Buku pertama dari seri 'Waktu, Cinta dan Dendam'....
Hidup itu bagaikan komedi dari yang orang lain lihat, Dan hidup akan menjadi tragedi dari orang yang merasakan.
Itu yang di alami oleh seorang lelaki bernama Noe Mavendra. Para manusia yang ada di sekitarnya tertawa terbahak-bahak untuk membuat bahan lelucon garing tentang hidupnya.
Penyesalan membawa Noe ke jalan sebagai seorang pembunuh, berkecimpung dalam dunia malam untuk melakukan berbagai misi menyingkirkan para manusia bersalah.
Sebuah tragedi membuat Noe harus tewas di pinggiran trotoar dengan peluru yang menembus punggung.
Kilas balik masa lalu hadir kembali di dalam ingatan, wajah-wajah semua orang muncul sebagai bentuk penyesalan atas kepergian sang Ibu.
Tapi ketika mata Noe kembali terbuka, pemandangan yang dilihatnya adalah ruang kelas, dimana itu menjadi awal dari semua kepahitan hidup.
Noe kembali ke masa lalu, dia hidup kembali dalam kesempatan kedua untuk mengubah takdir sebagai sosok Noe Mavendra yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shina Yuzuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celurit
Selesai menerima pesanan Take away daging Wagyu super A5 dipanggang mentega setengah matang untuk Noe bawa pulang.
Sedikit pembicaraan lain antara Noe dan Rena ketika berada di dalam taksi.
"Apa kau tidak khawatir jika Zed melacak penerimaan uang yang dikirim oleh Sarmad." Bertanya Rena.
"Soal itu aku sudah memikirkannya, aku menggunakan no rekening atas nama keluarga dari ayahku, jadi Zed tidak mungkin tahu alamat atau apa pun tentang identitas yang asli ." Jawab Noe dengan santai.
"Apa kau tidak khawatir jika Sarmad menargetkan Ayahmu juga."
Noe tiba-tiba saja tertawa...."Untuk apa aku khawatir, ayahku sendiri tidak pernah mengkhawatirkan aku dan juga ibuku. Bahkan aku merasa senang jika Sarmad mau merepotkan diri dengan mengusik keluarga Mavendra."
"Tunggu keluarga Mavendra ?, Apa hubungannya ?."
"Apa aku tidak memberitahu kepada ku, jika ayahku adalah salah satu anak dari keluarga Mavendra ?."
"Aku baru dengar, kenapa kau menyembunyikan identitas luar biasa itu, apa kau sebenarnya anak yang tertukar." Ucap Rena penuh rasa terkejut.
Noe benar-benar tidak paham dengan cara berpikir Rena...."Anak yang tertukar ?, kau terlalu banyak menonton sinetron. Aku lebih seperti anak yang tidak diakui oleh mereka kemudian dibuang begitu saja."
Rena tidak pernah mencari kebenaran soal asal-usul keluarga Noe, dia hanya tahu jika saat ini Noe dan ibunya hidup menderita di rumah kumuh yang serba kekurangan.
"Keluarga Mavendra kah ?... Apa kau berniat membalas mereka karena telah membuang mu Noe ?."
"Ya, tentu saja, mereka adalah tujuan terakhir untuk menuntaskan semua dendam yang aku tanggung selama ini."
"Tapi sepertinya akan sangat sulit." Rena tidak berbohong.
"Aku tahu dan aku siap dengan semua konsekuensinya nanti."
Tentu Rena pun menyadari seberapa besar pengaruh Keluarga Mavendra di kursi pemerintahan atau pun dunia bisnis Indonesia. Mencoba melawan keluarga Mavendra sama artinya dengan bunuh diri.
Jika pun Noe menawarkan sepuluh milyar kepada seorang assassin untuk membunuh salah satu keluarga Mavendra, maka mereka akan memberi dua puluh milyar untuk mereka melakukannya sendiri.
