Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Kelas 11-3, Kemeja Kotor, dan Hukuman Lorong
Tangan Lu Feng sudah berada di tuas persneling, bersiap memindahkan gigi untuk melajukan SUV hitam itu turun dari bukit Xiangshan. Namun, saat ia menoleh sejenak ke arah kursi penumpang, gerakannya terhenti.
Lin Xiao sedang menatap ke luar jendela. Wajahnya memang sudah jauh lebih tenang, tidak ada lagi kepanikan yang mencekik, namun sorot mata wanita itu memancarkan kelelahan yang sangat dalam. Dunia korporat telah memaksa Lin Xiao menjadi tameng baja tanpa henti selama setahun terakhir.
Lu Feng melepaskan tuas persneling, lalu memutar kunci kontak ke arah kiri. Mesin mobil yang baru menyala satu menit itu kembali mati. Keheningan perbukitan kembali memeluk mereka.
Lin Xiao menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa dimatikan lagi? Bukankah kita harus segera menemui Chen Hao?"
"Chen Hao bisa nunggu," jawab Lu Feng santai, lalu memundurkan sandaran kursinya hingga setengah rebahan. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala. "Gue tiba-tiba inget sesuatu pas ngeliat muka tegang lo barusan."
"Mengingat apa?" Lin Xiao ikut merebahkan sedikit kursinya, menghadap ke arah Lu Feng.
"Inget masa-masa di mana masalah terbesar gue cuma mikirin gimana caranya bikin lo kesel tiap jam pelajaran sejarah," kekeh Lu Feng pelan, matanya menerawang menatap langit-langit mobil. "Lo inget nggak insiden kemeja putih lo di kelas 11?"
Mata Lin Xiao membulat, lalu ia mendengus keras, mencubit lengan Lu Feng tanpa ampun. "Tentu saja aku ingat, bajingan kecil! Itu kemeja seragam baruku dan kamu menggambar kura-kura jelek di punggungku pakai spidol permanen!"
Lu Feng tertawa lepas hingga bahunya bergetar, tidak mempedulikan cubitan Lin Xiao. Tawanya menggema di dalam kabin mobil, menyapu sisa-sisa ketegangan yang masih menempel di udara.
Memori itu kembali berputar dengan sangat jelas di kepala mereka berdua.
Musim panas di Jiangcheng saat mereka masih berada di Kelas 11-3. Udara sangat panas dan kipas angin gantung di kelas hanya berputar pelan, mengeluarkan suara decitan yang menyebalkan. Pak Zhang sedang mengoceh tentang sejarah dinasti Ming di depan kelas, sementara sebagian besar murid sudah setengah tertidur.
Lu Feng yang duduk tepat di belakang Lin Xiao merasa luar biasa bosan. Ia sudah menghabiskan dua jam tidurnya di pelajaran sebelumnya dan tidak bisa memejamkan mata lagi.
Di depannya, punggung tegak sang ketua kelas terlihat sangat mengundang untuk dijahili. Lin Xiao duduk dengan postur sempurna, mencatat setiap kata dari mulut Pak Zhang seolah itu adalah sabda suci.
Jiwa iseng Lu Feng meronta-ronta. Ia mengambil sebuah spidol hitam dari kotak pensil milik teman sebangkunya. Dengan sangat hati-hati, sehalus gerakan pencuri kelas kakap, Lu Feng mulai menggoreskan spidol itu di bagian punggung kemeja putih Lin Xiao.
Ia menggambar sebuah kura-kura dengan cangkang besar, lalu menuliskan kata "Si Cerewet" di bawahnya.
Beberapa murid di barisan belakang yang melihat kejadian itu harus menahan napas dan menggigit bibir mereka agar tidak meledak tertawa.
Lin Xiao sama sekali tidak sadar. Ia baru menyadarinya sepuluh menit kemudian saat ia harus maju ke depan kelas untuk membagikan lembar tugas. Saat ia berbalik, seluruh kelas serempak meledak dalam tawa yang luar biasa bising.
"Diam kalian semua! Apa yang lucu?!" bentak Lin Xiao, wajahnya memerah karena marah, tidak mengerti mengapa ia ditertawakan.
Salah satu siswi berbaik hati memberikan cermin kecil ke arah punggung Lin Xiao. Saat melihat pantulan kura-kura jelek dan tulisan memalukan itu di kemejanya, darah Lin Xiao mendidih. Ia tahu persis siapa pelakunya. Hanya ada satu berandal kurang ajar yang duduk di belakangnya.
"KANG LU FENG!" jeritan melengking Lin Xiao mengguncang seisi kelas.
Tanpa mempedulikan eksistensi Pak Zhang yang sedang melongo di depan papan tulis, Lin Xiao berlari kembali ke mejanya, mengambil kamus sejarah setebal batu bata, dan menghantamkannya tepat ke kepala Lu Feng yang sedang tertawa terbahak-bahak.
"Aduh! Sakit, woy!" protes Lu Feng, mengelus kepalanya meski tawanya tidak berhenti.
"Aku akan membunuhmu! Ini spidol permanen, idiot!" teriak Lin Xiao, memukul lengan dan bahu Lu Feng bertubi-tubi menggunakan gulungan buku tulis.
Kekacauan itu langsung dihentikan oleh gebrakan rotan Pak Zhang di atas meja guru.
"KANG LU FENG! LIN XIAO! KELUAR DARI KELAS SAYA SEKARANG JUGA!"
Dan di sanalah mereka berakhir. Di lorong lantai dua yang panas, berdiri berdampingan menghadap dinding, masing-masing harus mengangkat dua ember berisi air penuh dengan kedua tangan terentang ke samping. Itu adalah hukuman fisik klasik ala SMA Mingde.
