Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Sarapan yang Terlambat Dua Belas Tahun

#

Alessia tidak bergerak dari ambang pintu. Wajahnya kosong, tapi Bima melihat jari-jarinya mencengkeram kusen sampai kuku memutih.

"Kalau Nenek memang Clara," katanya akhirnya, datar, "buktikan."

"Kamu selalu begitu." Perempuan tua itu tersenyum. "Sejak kecil. Tidak percaya sebelum ada bukti."

"Buktikan."

"Waktu umur delapan tahun, kamu menyembunyikan kucing kampung di lemari bajuku. Namanya Tuan Kumis. Kamu bilang ke semua orang itu kucing hantu." Clara menunjuk bubur di meja. "Dan kamu hanya mau makan bubur kalau kecapnya dituang melingkar, bukan ditumpahkan."

Bahu Alessia turun sedikit. Hanya sedikit.

"Carla tidak tahu soal Tuan Kumis," katanya.

"Tidak. Hanya aku."

Alessia melangkah masuk. Pelan, seperti takut lantai akan lenyap. Ia berhenti di depan meja, menatap bubur itu, dan tangannya bergerak menuang kecap dari botol kecil. Melingkar.

Bima melihat bahunya mulai gemetar. Ia ingin meraih tangannya, tapi ada Clara, ada Rico, ada Wartini di belakang. Jadi ia hanya berdiri dekat. Cukup dekat sampai lengan mereka bersentuhan. Alessia tidak menjauh.

"Duduk, Nak," kata Clara pada Bima. "Kamu juga."

"Saya berdiri saja."

"Kamu keras kepala seperti ayahmu."

"Ayah saya yang mana, Bu?"

Clara menatapnya lama. "Yang asli. Yang tidur di ruang bawah tanah Vieri sekarang."

---

Mereka duduk. Wartini dan Dimas di sofa ruang tamu, Rico berjaga di jendela. Clara bercerita pelan, dengan tangan menggenggam cangkir teh, dan setiap kalimatnya jatuh seperti benda yang sudah lama tersimpan.

"Aku dan Carla kembar. Dia menikah dengan keluarga Vieri, aku tidak. Aku menghitung, mencatat, dan mengelola pelabuhan dari belakang. Orang mengira Carla yang pandai berhitung. Itu aku."

"Cincin ini?" tanya Bima.

"Milik guru kami berdua, orang yang mendirikan perjanjian pelabuhan. Namanya Arman. Huruf A itu namanya." Clara menyentuh liontin di lehernya. "Lambang jangkar terbalik artinya *kapal yang tidak boleh berlabuh*. Bukan milik mafia. Milik para pencatat. Kami yang memastikan tidak ada satu keluarga pun menguasai semuanya."

"Dan Giovanni?"

"Pencatat yang tamak." Clara tersenyum pahit. "Dia mencuri lambang itu untuk menyamar sebagai penjaga."

"Terus Carla yang di rumah putih?"

"Carla yang asli meninggal dua belas tahun lalu, sebulan setelah Matteo menghilang. Serangan jantung, katanya." Clara menunduk. "Giovanni butuh seseorang berdiri di kursi itu. Dia menculik aku dan menjadikan aku Carla. Setiap hari aku harus berpakaian seperti saudaraku sendiri, memakai cincinnya, dan berbohong pada cucuku."

Alessia menutup mulutnya dengan tangan. Bima melihat air matanya jatuh, satu, lalu satu lagi, dan ia tidak berusaha menghapusnya.

"Nenek yang menyuruh saya mencari Hadi," katanya parau. "Nenek yang bilang pernikahan itu satu-satunya jalan."

"Aku mencoba menyelamatkan kalian sambil berpura-pura menjadi musuh kalian." Clara menggenggam tangan cucunya. "Maafkan aku, Lia. Aku terlalu pengecut untuk berteriak."

Alessia tidak menjawab. Ia hanya membungkuk, menyandarkan dahinya ke tangan perempuan tua itu, dan bahunya berguncang tanpa suara. Bima berdiri di belakangnya. Setelah ragu sebentar, ia meletakkan telapak tangan di punggungnya. Tidak mengusap, hanya menempel, hangat dan diam.

Alessia tidak menepisnya.

---

Setengah jam kemudian, Alessia keluar ke halaman belakang. Bima menemukannya duduk di bangku kayu di bawah pohon jambu, memandangi tanah.

Ia duduk di sebelahnya, menyisakan jarak satu jengkal.

"Kamu nggak harus kuat terus."

"Aku tidak sedang kuat."

"Kelihatannya begitu."

"Itu karena kamu tidak tahu bedanya diam dan kuat." Ia mengusap pipi dengan punggung tangan. "Dua belas tahun aku memanggil orang yang salah dengan sebutan nenek. Dia duduk di meja makan yang sama, minum teh yang sama, dan aku tidak pernah sadar."

"Dia sengaja menyembunyikan diri."

"Aku tetap seharusnya tahu."