Turun di perempatan jalan. Noe dan Rena berpisah karena arah pulang mereka berlawanan.
"Terimakasih untuk hari ini Noe, aku siap menantikannya lagi di hari lain."
"Tidak akan, aku tidak mau menghabiskan empat belas juta hanya untuk mentraktirmu makan." Balas Noe.
"Kau sangat pelit."
Rena melambai dan lenyap di persimpangan jalan menuju gang tempatnya tinggal. Noe pun melanjutkan perjalanan menuju gang lain yang untuk pulang.
Berjalan santai dengan bersiul-siul selagi menyanyikan lagu entah apa judulnya, membawa bungkus makanan yang harganya sama seperti motor second.
Tapi di sebuah gang. Noe melihat segerombolan anak muda yang nongkrong di ujung gang. Noe menjadi waspada, karena semua orang di sekitar tempatnya tinggal susah dia kenal baik. Sedangkan mereka bukan orang yang Noe kenal.
Dan memang benar, ketika Noe semakin dekat, mereka semua kini berdiri seakan sudah menunggu Noe datang dengan niat buruk.
"Kau membuatku menunggu lama Noe." Ucap seseorang yang berjalan maju dari belakang kelompok itu.
Dia adalah Endo, anak buah Romat yang secara sengaja menunggu Noe di jalan menuju tempatnya pulang. Namun Endo tahu kalau mencari perhitungan sendiri tidak mungkin bisa menang, sehingga meminta bantuan teman-teman satu tongkrongannya.
"Apa kau tidak terima setelah aku menghajar mu dan sekarang ingin membalasnya dengan main keroyok." Jawab Noe tersenyum mengejek.
Endo meremehkan Noe...."Sepertinya aku tidak perlu panjang lebar untuk bicara."
"Kau hanya seorang pecundang yang berlagak sok hebat, sampai tidak berani melawanku sendirian."
"Terserah kau mau bicara apa, aku tidak peduli, selama aku bisa menghajarmu sekarang."
"Ok, baik, kemari lah, dua, tiga, bahkan lima orang sekaligus maju, aku tidak akan mundur." Ucap Noe meremehkan.
Mendengar perkataan Noe, Endo dan teman-temannya menjadi emosi, bagi mereka,
"Sombong sekali anak ini."
"Dia cari mati ternyata."
"Celurit mana celurit, biar aku potong *********** biar tahu rasanya tidak punya malu."
Noe menghentikan mereka dan bicara..."Tunggu, dilarang pakai senjata, jika kalian berniat menggunakan senjata, aku anggap kalian sudah siap untuk mati.
"Jangan banyak omong."
Seakan tidak peduli dengan konsekuensi yang Noe berikan, satu orang menawarkan diri untuk maju pertama tanpa menggunakan senjata.
Noe dengan santai menaruh bungkusan daging Wagyu super A5 di panggang mentega setengah matang agar tidak rusak saat berkelahi. Satu teman Endo semakin dekat, kemudian melompat maju untuk melakukan tendangan.
Mudah Noe menghindar dan dibalasnya dengan tendangan kaki ke belakang, bersarang tepat di kepala hingga membuat lawan terpental jatuh.
Kekuatan kaki Noe yang sudah dia latih untuk membawa berkarung-karung beras setiap hari, sudah cukup membuat orang dewasa pingsan dengan satu tendangan.
Bagi Endo dan teman-temannya yang hanya memiliki pengalaman dalam berkelahi secara kerja kelompok seperti tawuran, Noe tidak menganggap jika perlawanan mereka sangat berarti. Bahkan di pertarungan satu lawan satu, mereka tak ubahnya seperti seorang anak kecil yang marah karena kalah main gundu dan berkelahi dengan mengucapkan jurus-jurus andalan.
Melihat bagaimana Noe menjatuhkan satu orang dengan mudah, kini empat orang maju bersama-sama, termasuk satu orang yang membawa senjata tajam berupa celurit.
