturan antara dua monster terkuat di seluruh daratan—dua entitas yang siap meremukkan seluruh Istana Melayang ini menjadi abu!
Leluhur Agung membelalakkan matanya saat menyadari Segel Inti Wilayah miliknya tidak sanggup mengendalikan aura di dada Ryu Jin. Senyuman di wajahnya mendadak sirna, berganti dengan kilatan kejam yang teramat dingin.
"Baiklah kalau begitu..." suara Leluhur Agung bergema bagaikan guruh, mengibaskan gaun keemasannya seraya menarik sebuah pedang cahaya kuno dari balik dimensi hampa. "Akan kuremukkan dulu tubuhmu sebelum kuambil pedang itu!"