DALAM MASA REVISI!
SINOPSIS:
Abdurrahman Hasbi Batsya, seorang ustadz muda dan tampan yang di paksa jadi pengantin pengganti oleh wanita bernama Saraslaytus Marxis.
Padahal Hasbi sudah mempunyai wanita idaman yang ingin ia ikat dalam sebuah pernikahan.
Namun takdir berkata lain.
"Saya tidak mau, pernikahan bukan untuk mainan!" Hasbi.
"Itu bagimu, tapi bagiku tidak." Rasla.
Awalnya Hasbi hampir tak dapat menerima pernikahannya karena cintanya masih milik Isti Zaifuamara anak dari KH, Amar dan Nyai Faridah.
Namun, seiring berjalannya waktu Hasbi mulai bisa menerimanya hingga membuat awal pernikahannya bersama Rasla tampak hangat. Tapi apakah pernikahannya akan tetap mulus tanpa adanya masalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wdy_Ags, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJPP 33 - Pasar Tradisional
"Hati-hati naiknya ya," Ujar Hasbi lembut saat Rasla hendak naik ke atas jok bagian belakang sepeda.
Pagi ini mereka akan jalan-jalan ke pasar tradisional yang selalu buka di hari minggu, Rasla kali ini mengenakan baju tunik warna coklat, rok hitam dan hijab segi empat ukuran jumbo warna coksu juga kawan-kawan handsock. Sedangkan Hasbi memakai sarung dan kaos oversize warna putih.
"Di sini masih asri banget ya Bi," Ungkap Rasla menikmati suasana desa kecil.
Hasbi mengangguk mengiyakan. "Betul ya Habibati,"
Dengan kedua tangan yang memeluk erat perut Habibi-nya, Rasla meletakkan dagunya di pundak Hasbi. Ia tersenyum memandangi wajah Hasbi dari samping, perlahan tangan kiri Rasla terangkat dan mengusap wajah halus sang suami.
"Minyak-minyak apa yang bikin semangat?" Tanya Rasla, Hasbi menoleh sejenak dengan keningnya yang mengerut.
"Minyak yang harganya turun?" Jawab Hasbi.
Sontak saja Rasla tertawa. "Bener sih, tapi bukan itu jawabannya."
"Terus? apa dong jawabannya."
"Menyaksikan ketampanan Habibi setiap saat," Jawab Rasla seraya menyembunyikan wajahnya di punggung Hasbi.
Bluz!~
Pipi Hasbi yang putih seketika memerah, ia salting sampai hampir hilang keseimbangan. Beruntung Hasbi dapat menyeimbangkannya kembali dan segera menahan sepeda dengan kedua kakinya.
Hasbi terdiam, tiba-tiba tangannya menyentuh dadanya dengan ekpresi menahan sakit. Sesekali dirinya meringis, seolah apa yang ia rasakan sangatlah sakit.
"Loh, Habibi kenapa!?" Tanya Rasla panik.
"Aduh, napas aku kok sesek ya?" Jawab Hasbi sembari menepuk-nepuk dadanya.
Karena panik, Rasla hampir saja bangkit dari duduknya. Tapi Hasbi segera mencegahnya dengan menggenggam tangan Rasla erat.
"Oh iya lupa, kan separuh napasku ada di Habibati." Ujar Hasbi dengan gaya tengil seraya memamerkan senyum manisnya.
Ctut!
Rasla mencubit perut Hasbi agak kencang, hal yang selalu dirinya lakukan jika kesal. "Dih, apaan sih." Gumam Rasla memalingkan wajahnya.
"Kiw kiw," Ledek Hasbi dengan di susul tawa.
...
Suasana ramai di pasar tradisional seketika langsung di rasakan dua sejoli yang sedang kasmaran, pasar yang menyediakan jajanan, makanan, minuman, bahkan pakaian jaman dulu. Rata-rata penjual adalah orang sepuh yang selalu khas dengan penampilan sederhananya yang berupa kebaya kain bagi perempuan dan songkok juga surjan bagi laki-laki.