"Aku ingatkan lagi, jika kalian menggunakan senjata, maka aku anggap kalian siap untuk mati." Noe memberi peringatan.
"Bacot."
Pengalaman dua belas tahun sebagai Assassin tentu bukan sekedar omong kosong belaka, ketika Noe di kelilingi oleh empat orang dengan main keroyok. Noe tidak takut, tidak gentar apa lagi mundur.
Noe sudah siap, dua orang coba menangkap dari samping agar tidak bisa kabur, tapi Noe dengan cepat melayangkan tendangan maut untuk menyingkirkan satu orang di sebelah kiri.
Memang satu orang berhasil menangkap Noe, tapi perihal kekuatan Noe jauh lebih kuat dan mendorongnya mundur untuk dihantamkan ke dinding.
Rasa sakit karena punggung yang di adu dengan dinding beton membuat Noe lepas, di tarik pergelangan tangannya lalu kemudian bantingan beladiri Judo ke aspal sudah dipastikan menggeser persendian otot pinggang itu.
Kini tersisa dua orang, Erdo dan satu lagi yang membawa celurit. Tanpa perlu aba-aba atau pun kata pembuka sebelum berkelahi. Noe mengambil inisiatif untuk maju terlebih dahulu ke arah orang bersenjata.
Dia mulai ragu-ragu setelah melihat ketiga temannya kini pingsan oleh Noe, seakan sudah hilang akal karena takut, celurit di tangan pun mengayun tepat ke arah Noe yang datang.
Noe sudah melihat arah gerakan celurit yang akan bersarang ke pundak, hingga dengan satu kesempatan Noe berhenti dan menangkap pergelangan tangan lelaki itu sebelum ujung mata celurit menancap di tubuhnya.
Tanpa ragu-ragu Noe melepas satu pukulan yang menghantam keras ke leher hingga membuatnya pingsan seketika.
Endo seakan tidak percaya, tapi kenyataannya dia lihat di depan mata. Seorang Noe yang dulu ketakutan ketika melihat dia melotot, kini menunjukkan tatapan tajam seperti ingin membunuh.
Noe berjalan ke arah Endo dan dibawanya celurit dari tangan teman yang pingsan itu.
"Aku sedikit baik hati untuk tidak membunuh temanmu ini. Jadi apa kau masih ingin melawanku. Endo." Ucap Noe bertanya dengan senyum yang tidak biasa.
Endo mundur ketika Noe semakin dekat, tapi sayangnya dia tidak bisa pergi karena jarak antara leher dan celurit hanya tiga puluh centimeter saja.
Segera Endo bersujud, matanya basah oleh air mata dan di bawah juga basah oleh air yang lain... "Noe maafkan aku, tolong maafkan aku, aku berjanji tidak akan melakukan apa pun lagi kepadamu."
"Lucu sekali, lucu... Apa kau sedang melawak ?. Tapi sayangnya aku tidak tertawa. Apa kau pikir hanya dengan tidak melakukan apa pun kepadaku, itu cukup setimpal dengan tindakanmu yang ingin membunuhku ?." Jawab Noe.
"Akan aku lakukan apa pun, aku mohon."
Dan senyum ditunjukkan oleh Noe..."Baiklah, aku tidak akan melakukan apa pun kepadamu, tapi mulai sekarang, kau harus menuruti apa yang aku perintahkan, jika tidak...." Noe memberi isyarat kepada Endo akan membunuhnya.
"Tentu saja, aku berjanji."
"Kau bisa pergi, tapi jangan lupa, bawa juga sampah-sampah itu dari sini, itu akan merusak pemandangan." Tunjuk Noe kepada semua teman Endo.
Mengambil kembali bungkus makanan daging Wagyu super A5 di panggang mentega setengah matang dan pulang ke rumah.
iyalah merah2🤣
beliau ini bukan sembarang beliau
udah ganti sukarti
cobaan aja dicobain
astaga
Kek gini mah Noe cuma char biasa
cerita cuma ngalir aja gitu hdehh