"Kamu waktu itu tujuh belas, disuntik tiap musim panas." Bima menatapnya. "Siapa pun nggak akan tahu."

Alessia diam. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata pelan, "Kamu selalu membela orang yang menyalahkan dirinya sendiri."

"Cuma kamu."

Kalimat itu keluar sebelum Bima sempat menahannya. Telinganya terasa panas. Alessia menoleh sedikit, dan untuk sesaat mata mereka bertemu. Terlalu lama.

"Maksudku," Bima buru-buru, "orang yang paling keras kepala yang pernah kutemui."

"Aku tidak keras kepala."

"Kamu nodong aku dua kali."

"Itu strategi."

"Itu nodong."

Sudut bibir Alessia bergerak. Kali ini ia tidak menyembunyikannya. Ia tersenyum, kecil, tipis, dan Bima merasakan dadanya mengencang seperti ditarik tali.

"Jangan lihat aku begitu," kata Alessia.

"Aku lihat pohon."

"Pohonnya di sana."

"Pohonnya... juga di sana."

Alessia tertawa pendek. Lalu ia menarik napas dan menyandarkan punggung ke batang pohon, bahunya hampir menyentuh bahu Bima. Mereka duduk begitu, diam, dengan angin yang menggoyang daun jambu dan bau melati dari pagar.

"Bima."

"Hm."

"Terima kasih. Karena tidak pergi."

"Kamu nggak pernah nyuruh aku pergi."

"Aku menawarkan kontrak yang bisa kamu tolak."

"Aku nggak menolak."

"Kenapa?"

Bima menatap tangannya sendiri. Cincin perak imitasi masih melingkar di jarinya, sedikit longgar. "Karena aku nggak bisa lihat kamu sendirian."

Alessia tidak menjawab. Tapi jarinya, yang tergeletak di bangku di antara mereka, bergeser setengah senti ke arah jari Bima. Tidak menyentuh. Hanya mendekat.

Bima memperhatikan jarak setengah senti itu seperti memperhatikan sesuatu yang bisa pecah.

---

"Mbak! Bim!"

Rico muncul di pintu dapur dengan wajah tegang. Alessia langsung berdiri, dan jarak setengah senti itu lenyap. Bima ikut bangkit, menyembunyikan kecewa yang ia sendiri tidak mau akui.

"Ada apa?"

"Clara mau tunjukkan sesuatu. Katanya penting."

Di ruang tamu, Clara sudah menyibak karpet di tengah lantai. Di bawahnya ada papan kayu dengan gembok kecil. Ia menyodorkan sebuah kunci kuningan pada Alessia, sama dengan kunci dari Carla tadi malam.

"Dua kunci untuk satu peti," katanya. "Carla menyimpan yang satu. Aku yang satu."

"Peti apa?"

"Tempat Arman menyimpan perjanjian pelabuhan yang asli." Clara menatap Bima dan Alessia bergantian. "Hanya anak Matteo dan anak Hadi yang bisa membukanya bersamaan. Itu yang dimaksud halaman terakhir."

Alessia dan Bima bertukar pandang. Mereka berlutut bersamaan, memasukkan kunci masing-masing ke dua lubang gembok. Jari mereka bersentuhan. Kali ini tidak ada yang menarik tangan.

"Hitungan ketiga," kata Bima.

"Satu."

"Dua."

"Tiga."

Gembok terbuka. Papan terangkat, memperlihatkan ruang sempit di bawah lantai. Di dalamnya ada kotak besi kecil, dan di atasnya, selembar kertas terlipat dengan tulisan tinta biru yang Bima kenal.

*Untuk anakku, Bima. Kalau kamu membaca ini bersama anak Matteo, berarti kalian sudah berdiri di sisi yang sama. Jangan buka kotak ini sebelum tahu satu hal: orang yang akan menjemput kalian ke aula nanti bukan musuh. Dan orang yang kamu pikir sahabat, justru yang membawa pisau.*

Bima membaca keras-keras. Suara di ruangan menghilang.

"Siapa?" bisik Dimas.

Bima membalik kertas itu. Di baliknya hanya ada satu nama, ditulis tergesa dengan tinta yang sama.

Ia menatap nama itu lama, lalu perlahan mengangkat wajah, ke arah satu orang di ruangan yang berdiri paling dekat dengan pintu, dengan pistol di pinggang dan mata yang tidak berani menatap balik.

*Rico.*

Rico mundur satu langkah. Tangannya turun ke gagang pistol.

"Bim," katanya pelan, "itu bukan seperti yang kamu pikir."

Dari luar rumah, tanpa peringatan, terdengar suara mesin mobil mati. Satu per satu pintu dibanting. Langkah-langkah sepatu mengepung rumah dari segala arah.

Lalu suara Om Gio, ramah seperti biasa, lewat pengeras suara.

"Selamat pagi, semuanya. Rico, terima kasih sudah membawa mereka ke tempat yang kuinginkan."

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!