Bagi Lu Feng, mengangkat ember air adalah hal yang mudah. Ototnya sudah terbiasa dengan pekerjaan kasar di bengkel. Namun bagi Lin Xiao yang hanya memiliki otot untuk membalik halaman buku, hukuman itu adalah siksaan neraka.
Baru sepuluh menit berlalu, tangan Lin Xiao sudah gemetar hebat. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Wajahnya pucat, giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan pegal yang luar biasa di lengannya. Namun harga dirinya sebagai ketua kelas terlalu tinggi untuk meminta ampun atau meletakkan ember itu.
Lu Feng, yang sejak tadi melirik ke arah Lin Xiao dari sudut matanya, mulai merasa bersalah. Niatnya hanya bercanda, ia tidak menyangka Pak Zhang akan menghukum mereka seberat ini.
Saat Pak Zhang masuk kembali ke dalam kelas dan menutup pintu, Lu Feng langsung mengambil tindakan.
Pria itu menaruh kedua embernya sendiri di lantai, lalu melangkah mendekati Lin Xiao. Tanpa permisi, Lu Feng mengambil alih kedua ember dari tangan wanita itu.
"Apa yang kamu lakukan?" desis Lin Xiao, napasnya terengah-engah, memijat lengannya yang terasa mati rasa. "Kalau Pak Zhang melihatnya, hukuman kita akan ditambah!"
"Biarin aja ditambah. Gue bisa ngangkat empat ember sekaligus kalau perlu," jawab Lu Feng enteng, memegang ember Lin Xiao di tangannya. Ia menatap wajah pucat Lin Xiao dengan tatapan yang anehnya... sangat lembut. "Lagian ini salah gue. Lo nggak pantes dihukum karena kebodohan gue. Istirahat aja, ntar kalau si botak Zhang keluar, lo tinggal pura-pura megang lagi."
Lin Xiao tertegun. Ia menatap cowok berandal di depannya ini. Lu Feng mengenakan seragam yang dikeluarkan, rambutnya berantakan, dan senyumnya sangat menyebalkan. Namun di balik penampilan berandalan itu, Lin Xiao melihat ada rasa tanggung jawab dan perlindungan yang sangat tulus.
Itu adalah momen pertama di mana tembok kebencian Lin Xiao terhadap murid pindahan itu mulai retak. Momen di mana ia menyadari bahwa Kang Lu Feng mungkin bukan sekadar anak nakal tak bermasa depan.
Kembali ke masa kini, di dalam mobil SUV yang hangat.
Lu Feng masih terkekeh mengingat kejadian itu. "Sumpah, muka lo waktu ngeliat kura-kura di punggung lo tuh kocak banget. Sayang zaman dulu hp belom ada kameranya, kalau ada udah gue cetak gede-gede buat dipajang di ruang tamu penthouse kita."
Lin Xiao mendengus, namun senyum manis menghiasi bibirnya. "Dan kamu sangat bodoh karena mengambil alih emberku. Besoknya lenganmu kram sampai tidak bisa memegang sumpit saat makan siang."
"Gue rela kram sebulan asal lo nggak nangis karena tangan lo lecet," Lu Feng menoleh, menatap Lin Xiao dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan dewasa dibandingkan masa SMA mereka.
Pria itu mengulurkan tangan, mengusap pipi Lin Xiao dengan lembut.
"Xiao," panggil Lu Feng pelan, suaranya kembali serius namun sangat menenangkan. "Dari dulu sampai sekarang, polanya selalu sama. Gue yang selalu bikin masalah, gue yang selalu nyari ribut, dan lo yang selalu kena getahnya. Lo yang selalu harus ikut nanggung beban dari kekacauan yang gue buat."
Lin Xiao menggeleng pelan, meletakkan tangannya di atas tangan Lu Feng yang berada di pipinya. "Aku tidak pernah merasa itu sebagai beban, Lu Feng."
"Gue tau," Lu Feng tersenyum tipis. "Tapi lo juga harus inget satu hal. Kayak waktu di lorong sekolah dulu, saat beban itu udah mulai bikin tangan lo gemetar, saat lo udah ngerasa nggak sanggup lagi... tugas gue adalah ngambil alih beban itu dari tangan lo."
Lu Feng mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Lin Xiao cukup lama, menyalurkan semua keteguhan hatinya.
"Hari ini, ada ribuan kurir yang ngamuk di bawah sana. Ada bos raksasa yang pengen ngancurin kita," bisik Lu Feng tepat di depan wajah Lin Xiao. "Dan sama kayak dulu, gue nggak bakal biarin lo ngangkat 'ember' ini sendirian. Lo urus dokumennya, lo urus hukumnya. Tapi untuk urusan ngadepin orang-orang yang mau nyakitin kita secara fisik... biar gue yang pasang badan. Lo cukup berdiri di belakang gue dan arahin gue."
Dada Lin Xiao bergemuruh hebat. Segala sisa ketakutan yang mengendap di dasar hatinya tersapu bersih tanpa sisa. Ini adalah pria yang ia cintai. Pria yang mungkin tidak sempurna, namun selalu tahu cara melindunginya dengan cara yang paling mutlak.
"Kesepakatan diterima, Tuan CEO," ucap Lin Xiao dengan senyum penuh keyakinan. Ia menegakkan tubuhnya, kembali memasang sabuk pengamannya. "Ayo kita turun gunung. Waktunya memberi pelajaran sejarah pada Wei Jian."
Lu Feng menyeringai lebar, senyum berandal yang siap menghancurkan dunia. Ia menghidupkan mesin mobil, memindahkan gigi, dan SUV hitam itu pun melesat turun dari perbukitan, kembali menuju jantung kota Beijing.
Pemberhentian selanjutnya: medan perang.