Hasbi menuntun Rasla ke setiap penjual jajanan, memilih apa saja yang ingin di belinya. Usai membeli jajanan tradisional seperti kue lapis, putu bambu, klepon, nagasari, pukis, onde-onde, ondol-ondol, arem-arem, dan masih banyak lainnya yang Hasbi bungkus untuk di bawanya sebagai bekal ke tempat selanjutnya.
Mereka duduk lesehan di saung bambu yang di sediakan untuk pengunjung, tak hanya memesan makanan. Mereka juga memesan dua minuman, es dawet ayu dan es gempol.
"Aaaa!" Dengan tengil, mereka berdua kompak membuka mulut dengan di iringi suara. Setelah itu memakan makanannya masing-masing dengan gaya kekanakan.
"Nyamnyamnyam," Gumam Rasla menggoyangkan tubuhnya.
"Rasanya seperti makanan," Gumam Hasbi juga sembari memasukan nagasari selanjutnya ke dalam mulut.
"Lihat ini, mata saya bulat." Ujar Rasla menunjukkan onde-onde kepada Hasbi.
"Ternyata mata kamu bulat ya, aku kira kotak seperti ini." Balas Hasbi sembari menunjukan kue lapis.
Mereka berdua tertawa. "Kenapa kita jadi kayak bocah beneran sih Bi," Ucap Rasla heran.
Hasbi tersenyum. "Mungkin ini cerminan anak-anak kita nanti," Ujarnya.
...
Usai menghabiskan makanan-makanan tadi, kini mereka berpindah ke tempat lain. Rasla melihat-lihat kebaya kain yang di jual oleh wanita sepuh.
"Berapa ini Nek?" Tanya Rasla sopan sembari menunjukan dua kebaya warna hijau toska dan merah hati, lengkap dengan bawahan dari kebaya tersebut.
"Satunya tujuh puluh ribu saja Nduk," Jawab penjual dengan ramah.
Rasla mengangguk. "Bungkus ya Nek," Ucap Rasla menyerahkan kedua kebaya.
"Oh iya Nek, sama ini juga ya." Ujar Rasla menunjukan dua surjan dan songkok, penjual itu mengangguk.
...
"Yaa man shollaita bikullil Anbiya'
Yaa man fii qolbika Rohmatun linnas
Yaa man allafta quluuban bil Islam
Yaa habiibii yaa shafii'i yaa Rasula Allah
Bi ummi wa abi
Fadaytuka sayyidi
Sholatun wa salam
'Alayka yaa Nabi
Habibi ya Muhammad
Atayta bissalami wal huda, Muhammad
Habibi ya, ya Muhammad
Ya rahmatan lil'alameena ya Muhammad~"
Sembari menikmati suasana yang masih pagi, Rasla dan Hasbi kompak menyanyikan shalawat dengan judul Rahmatun Lil'alameen - Maher Zain di atas sepeda.
Seusai dari pasar tradisional, mereka kini ingin pergi ke danau.
Rasla tersenyum sembari menyenderkan kepalanya di pundak kokoh sang suami, mimpi apa ia kemarin? sampai bisa memiliki suami yang baik akhlaknya, baik agamanya, baik perilakunya, baik cara berfikirnya, baik rupanya dan baik ekonominya. Semua itu terasa sempurna bagi Rasla, ia harap bisa bersama Hasbi selamanya dalam keadaan senang maupun susah.
...----------------...
..."Carilah Suami Yang Bisa Membawamu Ke Arah Kebaikan,"...
...By Wdy_Ags....
Gimana bab ini menurut kalian? udah bikin senyum-senyum gak? semoga aja sih iya.
Nantikan terus bab selanjutnya yak! karena Bab selanjutnya InsyaAllah bakal lebih seru dan bikin kalian senyum-senyum.
Saya aja yang nulis sampe senyum-senyum kok, sambil berharap kelak jodoh saya seperti Hasbi. Aamiin, tidak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak.